Dan tanpa terasa, Bel istirahat berbunyi. Tak seperti biasanya, beberapa murid perempuan tidak langsung beranjak ke luar kelas. Namun mereka pergi mengerubungi mejaku untuk memperkenalkan diri masing-masing kepada anak baru yang bernama Surya itu.
“Minggir-minggir.”
Chelsea dengan kedua sahabatnya menghampiri kerumunan. Aku yang terjebak oleh mereka semua hanya bisa terdiam sambil memperhatikan apa yang akan mereka lakukan.
“Minggir!” Lanjutnya.
Beberapa anak perempuan itu pun pergi meninggalkan mejaku dan keluar menuju kantin.
“Hai. Kenalin, aku Chelsea. Aku Ketua Murid di kelas ini. Kalau ada apa-apa dan ada yang mau ditanyain bisa langsung ke aku aja ya gak perlu ke yang lain.”
“Iya.” jawab Surya singkat.
Tiba-tiba Feli menarik tanganku dari tempat duduk untuk pergi meninggalkan mereka menuju kantin.
“Ayo, Al.”
“I-iya.”
Setibanya di kantin, kami duduk di tempat biasa. Surya datang bersama Chelsea, Bianca dan juga Teresa yang terus mengikutinya. Hingga akhirnya mereka duduk di meja yang sama ketika sampai di kantin.
“Gila ya tuh anak, centilnya kebangetan.” ujar Feli geram.
“Haha, udah gak aneh, Fel.” sahut Gaby.
Aku hanya terdiam sambil asyik menyantap makan siangku.
Tak lama kemudian, Bel masuk kembali berbunyi. Satu persatu langkah kaki mulai beranjak meninggalkan kantin menuju ruang kelas.
“Panggilan kepada Chelsea selaku ketua kelas di kelas 4. Diminta untuk segera ke Ruang Guru.”
Terdengar bunyi suara pengumuman melalui speaker sekolah. Chelsea yang baru saja duduk di bangkunya kembali berdiri dan berjalan menuju Ruang Guru.
Tak lama kemudian, Chelsea kembali masuk ke kelas bersama Surya yang entah dari mana. Chelsea menghentikan langkahnya di depan kelas sementara Surya berjalan ke arahku menuju bangkunya.
“Guys, hari ini Pak Malik gak bisa hadir. Jadi dia cuma kasih kita tugas.”
Ia mulai menuliskan halaman berapa saja yang harus kami kerjakan di papan tulis.
“Nih. Udah gue tulis di sini jadi gak usah tanya lagi. Bel berbunyi, tugas harus selesai dan dikumpulkan ke meja depan.”
Setelah itu, ia kembali berjalan menuju tempat duduknya.
Aku melihat Surya telah mengeluarkan buku paket pelajaran Matematika. Dengan sombongnya, ia melirik ke arahku sambil berusaha untuk memamerkan buku tersebut. Aku yang menyadarinya langsung mencoba mengalihkan pandangan dari wajahnya.
Beberapa menit selama mengerjakan soal Matematika yang ditugaskan oleh Pak Malik. Tiba-tiba Chelsea datang menghampiri mejaku.
“Heh, Gendut. Minggir lo! “Teriaknya.
Feli yang mendengar hal tersebut langsung berdiri dari kursinya.
“Lo bisa gak sih sehari aja gak buat masalah?!”
“Lo juga bisa nggak sehari aja gak usah ikut campur urusan gue?”
“Ya jelas lah gue ikut campur. Alena itu teman gue, kalau ada yang gangguin dia, orang itu harus berhadapan sama gue.”
“Apa sih lo? Lo pikir gue takut?”
“Lo pikir gue juga takut sama lo?”
“Lo lupa kalau gue ketua kelas? Gue bisa aduin lo ke Bu Jasmine.” sahut Chelsea dengan ancaman.
“Aduin! Aduin aja sesuka lo, gue gak takut. Anak-anak juga tahu siapa yang mulai duluan.”
“Udah, Fel. Udah. Aku nggak apa-apa, kok.” Sambungku sambil mencoba berdiri dari tempat duduk, namun tangan Feli menahanku dengan erat untuk tetap membiarkanku duduk.
“Gak usah, Al. Buat apa kamu pergi dari sini? Ini kan kursi kamu.”
“Apaan sih sok jadi pahlawan banget! Alena aja ngizinin gue untuk duduk di sini. Kenapa jadi lo yang repot?!”
“Terserah gue, dong. Kenapa? Gak suka?!”
“Cukup.” teriak Surya, “Mau lo apa?” tanyanya sambil menatap Chelsea.
“Aku cuma mau duduk di sini.” ucapnya sambil menunjuk tempat dudukku.
“Ya udah. Biar gue yang pindah.”
Surya mencoba beranjak dari tempat duduknya.
“E-eh, gak usah. Aku gak mau duduk sama si gendut ini.”
Ia pun pergi meninggalkan mejaku dan kembali ke mejanya.
“Dasar biang rusuh!” Gerutunya kesal.
Gaby mengusap bahu Feli, mencoba menenangkannya sambil menyuruhnya untuk kembali duduk.
Surya yang juga kembali duduk di kursinya tak lama kemudian menoleh ke arahku.
“Kenapa? Lo mau ngatain gue juga?!” tanyaku.
Dengan wajah datarnya, ia kembali memfokuskan pandangannya ke tugas yang telah diberikan.
Tanpa terasa, Bel pulang berbunyi.
Aku langsung memasukan barang-barang yang berserakan di atas dan kolong meja ke dalam tas.
“Alena, Gaby. Aku balik duluan, ya?” ucap Feli.
“Oke. Hati-hati ya, Fel.” jawab kami berdua.
Feli kemudian melangkahkan kakinya keluar kelas. Sementara Gaby juga langsung pamit untuk pulang dan berjalan keluar meninggalkan kelas.
“Tunggu.”
Ketika hendak melangkah keluar, Surya menarik tanganku.
“Apaan, sih?!”
Dengan spontan, aku langsung melepaksan genggamannya dari pergelangan tanganku.
“Apa Chelsea yang ngebuat lo kotor dan basah kuyup di halaman?”
“Bukan urusan lo!”
Aku kembali melangkahkan kaki keluar. Dan lagi-lagi, ia menahanku.
“Lepasin! Gue teriak, nih.”
“Gue kan cuma tanya.”
“Tapi itu bukan urusan lo!”
Aku bergegas meninggalkannya yang masih berdiam diri di sana. Sambil sedikit berlari, aku menghampiri Pak Dirman yang telah menunggu di tempat biasa.
“Loh? Ada apa, Non? Kok lari-larian?” Tanyanya heran ketika melihatku berlari menghampirinya sambil menoleh ke belakang sesekali.
“Gak apa-apa, Pak. Ayo kita pulang.”
“Baik, Non.”
Setelah kami berhasil masuk, Pak Dirman langsung melajukan kendaraannya menuju rumah.
***
(((Keesokan harinya)))
“Ma, dasi Arshad di mana, ya?” teriak Kak Arshad dari atas tangga.
“Astaga anak ini. Kamu kemarin taruh di mana sehabis pulang sekolah?” jawab Mama teriak sambil melangkah menghampirinya ke atas.
“Perasaan Arshad taruh di tempat biasa.”
Papa hanya menggeleng, sementara Kak Gibran hanya menoleh sedikit lalu kembali menghabiskan sarapan paginya.
Tak lama kemudian, Mama dan Kak Arshad datang lalu bergabung di meja makan.
“Maaa, Sandwich-nya masih ada nggak?” tanyaku.
“Ada, Sayang. Kenapa? Kamu masih lapar?”
“Nggak. Alena mau bawa ke sekolah, boleh nggak?”
“Boleh dong, Sayang. Nanti Mama suruh Bi Sari untuk dimasukan ke kotak makan kamu, ya?”
Aku mengangguk.
Setelah semuanya menyelesaikan sarapan. Kami pun beranjak dari tempat duduk, berpamitan dengan Mama sebelum melangkahkan kaki keluar.
“Non, ini bekalnya.”
Bi Sari berlari menghampiriku yang hendak masuk ke dalam mobil.
“Dan ini botol minumnya, udah Bibi cuci sama isiin air yang baru.” Lanjutnya.
“Terima kasih ya, Bi.”
“Sama-sama. Hati-hati di jalan ya, Non.”
“Iya, Bi.”
Bi Sari tersenyum ke arahku sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Kok tumben kamu bawa bekal? Biasanya paling gak mau. Lagi bosan sama makanan di kantin?” Tanya Papa ketika aku telah berhasil masuk ke dalam mobil.
“Enggak. Ini sengaja Alena bawa buat teman-teman Alena, Pa.”
Papa hanya mengangguk sambil tersenyum yang menandakan bahwa ia mengerti kenapa alasan aku membawa bekal ke sekolah.
Tak lama kemudian, Pak Dirman memberhentikan laju kendaraannya tepat di depan gerbang sekolahku.
“Belajar yang serius ya, Sayang.”
“Iya, Pa.”
Aku mencium tangan Papa sebelum beranjak keluar dari mobil.
Setelah berhasil keluar, aku kembali melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam kelas.
Tiba-tiba, seseorang merangkulku dari belakang.
“Hai, Gendut.”
Terlihat Chelsea dengan Bianca dan Teresa yang sepertinya juga baru sampai.
“Jawab dong kalau gue sapa. Sombong banget, sih.”
“Tau, nih!” sambung Bianca.
“H-hai.” jawabku gemetar.
“Wiiih, bawa apa tuh?”
Chelsea melihat ke arah Paper bag kecil yang sedang aku tenteng.
“B-bekal.”
“Bi, coba cek isinya.”
Mengikuti perintahnya, kemudian Bianca menarik paksa Paper bag itu dari tanganku.
“J-jangan. Aku mohon. Itu untuk Feli dan Gaby.”
“Kenapa? Pelit banget, sih. Gue kan cuma mau lihat.”
“Waaah! Sandwich, Chel.” Ujar Bianca setelah berhasil membuka bekal yang kubawa.
“Ya ampun, kirain apaan sampai gak boleh gue buka. Ternyata cuma Sandwich.”
Langkah kami hampir sampai di depan kelas.
“Yuk. Ikut gue.”
Masih sambil terus merangkul, Chelsea membawaku pergi.
“M-mau ke mana? Kelas kita kan di sana.”
“Siapa juga yang mau ajak lo ke kelas. Udah, lo diem aja.”
Bianca dan Teresa hanya tertawa sambil mengikuti langkah yang Chelsea ambil. Kami terus berjalan, hingga akhirnya berhenti di halaman kosong. Tempat di mana Chelsea dan kedua temannya itu mendorongku hingga terjatuh lalu membasahi seragam olahragaku.
“Siniin.”
Ia meminta Bianca untuk menyerahkan kotak bekal makan yang kubawa ke tangannya. Setelah berhasil digenggam, ia mulai mendekatkan wajahnya ke hadapanku.
“Tadi lo bilang ini buat siapa?”
“B-buat Feli sama Gaby.”
Chelsea mulai tertawa dengan wajah sinisnya. Tak lama kemudian, dibukanya kotak makan tersebut. Ia membuang Sandwich itu ke tanah lalu mencoba menginjak-injak dengan kedua kakinya.
“Chel, berhenti! Jangan rusak bekalku.”
Saat aku hendak menghalanginya, tangan Bianca dan juga Teresa memegang kedua tanganku dengan erat agar aku tidak bisa pergi dan melalukan apa-apa.
“Kenapa?! Sandwich kotor ini cocok buat teman-teman lo yang kurang ajar! Terutama si Feli, yang sok jagoan dan selalu ikut campur urusan gue!”
Disertai tawanya, ia terus menginjak Sandwich-ku hingga puas.
“Nah, sekarang tinggal lo kasih deh tuh ke teman-teman lo!”
Tawanya semakin keras diikuti dengan kedua temannya.
“Ayo, Guys. Kita ke kelas. Biarin aja di gendut ini meratapi Sandwich-nya.”
Setelah Bianca dan Teresa melepaskan tanganku lalu melangkah pergi, dengan isak tangis aku langsung menghampiri Sandwich-sandwich itu sambil berusaha memunguti dan menaruh kembali ke dalam kotak setelah mencoba membersihkannya.
Masih terus menangis, aku bangkit dan berjalan menuju ruang kelas sambil menenteng kotak makan berisi sandwich yang telah kotor dan hancur.
Gaby dan Feli yang datang dari arah koperasi lalu melihatku berjalan sambil menangis langsung berlari menghampiri.
“Al, kamu kenapa?” tanya Gaby
Aku tidak menjawab. Masih menatap kotak makan tersebut sambil menangis.
“Al, kenapa? Ada apa?” tanyanya sekali lagi.
“Maafin aku ya teman-teman.”
Dengan sesenggukan, aku mengarahkan kotak makan tersebut ke arah mereka dan mencoba memperlihatkan isi di dalamnya.
“Aku bawa Sandwich untuk kalian makan di jam istirahat nanti. Tapi karena aku terjatuh, Sandwichnya jadi kotor dan hancur seperti ini.”
“Astaga, Al. Aku kira kamu kenapa.” ujar Feli.
Ia membantuku menutup kembali kotak makan tersebut dan menaruhnya masuk ke dalam tasku.
“Gak usah pikirin soal Sandwich-nya. Gak apa-apa, kok. Kamu bilang tadi kamu jatuh? Jatuh di mana? Gak kenapa-kenapa? Ada yang luka nggak?” lanjutnya.
Aku menggeleng.
“Ya udah, ayo kita masuk ke kelas.”
Mereka menuntunku masuk ke dalam ruang kelas.
Setelah berhasil duduk, aku mengeluarkan kotak makan tersebut dan kembali meratapinya. Tak lama kemudian, Surya datang lalu duduk di kursinya.
“Lo kenapa?”
“Nggak.”
“Abis nangis?”
“Nggak.”
“Tapi mata lo merah.”
“Gue bilang enggak ya enggak!”
“Gue kan nanya baik-baik. Kenapa sih lo gak pernah bisa lembut kalo ngomong sama gue?”
“Karena lo udah gak sopan sama gue!”
“Gak sopan? Perasaan gue nggak pernah sentuh lo sama sekali.”
“Lo gak sopan karena udah datang tiba-tiba di halaman sekolah waktu pertama kali kita ketemu. Jangan-jangan lo emang sengaja ya ngikutin gue? Dasar peguntit!”
Ia terdiam sesaat.
“Dih pede banget, lo! Lagian apanya yang nggak sopan? Kebetulan gue ada di situ, dan gue liat lo. Ngapain coba sendirian di halaman belakang yang sepi kayak gitu.”
“Udah gue bilang, itu bukan urusan lo!”
Ia menatap ke arah kotak makan yang kupegang.
“Itu apa?”
“Bisa nggak sih gak usah banyak tanya? Jangan kepo.”
Tanpa kembali bertanya, ia langsung merampas kotak makan tersebut dari tanganku dan membukanya.
“Kembaliin nggak?!”
Tanpa memperdulikan ucapanku, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju tong sampah yang letaknya tidak jauh dari ruang kelas.
Aku hanya terdiam sambil memperhatikannya yang kemudian kembali duduk dan menyerahkan kotak makan tersebut kepadaku.
“Nih. Gue balikin.”
“Apaan, sih? Lo kenapa rese banget sih jadi orang?”
“Harusnya tuh lo terima kasih sama gue. Udah ngebuangin makanan yang emang seharusnya dibuang. Lagian ngapain coba makanan kotor kayak gitu masih aja di simpan. Yang ada, tempat makan lo yang bagus itu jadi kotor, tau.”
“Yaaaaa.. biarin aja! Itu kan kotak makan gue. Jadi terserah gue dong!”
*teng.. teng.. teng..*
Suara bel masuk telah berbunyi. Pertanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Anak-anak yang masih berada di luar kelas mulai berlarian masuk memenuhi ruang kelas.
“Berisik. Udah waktunya belajar.” ujarnya.
Aku hanya terus memandangnya dengan wajah yang kesal.