"Sayang kok udahan sih? Kamu kan tau aku belum keluar sayang." keluh Lusi saat melihat Raka masuk ke dalam kamar mandi.
Awalnya Lusi pikir Raka akan mengganti pengaman nya karna Raka sudah keluar lebih dulu.
Namun nyatanya Raka hanya mencari kepuasan untuk dirinya sendiri dan tidak perduli dengan keadaan Lusi yang sudah menahan gejolak ingin segera di puaskan.
"Lusi, Tolong jangan pernah datang ke kantorku lagi. Dan jangan pernah menemuiku lagi. Ini terakhir aku kali aku menemui mu dan aku tidak mau melihatmu lagi di manapun itu."
Ucapan Raka saat baru saja keluar dari kamar mandi membuat Lusi tampak ling lung.
"Maksud kamu apa Raka?." tanya Lusi nampak seperti orang bodoh.
Lusi pikir dia masih akan melanjutkan kesenangan nya bersama Raka setelah Raka keluar dari kamar mandi.
Namun Lusi justru di kejutkan oleh ucapan Raka.
"Hubungan kita hanya sekedar saling memuaskan Lus, tapi sepertinya kamu menganggapnya lain. Jangan berharap dari hubungan ini Lusi. Aku sama sekali tidak tertarik apapun yang ada dalam diri kamu. Dan aku juga tau kau mencari kepuasan bukan hanya denganku."
"Raka, kenapa kamu berkata seperti itu? Apa aku kurang menarik untukmu?." Lusi nampak tak terima dengan kata kata Raka.
"Aku tidak mau ada hubaungan apapun denganmu mulai saat ini Lusi. Akan aku transfer uang untukmu setelah ini. Dan aku katakan untuk yang terakhir kali, jangan pernah datang ke kantorku dan jangan pernah temui aku di manapun." Lanjut Raka dengan tangan yang terus sibuk memakai pakaiannya kembali.
Lalu setelahnnya Raka keluar dari hotel itu dan pergi ke kantor tanpa menghiraukan apa yang akan di katakan Lusi.
Sebenarnya Raka memang sudah muak dengan Lusi, karna Lusi bersikap seolah dia adalah pasangan Raka.
Padahal Lusi sendiri tau bahwa hubungan mereka hanya hubungan yang saling mencari kepuasan di atas ranjang.
Setelah sampai di perusahaan Raka langsung menuju ke ruangan miliknya.
Dan saat Raka baru menunggu pintu lift terbuka dia segera lari supaya tak tertinggal karna ingin cepat sampai ke ruangan nya.
Setelah sampai di depan ruangan nya dia langsung membuka pintu dan langsung di kejutkan oleh perempuan yang sangat dia kenal.
"Ngapain kamu di sini? Bukanya tadi kamu di rumah?." tanya Raka sambil memicingkan matanya.
Perempuan itu adalah Tika.
Ya tika datang karna di suruh oleh nyonya Ambar lewat telfon di rumahnya.
"Saya di suruh nyonya Ambar tuan, ini ada berkas yang harus tuan baca kata nyonya Ambar." jawab Tika santai.
Karna memang benar adanya, dia di suruh nyonya Ambar untuk mengantar berkas pada Raka yang sudah mengabaikan telfon nyonya Ambar.
"Kenapa mamah gak telfon aja ke aku? Biasanya juga telfon aku dulu kalau ada sesuatu." lanjut Raka tak percaya ucapan Tika.
"Benar, Nyonya memang selalu menelfon Tuan saat ada perlu dengan Tuan. Tapi sepertinya Tuan sedang sibuk sejak pagi. Jadi tidak sempat menjawab panggilan dari Nyonya." Tika menjeda ucapanya dan menarik nafas panjang.
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu Tuan. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan di rumah." Tika hendak melangkah keluar namun tiba tiba tanganya di tarik oleh Raka.
Tarikan tangan Raka lumayan kuat dan itu sukses membuat lengan Tika nyeri.
"Auch." Keluh Tika saat tanganya di tarik oleh Raka.
"Sakit." teriak Tika yang tiak terima dengan sikap kasar Raka.
"Jangan sembarangan masuk ke ruangan saya." Gumam Raka di depan muka Tika.
"Saya sudah menunggu Anda di lobby selama satu jam. Dan sekertaris Anda yang menyuruh saya menunggu di ruangan Anda." sahut Tika tidak terima.
"Lepaskan tangan saya." ucap Tika pelan karna Raka tak kunjung melepas cekalan tanganya.
Raka tidak mengerti dengan perasaan yang terkadang dia ingin marah setiap kali melihat Tika.
Namun kadang juga ada perasaan gemas saat melihat tingkah tika yang masih nampak polos meski umur Tika bukan tergolong ABG lagi.
Dan Raka juga akan marah saat teman temanya meminta ijin untuk mendekati Tika.
Ya, teman teman Raka mengenal Tika.
Karna memang mereka tinggal satu rumah dan saat remaja pun saat teman teman Raka berkunjung ke rumah Raka mereka akan menggoda Tika.
Hingga terkadang Raka tidak mengijinkan teman temanya berkunjung ke rumahnya.
Jika di lihat dari parasnya Tika tidak terlihat seperti anak desa.
Tubuh yang proposional, kulit putih, rambut sepinggang dan tebal.
Hanya pakaian Tika yang nampak sederhana.
Karna memang karakter Tika yang tidak suka sesuatu yang berlebihan.