Jangan permainkan pernikahan

916 Words
Setelah memastikan bahwa raka benar benar sudah keluar dari paviliun, tika bergegas duduk bersandar di atas ranjang. Tika mendengar semua yang raka katakan. Tika tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. "Kalau memang kamu menganggap pernikahan kita ini serius harusnya kamu cerita sama aku. Apa yang kamu rasakan aku tidak akan tau kalo kamu gak bilang." gumam tika memikirkan penjelasan suaminya tadi. Tika beranjak ke luar. Merasa penat berada di kamar dengan pikiran yang rumit. Tika berniat duduk santai di gazebo. "Kenapa gelap sekali? Siapa yang matiin lampu?" Gumam tika saat melihat ke arah gazebo. Biasanya saat malam hari tika selalu menghidupkan lampu di gazebo itu. Tika berjalan ke arah gazebo. Tika mencari tombol lampu untuk menghidupkan lampu di gazebo tempat favoritnya. "Astaga.!!" tika terkejut saat lampu sudah di hidup kan dan melihat raka suaminya yang tengah duduk bersandar di bangku yang ada di gazebo. "Kenapa keluar?" tanya raka dengan wajah sendu. Sebenarnya tika kasihan melihat wajah suaminya yang sepertinya memang tengah gundah gulana itu. Tapi tika juga tidak bisa dengan mudah melupakan suaminya yang pulang mem bawa perempuan lain. Bahkan membawanya ke ranjang yang sempat mereka pakai untuk tidur bersama meski itu hanya malam. "Mau cari angin." singkat. Tika menjawab singkat. Dan ingin segera beranjak pergi dari hadapan suaminya yang nampak lusuh. "Tunggu. Duduklah. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu kamu. Maaf kalau aku sudah mengganggu kamu tadi." Raka hendak beranjak pergi dari gazebo itu. Karna tika tak kunjung merespon apapaun yang di ucapkannya. Raka benar benar merasa frustasi menghadapi keadaan sekarang. Sudah coba untuk menjelaskan. Namun nyatanya tak membuahkan hasil apapun. Raka beranjak dengan loyo nampak tak b*******h. Namun tiba tiba tika mencekal lengannya. Namun raka masih diam melihat tika menahan langkahnya. "Kita perlu bicara." ucap tika lembut. Raka bebalik dan menatap lembut pada tika yang kini tengah mendongak menatapnya. Karna postur tubuh tika yang lebih pendek. "Ada apa? Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai perkataanku. Aku juga tidak akan memaksa kamu untuk memahammi keadaan dan posisi aku. Aku sadar dengan kesalahan aku. Lakukan saja apa yang menurut kamu baik untuk kamu. Aku tidak akan menutut apapun dari kamu. Aku terlalu menjijikan untuk bersanding dengan kamu." Raka menarik nafasnya sebelum melanjutkan apa yang ingin ia katakan. Raka melepas lembut cekalan tangan tika pada lengannya. Menggenggam lembut tangan mungil itu dengan senyuman sendu. "Aku terlalu menjijikan untuk kamu. Pergilah. Dan cari kebahagiaan yang kau impikan. Tidak usah khawatir dengan ucapan mamah. Kalau memang aku harus keluar dari rumah ini dan tak mendapatkan apapun dari perusahaan, aku tidak apa apa. Carilah kebahagiaan kamu tika." Raka tersenyum menatap tika yang masih saja diam. Bukan ini yang ingin tika dengar. "Kenapa kau berkata seperti itu? Apa aku benar benar tidak ada artinya untuk kamu? Kenapa kau menyuruh aku pergi dari hidup kamu? Apa kau ingin selalu berganti perempuan, makanya kamu menyuruh aku pergi?" tanya tika datar. Raka tersenyum dan meneggelengkan kepalanya. Sambil terus Meremas jemari mungil milik istrinya. "Kau terlalu indah untuk laki laki macam diriku. Kau berhak mendapatkan laki laki yang lebih baik. Aku terlalu buruk dan menjijikan untuk kamu." "Aku tidak akan menganggap kamu seperti itu kalau saja kamu mau menjelaskan semuanya dari awal. Kamu memang menjijikan karna selalu bermain ranjang dengan banyak perempuan. Tapi Aku mencoba untuk menerima semua masa lalu kamu. Sekarang aku akan tanya satu kejujuran dari kamu mas. Aku mau kamu jujur. Dengan kejujuran jawaban kamu ini aku akan memutuskan apakah aku akan bertahan atau aku akan pergi selamanya dari kamu." Tika menatap tajam pada raka yang masih menunduk dengan memainkan jari jari nya. "Tanyakan lah. Aku akan menjawab nya." ucap raka. "Aku akan melupakan semua masa lalu kamu sebelum kamu menikah dengan aku. Pertanyaan aku. Selama satu minggu kamu pergi dari rumah apa kamu menyentuh perempuan lain di luar sana? Apa kau bermain ranjang di luar sana selama kamu melarikan diri?" Raka menatap mata tajam tika yang saat ini tengah menahan rasa marah. Tika pun terlihat seperti tengah menyiap kan diri untuk mendengar jawaban dari mulut raka suaminya. "Tidak. Setelah aku mengucap kan ijab qobul di hari pernikahan kita. Aku tidak menyentuh ataupun ber main ranjang dengan perempuan manapun. Selama seminggu aku pergi, aku menetap di villa. Dan masih memantau pekerjaan kantor dari sana." "Lalu kenapa kamu tidak menghubungi aku?" "Maaf. Aku terlalu gengsi untuk menghubungi kamu lebih dulu. Dan justru aku sangat berharap kamu yang menghubungi aku lebih dulu dan mencari keberadaan aku." "Kamu laki laki harusnya kau yang menghubungi aku dulu. Dan kau pergi tanpa aku tau apa kesalahan aku. Aku pikir kau pergi untuk urusan kantor. Tapi aku menanyakan kamu dan mencari kamu lewat alan. Meskipun sia sia karna alan sendiri tidak tau di mana keberadaan bos nya." Raka tersenyum mendengar penjelasan dari istrinya. "Terima kasih sudah mencari aku. Jadi apa keputusan kamu? Kau akan bertahan di sisiku atau kau akan mencari kebahagiaan kamu sendiri setelah aku menjelaskan semua ini padamu.?" "Aku akan bertahan di sisimu jika kau benar benar berjanji satu hal padaku." "Janji apa?" "Jangan pernah menyentuh apa lagi berhubungan ranjang dengan wanita lain selain aku. Jika kau melakukan itu maka saat itu juga aku yang akan pergi dengan senang hati dari sisimu." ucap tika lantang pada suaminya. "Aku bisa jamin aku tidak akan melakukan itu. Tapi satu hal yang ingin aku tau. Apa kau mau bertahan dengan aku karna kasihan padaku yang di pastikan akan jadi gelandangan jika kau tinggalkan aku atau karna ada alasan lain?" "Karna aku tidak mau mempermainkan janji suci pernikahan. Jadi jangan permainkan pernikahan ini seperti ayah ku." tegas tika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD