“Hei, anak malas. Ayo cepet bangun, udah sore, nih! Kamu mau tidur sampe jam berapa?”
Tangan seseorang mulai menggoyang-goyangkan tubuhku sambil berusaha agar terbangun dari lelapnya tidur siang.
Sambil menguap, aku mencoba membuka selimut untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut. Dengan wajah menyebalkannya, Ka Arshad menatapku yang masih berusaha untuk berusaha terjaga.
“Hoaaam... apa sih, kak? Berisik deh, ganggu orang tidur aja.” Sambil mengusap kedua mata, aku mendengus kesal.
“Liat nih udah jam berapa! Kamu itu tidur atau simulasi mati suri?”
Ia memperlihatkan jam di layar ponselnya.
“Astaga!!!! Setengah enam?! Kok Bi Sari gak bangunin Alena sih, Kak?” Aku terbangun dari posisi terlentang dengan perasaan terkejut.
“Bi Sari tuh udah bangunin kamu berkali-kali, tau! Tapi kamu nggak bangun-bangun, susah banget dibanguninnya. Dasar kebo, sana mandi!”
“Iya.. iya.. ini juga mau mandi, kok. Udah sana Kakak keluar, jangan lupa tutup pintunya.”
Sambil melempar bantal ke arahku, ia beranjak keluar, namun langkahnya sempat tertahan dan akhirnya kembali duduk menghampiriku.
Ia mulai memegang pipiku dengan kedua tangannya, sambil mengerutkan dahi, matanya menatapku dengan serius. Dibolak-balikannya wajahku dengan penasaran.
“Apaan sih, Kak? Gak jelas deh. Tadi katanya disuruh mandi, tapi malah nguyel-nguyel pipi Alena gini.”
“Kamu abis nangis?”
Seketika aku terkejut mengingat bahwa sempat menangis sebelum akhirnya tertidur pulas, terlebih wajahku gampang sekali terlihat sembab meski hanya menangis sebentar.
“Ha? Eng-enggak kok, Kak.”
“Yang bener? Muka kamu sembab loh.”
“Beneran. Sembab apanya sih?”
Aku beranjak dari kasur menuju meja rias untuk melihat wajahku di cermin. Dan benar saja, terlihat jelas sekali jika aku habis menangis.
“Kan, sembab kan? Cepet cerita ke Kakak, kamu nangis kenapa?”
“Oh iya, Alena baru ingat! Tadi pas tidur, Alena mimpi Kak Arshad tenggelam di laut, terus gak lama ada hiu yang ngegigit, di situ Alena nangis, kayaknya nangisnya kebawa beneran deh, Kak.” Jawabku beralasan.
“Halah! Kamu ngeliat Kakak kepeleset di tangga aja malah ketawa, ini sok-sok an nangis, padahal cuma mimpi.”
“Ya kan kalau mimpi itu kita suka gak sadar kalau itu mimpi. Bagus loh kalau Alena nangis liat Kakak digigit hiu, itu tandanya Alena beneran sayang sama Kak Arshad.”
“Kakak mencium bau-bau pendusta.”
“Ciye, pasti Kakak terharu ya denger Alena ngomong kayak gitu.” Ledekku.
“Nggak sama sekali, omongan kamu tuh gak pernah ada manis-manisnya.”
“Iya, Kak. Alena tau kok kalo sebenernya Kakak malu.”
“Udah sana cepet mandi, iler kamu udah berkerak di seluruh muka tau.”
“Yeee, enak aja!”
Dengan terkekeh, ia berjalan keluar dari kamarku.
“Hmm, semoga aja Kak Arshad beneran percaya kalo mata aku sembap gara-gara mimpiin dia digigit hiu.” Ucapku sambil berjalan menuju kamar mandi.
Seusai mengeringkan rambut selepas mandi, seseorang kembali mengetuk pintu kamarku
*tok.. tok.. tok..*
“Non Alena, disuruh Ibu turun untuk makan malam.” Ujar Bi Sari dari balik pintu.
“Iya, Bi. Bilang Mama sebentar lagi Alena ke bawah, ya.”
“Siap, Non.”
Aku kembali menaruh handuk ke tempatnya dan bergegas turun ke bawah untuk makan malam.
Semuanya terlihat telah berkumpul di depan meja makan dan duduk di kursinya masing-masing sambil sibuk mengambil beberapa lauk untuk disantap.
“Eh, akhirnya si kebo dateng juga.” Ledek Kak Arshad.
“Maaaa! Kak Arshad tuh.” Teriakku ketika hendak ikut bergabung di meja makan.
“Arshad, jangan gitu dong. Masa anak Mama udah cantik gitu dibilang kebo.”
Kak Arshad hanya tertawa sambil melirik ke arahku yang sedang cemberut.
“Sudah-sudah, nanti lagi bercandanya. Ayo cepat dimakan, nanti keburu dingin.” Sahut Papa meleraikan.
Kami mulai fokus untuk menyantap menu makan malam yang bertemakan seafood. Kak Gibran telihat begitu asyik menggerogoti capitan kepiting yang dimasak dengan saus tiram. Memang olahan seafood buatan Bi Sari tidak pernah mengecewakah lidah kami.
Setelah makanan telah tersapu bersih, satu persatu dari kami mulai beranjak dan pergi menuju kamar masing-masing.
Kak Gibran dan Kak Arshad sudah masuk terlebih dahulu ke kamar mereka. Langkah kecilku ikut melangkah menuju anak tangga. Namun, aku terdiam sesaat ketika berada di depan pintu kamar Kak Arshad. Dengan pertimbangan yang cukup matang, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci itu lalu mulai melangkah masuk ke dalam.
Kak Arshad yang sedang berbaring di atas ranjang dengan sebuah airpods yang menempel di telinganya mulai menoleh ke arahku
“Alena.. kenapa nggak ketuk pintu dulu, sih? Kebiasaan deh kamu.” Protesnya.
“Hehe. Lupa, Kak.”
Ia melepas airpods tersebut, lalu duduk sambil menatapku dengan heran saat melangkah mendekatinya.
“Dasar anak ini. Kamu ngapain ke sini? Mau gangguin, Kakak, ya? Jangan ganggu, Kakak lagi sibuk.”
“Ih... coba liat, si jail mulai kepedean. Lagian sibuk ngapain sih, orang lagi santai gitu juga.”
“Terus mau apa?”
Aku terus berjalan menghampirinya yang masih terduduk di atas kasurnya. Perlahan, aku ikut duduk di sebelahnya.
“Ada apa, sih? Kakak jadi curiga.”
Lagi-lagi, ia kembali menatapku dengan heran. Namun ekspresi wajahnya lebih terlihat seperti sebuah daging merah yang sedang didekati oleh seekor singa.
“Alena mau tanya sesuatu, tapi Kakak janji harus jawab dengan jujur!”
“Tentang apa?”
“Ih, pokoknya janji duluuu.”
“Iya, iya, Kakak janji.”
“Kak..?”
Aku terdiam sesaat sambil menatap ke arahnya.
“Emangnya Alena gendut?”
“Emang.”
“Emangnya Alena jelek?”
“Emang.”
“Emangnya Alena hitam?”
“Emang. Persis banget kan kayak kebo.” Jawabnya diakhiri dengan gelak tawa.
Aku terdiam menundukan kepala sambil memainkan baju. Seharusnya aku sadar, tanpa bertanya pun aku pasti sudah tahu apa yang akan dijawab oleh seseorang jika aku menanyakan soal ini.
“Al? Kenapa? Kakak cuma bercanda.”
Aku kembali mengangkat kepala dan mulai menatapnya.
“Tapi semua yang Kakak bilang itu benar.”
“Nggak! Kata siapa? Adik Kakak ini cantik. Cantik banget.”
Aku hanya terdiam sambil masih terus menatapnya. Meskipun Kak Arshad menyebalkan, sekali pun dalam hidupnya, ia tidak pernah berkata jika aku adalah anak yang jelek. Bahkan dari ucapannya tadi, aku sudah tahu jika ia hanya bercanda.
“Kenapa? Gak percaya? Sekarang coba Alena pergi ke kamar Mama sama Papa, atau boleh juga ke kamar Kak Gibran. Tanya ke mereka, pasti mereka juga akan bilang kalau Alena itu cantik.”
“Tapi Alena gendut. Kulit Alena beda, nggak kayak kulit Kak Arshad sama Kak Gibran yang putih. Bahkan kulit Mama Papa juga putih.”
Aku kembali menundukan kepala, “Kak? Alena bukan anak angkat, kan?” Lanjutku.
Kak Arshad yang mendengar pertanyaan tersebut mencoba untuk mengangkat daguku untuk kembali menatapnya.
“Hei, kok kamu bisa-bisanya bilang kayak gitu? Mama bakalan sedih kalau dengar kamu ngomong gitu, tau. Kamu itu anak Mama, Adik kandung Kakak dan Kak Gibran. Buktinya, wajah kita mirip kan? Bahkan wajah kamu mirip banget sama Papa.”
“Tapi kenapa Alena gak secantik Mama?”
“Kata siapaa? Alena cantik, kok. Persis kayak Mama. Cuma mungkin karena kamu itu masih kecil, jadinya kamu belum benar-benar bisa merawat diri. Kalau kamu udah besar nanti, kamu pasti akan semakin cantik karena udah pandai merawat diri.” Sambil tersenyum, Kak Arshad mencoba membuatku percaya dengan apa yang telah ia katakan.
“Sekarang, kasih tau Kakak kenapa kamu bisa bertanya kayak gitu? Ada yang ngatain kamu di sekolah?”
Aku menggeleng.
“Terus? Kenapa kamu bisa tiba-tiba nanya kayak gitu?”
“Ya.. Alena bingung aja kenapa Alena bisa beda sendiri.”
“Jelas beda, dong. Di antara ketiga anak Mama, cuma Alena yang paling cantik.”
“Itu kan karena emang cuma Alena anak perempuan satu-satunya di keluarga Adhitama.”
“Oke, Kakak ralat. Dibanding Mama dan Bi Sari, Alena yang paling cantik.”
“Itu kan karena Mama dan Bi Sari udah tua.”
“Oke, Kakak ralat lagi. Di antara teman-teman sekelas Alena, Alena adalah anak yang paling cantik. Pokoknya Adik Kakak ini cantik pake banget! Dan satu hal lagi, kamu gak boleh ya ngomong kayak tadi.”
“Iya, Kak. Alena minta maaf.”
“Janji gak akan ngomong kayak tadi lagi?”
Jari kelingkingnya ia arahkan ke hadapanku.
“Janji.” Balasku dengan ikut melekatkan jari kelingking di kelingkingnya.
“Ya udah, sana tidur. Nanti telat berangkat ke sekolah loh gara-gara kesiangan.”
Aku memeluknya dengan erat. Ia pun kembali membalas pelukanku dengan tak kalah eratnya.
“Terima kasih ya, Kak. Alena sayang sama Kakak meskipun kadang Kakak nyebelin.”
“Kok Kakak kesel ya dengernya.”
Ia melepaskan pelukannya lalu mulai mencubit hidungku dengan gemas, sementara aku tertawa meledek ke arahnya.
“Al?” Tanyanya sebelum aku berhasil beranjak dari tempat tidurnya.
“Kamu nanya kayak tadi karena Kakak sering ngatain kamu kebo, ya?”
“Enggak, Kak. Alena tau kok kalo soal itu Kakak pasti cuma bercanda.”
“Terus? Apa alasan mata kamu sembab itu gara-gara kamu nangisin semua pertanyaan yang tadi kamu tanyain ke Kakak?”
“Enggak, Kak Arshad. Kan Alena udah bilang kalau Alena mimpi Kakak tenggelam terus dimakan hiu, mangkannya Alena nangis.”
“Bener, ya? Gak bohong kan?”
“Beneran, Kak.”
“Pokoknya inget selalu ucapan Kakak kalau Alena itu cantik. Kalau ada yang bilang Alena jelek, gendut atau pun hitam. Bilang ke Kakak, biar Kakak kasih pelajaran ke dia.”
“Kalau yang bilang itu Kak Gibran, gimana?”
“Ya gak mungkin lah Kak Gibran bilang gitu ke Alena. Bisa-bisa dia gak dikasih uang jajan sama Mama.”
Kami pun membayangkannya sambil tertawa terbahak-bahak. Dan setelah itu, aku pamit sambil beranjak pergi untuk kembali ke kamar.
Lihat, siapa bilang si buruk rupa ini tidak akan pernah mendapatkan serta merasakan kebahagiaan? Mempunyai keluarga seperti keluargaku adalah sebuah kebahagiaan yang tidak semua orang bisa miliki. Mereka menganggapku sempurna di saat aku tidak mencintai diriku sama sekali. Mereka meyakinkanku bahwa aku layak untuk bahagia di saat dunia memaksaku untuk selalu menangis. Mereka memberiku cinta yang tulus di saat penghuni lain muka bumi ini meneriakiku dengan cacian. Mereka lah warna sebenarnya yang aku butuhkan dalam hidupku yang kelabu ini.
Jadi, bukankah lucu jika aku benar-benar memutuskan untuk mengakhiri hidupku sementara aku memiliki keluarga yang sempurna? Tuhan akan bersedih ketika melihatku di surga dan aku mulai bercerita tentang alasan mengapa aku memilih untuk mengakhiri hidup yang telah Ia rancang dengan sebaik mungkin.
Hidupku itu sempurna. Hanya saja, aku kurang bersabar untuk menantikannya.