"Tika, darimana kamu?" Raka berkata dengan tatapan penuh tanya.
"Hanya pergi keluar mencari angin tuan," jawab Tika sekenanya.
Matanya sudah sangat perih dan punggung yang sudah ingin sekali rebahan.
Tika hanya pergi ke depan komplek dan duduk di bawah pohon mangga
Menunggu waktu sedikit malam sekiranya Raka dan teman perempuan nya sudah tidur saat ia pulang nanti.
Namun sialnya saat ia baru masuk rumah majikanya dengan mengendap endap namun Raka melihatnya dan langsung menarik tangan nya hingga tubuhnya menempel di d**a bidang sang majikan.
"Katakan Tika ada apa sebenarnya? Kenapa kau selalu pergi keluar saat ada teman perempuanku berkunjung kerumah?" tanya Raka panjang lebar.
"Tidak ada apa apa tuan, saya hanya pergi keluar karna memang harus membeli kperluan pribadi saya tuan." kilah tika.
"Lalu mana barang yang kau beli?" tanya aka dengan alis yang naik sebelah dan tatapan menuntut pada tika.
"A aaa Iya, tadi barang yang saya perlukan tidak ada di supermarket tu tuan." jawab tika tergagap.
"Benarkah?" Raka tak begitu saja percaya pada tika.
"Kau masih tak mau jujur tika?" tanya Raka dengan wajah sendu.
"Kau anggap aku apa tika? aku merasa kau tak menganggap aku ada tika." ucap Raka lagi.
Tika bingung dengan perkataan tuan nya.
"Maksud anda apa tuan?" tanya Tika bingung.
"Sudahlah, ini sudah malam. Pergi tidur."
Raka berlalu dari hadapan Tika dan pergi naik ke kamarnya di lantai atas.
Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar masing masing.
Waktu pagi datang.
Ratih sibuk di dapur memasak untuk sarapan majikan nya.
Dan Tika bertugas membersihkan rumah
Saat ia tengah mengepel di depan pintu kamar ruang tamu tiba tiba pintu terbuka dan sosok wanita seksi dengan pakaian yang amat sangat kurang bahan itu keluar.
Dan tiba tiba,
"Aduuuhh." Teriak wanita itu yang saat ini tengah terduduk di lantai.
Tika segera menolong wanita seksi itu.
"Maaf Nona, lantainya masih basah, mari saya bantu." Tika mencoba membantu wanita itu berdiri namun justru dia ikut tersungkur ke lantai yang masih basah.
Mendengar kegaduhan di lantai bawah raka segera bangun.
Dan betapa terkejutnya saat melihat ana dan tika tengah tersungkur di lantai.
"Ada apa ini?" Suara Raka menggema.
"Pembantumu semua ini karna pembantu yang tak berguna ini raka." ucap Ana marah.
Dengan segera raka mengendong ana masuk ke dalam kamar tanpa melirik tika sedikitpun dan menutup pintu kamar itu dengan kakinya.
Suara pintu menggelegar pun tak dapat terhindarkan.
Raka masih merasa jengkel pada tika atas sikap tika semalam.
Dengan hati hati Raka nenurunkan Ana di atas tempat tidur.
"Aduuh." Ana mengaduh saat bokongnya baru menyentuh kasur.
"Apa sangat sakit?." tanya raka seperti berbisik.
Saat ini posisi wajah mereka sangat dekat.
Karna Ana masih mengalungkan tangannya di keher Raka
Ana tau bagaimana memanfaatkan momen tersebut.
Cup.
Ana mencium bibir Raka sekilas
Dan tanpa menunggu lama Raka membalas ciuman Ana.
Ciuman yang awalnya lembut kian menuntut.
Tangan Raka pun sudah bergerilya di tubuh Ana yang menggunakan baju kurang bahan.
Dengan gemas tangan Raka meremas dua buah melon milik Ana tanpa melepas tautan bibirnya.
"Emh." des4h Ana di sela ciuman.
"Aaa." lagi kini bibir Raka sudah sibuk di atas leher Ana.
"Auw." Des4h Ana dengan mata terpejam.
Bibir Raka sudah sampai di dua buah melon yang menantang.
Dengan perlahan Raka menurunkan tali yg ada di pundak Ana dengan mulutnya
Dan seketika dua buah melon milik ana yang bulat dan padat pun terpampang di depan muka
Raka dengan gemas menjilat dan memil1n pucuk yang ada di permukaan buah melon itu.
"Rakaaa auw, Ish." des4h Ana.
"Sh, uh." des4h Raka yang kini sudah di kuasai nafsu.
"Raaakaa enak yakh." Ana tak tahan ia menjambak gemas rambut Raka
Dan Raka semakin bernafsu mendengar suara merdu Ana.
Raka terus meremas buah melon itu dan menjilati pucuk itu sesekali ia menggigit kecil buah tersebut.
******