Episode 1
“Gendut!” Kurang lebih, begitu lah cara mereka menyebutku. Dengan ejekan serta gelak tawa yang terdengar menyakitkan itu, mereka terus menertawakanku dengan teganya.
Namaku Alena Chessy Adhitama. Aku lahir dari keluarga yang berkecukupan. Papaku adalah seorang yang menjabat sebagai CEO di salah satu Perusahaan ternama di Ibu kota Jakarta. Sementara Mamaku adalah seorang Ibu Rumah Tangga biasa yang selain memiliki wajah yang cantik, ia juga memiliki otak yang sangat cerdas.
Aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Aku mempunyai dua orang Kakak laki-laki. Yang pertama bernama Gibran Arka Adhitama, dan yang kedua bernama Arshad Putra Adhitama. Umur kami bertiga hanya selisih tiga tahun.
Ketika aku hendak naik ke kelas empat Sekolah Dasar, Mama sibuk membantu persiapan Kak Arshad yang mulai masuk ke Sekolah Menengah Pertama dan juga Kak Gibran yang mulai menduduki bangku Sekolah Menengah Atas.
“Ma, dasi Arshad di mana?” Teriaknya dari atas tangga.
“Ada di lemari kamu.”
“Gak ada, udah Arshad cari.”
“Astaga anak ini.”
Mama yang sedang duduk di meja makan tengah menyantap sarapannya bersama kami mulai beranjak dari tempat duduknya menghampiri Kak Arshad yang sedang berada di dalam kamarnya.
Papa terlihat menggelengkan kepalanya sambil melahap selembar roti tawar yang telah ia oleskan dengan selai strawberry. Sementara Kak Gibran tetap fokus menyantap nasi goreng di piringnya tanpa memperdulikan sekitar.
Tak lama kemudian, Mama dan Kak Arshad berjalan menghampiri kami di meja makan. Masih sibuk berusaha memasangkan dasi yang telah melekat di kerah bajunya, Kak Arshad mencoba sambil menyuap sesendok nasi goreng di atas piringnya.
“Shad.. Shad.. kamu ini, sudah besar masih saja belum bisa pakai dasi dengan benar.” Ujar Papa sebelum meneguk segelas air putih setelah sarapannya berhasil dihabiskan.
“Ini kan hari pertama Arshad pakai dasi kayak gini, Pa. Sewaktu di Sekolah Dasar, dasinya cuma tinggal dimasukkan ke dalam kerah.” Jawabnya sambil melirik dasi yang telah terpasang di seragam merah putihku.
Begitu lah Kak Arshad, dengan segala kecerobohan dan sikapnya yang sering tergesa-gesa serta menganggap remeh segala sesuatu. Ia sering sekali terlambat datang ke sekolahnya. Kecerobohannya yang suka menaruh barang atau pun pakaiannya di mana-mana, sering membuatnya kebingungan mencari di saat ia membutuhkan barang atau pakaiannya tersebut. Dan akhirnya, Mama lah yang harus membereskan barang-barangnya agar tertata kembali dengan rapi.
Berbeda sekali dengan Kak Gibran. Ia terlahir sebagai anak yang disiplin, rapi, pintar, namun dingin. Dan karena sikap dinginnya itu lah yang membuat aku lebih dekat dengan Kak Arshad dibandingkan dengan dirinya.
Setelah sarapan kami di piring masing-masing telah habis. Satu persatu dari kami mulai beranjak dari meja makan untuk berangkat ke sekolah. Aku berangkat bersama Mama dan Papa. Kami menaiki mobil yang disupiri oleh Pak Dirman, seorang supir yang telah bekerja dengan keluargaku bertahun-tahun lamanya. Papa pernah bercerita, jika Pak Dirman dulunya bekerja menjadi supir pribadi untuk Kakek (Ayah dari Papaku), Pak Dirman juga sering mengantar Papa ke sekolah semasa Papa remaja. Setelah Nenek meninggal, beberapa bulan kemudian Kakek juga meninggal dunia karena sakit. Akhirnya, kini Pak Dirman melanjutkan pekerjaan menyupirnya untuk menyupiri keluarga kami.
Kak Gibran dan Kak Arshad berangkat menaiki sepeda motornya masing-masing. Dan dulu, aku suka menumpang naik sepeda motornya Kak Arshad, memintanya untuk mengantarku ke sekolah ketika aku bosan naik mobil.
Ini adalah hari pertama aku mulai masuk kembali ke Sekolah formal. Saat sebelumnya aku telah menjalani Homeschooling selama dua tahun. Ketika aku baru mulai memasuki bangku kelas 1 Sekolah Dasar, aku mengalami Bullying dari beberapa teman sekelasku sendiri. Hingga hal tersebut membuatku memutuskan untuk meminta Homeschooling kepada kedua orang tuaku. Di kenaikan kelas 2, aku mulai Homeschooling hingga akhir kelas 3. Dan hari ini, adalah hari di mana aku menginjak kelas 4. Orang tuaku telah membujukku untuk berhenti Homeschooling dan melanjutkan kembali ke Sekolah formal. Mereka ingin aku mempunyai banyak teman serta beraktifitas dengan lebih baik tanpa mereka tahu alasanku memilih Homeschooling adalah karena aku mengalami Bullying di sekolah.
Dengan wajah yang jauh dari kata ceria, aku berjalan mengikuti Mama dan Papa untuk masuk ke dalam mobil.
“Duh, anak Papa kok wajahnya kusut begitu, sih? Senyum dong, Sayang. Yang semangat! Kan hari ini hari pertama kamu masuk ke sekolah lagi.” Ucap Papa saat menoleh ke kursi belakang ketika kami telah berhasil masuk ke dalam mobil.
Mama yang berada di sebelahku hanya ikut menoleh sambil tersenyum ke arah Papa, sementara aku hanya terdiam sambil terus memasang ekspresi cemberut yang menatap ke luar kaca selama perjalan.
Beberapa menit kemudian, akhirnya kami tiba di sekolahku. Pak Dirman memberhentikan laju kendaraannya persis di depan gerbang sekolah.
“Mama antar Alena masuk ke kelasnya dulu ya, Pa.”
Aku dan Mama mulai pamit sambil mencium tangan Papa.
“Pak Dirman, nanti jangan lupa untuk jemput saya lagi di sini.”
“Siap, Bu.”
Kami pun melangkahkan kaki keluar dari mobil sementara Pak Dirman kembali melaju untuk mengantar Papa menuju tempat kerjanya.
Sekolahku kali ini berbeda dengan sekolahku pertama kali ketika aku mendapatkan Bullying dari beberapa teman sekelas. Dan aku hanya berharap, tidak akan mengalami apa yang aku alami di sekolahku dulu. Aku dan Mama terus berjalan masuk ke dalam sekolah hingga akhirnya langkah kami terhenti di depan ruang Guru.
“Sayang, kamu tunggu di sini sebentar, ya? Mama masuk dulu ke dalam.”
Aku mengangguk sambil memperhatikan langkahnya yang berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Selama menunggu di depan ruangan, beberapa Siswa dan Siswi terus berjalan masuk untuk pergi ke kelas mereka masing-masing. Tak lama kemudian, Mama kembali bersama dengan seorang wanita yang kira-kira usianya tidak jauh dari dirinya.
“Kenalkan, Bu. Ini anak saya, namanya Alena.”
Wanita tersebut tersenyum memandangku sambil menjulurkan tangan kanannya. Aku yang ikut tersenyum pun mencoba bersalaman dan mencium tangan itu.
“Jadi, Alena. Kenalkan, saya Ibu Jasmine. Saya yang akan menjadi Wali Kelas kamu.”
Lagi-lagi, aku hanya tersenyum sambil mengangguk ke arahnya.
“Mari, Bu. Saya antar ke kelas Alena.”
Aku dan Mama mengikuti langkahnya sampai kami terhenti di depan ruang kelas 4.
“Nah, Alena. Ini kelas kamu. Karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Jadi Ibu akan antar kamu ke dalam untuk memperkenalkan diri kepada teman-teman baru kamu di kelas ini, ya.”
Aku hanya terdiam sambil menatap ke arah Mama.
“Gak apa-apa, Sayang.” Ujar Mama.
Mama mencoba sedikit membungkukan badannya, lalu mulai membelai rambutku dengan tangan lembutnya.
“Kalau gitu, Mama pulang, ya? Dadah, Sayang. Have a nice day!” Lanjutnya sambil mencium keningku.
“Bu, saya titip Alena, ya? Dia memang anaknya agak pendiam. Mungkin karena terbiasa Homeschooling yang membuatnya hanya sering berinteraksi dengan keluarganya saja.”
“Iya, Bu. Ibu tenang saja. Kami akan menjaga dan mendidik Alena dengan baik.”
Sambil mengusap bahuku, Mama melangkah pergi meninggalkan aku dan Ibu Jasmine di depan ruang kelas. Dan seperti apa yang Bu Jasmine katakan, bel masuk akhirnya berbunyi.
“Nah, sudah bel. Ayo Alena, kita masuk.” Ajak Bu Jasmine sambil tersenyum.
Aku menoleh sambil berusaha tersenyum juga ke arahnya. Dengan perasaan gelisah, aku terus mengikuti langkah kakinya yang berjalan masuk ke dalam kelas. Suasana di dalam kelas mendadak hening ketika aku dan Bu Jasmine datang. Semua pasang mata, tertuju ke arahku yang sedari tadi mencoba untuk tetap tenang.
“Selamat pagi, anak-anak.”
“Pagi, Bu.” Dengan serempak, mereka menjawab salam Bu Jasmine.
“Di kelas empat ini kalian sudah tahu kan kalau Ibu yang akan menjadi Wali kelas kalian?”
“Sudah, Bu.” Beberapa murid menjawab bersamaan.
“Sebelumnya ada yang sudah tahu siapa nama saya?”
Setelah hening beberapa saat, kemudian salah seorang Siswi mulai mengacungkan jarinya.
“Saya, tahu. Ibu Jasmine!” Ujarnya.
“Betul sekali. Jadi anak-anak semua, saya adalah Ibu Jasmine. Dan di pertemuan kali ini, saya juga ingin memperkenalkan seorang murid baru yang akan menjadi bagian dari sekolah kita, terutama di kelas empat ini. Ayo, Sayang. Perkenalkan nama kamu.”
Sambil menempuk bahuku perlahan, ia memintaku untuk memperkenalkan diri di depan kelas.
“Se.. selamat pagi, teman-teman. Nama saya, Alena Chessy Adhitama.”
“Pagi, Alenaaaa...”
Wajah mereka semua terlihat menyambutku dengan baik. Meski demikian, aku tetap tidak dapat menghilangkan kegelisahan dalam diriku.
“Ada lagi yang mau ditambahkan, Alena?”
“Tidak, Bu.
“Baik. Kalau gitu, kamu boleh langsung duduk. Di belakang sana ada kursi kosong. Kamu duduk di sana gak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
Dengan keringat yang mulai mengalir di sekujur tubuh, aku berjalan menuju salah satu meja serta kursi kosong yang tadi telah ditunjuk oleh Bu Jasmine dengan kondisi di mana semua pasang mata masih tetap tertuju padaku.
Setelah aku berhasil duduk. Ibu Jasmine pun berjalan menuju tempat duduknya. Sambil membuka buku absen, ia mulai menyebutkan nama-nama Siswa dan Siswi yang berada di kelas ini.
Satu persatu nama telah ia sebutkan, termasuk namaku. Hingga akhirnya, ia terhenti dan terdiam ketika menyebut salah satu nama seorang Siswi namun tak kunjung mendapat jawaban.
“Chelsea?” Ucapnya kedua kali sambil memperhatikan sekitar.
“Bu, kayaknya Chelsea sakit. Jadi nggak bisa masuk hari ini.” Ujar salah seorang perempuan yang jarak duduknya terpisah tiga bangku dari tempat aku duduk.
“Ya ampun. Hari pertama gak bisa hadir. Dia gak kasih info apa-apa ke kamu kalau hari ini gak bisa hadir?” Tanya Bu Jasmine.
“Nggak, Bu.”
“Ya sudah. Kalau begitu kita lanjutkan saja. Seperti sebelumnya, yang namanya saya panggil tolong jawab sambil acungkan jari, ya?”
“Iya, Bu.” Jawab kami serempak.
Bu Jasmine pun mulai melanjutkan mengabsen nama-nama Siswa dan Siswi hingga selesai. Dan tanpa terasa, bel pergantian jam mata pelajaran pun berbunyi. Ibu Jasmine pamit keluar dari kelas dan meminta kami untuk tetap tenang hingga guru yang selanjutnya mengajar akan datang.
“Psssttt.”
Aku yang sedang asyik menundukan kepala sambil mencoret-coret kertas pada halaman terakhir di buku tulis mulai dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilku dengan pelan.
“Alena.” Sapanya saat aku mulai menoleh ke arahnya.
Seorang anak perempuan yang duduknya persis di depan mejaku mulai mengajakku berbicara. Perempuan dengan mata yang sipit dan sebuah lesung pipi di pipi kanan dan kirinya terlihat begitu jelas ketika ia tersenyum di hadapanku. Rambut hitamnya, tergerai lurus ke bawah hingga sebahu.
“Hai. Kenalin, aku Felicia Saveria. Kamu bisa panggil aku Feli.” Ucapnya masih sambil terus tersenyum.
“H-hai. Aku Alena Chessy Adhitama. Kamu bisa panggil aku Alena, atau Al.”
“Hai Alena. Kalau aku Gabriella Stevi C. Kamu boleh panggil aku Gaby.” Ujar seorang perempuan yang menjadi teman sebangku Felicia ketika ikut menoleh ke arahku.
“C nya apa?” Tanyaku bingung.
“Cantik.”
“Bukan. C nya itu Christian.” Jawab Feli membenarkan.
Gaby mulai tertawa dengan terbahak-bahak, begitu pun dengan aku dan Feli yang juga ikut tertawa karena kelucuannya.
Waktu terus berjalan tanpa terasa, hingga tiba-tiba bel pulang berbunyi begitu saja.
Sebagai seorang anak yang pernah mengalami Bullying di sekolah. Tentu saja dunia luar terasa begitu menakutkan hingga aku memutuskan untuk memilih Homeschooling selama dua tahun. Dan sangat tidak mudah rasanya untukku berdiri di sekolah ini meski hanya bertahan sampai bel pulang berbunyi.
Tapi, ini lah harinya. Di mana semesta mulai menunjukan jika tidak semua hal keburukan ada padanya. Bertemunya aku dengan Feli dan Gaby hari ini, membuatku perlahan merasa jauh lebih baik dibanding saat pertama kali aku mencoba melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil untuk masuk ke sini. Dunia luar yang sempat terlihat mengabu, kini mulai kembali menemukan warnanya secara perlahan.