Dusta.

950 Words
Raka dan tika masih berada di gazebo. Raka menatap mata tika istrinya dengan wajah yang berbinar. Raka merasa ada kelegaan setelah tika mengatakan ia akan bertahan di sisinya. "Terimakasih. Dan maaf atas semua yang sudah terjadi." Raka mengusap puncak rambut istrinya dengan lembut dan sayang. Menangkup kedua pipi istrinya. Mengusap lembut pipi istrinya dengan perasaan yang bahagia. Raka mendekatkan wajahnya. Mengecup bibir istrinya sekilas. Awalnya dan niatnya memang sekilas saja, namun apa boleh buat. Raka yang sudah seminggu menahan hasrat yang meng gelora karna tak dapat menyentuh wanita halalnya akhirnya tak bisa menunggu hasrat itu lagi. Kecupan yang awal nya sekilas kini semakin menuntut. Kedua telapak tangan raka masih menangkup wajah istrinya yang kini tengah memejamkan matanya. Raka melumat bibir manis sang istri dengan lembut namun menuntut. Dengan tanpa sadar tangan tika meraba d**a raka yang bidang. "Sshh." desis raka di sela ciumannya akibat rasa yang timbul dari usapan tangan tika di d**a bidangnya. "Kau menggodaku?" raka menjeda ciumannya dan menempelkan keningnya di kening sang istri. "Apa maksud kamu?" tanya tika setengah berbisik. Nafasnya masih memburu akibat ciuman yang mereka lakukan barusan. "Kita masuk ke kamar." raka menarik tangan tika untuk masuk. Namun tika mematung dan menolak ajakan suaminya masuk ke dalam kamar yang sempat mereka tempati bersama. "Aku gak mau tidur di kamar kamu mas." Raka berbalik mendengar jawaban istri nya yang tak mau di ajak masuk ke dalam kamar. "Ada apa?" "Aku tidak mau tidur di atas ranjang kamu." "Kenapa?" Raka mengernyitkan kening di wajahnya. Tidak mengerti dengan maksud istrinya yang menolak tidur di kamarnya. Sedangkan baru saja tadi bilang bahwa dia akan bertahan di sisinya. "Aku tidak mau tidur di tempat bekas perempuan kamu." Raka tersenyum dan memeluk istrinya gemas. Ternyata itu istrinya sensitif sekali. Raka merasa harus berhati hati mulai sekarang. Meski tika sudah tau bahwa raka tidak melakukan itu dengan lusi di atas ranjangnya. Namun tetap saja tika merasa risuh dengan itu semua. Dan raka baru menyadari. Meski ia dan tika tinggal di satu rumah yang sama dan dalam waktu yang cukup lama itu tidak membuat raka tau semua tentang sifat istrinya. "Baiklah. Aku kan mengganti ranjangnya dengan yang baru besok. Tapi sekarang kita harus tidur di mana?" "Di kamar aku yang di paviliun saja." "Baiklah. Ayo kita masuk. Ini sudah malam." Raka dan Tika akhirnya memutuskan tidur di paviliun di kamar lama tika. Setelahnya raka mandi. Tika menyuruh ifah untuk mengambil kan pakaian untuk raka di kamar raka. Entah kenapa tika benar benar enggan masuk ke kamar raka saat ini. "Ini baju kamu yang ambil?" tanya raka saat setelah selesai mandi dan hendak memajai baju. Seingatnya tadi ia tidak mengambil baju ganti dulu di rumah utama. "Enggak. Tadi aku nyuruh ifah yang ambil." raka hanya mengangguk mendengar jawaban tika. "Mas kamu kok ganti baju di sini sih. Masuk ke kamar mandi donk." "Emang kenapa? Emang gak boleh ganti baju di depan istri sendiri?" "Au ah." tika malas berdebat. Tika memalingkan wajahnya. Suaminya benar benar mengujinya. Dengan sengaja berganti pakaian di depannya. "Emang kamu gak pengen lihat?" "Lihat apa?" "Lihat raka kecil." "Enggak." "Yakin? Kalo udah lihat sekali bikin kamu terbayang bayang terus lo." "Masa sih?" dengan polosnya. Nampak tika dengan wajah tak percayanya pada kata kata raka. Raka yang gemas dengan sikap polos sang istri langsung memeluk tika dri belakang yang saat itu tengah berdiri menatap keluar jendela. "Lagi lihat apa?" tanya raka sedikit berbisik. Raka mencium pipi istrinya dan meletakkan dagunya di pundak sang istri. "Gak lihat apa apa. Kamu udah makan malam mas?" tika ingat saat bertemu raka di mall tadi waktu masih sore. Kemungkinnan besar raka belum makan malam. "Belum. Tadi gak sempet makan. Soalnya tiba tiba lihat istri aku lagi sama banyak cowok di luar." "Apa'an si. Mereka kan temen sekolah aku dulu. Ya udah. Aku buatin makanan yuk." ajak tika. Yang sebenarnya dia sendiri juga lapar Raka hanya mengangguk dan mengekor di belakang tika menuju dapur di rumah utama. Di dapur masih ada ifah yang tengah duduk dan menikmati kopi sembari memainkan ponselnya "Sedang apa fah?" Tanya tika pada ifah yang sepertinya tidak tau raka dan tika masuk ke dapur. "Eh. Ibu bapak... Maaf ifah gak tau ada bapak sama ibu. Ini ifah cuma lagi nonton yutup. Ibu sama bapak mau apa malam malam ke dapur?" "Saya mau masak makan malam buat suami saya." "Oh kalo gitu biar ifah bantu Bu." Tika hanya tersenyum mengangguk. Raka duduk di meja makan menunggu istrinya masak makan malam untuknya. Raka mengambil laptop dan mengecek pekerjaannya. Ting tong. Ting tong. "Siapa malam malam datang ke sini?" gumam tika. Raka Nampak fokus pada laptopnya. Tak menggubris siapa tamu yang datang saat malam. "Biar ifah yang buka pintunya bu." Tika mengangguk membiarkan ifah yang membuka pintu. Ifah berjalan tergesa gesa karna bell itu kembali berbunyi. "Selamat malam Nona. Maaf mau cari siapa?" tanya ifah pada si tamu. "Raka ada di rumah?" "Ada Non. Maaf Nona ini siapa biar saya sampaikan pada Bapak dulu." "enggak usah. Biar aku langsung masuk aja dan cari Raka sendiri." Wanita itu memaksa masuk. Mendorong ifah yang berdiri menghalangi pintu. "Eh. Non jangan masuk." ifah sedikit berteriak. Namun wanita itu tak peduli. "Sayaaaaaaanngg." teriak wanita itu saat melihat raka tengah sibuk menatap laptopnya di kursi meja makan. Raka menoleh melihat siapa yang berteriak di rumahnya. Raka menatap tak percaya. Raka tidak menyangka wanita yang selama ini dia cari datang. Raka bangkit dan bergegas berjalan menghampiri wanita itu. Wanita itu merentangkan tangannya dan raka pun menyambut dengan suka cita dan seketika melupakan segalanya termasuk istrinya yang kini sedang menatap tak percaya yang di lakukan suaminya. "Dusta." gumam tika yang kembali melihat suaminya menyentuh wanita lain di depan matanya. Ternyata kata kata yang laki laki itu ucapakan hanyalah sebuah dusta. Begitu pikir tika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD