"Jangan, Rania. Rania ... kumohon. Tidak!" Abi terduduk sembari merentangkan tangan. Untuk sejenak, ia menatap ke sekeliling kamar dengan raut wajah kebingungan. Setelah puas memindai, ia menelan ludah susah payah. Terlebih, saat tahu Ida berada di sana. "I-ibu ... a--" "Tidak, Abi. Jangan sembunyikan itu dari ibu, Nak." Ida mendekat, lantas memeluk Abi dengan erat. Ia kembali terisak, bersama Abi yang menangis, menumpahkan sesak. Tanpa diduga, Hanum masuk sembari membawa nampan dan semangkuk bubur hendak mengusir Ida. Sayangnya, ia lebih dulu melihat sang anak, menumpahkan kesedihan dalam pelukan mertuanya. Hanum mengetatkan rahang. Hampir saja ia mundur dan beranjak dari sana, jika Endra tak muncul di balik punggungnya. "Sudah sadar, Kak?" tanya Ganendra. Sontak saja, Abi dan Id

