Episode 3

1700 Words
Tak lama kemudian, seorang anak perempuan berwajah oriental dengan bulu-bulu alis yang lumayan lebat terlihat berjalan masuk ke dalam kelas. Dengan wajahnya yang cantik dan gayanya yang keren, ia mulai menghampiri kedua temannya yang sedang asyik berbicang di depan kelas.   “Hei, Gurls! Apa kabar?” Sapa anak itu.   “Eh, elo Chel. Kemarin ke mana nggak masuk?” ujar salah seorang temannya bertanya. Ternyata anak perempuan itu adalah Chelsea, yang kemarin ketika namanya disebut saat perkenalan namun ia berhalangan hadir karena suatu hal.   “Iya. Keluarga gue tiba-tiba ada urusan gitu.” Untuk ukuran anak sekolah kelas 4. Chelsea terbilang sangat cantik. Dengan gayanya yang keren serta menggunakan jam tangan dengan merk mahal yang aku ketahui berapa harganya, membuatnya terlihat begitu mencolok dibanding anak-anak lain di sekolah ini. Cara bicaranya pun menggambarkan jika ia berasal dari keluarga yang amat sangat mampu.   “Eh, sebentar.” Ia terdiam ketika melihat ke arahku, kemudian bibirnya mulai berbisik ke telinga kedua temannya sambil tertawa setelahnya. Masih terus menatap ke arahku, langkahnya mulai berjalan menghampiriku di tempat duduk diikuti oleh kedua temannya.   “Wuiiiih! Siapa, nih? Anak baru?” Tanyanya sambil melirik teman-temannya.   “Iya, Chel. Dia baru datang kemarin pas lo gak masuk.”   “Hei, nama lo siapa?” Ia mulai menjulurkan tangannya ke hadapanku.   “A-alena.” Jawabku gugup sambil ikut menjulurkan tangan. Setelah berhasil bersalaman denganku, dengan tatapan jijiknya ia melihat ke arah telapak tangan dan mulai mengeluarkan selembar tissue dari dalam saku yang ia pergunakan untuk membersihkan telapak tangannya.   “Tangan lo lebar juga, ya?” Matanya melirikku dengan cukup sinis.   “Ya kan sama kayak ukuran badannya, Chel.” Sahut salah satu temannya. Akhirnya mereka bertiga pun tertawa ke arahku. Aku hanya terdiam sambil menundukan kepala. Jantungku berdebar, tetes demi tetes keringat mulai mengalir di sekujur tubuh. Aku tidak percaya jika perasaan tak mengenakan yang hampir setiap hari aku rasakan saat 3 tahun yang lalu, dapat kembali aku rasakan. Bagi seorang anak yang pernah mengalami  bullying, harusnya aku tahu jika dunia luar tidak akan pernah aman untuk kujejaki. Sesak yang semakin terasa di dalam d**a membuatku merasa ingin berlari pulang ke rumah untuk memberi tahu kepada keluargaku tentang alasan kenapa aku begitu membenci dan menghindari sekolah formal.   “Kerjaan lo di rumah ngapain aja? Kok kulit lo bisa hitam gitu? Lo mandi kan setiap hari?” Aku masih terus terdiam tanpa menjawab pertanyaannya. Tangannya mulai meraih daguku, diarahkannya wajahku untuk menatapnya.   “Kok diem aja, sih? Jawab dong. Gak denger kalau gue barusan nanya?”   “Ngg.. nggak ngapa-ngapain.” Ia kembali tertawa. Kali ini, tawanya lebih keras dari yang sebelumnya.   “Gue kira setiap hari lo main panas-panasan dan gak pernah mandi sampai bisa se-hitam ini.” *teng.. teng.. teng..* Suara bel masuk pun berbunyi.   “Ayo, guys. Kita duduk.” Ucapnya sambil melangkah pergi menuju tempat duduknya. Aku kembali menundukan kepala sambil mengatur napas.   “Alena kenapa? Kamu nggak apa-apa?” Gaby yang baru datang terdengar khawatir ketika melihatku menundukan kepala dengan tubuh yang sedikit gemetar. Masih terus menunduk, aku mencoba menggelengkan kepala sebagai jawaban jika aku tidak apa-apa. Hingga akhirnya seorang guru datang ke kelas dan mencoba memulai materi yang hendak ia ajarkan. Ketika bel istirahat berbunyi. Aku, Gaby dan juga Feli pergi menuju kantin bersama-sama.   “Aduh.” Tiba-tiba terasa seseorang menabrak tubuhku dengan kencang.   “Oops, sorry. Badan lo yang gendut itu ngalangin jalan, sih.” Ujar Chelsea. Sambil tertawa, ia dan kedua temannya berlalu meminggalkan kami menuju kantin.   “Kamu baik-baik aja, Al?” Tanya Feli. Sambil menahan sakit, aku mencoba untuk mengangguk dan kembali melanjutkan langkah menuju kantin. Setelah berhasil memesan makanan. Kami pun duduk untuk menyantap makanan kami masing-masing.   “Gue mau duduk. Kalian bisa pergi nggak?” Ujar Chelsea yang tiba-tiba berdiri di sebelah meja kantin yang telah kami tempati.   “Kan masih banyak tempat yang kosong, Chel.” Jawab Feli.   “Kalau emang masih banyak yang kosong, kenapa kalian nggak pindah aja? Gue maunya duduk di sini. Ngerti nggak lo?!” Jawabnya dengan nada tinggi yang tertahan.   “Udah yuk biarin aja. Kita pindah aja.” Ucapku beranjak pergi sambil mengajak Feli dan Gaby.   “Hus.. hus.. Sana pergi!” Ucap salah satu teman Chelsea. Kami pun kembali duduk di tempat lain yang masih kosong.   “Bener-bener ya si Chelsea. Gak pernah berubah nyebelinnya.” Feli menggerutu kesal.   “Kamu kayak nggak tahu dia aja, Fel. Makin dilawan malah kita yang akan malu.” Jawab Gaby sambil mengunyah suapan pertamanya.   “Kamu yang sabar ya, Al. Chelsea emang gitu, apalagi sama anak baru.” Masih dengan wajah kesalnya, Feli mencoba mengusap bahuku untuk menenangkan. Aku hanya tersenyum tipis ke arahnya.   “Dua perempuan itu namanya siapa?” Tanyaku.   “Yang mana? Temannya Chelsea?” Feli balik bertanya. Aku mengangguk sambil mengunyah daging asap yang baru saja kulahap.   “Yang rambutnya diikat namanya Bianca. Dan satunya lagi yang agak lemot namanya Teresa. Oh iya, sedikit info untuk kamu, orang tua Chelsea itu adalah salah satu donatur terbesar untuk sekolah ini. Itulah yang menjadi sebab kenapa dia jadi yang paling sok berkuasa di sekolah.” Lanjutnya.   “Ya udah. Kita lanjut makan aja, nanti keburu bel masuk, loh.” Sambung Gaby. Kalau saja Chelsea tahu jika orang tuaku juga menjadi salah satu donatur terbesar di sekolah ini, apa ia masih bisa bertingkah seenaknya kepadaku? Kami kembali melanjutkan menghabiskan makanan masing-masing. Hingga akhirnya, tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Satu persatu murid mulai beranjak meninggalkan kantin dan masuk ke kelas. Pelajaran selanjutnya pun dimulai ketika seorang guru yang mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam masuk ke kelas. Ia mulai menjelaskan materi yang sedang dibahas. Suasana kelas begitu hening selama menyimak materi yang guru sampaikan. Detik terus berjalan. Hingga tanpa terasa, bel pulang pun berbunyi.   “Baik anak-anak. Cukup sampai di sini ya pelajaran hari ini. Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya. Dan jangan lupa kerjakan Pekerjaan Rumah yang tadi telah Ibu berikan, yaa! Selamat siang.”   “Baik, Bu. Selamat siang.” Jawab para murid dengan serempak. Satu persatu dari kami mulai mengemas barangnya masing-masing dan beranjak keluar dari kelas untuk pulang.   “Al, aku mau ke Perpustakaan lagi sebelum pulang ke rumah. Kamu jadi mau ikut, nggak?” Tanya Gaby sambil sibuk mengemas buku-buku yang ada di atas meja untuk dimasukan ke dalam tas merahnya.   “Mau banget, sih. Tapi aku lupa bilang ke Pak Dirman buat jemput akunya agak siangan. Dan kayaknya Pak Dirman udah nunggu aku di depan.”   “Oh, ya udah. Lain kali aja. Aku duluan ya Al, Fel. Sampai bertemu besok!” Seusai memasukan semua barang-barang ke dalam tasnya, Gaby pun pamit ke aku dan Feli untuk ke Perpustakaan. Sementara aku dan Feli berjalan bersama menuju gerbang. Lagi-lagi, seseorang menabrakku dari belakang.   “Aduh.” Teriakku kesakitan. Feli yang terkejut mendengarku teriak langsung mencoba menoleh untuk melihat siapa pelakunya.   “Chelsea! Apa-apaan sih, lo?!” ujarnya.   “Apa?! Lo gak suka liat sahabat lo ini gue tabrak? Lagian juga gue gak sengaja. Mangkannya lo bilangin ke sahabat baru lo ini, kalau punya badan itu jangan gede-gede. Ngalangin jalan gue tau nggak!” Dengan tatapan sinisnya, Chelsea dengan kedua temannya itu berlalu meninggalkan kami.   “Kamu nggak apa-apa, Al?” Tanyanya khawatir.   “Eng.. enggak kok, aku nggak apa-apa.”   “Emang keterlaluan si Chelsea itu. Liat aja, besok aku aduin ke Bu Jasmine!”   “Gak usah, Fel. Jangan. Aku nggak apa-apa, kok.”   “Tapi kan, Al...”   “Udah.. nggak apa-apa. Lagian nggak sakit juga kok. Aku teriak karena kaget aja.” Kami kembali melanjutkan langkah menuju gerbang. Ayah Feli telah menunggu di atas sepeda motornya.   “Aku duluan ya, Al.”   “Iya. Hati-hati ya, Fel.”   “Iya. Kamu juga, ya?” Ia berlari menghampiri Pria tersebut. Sementara aku berjalan menghampiri Pak Dirman yang sudah berdiri di tempat biasa ia menunggu dan langsung mencoba masuk ke dalam mobil. ***   “Assalamualaikum.” Dengan wajah tak seceria hari pertama. Aku berjalan masuk ke dalam rumah. Mama yang sedang terduduk di sofa depan televisi menyambutku dengan senyumannya.   “Waalaikumsalam. Aduh anak Mama yang cantik udah pulang.” Sambil terus melanjutkan langkah, aku menghampiri dan mencoba duduk di sebelahnya setelah berhasil melempar tasku ke sofa.   “Loh.. loh.. loh.. anak Mama kenapa, nih? Kok mukanya lecek gini, sih? Kenapa, Sayang? Ada masalah di sekolah?”   “Nggak kok, Ma. Alena cuma kecapekan.” Dengan kembali tersenyum, ia mulai mengusap rambutku dengan tangan lembutnya.   “Ya ampun. Kirain Mama kenapa. Nggak apa-apa, Sayang. Nanti juga kamu terbiasa. Wajar kalau capek, karena kamu sebelumnya terbiasa sekolah di rumah. Sekarang, kamu ganti baju dulu, ya? Terus turun lagi dan makan.”   “Iya, Ma.” Sambil meraih tas yang kulempar tidak jauh dari tempatku duduk. Aku beranjak dan berjalan menuju tangga untuk pergi ke kamar. Seusai mengganti baju, aku tidak turun ke bawah untuk makan siang. Lebih memilih membaringkan tubuh di atas tempat tidur. *tok.. tok.. tok.. *   “Non?” Terdengar suara Bi Sari memanggil dari luar.   “Masuk aja, Bi.”   “Non, disuruh Ibu cepat turun ke bawah untuk makan siang.” Ucapnya setelah berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam kamarku.   “Bilangin Mama Alena belum lapar, Bi. Alena ngantuk, mau tidur aja.”   “Baik, Non. Nanti Bibi sampein. Mau Bibi bangunin jam berapa?”   “Kalau jam 4 Alena belum bangun, tolong bangunin ya, Bi.”   “Siap, Non.” Sambil mengacungkan jempolnya, Bi sari melangkahkan kaki keluar dan kembali menutup pintu kamarku untuk membiarkanku menikmati tidur di siang hari. Aku mulai menarik selimut dan bersembunyi di bawahnya. Perlahan, air mata menetes dari kedua mataku. Tetesan-tetesan tersebut berhasil membasahi seluruh permukaan bantal. Ingin sekali rasanya berteriak. Aku mengira, jika di sekolah baru ini aku akan terbebas dari bully. Tapi nyatanya, buruk rupa tetaplah buruk rupa. Ia tidak akan pernah punya tempat istimewa dan peran penting di dunia ini. Buruk rupa tetaplah buruk rupa, terkutuk di dalam dunia yang kejam. Ditakdirkan untuk selalu menangis sepanjang hidupnya. Haruskah aku mencoba untuk bunuh diri? Mengakhiri semua penderitaan ini dengan menyerah dan kalah. Tapi, kenapa rasanya tidak sesakit saat pertama kali aku merasakan kesakitan ini? Setidaknya, ketika aku punya Feli dan Gaby di hidupku, aku merasa sedikit lebih kuat untuk melewati hari-hari yang kujalani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD