AKU SUAMI MU

902 Words
Semua orang sudah duduk di meja makan dengan berbagai macam hidangan yang Ratih dan Tika masak. "Sudah lama sekali aku merindu kan makanan sepeeti ini." Wajah ambar berbinar melihat begitu banyak aneka makanan yang ratih dan tika hidangkan. "Sayang, apa kamu yang masak masakan ini?" Tanya ambar pada tika yang saat itu masih sibuk menyiapkan piring untuk semua orang. "Ini ibu dan saya yang masak nyonya." "Lho kok gak panggil mama sayang? Kamu kan sekarang sudah jadi anak mama." "Aaahhh iya ma, maaf soalnya belum terbiasa." Tika masih belum terbiasa memanggil majikannya mama. Karna sudah terbiasa dengan panggilan nyonya yang di sematkan pada ambar. "Ya sudah ayo kita makan. Apa suami kamu belum turun?" "Biar saya naik dulu untuk memanggil nya ma." "Baiklah. Ratih, duduk di sini kita makan bersama." Sahut ambar dan langsung memanggil ratih pembantunya sekaligus besannya. To tok tok "Masuk." Teriak Raka dari dalam kamar. "Maaf tuan, makan malam susah siap." "Ya. Aku akan turun sebentar lagi." Setelah tika mengatakan itu pada raka tika segera turun. Tika tidak tau bahwa raka sudah mengekor di belakangnya. "Waah banyak sekali makanan nya bi." ucap raka pada ratih yang saat itu sudah duduk di sebelah ambar. "Kamu panggil apa pada mertuamu raka?" Ambar melirik anaknya yang badung itu. Namun yang di lirik masih melongo tidak mengerti. "Dia ibu mertuamu. Apa kau lupa kau sudah menikahi tika?" "Aah iya maaf. Ibu masak banyak sekali hari ini." Jawab raka sambil mendudukkan pantatnya di kursi. "Mau makan sama apa tuan?" Tanya tika pada raka. "Sama sayur asem itu dan sambel trasi." "Mau pakai tempe goreng?" Tanya tika lagi. "Boleh. Makasih." "Sama sama." Ambar tersenyum melihat kedua anaknya yang duduk di hadapannya. Lalu ambar memberi kan sedikit wejangan. "Tika sayang, mama harap kamu bisa sabar ya menghadapi anak badung ini. Mama tau saat ini kamu mungkin belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya. Tapi mama harap kamu mau menuntun anak badung ini ke jalan yang lebih baik. Dan untuk kamu Raka Hendrawan. Mama berharap kamu tidak mengecewakan mama untuk yang ke sekian kali. Dan mama tidak mau mendengar kamu menyakiti tika apa lagi menduakan dan lain sebagainya." "Iya ma." Jawab keduanya. Setelah mereka selesai makan malam, tika membantu ratih membersih kan piring kotor dan memberes kan semuanya. "Mama besok akan mencari asisten rumah tangga baru. Jadi kalian berdua tidak perlu mengerjakan ini semua." Ucap ambar yang saat ini tengah berdiri menatap menantu dan besannya. "Tidak apa apa ma, tika sudah biasa melakukan ini. Lagian tika tidak ada kerjaan selain ini." "Maaf Nyonya. Lusa saya berencana akan pulang ke desa dan menghabiskan masa tua saya di desa nyonya. Karna sekarang tika sudah menikah, jadi sudah ada orang yang mengganti kan saya untuk menjaganya." Ya, setelah tika menikah ratih berfikir untuk kembali ke desa. Ratih belum memberi tahu tika rencananya pulang ke desa. Tapi karna tiba tiba ambar membahas asisten rumah tangga baru, jadi ratih sekalian saja memberi tahu tentang rencananya. "Lho, kenapa harus pulang ke desa ratih? Tinggal saja di sini dan tidak perlu mengerjakan apapun lagi. Apa karna aku berniat mencari asisten rumah tangga baru jadi kau mau pulang ke desa?" Cecar ambar pada ratih. "Tidak. bukan karna apa apa. Tapi memang karna tika sudah menikah. Jadi tanggung jawab saya untuk menemaninya saya anggap selesai. Sekarang tika adalah tanggung jawab suaminya. Namun meski begitu, tika tetap anak saya sampai kapan pun. Dan saya berharap jika suatu saat nanti Den Raka sudah tidak lagi sudi hidup bersama dengan putri saya maka kembalikanlah putri saya baik baik pada saya. Dan saya akan menerima kembali putri saya dengan senang hati." Tika seketika memeluk erat ibunya dan menangis di pundak sang ibu. Rasanya belum puas tika bermanja manja dengan ibunya, namun ibunya sudah melepaskannya untuk suaminya. "Apa kau dengar apa yang di ucapkan mertuamu barusan raka?" Tanya ambar pada anaknya. Ambar tau raka berdiri di belakang punggungnya. "Iya mah, raka dengar." "Nduk, putriku sayang. Berbaktilah pada suamimu. Jangan membuatnya marah dan kecewa. Layani suamimu sebaik yang kamu bisa. Ibu melepasmu untuk suamimu sayang." Kata kata ratih saat putrinya terus memeluknya dengan begitu erat. "Den Raka, tolong jaga putri ibu. Jangan sakiti raga dan batinnya. Dia hidup tanpa belas kasih seorang ayah. Saya mohon tolong jangan sakiti anak saya." Ratih menangis tergugu saat mengatakan itu pada raka. Dengan suara yang tercekat ratih melanjutkan ucapannya. "Jika suatu hari nanti Den Raka sudah tidak sudi hidup dengan anak saya, kembalikanlah dia pada saya. Saya akan menerima seperti apa pun kondisinya." "Iya bu, aku akan berusaha menjaga tika dengan baik. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk anak ibu." jawab raka dengan yakin. "Ya sudah ini sudah malam, sebaiknya kita semua tidur. Di lanjut besok lagi saja." Potong ambar yang sebenarnya merasa bersalah karna sudah memaksa tika untuk menikah dengan anak badungnya. Setelah tika dan raka masuk ke kamar tika tidak langsung tidur. Tika ke kamar mandi dan mengganti baju dengan baju tidur yang biasa dia pakai. "Tuan, saya tidur di mana?" Tanya tika yang baru keluar dari kamar mandi pada raka yang sudah duduk di kasur menyandarkan kepalanya ke belakang. "Tidurlah di kasur. Kita suami istri. Sah di mata hukum dan agama. Duduk lah, aku ingin berbicara sesuatu." Raka menepuk kasur di sebelahnya menyuruh tika untuk duduk di dekatnya. Dan tika mendekat dengan sedikit ragu. Dia duduk di dekat raka. Namun memberi jarak karna masih gugup untuk duduk berdempetan. "Sampai kapan kau akan memanggilku dengan sebutan Tuan? Aku bukan lagi majikanmu. Aku suamimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD