Malam kian larut saat Abi baru saja kembali dari apotek. Dibangunkannya Gendhis dengan menggoyang tubuhnya pelan, lantas memanggil-manggil nama dengan cemas. "Dhis? Bangunlah, Dhis. Kubawakan mi instan. Makanlah dulu, setelah itu kamu bisa minum obat." Gendhis menggeliat. Ia mengernyit sembari merapatkan selimutnya. Namun, tidak ada tanda-tanda ia akan membuka kedua mata. "Dhis. Kamu harus bangun! Suhu badanmu makin tinggi, Dhis." Tiba-tiba saja, kelebat bayang ingatan saat masih bersama Rania kembali hadir di depan mata. Saat Rania yang sakit dan Abi yang cemas. Tepat sehari setelah masuk sekolah menengah pertama. "Aku kedinginan, Abi," ujar Rania. Mulutnya bergetar sebab dingin yang terasa. "Apa yang kamu lakukan? Kita akan terlambat ke sekolah, Rania! Bangun dan mandilah!" perinta

