"Saya memang punya anak perempuan, tapi bukan Gendhis namanya." Wati tampak memejam mendengar pernyataan suaminya. Ia menggenggam ujung bajunya erat-erat sebab kecewa yang melanda. Sementara itu, Ambar menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia memang berada di luar rumah, tetapi lantangnya suara Jatmiko membuatnya mampu mendengar apa yang dibicarakan mereka di dalam. "Please, Ayah. Jangan mulai. Ada orang asing di rumah," pinta Ambar. Ia mulai mondar-mandir di depan pintu rumah. Endra tergemap. Bukan ini yang diinginkan dengan mendatangi kediaman rumah orang tua Gendhis di Mojokerto. "Begini, Pak. Biarkan saya menyelesaikan apa yang ingin saya katakan." "Dan biarkan saya merasa tenang di rumah saya sendiri. Jika punya urusan dengan Gendhis, silakan pergi dari sini. Karena saya tak punya

