DUA HARI PASCA PERNIKAHAN

1136 Words
Dua hari setelah pernikahan dilangsungkan, Arabella pun berencana untuk masuk kerja lagi seperti biasanya. Padahal, sebelum hari pernikahannya tiba, Arabella sempat minta cuti selama seminggu lamanya mengingat ia sudah sepakat untuk langsung berbulan madu bersama suaminya kelak. Akan tetapi, saat Gilang pergi begitu saja bahkan tanpa sedikit pun pemberitaan, alhasil impian Arabella pun mendadak musnah. Sehingga sisa cuti yang masih cukup panjang pun entah harus ia gunakan untuk apa di tengah tak ada lagi kegiatan berarti yang dapat dilakukannya. "Dek, mau ke mana? Pagi-pagi begini udah rapi aja," tegur Brian yang kebetulan baru keluar dari kamar sebelah. Berbanding terbalik dengan sang gadis, alih-alih terlihat rapi, Brian justru masih anteng-anteng saja memakai kaus oblong dan boxer hitam favoritnya. "Eh, Kak Brian," pekik Arabella agak terkejut. Dipikirnya, Brian masih betah bergelung di atas tempat tidur mengingat ini masih cukup pagi untuk sekadar beraktivitas. Apalagi Brian juga walau berstatus sebagai karyawan kantor, tetapi ia tidak pernah berangkat ke tempat kerja sepagi buta ini. Masih menanti jawaban dari adik tiri merangkap istrinya, Brian pun hanya menatap dan mencoba menela'ah gerak-gerik Arabella yang cukup mencurigakan. "Eng, anu, Kak. Sebenernya aku--" "Ara, Brian, syukurlah kalau kalian udah bangun!" Tiba-tiba saja, Zara datang menginterupsi yang seketika pula membuat keduanya sama-sama menoleh ke sumber suara. Kemudian, perhatian Zara pun teralih fokus kepada sang anak perempuan yang kelihatan lebih rapi dibanding Brian yang masih boxer-an. "Wah, kamu mau ke mana, Ra? Kerjamu masih cuti, kan? Tapi, kok, pagi-pagi begini udah rapi aja. Jangan bilang kalo kamu mau ke kantor dan batalin cutinya lagi," imbuh sang bunda bertanya-tanya. Segera saja, Brian yang sempat mempunyai pemikiran serupa pun sontak pula memandang Arabella dan menuntutnya untuk menjawab. Setidaknya, jika bukan menyahut pertanyaannya tadi, minimal Arabella mau bicara sebagai jawaban atas tanya bundanya barusan. "Kok, diem, Dek? Bunda tanya kamu, lho. Dijawab dong," lontar Brian agak sinis. Habisnya, dia cukup kesal juga saat melihat Arabella tak kunjung menjawab. Untuk sesaat, gadis itu pun hanya sibuk menggigit bibir bawahnya saja. Sebelum akhirnya, ia pun memutuskan bersuara walau dengan suara yang agak serak dan gemetaran. "Eng, anu, Bun. Se-sebenernya Ara emang mau berangkat kerja kayak biasanya. Mengingat rencana bulan madunya batal, jadi ya buat apa juga Ara lama-lama ambil cuti. Kan, mending kerja aja biar ada kegiatan," celetuk Arabella sepolos itu. Dalam sekejap, membuat Zara maupun Brian sontak tercenung bersamaan di tengah Arabella yang hanya mampu menyengir kikuk seolah tidak bisa berkata apa-apa lagi. *** Mendengar Arabella yang katanya hendak pergi bekerja, terang saja Alex tidak setuju. Sebab, walau sebenarnya Arabella bekerja di perusahaannya sebagai karyawati yang andal dan dapat dipercaya, tetapi Alex tidak setuju apabila sang anak buru-buru bekerja dan mengabaikan bulan madu yang dianggapnya batal. "Papa gak setuju ya kalo kamu masuk kerja secepat ini. Lagi pula, surat cutinya, kan, udah keluar sejak kamu meminta cuti selama satu minggu. Lantas, kenapa tiba-tiba aja kamu mau batalin cutinya? Mentang-mentang bulan madunya batal, terus, kamu bisa seenaknya juga batalin ambil cutinya?" Setelah mendengar cerita dari istrinya, rupanya Alex pun ikut berbicara seiring dengan meluncurnya sebuah omelan yang ia arahkan khusus kepada putri sambung merangkap menantunya tersebut. "Habisnya Ara juga bosen, Pah, kalo diem terus di rumah sementara gak ada kegiatan seru yang bisa Ara lakuin. Daripada berujung jenuh, kan, lebih bagus kalo Ara masuk kerja aja. Dengan begitu, Ara bisa tuntasin pekerjaan Ara yang sempat tertunda sepanjang cuti pra nikah, dan Ara juga gak akan mati kebosanan cuma gara-gara terlalu lama ambil cuti di tengah Ara yang melongo doang di sekitar rumah," cerocos gadis itu membela diri. Sembari merengut, ia pun lagi-lagi menunjukkan kepolosannya seakan lupa bahwa ada sesosok suami yang harus mulai diperhatikannya. Mendengar penuturan Arabella, baik Zara maupun Alex lantas saling melempar pandang. Bahkan, Brian pribadi sudah lebih tak acuh dan memilih untuk lanjut makan saja dibanding ikut menyuarakan pendapatnya. Entah apa yang ada di pikiran Arabella, Brian rasa gadis itu masih terlalu kekanakan di tengah usianya yang sudah cukup untuk menjadi seorang istri. "Ara, bunda mau tanya serius sama kamu. Tapi, bunda minta kamu jawab serius juga ya," cetus Zara secara perlahan. Melalui kode lirikan matanya, ia pun sempat meminta izin pada Alex untuk mengajak Arabella berbicara baik-baik. "Tanya aja, Bun," sahut Arabella mengangguk setuju. "Kamu gak lagi lupa ingatan, kan, Nak? Atau jangan-jangan, apa mungkin tadi malam kepalamu kejedot dinding sehingga membuat otakmu terguncang?" Diiringi dengan kecemasan yang melanda, Zara pun merasa khawatir kalau-kalau putrinya sedang mengalami fase amnesia sementara gara-gara kepalanya sempat terbentur tembok. Mengharuskan Arabella spontan mendecak, kemudian ia mendengkus sebal dan berkata, "Apaan sih, Bun? Ara baik-baik aja, kok. Tadi malam juga Ara tidur nyenyak. Emangnya kenapa? Jangan mengira kalo Ara udah gak waras ya, Bun. Hanya karena Ara kepikiran buat masuk kerja sebelum masa cuti habis, bukan berarti Ara lupa kalo Ara udah nikah sama Kak Brian. Jelas enggaklah! Ara ingat dengan baik kalo Ara udah dinikahin sama kakak tiri Ara sendiri. Justru, karena Ara udah nikah sama Kak Brian, makanya Ara kepengin masuk kerja aja mengingat Kak Brian pun harus udah masuk kerja juga, kan, per hari ini? Dan lagi, kami pun gak akan pergi bulan madu dalam waktu dekat. Beda dengan rencana awal Ara apabila Ara nikahnya sama Gilang. Kami sempat berencana buat langsung bulan madu setelah dua hari pernikahan berlangsung. Tapi mengingat Gilang pergi dan batal nikahin Ara, terus Ara harus ngapain selagi Kak Brian kerja ditambah bulan madu pun gak diadakan. Ya mending Ara kerja aja, kan? Paling enggak, Ara bisa menyibukkan diri dengan cara mengerjakan seluruh pekerjaan kantor di sepanjang hari." Mendapati keterangan sepanjang lebar itu, terang saja menyebabkan Brian sampai tersedak kunyahannya sendiri sehingga membuat ia sontak terbatuk-batuk disusul dengan Zara yang berinisiatif menyodorkan gelas berisi air mineral ke arah putranya tersebut. Sementara itu, Alex pun hanya bisa mendesah berat seusai mengetahui alasan Arabella yang bersikeras ingin masuk kerja lagi hanya gara-gara rencana bulan madunya dibatalkan. "Sayang, mana bisa begitu? Setelah kamu menyandang status istri, sudah menjadi kewajiban kamu untuk melayani Brian sebagai suami kamu. Walaupun Brian harus kerja dan kamu tinggal di rumah seharian, ya memang seharusnya begitu kalo kamu udah berstatus sebagai istri siapa pun. Jangan kamu pikir kamu masih bisa pergi sesuka hati kamu ya setelah menyandang gelar istri. Tentu harus ada izin dari suami dulu, dong. Meski Brian sempat menjadi kakak tiri kamu, tapi sekarang Brian itu suami sah kamu, lho," tutur Zara memberi wejangan. Arabella terdiam. Dia kira, dia akan bisa bekerja sebiasanya walau ia sudah resmi dinikahi kakak tirinya sendiri. Namun rupanya, ceritanya akan berbeda lagi. Dulu, dia pernah sepakat dengan Gilang bahwa dia akan tetap bekerja walau mereka sudah resmi menikah. Gilang pun setuju dan berkata bahwa dia tidak akan melarang Arabella untuk tetap berkarir. Tetapi pagi ini, ketika Arabella diminta untuk fokus melayani suaminya saja dibanding mengutamakan karirnya sendiri, musnahlah impian berkarir pasca menikahnya. Seolah pernikahannya dengan Brian ini justru akan merenggut cita-cita utama yang selama ini sempat diidam-idamkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD