Jam sudah menunjuk ke angka sebelas saat ponsel Gendhis menyalak dengan keras. Ia tergemap dari lamunannya mengenai Putra yang kini sering muncul tiba-tiba. Terlebih lagi, ia selalu diingatkan Puri mengenai apa pun tentang mendiang suaminya. Sadar ada yang menelepon, Gendhis buru-buru menerima sambungan panggilan. Nama Ibu tersemat tepat di layar. "Halo, Bu. Ada apa?" Hapsari mondar-mandir sembari melihat ke arah para tamu yang duduk di sofa. Ia berdecak sebelum akhirnya mengungkap kebenaran yang ada. "Ada beberapa penyidik yang datang, Dhis. Mereka mencarimu. Saat kukatakan kalau kamu di kafe, mereka ingin bertemu sekarang di rumah. Bagaimana?" Sontak saja, Gendhis gelagapan. Lekas diambilnya tas, map beritsleting, dan juga anak kunci mobil tanpa memutuskan sambungan telepon. "Tunggu,

