Hari pernikahan

821 Words
"Saya terima nikah dan kawinnya tika adya wilson dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." lantang Raka mengucap ijab kobul dengan satu kali tarikan nafas. "Bagaimana para saksi sah?" ucap sang penghulu. "Saaaahhh." Sahut para saksi yang tak lain adalah adik dari mendiang ayah raka dan alan sekertaris raka. Sesuai permintaan tika yang tidak ingin mengundang banyak orang. Pernikahan itu hanya di hadiri oleh adik dari mendiang ayah raka dan alan sekertaris raka. Sedangkan dari pihak tika tidak mengundang seiapapun karna memang waktunya pun tidak memungkin kan ratih untuk pulang ke desa. Hanya ada ratih yang menemani tika. Sedangkan tika sendiri tidak terlalu dekat dengan teman temannya sewaktu di sekolah. Setekah semua prosesi ijab kobul selesai ambar menyuruh alan untuk mengambil foto untuk meng abadikan momen pernikahan raka dan tika. "Raka coba peluk tika dari belakang dan wajah kalian saling berpandangan." Perintah alan saat akan memotren pasangan pengantin baru itu "Tika bisa kah tersenyum sedikit? Kau seperti sangat tertekan menikah dengan laki laki di sampingmu." ucap alan lagi yang melihat tika sama sekali tidak tersenyum dari sebelum ijab sampai saat ini. "Bisa kau tutup mulutmu al?" Raka mencoba memukul sekertaris sekaligus sahabatnya itu dan entah suruhan siap sekarang alan juga merangkap sebagai fotografer pernikahan. Setelah urusan potret memotret sudah usai tika berjalan menuju paviliun untuk ganti baju karna sudah risih sejak pagi memaki kebaya pernikahan. Namun saat tika baru saja sampai di kamarnya dan membuka lemari pakaiannya hendak mengambil baju untuk ganti tika di kejut kan dengan lemari tika yang kosong. Kemana semua bajunya? Tika segera barjalan keluar menuju rumah utama majikannya. Niatnya untuk mencari ibunya untuk menanyakan di mana semua bajunya mungkin saja ibunya tau karna tika hanya tinggal dengan ibunya di paviliun. "Bu, di mana semua bajuku? Kenapa barang barangku tidak ada di kamar? Apa ibu memindah annya? Atau ada maling yang mengambil semua baju ku?" Berondong tika pada ibunya. "Nduk, kamu sudah menikah sayang. Sudah seharusnya kamu tinggal dengan suamimu. Maaf kan ibu nduk, jika ibu tidak bisa membahagiakan anak perempuan ibu satu satunya." Tiba tiba ratih ingin sekali menangis melihat putri kesayangannya menikah dengan anak majikannya. Sebenarnya ratih pun ingin anaknya menikah dengan laki laki pilihan tika sendiri. Namun ratih juga tidak bisa berbuat apa apa, karna memang kebaikan nyonya ambar sudah terlalu baik pada tika dan juga ratih. Ratih hanya berharap nasib anaknya tidak sama seperti dirinya yang di campakan oleh laki laki pilihan orang tuanya. Entah di mana kini laki laki itu. Ratih sudah tidak ingin mencari tau keberadaannya. Meskipun dari dalam lubuk hati, ratih masih ingin memepertemukan anaknya dengan sang ayah kandung. Namun sepertinya ayah kandung tika pun tidak berusaha untuk mencari keberadaan mereka selama ini. "Sudahlah bu. Semuanya sudah terjadi. Tika ikhlas bu." tika menunduk dengan air mata yang tidak bisa di tahan. "Jadi baju dan barang barangku ada di kamar tuan raka ya bu?" Tanya tika sambil mengusap air matanya dan mencoba tersenyum manis di hadapan ibunya yang sudah tidak lagi muda. "Iya nduk. Tadi saat kalian foto foto, ibu dan nyonya ambar memindahkan barang barang kamu ke kamar den raka." "Baik lah, tika ke atas dulu bu. Sudah gerah ingin ganti baju." Tika menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Mencoba untuk ikhlas menerima semua yang sudah terjadi. Tok tok tok Tika mengetuk pintu kamar majikan mudanya yang kini sudah beganti setatus menjadi suaminya. "Boleh saya masuk Tuan? Saya mau ganti baju." "Emh. Masuk lah." "Boleh saya pakai kamar mandinya Tuan?." "Emh." "Maaf tuan, di mana pakaian saya? Saya tidak tau di mana ibu dan nyonya menyimpan pakaian saya di kamar ini." Sebenarnya raka sangat kesal dengan sikap tika yang masih menganggapnya majikan. Raka hanya menunjuk lemarinya. Karna memang pakaian tika di simpan di satu lemari yang sama dengan pakaiannya. Tika segera mengambil baju dan masuk ke kamar mandi untuk ganti baju. Raka duduk di balkon kamarnya memikirkan nasibnya yang bisa di bilang beruntung. Ya, raka merasa beruntung menikahi tika yang masih belum tersentuk laki laki manapun. Satu hari sebelum pernikahan, setelah selesai fitting baju kemarin raka menyuruh alan untuk mencari tau siap saja mantan tika atau siapa saja yang pernah dekat dengan tika. Namun di luar dugaannya, karna menurut hasil penyelidikan alan dia tidak menemukan laki laki manapun yang dekat dengan tika. Laki laki yang mencoba mendekati tika memang banyak. Hanya saja tika seperti tidak tertarik dengan mereka. Dan ada rasa sedikit bersalah dalam diri karna tika menikah dengannya dalam keadaan tersegel. Sedangkan raka sudah tidak terhitung berapa kali ia mencari kepuasan ranjang. "Mau kemana?" Tanya raka saat melihat tika akan keluar kamar. "Mau turun, mau bantu ibu masak makan malam Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" "Tidak ada." Sebenarnya raka ingin sekali mengatakan pada tika untuk tidak lagi memanggilnya tuan. Namun raka masih menunggu waktu yang pas untuk berbicara banyak hal pada tika. Karna raka tau pasti tika belum sepenuhnya bisa menerima pernikahan ini. Lain halnya dengan raka yang sudah sangat bisa menerima perjodohan dari ibunya. "Baiklah, saya turun dulu tuan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD