Gendhis terkejut kala mendengar teriakan Puri. Cepat, ia bergegas ke arah bangunan depan sebagai kafe utama. Sembari berjalan ke arah sumber suara, Gendhis mengusap air mata yang menggenang. Berbagai kecamuk datang dan terus berkelindan, meski telah ditepisnya kuat-kuat. Setelah membuka pintu belakang, betapa terkejutnya ia saat melihat Abi tengah berkacak pinggang. Dadanya berdegup kencang sebab meranyah. Bahkan, untuk sekejap ia merasa begitu pepat. Gendhis enggan bersetatap dengan Abi. Sesekali, ia melirik Puri mencari tahu tentang keadaan yang terjadi tanpa harus bertanya sendiri. Sayangnya, ia harus kembali menyabarkan diri saat adik iparnya mengedikkan bahu tanda tak mengerti. "A-ada apa ini?" tanya Gendhis hati-hati. Abi telah menurunkan kedua tangannya, lantas melipat tangan d

