Hari hari berlalu begitu saja setelah insiden ciuman yang raka lakukan.
Setelah ciuman yang raka lakukan itu membuat Tika semakin menjauh dan semakin membuat jarak dengan Sang Majikan.
Bukan tanpa alasan tika melakukan itu.
Karna setiap kali tika melihat lelaki yang sudah mencuri ciuman pertama nya itu jantung tika terasa berdebar tidak karuan.
Dan tika selalu menghindari pertemuan di antara mereka.
Meski itu sulit, karna memang tika bertugas melayani keperluan raka sehari hari.
Namun setelah insiden ciuman sekilas itu tika meminta ibunya untuk menggantikan tugas nya membangun kan raka setiap pagi.
Dengan alasan tika sedang tidak enak badan pada ibunya, sehingga enggan untuk naik ke lantai atas kamar sang majikan.
Seminggu berlalu.
Sebenar nya raka tau bahwa tika sedang menghindarinya.
Namun ini sudah satu minggu berlalu, dan menurut raka ini berlebihan.
"Bibi kenapa sekarang tugas Tika di gantikan Bibi?"
Tanya raka pada ratih saat ratih tengah membangun kan raka di pagi hari.
"Maaf Den Raka, Tika sedang tidak enak badan katanya, jadi kalau pagi dia tidak bisa naik ke lantai atas."
"Sakit apa Dia Bi? Apa sudah periksa ke dokter?" tanya raka lagi dengan senyum mengejek. Namun ratih tidak melihat itu.
"Mungkin hanya masuk angin Den. Tapi jika Tuan sudah berangkat kerja Tika akan naik dan memberes kan kamar Aden."
"Oh begitu?" jawab raka singkat.
Raka langsung melenggang ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap ke kantor.
Setelah insiden ciuman itu raka sama sekali tidak menyentuh perempuan lain.
Dan itu membuat dirinya heran dengan kondisi tubuhnya yang berubah setelah ciuman singkatnya dengan tika.
Raka yang biasanya bergati perempuan saat sedang penat.
Namun sudah seminggu ini raka selalu berdebar saat mengingat ciuman sekilasnya dengan tika.
Raka turun ke meja makan setelah selesai bersiap dengan pakain kantornya.
Seperti biasa, tidak ada siapa pun di meja makan.
Tika yang saat itu tengan membersihkan nampan yang baru saja ia pakai ingin segera berlari menghindari raka yang sudah siap untuk duduk di kursi meja makan.
Sesaat mereka saling tatap, namun tika segera melengos dan bersiap untuk segera pergi guna menghindari majikannya.
Dengan langkah cepat raka segera mencekal lengan tika yang hendak pergi menghindar.
"Selamat pagi." ucap raka untuk yang pertama kalinya dalam hidup menyapa tika terlebih dahulu dengan sikap yang manis.
"Eemmhh Pa pagi." jawab tika dengan wajah menunduk.
"Kenapa kau menghindariku seminggu ini?"
"Ah Tidak. Saya hanya sedang tidak enak badan Tuan."
"Benar kah?" Tangan raga terulur untuk mengecek suhu badan tika.
"Apa kau sudah periksa ke dokter?" lanjut raka yang sebenarnya basa basi. Karna raka tau tika tidak sedang sakit.
"Tidak perlu ke dokter, saya sudah lebih baik sekarang." Tika masih terus menunduk enggan menatap majikan nya.
"Aku akan antar kamu ke dokter kalau kamu masih sakit."
Tika segera mendongak saat merasakan tarikan tangan raka yang seperti nya akan membawa nya ke dokter.
"Ti tidak tidak perlu Tuan. Saya hanya masuk angin. Tidak perlu ke dokter." Tika gugup. Karna memang dia tidak sakit.
Hanya saja setiap saat jantungnya ber talu talu saat mengingat ciuman pertanmanya dengan raka.
"Kalau begitu bersiaplah. Kau harus ikut aku ke bandara menjemput ibuku. Ibuku pulang hari ini."
"Benar kah?"
Tika melongo mendengar nyonya ambar pulang hari ini.
Seketika itu tika ingat dengan berkas yang waktu itu dia baca.
Tika lupa dan sama sekali belum memikir kan tentang permintaan nyonya ambar untuk menikah dengan raka.
Tika tau, dengan tika menikahi raka atau pun tidak menikah dengan raka tika tetap menjadi salah satu ahli waris kekayaan nyonya ambar.
Tapi karna itu lah tika semakin tidak mengerti dengan kemauan majikan nya.
Dia bukan siapa siapa di keluarga ini.
Tika merasa tidak pantas menikmati kekayaan nyonya ambar.
"Cepat. Aku tunggu 5 menit dari sekarang. Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu melamun." Sarkas raka yang melihat tika justru ter bengong saat raka mengajak tika menjemput ibu nya.
"Ibu." Panggil raka saat ibunya sudah tiba di bandara.
"Dasar Anak badung." Jawab ambar, saat melihat putra satu satunya.
Ambar tidak mengerti dengan sifat raka yang doyan berganti perempuan.
Tapi di balik sifat gilanya itu, raka adalah anak yang baik.
Namun entah karna apa raka menjadi liar seperti sekarang.
"Nyonya. Selamat datang." Ucap tika ramah pada majikan nya yang sudah lama tidak berjumpa karna majikan nya itu memilih berada di luar negri dengan alasan yang tidak dia ketahui.
"Sayang kau semakin cantik." Tangan ambar terulur untuk me ngelus rambut tika.
"Anda juga semakin terlihat muda." Tika memuji majikan nya yang memang cantik dan awet muda.
"Mama kenapa hanya tika yang mama belai belai seperti itu? Apa mama tidak rindu padaku?"
Raka merasa iri dengan perlakuan ambar pada tika.
"Sepertinya selama mama di luar negri kau juga tidak pernah merindukan mama. Jadi kenapa mama harus merindukanmu?"
"Siapa bilang aku tidak rindu mama?"
Raka segera memeluk ambar dengan erat.
Raka merindukan mamanya, hanya saja dia gengsi untuk mengungkap kan rasa rindu itu pada sang mama.
"Apa kau mau membunuh ku raka?" Ucap ambar yang sulit bernafas karna pelukan raka yang begitu erat.
Raka melepas pelukan itu sambil terkekeh.
Setelah dari bandara mereka langsung pulang ke rumah.
Dan ambar langsung menyuruh raka dan tika untuk masuk ikut ke dalam kamar pribadinya.
"Raka, apa kau sudah membicarakan permintaan ku pada tika?"
"Sudah mah."
"Lalu?"
"Aku terserah mamah saja, tapi aku tidak tau jawaban tika. Karna seminggu ini tika tidak memberi ku jawaban apapun."
Tika menoleh ke arah raka dengan tatapan yang seolah bertanya.
"Kenapa dia seolah melempar semua kesalahan padaku." batin tika.
Tapi memang benar selama seminggu ini tika sama sekali tidak memikir kan jawaban apapun tentang permintaan ambar.
Tika sibuk dengan jantung yang berdebar saat mengingat ciuman pertamanya yang di curi raka.
Berbeda dengan raka yang sudah berfikir akan menerima tika menjadi istrinya.
"Bagaimana tika? Kau sudah punya jawaban atas permintaan ku?"
Tika menoleh menatap nyonya ambar ragu.