TAK SANGGUP BICARA

1051 Words
"Apa? Pisah rumah? Jadi maksudnya, kalian gak mau tinggal serumah sama kami lagi?" Brian sempat melirik ke arah Arabella ketika tanpa disangka papanya menyahut dengan kalimat seperti barusan. Terdengar seolah sang papa merasa keberatan tatkala mengetahui bahwa anak-anaknya ternyata sudah tidak ingin lagi hidup satu atap dengan mereka. "Bukan begitu, Pa. Hanya saja, terkadang setelah menikah, kita memerlukan ruang pribadi. Baik itu untuk keberlangsungan rumah tangga kami, maupun jarak yang memang sudah seharusnya diciptakan oleh kami yang sudah memiliki kehidupan baru. Lagi pula, setiap akhir pekan juga kami bakalan sering tengokin kalian, kok. Ya, kan, kak?" Buru-buru, Arabella pun ikut menimpali mengingat Brian seperti kebingungan dalam menjabarkan. Minimal, dia pun harus ikut andil menjelaskan supaya segalanya berjalan lancar dan sempurna. Untuk sesaat, kedua orangtua mereka tampak termenung. Walau begitu, rupanya satu di antara keduanya pun cepat tanggap dalam memahami keinginan si pengantin baru. "Mungkin mereka kepengin mandiri, Mas. Gak ada salahnya juga, kan, kalo kita memberi ruang pribadi untuk pengantin baru ini. Maklumlah, Pah. Namanya juga pengantin baru. Ya jelas butuh waktu berduaanlah buat saling mengeratkan lagi kemistrinya. Betul, kan, anak-anak?" Zara lebih dulu mengerti. Kemudian bantu membujuk suaminya agar ia bersedia memberi persetujuan kepada Brian dan Arabella yang katanya ingin pisah rumah dari orang tuanya. Pasangan pengantin baru itu sedang sama-sama berdebar. Sesekali, keduanya pun saling melempar pandang seakan takut kalau-kalau papanya tak menyetujui. Arabella yang paling terlihat cemas. Sebab, dari dialah ide itu tercetus. "Jadi, kamu mau supaya kita gak serumah sama papa dan bunda? Terus, setelah itu?" "Ya kalo gak serumah, kan, kita bisa bebas ngapain aja, Kak. Semisal kak Brian mau ketemuan sama Kak Cecil pun, itu gak akan bikin papa sama bunda tau. Mereka pun ngiranya kita adem ayem aja jalanin rumah tangga yang baru kita bina. Sementara itu, aku bisa fokus sama hatiku yang patah ini. Kak Brian, kan, tau sendiri kalo aku baru aja ditinggal Gilang. Kelak, aku pun bakal cari tau mengenai alasan Gilang sampai harus pergi di hari pernikahan kami," urai Arabella menggebu-gebu. Sejenak, Brian tertegun kaget. Apa pun yang baru saja Arabella katakan itu tentu hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi berantakan. Tidak! Brian tidak bisa membiarkannya terjadi. Namun, rupanya Brian selalu merasa kalah jika sudah melihat puppy eyes-nya Arabella berikut suara rengekannya yang seolah kedua hal itu merupakan titik kelemahannya. Membuat Brian lantas merasa tak bisa menolak sehingga pada akhirnya ia pun bersedia menuruti kemauan Arabella, meski bukan demi Cecil yang tentu sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan tujuan Brian. "Ya sudah kalau kalian maunya begitu. Papa akan suruh orang buat cari apartemen yang luas dan nyaman untuk kalian tempati sementara. Tapi dengan syarat, kalian gak boleh lupa sama kami. Wajib berkunjung ke rumah setiap akhir pekan tiba. Kalo kalian ingkar, maka seharusnya kalian tau seburuk apa konsekuensinya," lontar Alex akhirnya setuju. Sekaligus membuyarkan lamunan Brian yang kala itu lebih setuju jika mereka tinggal seatap saja dengan kedua orang tuanya. Dalam sekejap, cengkeraman Arabella di paha Brian pun terlepas seiring dengan memekik girangnya ia sampai harus refleks bangkit guna memberi pelukan terima kasih kepada papanya. "Thanks a lot, Pah. Aku sayang banget sama Papa," ujar Arabella di tengah pelukannya. Membuat Zara ikut tersenyum haru dan Brian sendiri pun hanya bisa menghela napasnya panjang sembari pura-pura tersenyum bahagia ketika melihat Arabella bahagia. *** Sesampainya di rumah, Brian yang baru saja akan turun dari mobil pun tahu-tahu harus urung ketika ponselnya berdering nyaring. Melirik, Arabella yang kebetulan memilih ikut semobil dengan Brian pun lantas menatap dan bertanya, "Telepon dari siapa?" Sontak saja, tubuh Brian pun menegang tatkala mendapati nama Cecilia yang kala ini tertera di layar ponselnya. Merasa tak juga dijawab, Arabella pun lantas iseng mengintip ke arah layar menyala yang masih didiamkan Brian di tengah kebimbangannya yang datang menyergap. "Angkat aja, Kak. Tapi sebisa mungkin, jangan pernah berkata kalau kakak udah nikah sama aku. Sebab aku tau rasanya dikhianati itu sesakit apa. Please, daripada bikin hati kak Cecil sakit, akan lebih baik kalo Kak Brian berbohong aja dulu demi kebaikan hubungan kalian. Percayalah, nanti juga kalo udah waktunya, kalian pun bakal jadi menikah," ucap Arabella seyakin itu. Kemudian, ia pun menepuk pundak Brian sembari lanjut berkata, "Take your time, Kak. Aku turun duluan ya." Setelah sempat tersenyum, ia pun bergegas turun dan meninggalkan Brian serta memberi waktu pribadi supaya dia bisa berbincang santai dengan kekasihnya. Sepeninggal Arabella yang dilihatnya sudah memasuki rumah, Brian pun malah mengeraskan rahangnya. Mendapati Cecilia yang tiba-tiba menelepon, ia pun lantas mendesah kasar sembari terpaksa menjawab panggilan tersebut. "Ya, halo," gumam Brian menyahut. "Ya ampun, Sayang. Kamu ke mana aja? Kok, lama banget, sih, angkatnya. Habis ngapain dulu, hem? Aku jadi curiga, nih. Jangan-jangan, kamu--" "Gak usah sok curigaan gitu deh. Aku baru aja dari kamar mandi," sela Brian agak ketus. Merasa tersindir, dia pun jadi sensi sendiri. "Ih, ih, ih. Kok, ambekan gitu, sih, nadanya. Kenapa, sih, kamu, Yank? Perasaan cowok gak ada masa periodenya, deh. Tapi, kok, sensi banget kayak aku lagi PMS," celetuk Cecilia mendengkus. Brian yakin, gadis itu pasti sedang merengut seperti kebiasaannya kalau lagi keki. Tapi Brian peduli apa? Toh, bagi dia Cecilia sudah tidak berarti lagi di hidupnya. "Sori, aku lagi capek. Terkadang, cowok juga bisa sensi kalo lagi letih. Jadi, gak usahlah kamu berpikir macam-macam," ujar Brian mengingatkan. Mulutnya melenguh kecil di tengah ia yang merebahkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang masih didudukinya. "Iya deh iya. Aku juga ngerti. Anyway, kamu pasti capek karena terlalu semangat urusin nikahan Arabella kemarin ya? Gimana, gimana, akad nikah sama resepsinya lancar, kan? Duh, aku jadi nyesel, deh, gak bisa hadir. Andai aja bisa izin dulu dari pekerjaan ini, kayaknya aku bakalan jadi bridesmaid paling unyu, deh, di antara yang lain," cerocos Cecilia sembari terkikik sendiri. Namun mendengar itu, tentu saja Brian refleks mendecak. "Cil, barusan bunda manggil aku. Kayaknya ada yang mau dibahas, deh, soal Arabella. Aku tutup dulu ya. Nanti aku telepon lagi. Bye!" Tanpa mau memberi Cecilia kesempatan untuk membalas, Brian pun segera saja menyudahi percakapannya sekaligus memutuskan sambungan panggilan yang diawali oleh kekasihnya. Selanjutnya, ia pun refleks membenturkan jidatnya ke arah setir seiring dengan ponsel yang ia lempar asal ke kursi mobil sebelahnya. "Masalah baru. Semoga aja, Cecilia gak balik ke Indo dalam waktu yang dekat," gumam pria itu gusar. Kemudian, ia pun kembali membentur-benturkan kepalanya sembari mengerang tertahan sebelum akhirnya memutuskan untuk bergegas turun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD