Mengingat permintaan sang kakak ipar, Puri terus mondar-mandir di kamarnya. Berulangkali ia mencoba menghubungi Abi yang tak tersambung panggilannya. Sembari berdecak penuh nada kesal, ia menggeram sebab berang. Napasnya memburu seolah-olah telah berlari terlampau jauh. "Apa lagi yang direncanakan Abi kali ini? Kenapa tak memberitahuku dulu?!" Jam sudah menunjuk ke angka dua belas saat notifikasi dari ponsel Puri berdenting. Usai membaca informasi mengenai nomor ponsel Abi yang telah aktif, ia pun segera menghubungi kembali. "Ada apa ini, Abi? Apa yang terjadi?" cerca Puri, sesaat setelah panggilannya tersambung. "Apa, apanya? Datang-datang malah marah-marah. Ada apa denganmu?" tanya Abi balik. Puri mendengkus, dilipatnya tangan di d**a sembari mengenyakkan badan pada ranjang. "Kamu n

