Pisah ranjang

828 Words
Tika menatap datar wajah suaminya yang tiba tiba saja muncul di waktu yang tidak tepat. Di saat tika tengah mencoba mengusir bayang bayang wajah suaminya yang tidur dengan wanita lain dengan cara jalan jalan dan kebetulan bertemu dengan teman teman sekolahnya. Tika tiba tiba berdiri dari duduknya. "Guys. Kenalin ini majikan aku. Kalian semua pasti tau kan kalau aku tinggal di jakarta karna kerja jadi pembantu?" Tika mengenalkan suaminya ke pada teman temannya sebagai majikannya. Raka diam. Menatap datar tika yang masih berdiri di hadapannya. Semua teman tika pun hanya diam dan tersenyum canggung. Mereka pun bingung dengan keadaan seperti ini. Mereka berfikir apakah tika akan kena marah karna kelayapan di malam hari dan di tambah lagi mereka ngumpul ngumpul seperti ini. Teman teman tika justru khawatir takut tika akan kena semprot oleh majikannya. "Sedang apa kamu di sini?" tanya raka datar. Masih dengan tatapan dingin yang menusuk pada tika. "Saya hanya sekedar cari angin saja. Di rumah panas." jawab tika tak kalah datar. Teman teman tika terkejut mendengar jawaban tika pada majikannya. Ini bukan tika yang mereka kenal. Tika tidak mungkin besikap seperti ini pada majikannya. "Pulang." titah raka. "Baik." Tika mengambil tas kecilnya dan memasukkan ponselnya. "Guys, Aku pulang dulu ya. Sampai jumpa lain waktu." pamit tika pada teman temannya dengan senyuman yang menawan. Tika segera berjalan menuju keluar. Namun tika berhenti di sebuah toko kue terlebih dahulu. Mengingat dirinya belum sempat makan tadi, tika memutuskan membeli beberapa potong kue. Saat akan membayar tiba tiba raka mengulurkan sebuah kartu pada kasir. Tika tidak tau kalau raka masih membuntutinya. Tika pikir setelah raka menyuruhnya pulang raka akan pergi ke lain tempat. Ke tempat perempuan seksi lainnya mungkin. Begitu pikir tika. "Saya bayar pakai uang cash aja mba." tika mengabaikan niat baik raka yang akan membayar kue milik tika. Raka merasa sangat geram pada sikap tika. Namun raka mencoba menahan amarahnya. Setelah selesai, tika bergegas menuju parkiran motor. Tika masih tetap mengabaikan raka yang masih mengekorinya. Raka menarik lengan tika yang hendak duduk di atas motor. "Pulang dengan ku saja." "Lepas." Tika menatap tajam tangan raka yang masih mencengkeram lengannya. Raka melepas kan cekallannya. "Pulanglah bersamaku. Ini sudah malam." Tika tidak menjawab apapun dan segera memakai jaket dan helmnya. Tika tidak memperdulikan raka. Rasanya begitu muak. "Sial." teriak raka emosi saat melihat tika yang mengabaikannya. Dan kini meninggalkannya di parkiran motor. "Ha ha ha. Emang enak." alan terkekeh melihat temannya yang di perlakukan seperti itu. "Makanya jangan bikin gara gara. Cari penyakit sih." ucap Alan lagi. "Diam kamu Al." dengus raka pada alan yang justru men tertawakannya. "Udah buruan pulang sana. Perempuan kan sukanya di sayang sayang. Buruan pulang sebelum keduluan di ambil orang." Raka bergegas pulang menyusul tika. Sesampai nya di rumah. Raka berlari naik ke kamarnya. Berniat mencari keberadaan istrinya. Saat membuka pintu kamar, raka tidak melihat tika. Bahkan lampu kamar masih gelap. Raka pikir mungkin di kamar mandi. Tapi pintu kamar mandi itu terbuka dan tidak ada siapa pun di dalam sana. Raka turun ke bawah menuju dapur. "Ifah. Kamu tau istri saya di mana?" "Maksud bapak bu Tika?" "Ya iya. Memang istri saya siapa lagi?" Dengus raka kesal memdengar jawaban asisten rumah tangganya. Tapi raka tau kenapa ifah menjawab seperti itu. Itu pasti karna ifah melihat lusi keluar dari kamarnya tadi pagi. "Bu tika ada di paviliun pak." Raka bergegas menuju paviliun tempat istrinya. Raka menerobos masuk ke dalam kamar tika Tika tengah duduk bersandar di ranjang sambil bermain ponsel. "Tika." panggil raka. Namun tika masih tak menjawab. "Kenapa kamu di sini?" tanya raka lagi. "Memangnya aku harus di mana?" jawab tika datar. "Kembalilah ke kamar kita." titah raka lagi. Tika meletakkan ponselnya di atas nakas. Tika masuk ke dalam selimut. Menarik nafas dan berkata. "Aku mau tidur di sini saja. Aku tidak pantas tidur di sana. Keluarlah. Aku lelah." Tika memejamkan matanya setelah mengatakan itu pada raka. Raka mendekat dan duduk di pinggiran ranjang. "Aku bisa jelaskan semuanya. Semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak melakukan apapun dengan lusi semalam. Aku bertemu lusi di club. Dia hanya menolong aku karna aku mabuk. Tapi aku juga tidak tau kalau lusi sampai berani tidur di ranjang kita. Aku minta maaf. Aku pergi tanpa bicara apapun padamu. Tapi aku pergi bukan karna kamu. Aku pergi karna aku sedang marah pada mamah. Kalau saja waktu itu kamu mencari aku atau menelfon aku menyuruh aku untuk pulang aku pasti akan pulang. Tapi sepertinya kamu memang tak perduli padaku. Atau mungkin kamu terlalu jijik padaku." Raka menjeda ucapannya. Menarik nafas panjang untuk melanjutkan berbicara. "Aku memang melakukan kesalahan besar dengan berganti perempuan di atas ranjang. Tapi aku janji aku tidak akan mengulangi lagi. Bisakah kamu memberikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya?" Raka berbicara panjang lebar namun tika masih diam dan memejamkan matanya. Merasa di abai kan. Raka beranjak pergi dari ruangan tika. Berjalan gontai menuju gazebo yang biasanya di duduki tika. "Baru juga pulang. Udah pisah ranjang." gumam raka yang kini duduk di gazebo taman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD