Setuju menikah

1075 Words
"Nyonya kenapa harus saya yang menikah dengan tuan raka?" "Apa kau belum membaca berkas itu tika?" "Sudah Nyonya, justru itu saya tidak mengerti dengan permintaan nyonya ini." "Kau hanya perlu menjawa ya atau tidak tika. Apa pun jawaban mu kau tidak akan rugi sayang." Ucapan ambar memang benar, sekalipun tika menolak dengan permintaannya menikahi anak semata wayangnya itu tidak akan merugikan tika. Tika akan tetap ada bagian dari sebagian kekayaannya. "Maaf nyonya, saya tidak bisa menikah dengan tuan raka. Tapi saya juga tidak bisa menerima pemberian nyonya. Karna saya hanya pembantu di sini. Saya tidak punya hak apa pun atas ke kayaan nyonya. Biarkan tuan menikah dengan wanita yang tuan cintai nyonya." Raka menoleh menatap sinis tika saat mendengar jawaban tika. Untuk pertama kalinya ada perempuan yang menolak nya secara terang terang ngan padahal dia tidak mengatakan apa pun. Dan penolakan itu di lakukan di depan ibunya. Sungguh raka merasa seperti di hempaskan ke dasar bumi oleh tika saat ini. Andai saja saat ini hanya ada tika dan raka saja. Sudah pasti raka tidak akan mambarinya ampun. "Bagaimana raka? Tika menolak untuk menikah denganmu. Itu artinya kau harus segera keluar dari rumah ini dan tinggalkan semua fasilitas yang ada. Dan silahkan mencari pekerjaan di tempat lain." Ucap ambar tak ragu sedikit pun mengusir anak semata wayangnya karna tika menolak menikahinya. "Mama. Mama tega melihat raka jadi gelandangan di luar sana?" Rengek raka tidak terima dengan pengusiran itu. "Itu salah mu. Karna tidak bisa membuat tika menerimamu raka." "Maaf nyonya, tidak seharusnya anda mengusir tuan. Biar saya yang keluar dari rumah ini nyonya. Dan anda tidak perlu memberi kan apapun kepada saya. Anda sudah membiayai sekolah saya dan anda sudah menampung saya dari bayi itu sudah membuat saya terbebani nyonya. Saya berhutang budi pada anda. Jika anda mengusir tuan dari rumah ini karna saya itu membuat saya semakin merasa bersalah nyonya." Ucap tika panjang lebar dan berusaha mencegah ambar yang sepertinya kekeh akan mengusir anaknya sendiri dari rumah. "Apa kau merasa berhutang budi apdaku tika?." Tanya ambar setelah mendengar perkataan tika barusan. "Tentu Nyonya. Anda sudah sangat baik pada saya dan ibu saya. Saya tidak tau apa yang akan terjadi jika nyonya tidak berbaik hati menapung kami." "Jika sekarang aku ingin kau membalas budi itu apa kau bersedia tika?" "Maksud nyonya apa?" "Menikahlah dengan Raka. Maka aku akan menganggap kau telah membalas budi padaku tika." Tidak menatap ambar dengan wajah sendu. Ambar tau apa yang tika pikirkan dan tika rasakan. Raka bukan laki laki baik baik, pasti akan sulit menerima keburukan raka. Tapi ambar tidak punya cara lain untuk membuat tika menerima pernikahan itu. "Maafkan aku tika, aku egois memintamu menikahi anak nakal ini. Tapi jika kau tidak menikah dengan anak badung ini, aku tidak bisa menjamin masa depan anak nakal ini tika." batin ambar saat menatap wajah sendu tika. "Bagaimana tika? Aku tidak memaksamu untuk menikahi anakku. Aku tau akan sulit menerima laki laki yang hobi berganti perempuan di atas ranjang." Ambar sengaja menyindir anaknya dengan mengatakan kelakuan buruk anak badungnya itu. Raka hanya diam dan menyimak perbincangan kedua perempuan di depan dan sampingnya itu. Raka merasa bersalah kepada ibunya karna hanya bisa merepotkannya saja dengan hobinya yang baru saja di sadari saat mendengar penolakan dari tika. Ya, Raka sadar wanita baik baik pasti akan sulit menerima laki laki b***t sepertinya. Sedangkan meski dirinya b***t, raka tetap mengingin kan wanita baik baik yang akan menjadi ibu dari anak anak nnya. Dan raka baru menyadari bahwa sudah terlalu dalam dia terjerumus ke dalam dunia ranjang yang hanya akan menjerumuskannya. "Saya tentu ingin membalas budi pada anda nyonya, tapi apa tidak ada cara lain untuk membalas budi kepada anda nyonya?" Tika masih mencoba bernegosiasi pada majikannya. Dan raka merasa sangat tertusuk dengan penolakan penolakan yang tika ucapkan. Sebegitu menjijikankannya kah dirinya di mata tika? "Tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan untuk membalas budi kepada ku tika. Jika kau bersedia maka katakan sekarang juga. Dan jika kau tidak bersedia pun katakan saja sekarang." Tika tampak menunduk dan memilin jari jemarinya. Ambar merasa sangat ingin memeluk tika saat ini, hanya saja ambar tidak mau mendengar penolakan dari tika. Sedangkan raka yang melihat tika menunduk dengan terus meremas jari jemarinya dan mendengar lagi lagi penolakan dari tika itu semakin menyadarkan otak raka bahwa raka harus segera meng akhiri petualangannya di atas ranjang. Dengan menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan tika mencoba menatap majikannya. Dengan mata berkaca kaca tika menjawab. "Baik lah saya menerima pernikahan ini." Tika akhirnya memutuskan menerima pernikahannya dengan raka setelah memikir kan kebaikan yang sudah ambar berikan pada tika dan ibunya. "Terimakasih tika sayang." Ambar segera berdiri dari duduknya dan segera memeluk tika dengan erat. "Terimakasih nyonya sudah sangat baik pada saya dan ibu." Ucap tika di sela pelukan nnya dengan suara yang tercekat karna tika tidak mampu menahan tangisan yang sedari tadi ia tahan. Saat malam tiba, ambar sengaja memanggil raka, tika dan ratih untuk makan malam bersama. Karna ambar harus membicarakan pernikahan yang sudah di setujui oleh tika maupun raka. "Dua hari lagi pernikahan kalian akan di laksanakan. Dan besok kalian fitting baju di butik tante nur". Ambar berbicara setelah semua selesai makan. "Mamah yang benar saja kenapa cepat sekali?" "Apa itu artinnya sekarang kau yang menolak pernikahan ini raka?" "Bukan begitu ma, apa tidak sebaiknya kita saling menjajaki satu sama lain. Supaya kita tau karakter masing masing." "Apa kau baru mengenal tika satu bulan yang lalu raka?. Kalian saling mengenal sejak tika umur dua bulan dan kau umur empat tahun. Dan sekarang kau umur 28 tahun dan tika 24 tahun. Masih kurang berapa tahun untuk kalian bisa mengenal satu sama lain." Raka hanya bisa menggaruk keningnya yanh tidak gatal. Sedangkan tika hanya menunduk masih merasa belum sepenuhnya bisa menerima keputusan majikannya. "Baik lah. Terserah mama saja." ucap raka tak punya pilihan. "Gimana sayang? Kamu ingin pernikahan yang seperti apa?." tanya ambar pada tika yang masih tetus menunduk. Lagi lagi ambar harus bersikap egois mengorbankan tika demi menolong masa depan anaknya. "Saya tidak mau pernikahan yang mewah nyonya, cukup ijab kobul saja dan tidak perlu mengundang banyak orang. Cukup keluarga inti saja. Yang terpenting dari pernikahan adalah sah di mata agama dan negara." Ratih mengelus punggung anaknya untuk mencoba menguatkan anaknya yang tidak punya pilihan. "Baik lah kalau begitu mama akan mengurus semuanya seperti permintaan kamu sayang. Dan tolong jangan panggil nyonya lagi. Panggil saya mama. Karna saya adalah mama kamu juga mulai sekarang, mengerti?" "Baik ma ma Mama." Ucap intan gugup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD