Para Siswa mulai mengemas barangnya masing-masing untuk pergi pulang, begitu pun aku. Setelah selesai berkemas, langkahku langsung berjalan ke luar kelas menuju gerbang.
“Al. Alena!”
Aku mencoba menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namaku. Sambil berlari, perempuan itu menghampiriku yang sedang berjalan seorang diri menyusuri lapangan.
“Feli?”
*hosh.. hosh.. hosh..*
Terdengar suara napasnya yang terengah-engah ketika ia telah sampai berada persis di sebelahku.
“Aku panggil kamu dari tadi, tahu!” Ujarnya masih dengan terengah-tengah.
“Maaf, aku gak dengar. Ada apa?”
“Nggak apa-apa. Cuma mau jalan bareng aja sampai ke gerbang.”
Kami kembali melanjutkan langkah menuju ke depan gerbang.
“Gaby ke mana?”
“Lagi ke Perpustakaan.”
Aku mengangguk pelan ke arahnya sebagai tanda mengerti, kemudian kembali menatap ke arah depan.
“Oh iya. Sebelumnya kamu sekolah di mana?”
“Aku Homeschooling.”
“Homeschooling tuh asyik nggak, sih?”
“Asyik.”
“Bukannya lebih asyik sekolah formal kayak gini?”
Aku hanya terdiam.
“Lalu, apa yang membuat kamu kembali ke sekolah formal?”
“Permintaan dari kedua orang tuaku.”
Tanpa terasa, kami telah sampai di depan gerbang. Pak Dirman sudah berdiri di depan mobil, menungguku dengan senyuman khasnya.
“Aku duluan ya, Fel. Sudah di jemput.” Ujarku kepada Feli sambil menunjuk ke arah Pak Dirman.
“Oke. Hati-hati di jalan ya, Al.”
“Kamu pulang naik apa?”
Tak lama kemudian, seorang Pria yang kuperkirakan usianya tidak jauh dari usia Papaku datang menggunakan sepeda motornya dan berhenti di hadapan kami. Pria berkulit putih serta mata yang sipit yang ia wariskan kepada anak perempuannya itu terlihat semakin sipit saat matanya tertarik karena sebuah senyuman yang ia lemparkan kepadaku dari jok motornya.
“Itu. Papaku sudah jemput. Dadah Alena!”
Ia berlari menghampiri Pria tersebut, mencium tangannya kemudian mulai berusaha naik ke jok bagian belakang. Sebelum melaju, keduanya tersenyum ke arahku yang juga ikut tersenyum ke arah mereka.
Aku pun kembali melanjutkan langkah menghampiri Pak Dirman yang sedari tadi telah menunggu.
“Selamat siang, Non.”
Pak Dirman tersenyum hangat sambil mencoba membukakan pintu belakang untukku.
“Selamat siang, Pak.” Balasku sambil melangkah masuk ke dalam.
“Bagaimana sekolah barunya, Non?” Tanya Pak Dirman di tengah-tengah perjalanan.
“Lumayan menyenangkan, Pak.”
“Syukurlah.”
Sambil menatapku melalui spion tengah, ia tersenyum.
20 menit berlalu, akhirnya kami sampai di depan gerbang rumahku. Bi Sari yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di rumahku mulai membukakan pintu gerbang agar kami dapat masuk ke dalam.
“Hai, Sayangggg.”
Mama yang sedang terduduk di depan teras rumah mulai menyapaku saat aku telah berhasil keluar dari dalam mobil.
Dengan sebuah senyuman, aku melangkah menghampirinya.
“Aduh, aduh. Anak Mama udah senyum, nih. Gak cemberut lagi kayak tadi pagi. Gimana sekolahnya hari ini, Sayang? Menyenangkan?”
“Lumayan, Ma. Di hari pertama ini, Alena udah punya dua teman baru.”
“Wah, bagus dong. Semoga betah ya, Sayang.”
Aku mengangguk sambil tersenyum ke arahnya.
“Kak Gibran sama Kak Arshad ke mana? Belum pulang?” Mataku menelusur ke dalam saat menyadari suasana rumah masih begitu sepi.
“Belum. Mereka pulangnya nanti sore. Sudah sana kamu masuk. Ganti baju, ya? Habis itu ke meja makan. Kita makan siang.”
“Siap, Ma.”
Dengan setengah berlari, aku melangkah masuk ke dalam menuju tangga untuk pergi ke kamar.
Rumahku mempunyai dua lantai. Di mana lantai bawah terdapat 3 kamar tidur dan 3 kamar mandi. Sementara lantai atas juga terdapat 3 kamar tidur namun ketiga kamar mandi berada di dalam kamar masing-masing.
3 kamar tidur di lantai bawah ditempati oleh Mama dan Papa, Pak Dirman, dan yang satunya lagi ditempati oleh Bi Sari. 1 kamar mandi berada di dalam kamar Mama dan Papa. Kamar mandi ke dua dipergunakan untuk Pak Dirman dan Bi Sari bergantian. Dan kamar Mandi lainnya dipergunakan jika ada tamu atau saudara yang datang mengunjungi rumah kami. Sementara 3 kamar lantai atas dihuni oleh aku, Kak Gibran dan juga Kak Arshad.
Setelah usai mengganti pakaian. Aku kembali turun ke bawah menghampiri Mama yang terlihat sudah duduk di kursi meja makan tengah asyik mengambil beberapa lauk pauk ke dalam piringnya.
“Yah, kita cuma makan berdua dong, Ma?”
“Iya, Sayang. Nanti malam baru kita makan sama-sama kayak biasa, ya.”
Mama mengambilkan piring berisi nasi dan menaruh beberapa lauk di atas piringku.
“Pakai sayur ya? Ini bagus untuk kamu.”
Aku mengangguk sambil meraih piring yang ia berikan kepadaku. Kami pun mulai menyantap makan siang masing-masing.
Sambil menunggu yang lain datang, seusai makan, aku dan Mama pergi bersantai di atas sofa depan televisi di ruang keluarga. Menghabiskan waktu berdua dengan menonton salah satu acara yang sedang tayang. Tanpa terasa, jam di dinding menunjukan pukul 15:00. Tak lama kemudian terdengar suara motor masuk ke halaman rumah.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku dan Mama menjawab serempak. Langkah kaki Kak Arshad mulai masuk dan menghampiri kami yang tengah asyik menonton acara di televisi.
Seusai mencium tangan Mama. Kak Arshad mendaratkan tubuhnya di atas sofa, lalu mulai mencoba melepaskan tas ransel yang melekat di punggungnya.
“Gimana hari pertama sekolahnya, Sayang?”
“Asyik kok, Ma. Baru hari pertama, tapi Arshad udah punya banyak teman.”
“Wah, syukurlah. Udah mulai belajar?”
“Udah. Perkenalan sebentar habis itu langsung masuk ke materi.” Jawabnya sambil mencoba meraih toples berisi cookies cokelat di hadapannya.
“Kak?”
“Hmm?”
Ia terlihat asyik mengunyah cookies tersebut sambil menatap televisi tanpa menoleh ke arahku sama sekali.
“Kok Kakak mudah banget dapat teman di hari pertama?”
“Kenapa? Emangnya kamu belum dapat teman?”
“Udah, sih. Tapi baru dua orang.”
“Kakak kan terbiasa sekolah formal, sementara kamu sebelumnya Homeschooling. Jadi mungkin kamu belum terbiasa berinteraksi secepat Kak Arshad. Nanti juga kamu akan banyak teman kok, Sayang.” Sahut Mama sambil tersenyum ke arahku.
“Nah, iya tuh. Tenang aja, kamu pasti punya banyak teman kok, Al.”
Dengan tersenyum, ia mengacak-acak rambutku sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tangga.
“Kakak mau ke mana?” Tanyaku.
“Mandi. Gerah.”
“Itu toplesnya belum di tutup, tahu!”
“Tolong kamu tutupin, ya.” Dengan gelak tawa, ia terus melangkah naik ke atas sambil menenteng ranselnya.
“Dasar. Menyusahkan.” Kututup toples tersebut sambil menggerutu.
“Assalamualaikum.”
Langkah Kak Girban menghampiri aku dan Mama yang masih asyik duduk di sofa.
“Waalaikumsalam. Gimana hari pertama di sekolah baru kamu?”
“Kayak biasa, Ma. Aku pergi mandi dulu, ya? Udah sore.”
Sambil mengusap kepalaku, ia berjalan naik ke atas menuju kamarnya.
Aku dan Mama hanya saling berpandangan kemudian tersenyum lalu kembali fokus menonton acara di televisi.
***
Alarm berbunyi mendandakan jika pagi telah tiba. Dengan perasaan riang gembira, aku beranjak dari kasur lalu berjalan menuju kamar mandi.
*tok.. tok.. tok..*
“Alena? Sayang? Kamu udah bangun, Nak?” Teriak Mama dari luar.
“Udah, Ma. Ini mau mandi.”
“Ya udah. Nanti langsung turun sarapan, ya?”
“Iyaaa.”
Seusai mandi dan memakai seragam sekolah. Aku melangkahkan kaki keluar dari kamar. Terlihat Kak Gibran dan Kak Arshad yang juga keluar bersamaan dari kamar mereka masing-masing.
Dengan kebiasaan jahilnya, Kak Arshad mulai menggelitik tubuhku ketika aku melintas di hadapannya untuk turun ke bawah.
“Kakak, ih. Geli tahu!” Teriakku sambil mencoba membalas menggelitik tubuhnya kemudian berlari menyusuri anak tangga.
“Hei, Alena.. Arshad.. jangan lari-lari kalau di tangga. Nanti kalian jatuh.”
Mama berteriak ke arah aku dan juga Kak Arshad yang tengah bermain kejar-kejaran sementara Kak Gibran dengan santainya turun menyusuri anak tangga sambil asyik menatap layar ponselnya.
“Kakak tuh Ma, kebiasaan. Jail banget!”
Sambil mencoba duduk di sebelah kursi meja makanku, Kak Arshad kembali menggelitiku sambil tertawa. Mama pun menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat aku yang juga ikut tertawa karena menahan geli akibat jari jemari jahilnya.
“Sudah-sudah. Ayo makan dulu.” Ujar Papa yang sedari tadi sudah duduk di kursi meja makan.
Itu lah Kak Arshad. Selain paling ceroboh, ia juga menjadi yang paling jahil di rumah. Tapi, hal tersebut lah yang membuat aku dan dia menjadi lebih dekat dibanding dengan Kak Gibran yang sangat jarang sekali menggodaku.
Setelah sarapan di piring masing-masing telah habis. Kami pun satu persatu mulai beranjak dari meja makan untuk pergi berangkat ke sekolah. Jika kemarin Mama ikut untuk mengantarku ke sekolah baru. Kali ini aku berangkat mengendarai mobil hanya bersama Papa.
“Ya ampun. Cantiknya anak Papa hari ini. Gitu dong, senyum.” Ucapnya saat aku telah ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.
Pak Dirman yang duduk di kursi depan ikut tersenyum sambil mencoba menyalakan mesin mobil dan melaju mengantarkan kami ke tempat tujuan masing-masing.
“Nah, sudah sampai.” Ujar Pak Dirman ketika kami telah sampai di depan gerbang sekolahku.
“Perlu Papa antar gak, Sayang?”
“Gak usah, Pa. Alena hapal kok letak kelasnya di mana.”
“Ya sudah. Jangan nakal ya, Sayang.”
Setelah pamit dan mencium tangannya. Aku melangkahkan kaki keluar dari mobil. Papa melambai ke arahku melalui kaca yang terbuka sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan.
Dengan penuh rasa percaya diri, aku berjalan masuk ke area sekolah. Di depan, terlihat Gaby tengah berjalan seorang diri. Aku berlari untuk menghampiri teman sebangku Felicia itu.
“Hai, Gab!” Sapaku.
“Eh? Hai, Al. Aku kira siapa.”
“Kemarin sebelum pulang kamu pergi ke Perpus?”
“Iya.” Angguknya sambil tersenyum.
“Cari apa?”
“Cari buku. Aku suka banget baca. Kalau buku yang aku pinjam udah selesai dibaca, aku akan langsung kembalikan dan cari buku baru untuk dibaca.”
“Wah, hobi kita sama. Aku juga suka banget baca buku. Nanti istirahat atau pulang sekolah kita ke sana sama-sama, yuk?”
“Yuk!”
Kami pun terus melanjutkan langkah hingga akhirnya sampai berada di depan kelas. Feli terlihat sudah duduk di atas kursinya. Senyum manisnya telah ia lemparkan ketika melihatku dan Gaby berjalan masuk ke dalam kelas.
“Hai, selamat pagi!” Sapanya ketika melihat aku dan Gaby berjalan ke arahnya.
“Hai.” Jawab kami serempak.
Aku dan Gaby pun telah berhasil duduk di bangku masing-masing.
“Gab, temenin aku ke kantin yuk. Pulpen aku ilang.”
“Yuk.” Jawab Gaby yang langsung berdiri mengiyakan ajakan Feli.
“Al, kamu mau ikut kita ke kantin?” Tanya Feli.
“Enggak, deh. Aku di sini aja.”
“Ya udah, kita ke kantin sebentar yaa.”
Langkah keduanya berjalan keluar menuju kantin. Aku menatap seisi ruang kelas yang semakin lama semakin dipadati oleh anak-anak lainnya yang menunggu bel masuk berbunyi. Hampir semua anak di kelas ini berkulit putih, hanya aku saja yang hitam dan juga gendut. Tapi, tidak ada satu pun di antara mereka yang memandangku berbeda.