"Apa aku pernah mengenalmu?" tanya Gendhis, sesaat setelah keduanya duduk saling berhadapan di lantai dua kafe. "Mungkin kamu tak mengingatku. Tapi aku masih mengingatmu. Kenalkan, namaku Ganendra Mahawira." Tangan Endra terulur ke arah sang janda kembang. Gendhis pun menyambut tangan Ganendra dengan mengernyit. "Rasanya tak asing." Ganendra tersenyum, lantas ia berkata, "Kita bertemu di klinik. Saat kamu membantu kakakku, Abi." Sontak saja, Gendhis mengangguk-angguk kepala. "Ah ... iya benar! Maaf jika aku tak begitu memperhatikan, a--" "Tak perlu dijelaskan, Dhis. Aku tau. Kamu masih dalam keadaan berduka. Aku memakluminya." Gendhis tersenyum, lantas ia menggeleng pelan. "Kamu jauh berbeda dengan kakakmu, Endra." Ganendra tersipu. Sesekali, ia melirik Gendhis sembari menahan malu.

