Matahari telah terbit di ufuk timur. Hari baru pun tiba seakan siap untuk menyongsong cerita baru. Semesta berharap, pasangan pengantin baru itu pun sudah bisa tersenyum manis menyambut pagi yang cerah. Setelah semalaman menangis bersama, kini, mereka masih tertidur dengan posisi yang tak beraturan. Entah bagaimana ceritanya hingga Arabella bisa betah meringkuk sembari merebahkan kepalanya di perut Brian. Tidak lupa, ia pun mengemut ibu jarinya sendiri seolah sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Sementara itu, Brian sendiri tidur terlentang dan mulai terjaga ketika sinar matahari menyorot ke arah wajahnya.
Secara spontan, ia pun mengangkat sebelah tangannya dan menghalangkannya tepat di wajah. Saking silaunya tersorot matahari, ia pun sampai kesulitan sendiri untuk membuka matanya dengan lebar. Hanya sebatas memicing itu pun masih sibuk mengerjap gara-gara Sang Mentari yang menyorotinya dengan nakal di waktu pagi begini. Membuat ia lantas berniat bangun, dan lalu agak terkejut tatkala mendapati perutnya yang terasa berat.
Segera, Brian pun meraba beban berat yang sedang menimpa perut kotak-kotaknya. Hingga ketika sadar bahwa yang tengah disentuhnya adalah kepala seseorang, maka secepat kilat pria itu pun menelengkan pandangannya dan mendapati wajah polos sang adik tiri yang baru saja dinikahinya kemarin.
"Ya Tuhan, Dek. Jadi kepala kamu yang bikin perut kakak seberat ini. Kasian kamu ... gara-gara capek nangis semalaman, matamu jadi bintitan begitu," gumam Brian serak. Meskipun tadi malam ia pun sempat menangis kecil, tetapi matanya tidak sampai bengkak mengingat tangisnya tak separah Arabella.
"Aduh, kebelet kencing lagi. Gimana caranya gue bisa pergi ke toilet kalo perut gue aja ditindih begini. Ya ampun, Dek. Bangun dulu bisa gak, sih? Kakak bisa kencing di celana kalo kamu masih aja nindih perut kakak," cetus Brian meringis.
Seakan sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu, ketika pagi hari ia terbangun, pasti saja ia selalu ingin ke toilet untuk menuntaskan hasrat ingin kencingnya. Jika ditahan lebih lama, maka Brian khawatir kalau pusakanya akan kesakitan dan berpotensi menyebabkan kencing batu seperti yang sering kali ia dengar dari orangtua zaman dahulu jikalau sedang menakut-nakuti anak lelakinya yang punya hobi menahan kencing.
Oleh karena itu, Brian pun berusaha keras memindahkan kepala sang gadis agar ia bisa segera pergi ke toilet tanpa perlu membangunkan Arabella yang masih terlihat pulas.
"Maaf ya, Dek. Bukannya gak sopan, tapi apa boleh buat daripada kakak kencing di celana, kan? Baunya gak seberapa, tapi malunya pasti awet sampe meninggal," gerutu Brian sambil nyengir. Lalu, setelah berhasil mengenyahkan kepala Arabella di perutnya, buru-buru ia pun memelesat pergi menuju kamar mandi yang tersedia di sebelah kiri ranjang tidur.
Seusai berhasil mengosongkan kantung kemihnya di waktu yang tepat, Brian pun bernapas lega. Beruntung, ia tidak sampai terkencing-kencing karena keburu masuk toilet. Setelah sempat membasuh muka yang dirasa lengket, pria itu pun lantas bergegas keluar dan berniat membangunkan Arabella guna mengajaknya sarapan di bawah tentunya bersama anggota keluarga yang lain yang kemungkinan besar sudah menunggu kehadiran mereka.
Akan tetapi, sebelum Brian benar-benar membangunkan Arabella, ia justru malah terpana akan paras polos sang gadis yang terlihat murni dan tak bermake-up. Sungguh, setelah selama tiga tahun lamanya mereka tinggal seatap sebagai kakak beradik yang dibawa oleh masing-masing orangtuanya, baru pagi ini Brian melihat wajah asli Arabella. Tanpa riasan sedikit pun, dan kemurniannya cukup berhasil membuat Brian terpukau untuk beberapa saat.
"Kamu emang cantik bawaan dari lahir ya, Dek? Kok, bisa-bisanya lagi tidur pun kamu masih secantik ini. Padahal, ilernya aja masih nemplok di sudut bibir kamu, tapi tetep aja kecantikan kamu paripurna. Gak heran kenapa si Gilang sampe secinta itu sama kamu. Tapi emang dasar dia b**o aja. Pas akad nikah udah di depan mata, eh, dia malah pergi." Brian mendengkus sendiri. Sejenak mengangkat bahu, lalu beringsut ke arah nakas guna mengecek ponsel yang semalam sempat diisi daya.
Seiring dengan duduknya Brian di tepi ranjang. Tiba-tiba, pria itu pun kembali teringat pada percakapan yang sempat terjadi di antara dirinya dan Arabella. Cukup mengejutkan, tetapi memang tidak ada salahnya jika ia sedikit mengikuti keinginan Arabella yang masih belum bisa menerima takdirnya.
"Aku gapapa, kok, kalo memang Kak Brian mau lanjut sama Kak Cecil. Lagi pula, entah jadinya akan seperti apa kalau kita sungguh-sungguh menganggap benar mengenai pernikahan ini. Rasanya aneh banget tau gak, sih? Walau gak sedarah, tapi orang-orang taunya kita itu kakak beradik, kan, selama tiga tahun ini. Lantas, gimana bisa dari kakak beradik menjadi suami istri? Aneh banget, kan? Dan rasanya gak adil aja buat Kak Cecil. Justru seharusnya dia yang menjadi mempelai pengantinmu, Kak. Bukan aku! Seperti katamu, akan terasa sulit melupakan segenap kenangan yang pernah kita lalui dengan orang yang kita cinta. Begitu pun aku, Kak. Meski kamu udah menikahiku, tapi entah apakah aku bakalan bisa atau justru malah sulit lagi membuka hati untuk Kak Brian yang notabene pernah menjadi kakak tiriku. Ini bener-bener awkward, you know? Sangat gak etis dalam kamus besar pikiranku," tutur Arabella sesaat setelah berhasil meredakan tangisnya.
Sementara itu, Brian pun tampak memperhatikan sang gadis dengan dahi yang berkerut. "Maksud kamu gimana, sih? Kakak gak ngerti, deh, ke mana sebenarnya arah pembicaraanmu," sanggah Brian mendecak. Jika Arabella sedang membicarakan soal pernikahan mereka yang sudah kejadian, maka apakah bisa hal tersebut ditarik lagi? Ibarat pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Mana bisa bubur dijadikan nasi lagi. Tentu saja mustahil. Pikir Brian kritis.
"Maksud aku gini, loh, Kak. Kita bisa aja berpura-pura menerima kenyataan yang menyatakan bahwa kita sudah menikah. Tapi, itu hanya sebatas di luar dan di mata keluarga saja. Ngerti gak maksud dari perkataanku barusan?" Arabella pun mencoba memastikan dulu sebelum ia melanjutkan penjelasannya.
Sepintas, Brian pun tercenung dan berpikir. Benaknya seolah berupaya keras untuk mencerna penuturan Arabella yang masih rumit diurainya.
"Begini, loh. Mungkin, status kita adalah suami istri di mata keluarga dan para tamu yang turut hadir kemarin. Tapi lain hal kalo kita memilih tinggal di luar kota. Mereka mana tau kalo kita sudah menikah. Untuk itu, sangat perlu bagi kak Brian mengajukan sebuah permintaan pada papa juga bunda. Seminggu setelah pernikahan kemarin, kita sudah harus menemukan tempat tinggal di lingkungan baru. Lebih bagus di luar kota. Dengan begitu, kita bisa berbuat apa saja tanpa perlu dipandang buruk oleh tetangga," urai Arabella agak ambigu.
Sehingga dengan cepat, Brian pun melontar tanya,"Maksudmu bisa berbuat apa saja itu apa, Dek?"
Brian memang lulusan terbaik di kampusnya, Arabella tahu akan hal itu. Tapi ternyata, urusan begini saja dia tidak bisa menyerap. Membuat sang gadis sontak menepuk jidatnya gemas seiring dengan Brian yang hanya mampu melongo bingung.
Bunyi dering ponsel sontak saja membuyarkan lamunan Brian detik itu juga. Terkesiap dan langsung tersadar, pria itu pun lekas saja mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Rupanya, ada panggilan masuk dari bundanya. Mengharuskan Brian segera menjawab dan bersama itu pula Arabella pun mulai terjaga ditandai dengan dua tangannya yang menggeliat ke atas disusul dengan mulutnya yang menguap lebar.