Episode 5

2018 Words
Suara ketukan pintu membangunkanku dari tidur. Perlahan pintu itu terbuka, terdengar suara langkah kaki seseorang berjalan masuk ke dalam kamarku.   “Alena, Sayang. Bangun dong, udah siang nanti kamu telat loh berangkat sekolahnya. Kak Gibran, Kak Arshad sama Papa udah pada kumpul di meja makan.” Sambil menguap lebar, aku mencoba menggosok-gosokan kedua mata dan beranjak dari kasur.   “Kok tumben? Emangnya sekarang jam berapa, Ma?”   “Jam 06:10.” Dengan terkejut, aku langsung beranjak dari kasur dan pergi menuju kamar mandi. Sementara Mama hanya menggelengkan kepalanya sambil melangkah keluar dari kamarku. Hari ini, entah kenapa aku masih bersemangat untuk berangkat ke sekolah, meski di hari kemarin sempat membuatku ingin memutuskan untuk kembali ke Homeschooling. Selepas mandi dan memakai seragam serta atribut dengan lengkap, aku meraih tas yang tergeletak di atas kursi meja belajar lalu berlari keluar menyusuri beberapa anak tangga. Setelah melihat sudah tidak ada siapa pun di meja makan, aku ku kembali berlari ke arah luar. Kak Arshad sudah berlalu menggunakan sepeda motornya, sementara Kak Gibran hendak memakai helm sebelum akhirnya melaju.   “Sayang, ayo cepat naik. Papa udah di dalam.” Teriak Mama.   “Naik mobil sama Papa Alena bisa telat. Alena ikut Kak Gibran aja ya, Ma.” Sambil tergesa-gesa, aku berlari menghampiri Kak Gibran. Ia terlihat kebingungan ketika aku menghampiri dan mencoba naik ke atas motornya.   “Loh, Al? Kenapa? Kok gak bareng Papa?”   “Udah jam segini, Kak. Alena ikut Kakak aja, ya? Lagi pula kan sekolah kita searah.”   “Ya udah. Cepat naik.”   “Ehhh, tunggu-tunggu.” ucap Mama ketika melihatku hendak naik ke jok belakang.”   “Biiii.. Bi Sari.. tolong bawakan helmnya Alena, ya.” Lanjutnya teriak.   “Iya, Bu.” sahut Bi Sari dari dalam. Tak lama kemudian Bi Sari berlari kecil menghampiri sambil membawa helm milikku.   “Ini, Non.” ucapnya sambil menyerahkan helm itu kepadaku.   “Terima kasih, Bi.” Sebelum berhasil kuambil, Kak Gibran lebih dulu meraih helm tersebut dari tangan Bi Sari dan memasangkannya di kepalaku.   “Ayo naik.” ujarnya setelah berhasil memasangkan helm tersebut. Setelah berhasil naik. Aku melambaikan tangan ke arah Mama yang sedari tadi memperhatikan kami. Kak Gibran pun mulai melajukan sepeda motornya.   “Besok-besok kamu harus pasang alarm. Biar bisa bangun sendiri. Papa jadi ikut kesiangan tahu gara-gara nungguin kamu.” ucapnya ketika kami terhenti di sebuah lampu merah.   “Iya, Kak.” Tak lama kemudian, lampu kembali berubah menjadi warna hijau. Kak Gibran pun kembali melanjutkan perjalanannya.   “Kak?”   “Hmm?”   “Menurut Kakak, Alena gendut nggak?”   “Nggak, kok.”   “Tapi tubuh Alena jauh lebih bulat dibanding Kakak dan Kak Arshad.”   “Wajar, biasanya anak-anak itu emang banyak yang tubuhnya gendut. Dan itu ngebuat mereka semakin lucu.”   “Tapi teman-teman Alena nggak ada yang gendut.”   “Bagus, dong. Berarti kamu paling lucu sendirian di kelas.” Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali bertanya.   “Kak, kenapa kulit Alena hitam?”   “Kakak juga dulu hitam.”   “Bohong! Di foto album keluarga, Kakak putih dari sejak lahir.”   “Kenapa kamu tanya kayak gitu?”   “Nggak apa-apa.”   “Ada yang ngatain kamu gendut?”   “Enggak.”   “Ada yang ngatain kamu hitam?”   “Enggak juga. Alena cuma tanya aja.”   “Kakak sama Kak Arshad juga dulu hitam, karena kita masih kecil dan belum bisa merawat diri. Kamu pun begitu.”   “Hmm.. menurut Kakak, Alena cantik nggak?” Tak terasa, kami telah sampai di depan gerbang sekolahku. Kak Gibran pun memberhentikan laju kendaraannya.   “Kok Kakak tahu kalau ini sekolah Alena? Kakak kan baru pertama kali antar Alena ke sekolah.”   “Kakak kan tahu nama sekolah kamu. Dan Kakak juga hapal letak daerah ini. Jadi, Kakak pasti tahu.” Aku mencoba turun dari motornya. Ia kembali membantu melepaskan helm dari kepalaku. Setelah helm itu berhasil terlepas, ia merapikan rambut serta poniku yang berantakan.   “Adikku itu cantik. Cantik sekali. Lucu, menggemaskan, pintar pula.” Sambil tersenyum, ia terus merapikan rambutku.   “Kakak bisa bilang kayak gitu karena Alena itu Adiknya Kak Gibran, kan?” Ia mulai tertawa hingga bola matanya berhasil tak terlihat karena matanya yang sipit.   “Nggak. Alena emang cantik. Kalau nggak percaya, tanya aja ke teman kelas Alena satu persatu.” Aku hanya terdiam sambil menatapnya dengan wajah datar.   “Udah sana masuk. Kakak mau lanjut jalan, udah siang takut telat.”   “Iya. Terima kasih ya, Kak.”   “Sama-sama.” Ia mengusap kepalaku sambil tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya. Jam di tangan menunjukan pukul 06:45. Aku memutuskan untuk berlari menuju kelas.   “Ya ampun. Ngapain sih lari-lari? Mau kurus?” cibir Chelsea ketika melihatku berlari masuk ke kelas. Bianca dan Teresa hanya tertawa sambil menatap sinis ke arahku. Dengan terengah-engah, aku berjalan menuju mejaku.   “Al? Kamu kok ngos-ngosan gitu?” tanya Feli menghadap belakang, ke tempat di mana aku duduk persis di belakang mejanya.   “Iya. Aku bangun kesiangan.”   “Ini. Minum dulu. Kamu pasti haus.” Gaby memberikan sebotol air mineral miliknya untukku. Aku langsung meneguk air itu dengan cepat dan kembali menyerahkannya kepada Gaby.   “Makasih ya, Gab.” Tak lama kemudian, Bel masuk berbunyi. Hari ini, jam pertama adalah pelajaran olahraga. Seorang guru laki-laki bernama Geri masuk ke dalam kelas dan meminta kami untuk pergi ke lapangan.   “Anak-anak, hari ini kita akan bermain basket. Tapi sebelumnya, kita pemanasan terlebih dahulu.”   “Iya, Pak.” jawab murid serempak. Setelah melakukan pemanasan. Babak pertama dimulai. Pak Geri memilih Timku yang di mana berjumlah 5 orang dan Tim Chelsea yang juga berjumlah 5 orang untuk bermain terlebih dahulu. *Priiiittttt* Peluit telah berhasil ditiup, menandakan pertandingan sudah dimulai. Aku terus berlari menggiring bola, sementara Chelsea terus mengincarku dengan tatapan sinisnya. Score untuk tim ku sudah mencetak angka 3 sementara tim Chelsea masih berada di angka 0.   “Aduh.” Aku yang sedang fokus menggiring bola tiba-tiba saja terjatuh karena dorongan seseorang. *Priiittt* Peluit kembali berbunyi.   “Berhenti dulu berhenti.” teriak Pak Geri.   “Apa-apaan sih lo, Chel? Gak usah kasar bisa nggak?!” teriak Feli sambil mendorong tubuh Chelsea.   “Ya kan gue nggak sengaja!” Chelsea dengan nada tingginya ikut membalas mendorong tubuh Feli hingga terjatuh. Feli bergegas berdiri dan kembali mendorongnya kembali. Pak Geri berlari memisahkan perkelahian antara Feli dan Chelsea. Sementara Gaby membantuku untuk kembali berdiri. Anak-anak lain hanya terdiam sambil menyaksikan apa yang sedang terjadi.   “Sudah-sudah. Jangan bertengkar!”   “Dia duluan, Pak! Sengaja banget dorong Alena!”   “Nggak, Pak. Saya nggak sengaja. Jelas-jelas dia yang kasar udah dorong saya duluan.”   “Ya karena lo dorong Alena lebih dulu.”   “Sudah cukup!” Teriak Pak Geri memisahkan.   “Kalian, pergi duduk. Biarkan tim lain yang bertanding.” Lanjutnya. Feli dan Gaby membantuku berjalan menuju tempat duduk di dekat lapangan.   “Ya elah. Kayak gitu doang aja lebay banget.” ucap Chelsea. Aku menahan Feli yang masih kesal ketika mencoba bangun dari tempat duduknya untuk memberi pelajaran kepada Chelsea.   “Udah, Fel. Gak usah ditanggapin.” Feli hanya terdiam mengambil napas panjang sambil terus menatap ke arah Chelsea dengan sinis.   “Aku ke toilet dulu, ya?” ucapku sambil beranjak dari tempat duduk.   “Mau aku antar?” tanya Gaby.   “Gak usah. Kalian tunggu di sini aja, aku cuma sebentar, kok.” Aku berjalan menuju toilet yang jaraknya lumayan jauh dari lapangan. Seusai keluar dari toilet, aku dikejutkan oleh keberadaan Chelsea, Bianca dan juga Teresa yang berdiri menungguku tak jauh dari pintu toilet yang aku gunakan. Dengan sedikit ketakuan, aku mencoba memberanikan diri untuk berjalan melewati mereka.   “Eits.. mau ke mana lo, gendut?!”   “A-aku, aku mau kembali ke lapangan.”   “Haha. Lo pikir mudah lewatin kita? Sini lo ikut gue!” Ia dan kedua temannya menarik dan membawaku ke halaman belakang yang letaknya tak jauh dari toilet anak perempuan.   “Aduh.. lepasin, Chel. Sakit.”   “Diem! Ini pelajaran buat lo karena udah sok ngalahin score gue!”   “Chel. Lepas, Chel.”   “Gue bilang diem ya diem!” Ia mendorongku hingga aku terjatuh ke tanah.   “Denger ya, di sini gue yang berkuasa. Jadi nggak boleh ada satu pun orang yang bisa dengan mudahnya ngalahin gue!” Mereka mulai menyiram tubuhku dengan air berwarna keruh yang mereka temui tak jauh dari sini. Dengan gelak tawa, air itu terus menerus disiram ke sekujur tubuhku. Setelah merasa puas, mereka pun berlalu meninggalkanku dengan kondisi kuyup seperti ini. Aku berusaha untuk kembali berdiri, sambil menangis, kubersihkan baju yang kotor terkena campuran air dengan pasir. Tak lama kemudian, kedatangan seorang anak laki-laki mengejutkanku. Dengan cepat, aku langsung mengusap air mata dengan kedua tanganku.   “Lo siapa? Ngapain di sini? Lo bukan anak sekolah ini, kan?” tanyaku sambil menatap wajah asingnya. Ia terdiam sesaat.   “Lah, lo yang ngapain di sini? Basah-basahan segala.” Lanjutnya.   “Bukan urusan lo!” Aku beranjak pergi melewatinya untuk kembali menuju lapangan.   “Loh, Al? Kamu kenapa? Baju kamu basah dan kotor gini?” Feli yang melihatku berjalan menghampiri ia dan Gaby langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku.   “Nggak, aku nggak apa-apa. Tadi kepeleset di toilet.”   “Ya ampun. Kok bisa sih, Al?” ucap Gaby yang ikut mengampiriku.   “Ayo kita langsung ke kelas untuk salin baju. Kamu sakit nanti kalau kuyup begini.” Timpal Feli.   “Tapi..”   “Nggak apa-apa. Lagian sebentar lagi Bel pergantian jam pelajaran. Ayo.” Ia dan Gaby membawaku kembali masuk ke dalam kelas untuk mengganti seragam.   “Lain kali hati-hati ya, Al.” Feli mencoba membantuku mengganti pakaian.   “Iya. Makasih ya udah mau bantu aku.” Mereka berdua hanya tersenyum ke arahku. Bel pergantian jam pelajaran pun berbunyi. Anak-anak kelasku telah mengganti seragam olahraga mereka menjadi seragam merah putih dan mulai masuk kembali memenuhi ruang kelas. Tak lama kemudian, Bu Jasmine masuk ke dalam kelas bersama dengan seorang anak laki-laki. Dan betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa laki-laki itu adalah seseorang yang tadi bertemu denganku di halaman belakang dekat toilet perempuan. Tiba-tiba seluruh isi kelas menjadi sedikit ramai karena terpesona melihat ketampanannya.   “Harap tenang. Anak-anak, Ibu minta perhatiannya. Hari ini, di kelas kita kedatangan anak baru. Ayo, Nak. Perkenalkan diri kamu.” Bu Jasmine tersenyum sambil melepas rangkulannya dari pundak anak laki-laki itu.   “Nama saya Aezar Surya Danantya, biasa dipanggil Surya.”   “Sudah cukup, Nak?”   “Cukup, Bu.”   “Jadi, apa ada yang mau ditanyakan?” Masih asyik memandang kagum ketampanannya, murid-murid pun tidak ada yang melontarkan pertanyaan.   “Baik. Kalau gitu biar nanti kalian saling memperkenalkan diri masing-masing aja, ya? Nah, Surya, kamu bisa duduk di bangku kosong belakang sana, ya. Di sebelah Alena.” Ucap Bu Jasmine sambil menunjuk bangku kosong di sebelahku.   “Baik, Bu.” Langkah kakinya berjalan menghampiri mejaku. Ia pun mulai duduk di kursi tersebut.   “Ibu minta kalian jangan berisik, ya. Guru pelajaran selanjutnya akan segera datang.”   “Iya, Bu.” jawab kami serempak. Bu Jasmine mulai berjalan keluar meninggalkan kelas.   “Hai, Surya. Aku Gaby.” Gaby membalikan tubuhnya ke belakang sambil menjulurkan tangannya ke hadapan Surya.   “Hai.” balasnya menjabat tangan Gaby.   “Kamu pindahan dari mana?”   “Selamat siang anak-anak.” Tak lama kemudian seorang Guru masuk ke dalam kelas. Gaby yang terkejut langsung kembali membalikan posisi tubuhnya ke depan.   “Siang, Bu.” teriak murid-murid.   “Keluarkan buku pelajaran Bahasa Inggris kalian.” Semua murid termasuk aku mulai mengeluarkan buku paket Bahasa Inggris dari dalam tas kami masing-masing. Sementara Surya hanya terdiam karena ia belum memiliki semua buku mata pelajaran di sekolah ini.   “Sekarang, buka halaman 5.” ujar Bu Guru. Setelah berhasil melakukan perintah tersebut, aku mencoba fokus dengan materi yang sedang Bu Guru sampaikan. Dari ekor mata, Surya terlihat tengah mencuri-curi pandang ke arah buku paket milikku. Saat menyadarinya, aku berusaha untuk mengambil buku paket yang kuletakan di atas meja dan mulai k****a dekat sekali dengan wajahku agar ia tidak bisa melihat isi dari buku paket tersebut. Sambil menghela napas, ia membuang mukanya lalu mulai fokus hanya melalui apa yang Bu Guru terangkan tanpa melihat isi di buku paket.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD