"Apa yang kalian katakan? Ma-maksudku, apakah yang kalian maksud adalah jenazah yang baru saja dibawa pulang?" tanya Wati. Ia mendekati salah satu petugas kesehatan yang bertugas.
"Iya, Bu. Bahkan, jemari keduanya saling menggenggam dengan erat. Seolah-olah tak ingin terpisah meski ajal di depan mata."
Sontak saja, Ambar menggeleng pelan. Kali itu ia tahu bahwa sang kakak tengah butuh sandaran. Ia menatap sang ibu yang mulai berkaca-kaca.
"Bu, kita harus menemani kakak. Kak Gendhis pasti membutuhkan kita, Bu."
Wati mengangguk, membenarkan ucapan Ambar. Keduanya lantas saling berpegangan dan mulai berlari ke luar dari rumah sakit.
"Hati Gendhis pasti hancur berkeping-keping," desis Wati. Ia memejam sebentar, sebelum akhirnya mengedarkan pandangan di parkiran.
"Ayah dan kakak ada di mobil, Bu!"
Dengan cepat, keduanya mendekat ke mobil Jatmiko. Mereka tahu betul, Gendhis yang lembut tak akan mampu menerima kenyataan sepahit ini.
Ambar membuka pintu mobil, lantas membaur bersama sang ayah. Ia memeluk kakaknya dengan erat.
Sementara sang ibu, ia mengatur napas pelan, sebelum akhirnya duduk di balik kemudi mobil. "Kita harus ke rumah Hadiyata. Bagaimanapun juga, kita adalah mertua Putra."
Jatmiko tak bertanya sedikit pun. Ia mulai paham apa yang terjadi tanpa harus diberitahu. Hanya satu yang kini terus dilakukan. Ia harus menguatkan Gendhis bagaimanapun caranya.
Belum juga mobil melaju, Jatmiko berdeham. "Ambar ... bawa mobil kakakmu."
Perintah Jatmiko tentu langsung disambut anggukan oleh Ambar. Usai mengusap wajahnya dengan kasar, ia meraih tas jinjing sang kakak. Lantas, keluar dari mobil ayahnya dan beralih ke kendaraan milik Gendhis.
Dua mobil beda pabrikan itu melaju, membelah jalanan Batu-Malang tanpa ragu.
Wati masih terus mengemudikan mobil suaminya, sedangkan Jatmiko tak henti-hentinya memeluk Gendhis yang masih menangis tersedu sedang.
Sudah setengah jam lamanya mereka melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tiga kali bertandang ke rumah besan, membuat Wati hapal betul arah ke rumah keluarga Hadiyata.
Usai masuk ke gang Bareng Tenes, Wati menepikan mobilnya. Banyaknya pelayat yang datang, meski hari sudah lewat tengah malam, membuat ruas jalan kian menyempit. Mau tak mau, ia harus berhenti di sana.
"Kita sampai. Ayo, Nduk."
Jatmiko mengecup kepala Gendhis pelan sebelum akhirnya membantu membukakan pintu mobil. Ketiganya baru saja hendak melangkah saat mobil Jazz kuning milik Gendhis ikut parkir di belakang Fortuner doff.
Cepat, Ambar mengekor di balik punggung ayahnya. Ia paling benci berada di rumah Hadiyata. Meski ia tahu, Putra adalah ornag baik, tetapi ia tak suka dengan sikap Puri.
Baru saja keluarga Gendhis menapakkan kaki memasuki teras rumah Hadiyata, saat Puri datang dengan wajahnya yang basah. Tatapannya tajam mengarah kepada Gendhis. Namun, sedetik kemudian ia memelas.
"Gendhis, jangan takut. Kami ada bersamamu."
Sontak saja, Ambar dan Wati yang tahu betul bagaimana perangai Puri tadi, memicingkan mata. Keduanya tampak saling melirik sebentar, sebelum akhirnya mengempas jauh pikiran mereka yang bukan-bukan.
"Ibu ... di mana ibu, Puri?"
Pundak Gendhis masih dalam pelukan Jatmiko saat Puri menggandengnya, membawanya masuk rumah. Dilewatinya banyak tetangga yang kasak-kusuk, bisik-bisik memperhatikan keluarga Gendhis.
Sesampainya di tengah ruang tamu, Gendhis menghentikan langkah. Ia kembali terpaku pada sosok yang kini tertutup kain dari ujung rambut ke ujung kaki.
Lantas, bayangan tentang tangan yang saling menggenggam, tentang kemarahan Abi, tentang cincin yang lingkarnya terlalu besar, serta tentang ucapan Puri berkelindan di pelupuk mata. Pandangan Gendhis memburam. Hampir saja ia meluruh ke lantai, jika Jatmiko tak memeluk pundaknya agar tetap tegap.
"Ayah ... lepaskan aku. Aku ingin ... berada di dekat Putra untuk yang terkahir kalinya, Yah."
Jatmiko bergeming. Ia masih menatap jasad Putra, pria yang dengan teganya membawa Gendhis kabur untuk melangsungkan pernikahan secara diam-diam. Ia menelan ludah susah payah, sebelum akhirnya melepas Gendhis.
Gendhis langsung membaur pada jasad suaminya tatkala Jatmiko mengendurkan cengkeraman. Disingkapnya selarik kain yang menutupi wajah, demi bisa menatap Putra untuk yang terakhir kalinya.
Sisa waktu malam itu, dihabiskan Gendhis dengan terus menatap suaminya sembari memanjatkan doa. Ia tak lagi peduli pada Jatmiko, Wati, dan Ambar yang masih setia menantinya pulang.
Hingga pagi menjelang, saat semua sudah siap memandikan, barulah Gendhis sadar. Ia mengabaikan keluarganya.
"Tak apa, Nduk. Kamu harus tetap menemani Putra. Tapi tak perlu ikut saat proses pemakaman. Kamu belum siap untuk melihatnya beristirahat di liang lahat."
Ucapan Jatmiko tentu membuat Gendhis makin terharu. Ia bahkan belum sempat mengatakan apa pun saat mendekati sang ayah.
Jam sudah menunjuk pukul enam saat jenazah Putra dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Hapsari Hadiyata dan Jatmiko turut serta dalam prosesi pemakaman. Sementara itu, Ambar dan Wati telah pamit undur diri sebab memang tak begitu dekat dengan sang besan.
Di saat-saat lengang itulah, Puri mendatangkan pengacara yang pernah ditunjuk sebagai kuasa hukum atas usaha milik Putra. Bagaimanapun juga, ia tahu usaha kakaknya tak sedang dalam kondisi baik-baik saja.
"Aku perlu referensi. Bagaimana cara mencairkan dana asuransi mobil serta kesehatan kakak. Aku ingat, kakak ikut beberapa asuransi kesehatan, bukan?" tanya Puri. Tangannya telah melipat di d**a.
Pria paruh baya di depan Puri itu mengernyit, lantas membuka dokumen yang dibawa. "Kupikir ada kekeliruan di sini, Puri. Mengenai asuransi, apakah kamu tak tau jika kakakmu berhenti membayar premi dan telah mencairkan uangnya tahun lalu? Mendiang telah melakukan itu pada kesemua asuransi kesehatannya."
Mendengar fakta yang ada, tentu saja Puri membeliak. Tangannya diempas dari d**a, lantas mengepal erat. Kedua alisnya mengernyit tanda tak suka. "Jangan bercanda!"
Pria bernama Norman itu hanya bisa menggeleng pelan. "Anehnya, sebulan yang lalu ia membuat surat wasiat. Seolah-olah, ia tau bahwa ajalnya akan segera datang."
Kali ini Puri mengendurkan kepalan tangannya. Ia mencoba duduk di sofa, berhadapan dengan Norman, kuasa hukum sang kakak lima tahun belakangan.
"Biar kubacakan," ujar Norman. "Saya yang bertandatangan di bawah ini, Putra Hadiyata selaku pemilik kafe TraDhis Kopi, pemilik tanah SHM, bangunan di Bareng Tenes, serta mobil, dan sisa harta lainnya di rekening dan tunai, menghibahwasiatkan segalanya atas nama Gendhis Ambarwati."
Sontak saja, Puri menggebrak meja. Rahangnya mengetat, sedangkan matanya dipenuhi kilat amarah. "Jangan bercanda, Pak Norman!"
Norman hanya mengedik, lantas menutup kembali surat kuasanya. Lalu, ia mengangsurkan surat wasiat itu pada sang adik mendiang.
Tentu saja, Puri makin meradang. Bahkan, sampai akhir hayat pun Putra sama sekali tak mengingat masa depannya dan sang ibu. Seluruh harta yang dipunya diberikan pada Gendhis. Bahkan, rumah yang dihuni kini pun akan segera diambil-alih oleh Gendhis.
"Tidak! Aku tak akan membiarkan ini terjadi! Kamu harus menderita, Gendhis! Harus! Setidaknya, jika aku dan Ibu tak bisa menikmati harta kakak, maka kamu pun tak akan mampu hidup atas harta yang kakakku berikan dengan tenang!"