Langkah Pak Malik berjalan masuk ke dalam kelas. Dengan senyum khasnya, ia mengucapkan salam kepada kami.
Pria paruh baya dengan kumis serta brewok cukup lebat itu mulai duduk di kursinya.
“Sebelumnya Bapak minta maaf karena kemarin berhalangan hadir. Di pertemuan kali ini, kita akan bahas materi di halaman 6 sebelum kita bahas tugas yang kemarin saya berikan, ya. Jadi cepat keluarkan buku paket kalian masing-masing dan buka halaman 6.”
“Iya, Pak.” jawab kami serempak.
Aku menolehkan sedikit tubuh untuk melihat ke arah tas yang bersandar di kursi. Setelah membuka ritsleting dan mencoba mencari buku paket Matematika di dalam tas. Aku terkejut ketika mengetahui bahwa buku paket Matematikaku tidak ada di sana. Dengan perasaan gelisah, aku mencoba menenangkan diri dengan hanya mengeluarkan buku tulis berisi tugas yang Pak Malik berikan kemarin.
Surya yang melihat gelagatku sepertinya tahu jika aku tidak membawa buku paket.
“Apa liat-liat?!” tanyaku ketus.
Ia hanya terdiam sambil kembali memfokuskan pandangannya ke arah buku paketnya yang telah tergeletak di atas meja.
Selama Pak Malik menjelaskan, aku hanya terdiam kebingungan sambil sesekali berusaha curi pandang ke arah buku paket milik Surya. Surya yang menyadarinya langsung meraih buku paketnya dan berusaha untuk menjauhkannya dari pandanganku sambil memasang senyum menyebalkannya sebagai tanda pembalasan ketika ia baru pertama masuk dan belum mempunyai buku pelajaran. Aku hanya mengerutkan dahi sambil membuang muka dari pandangannya.
“Ada yang kurang paham sampai di sini?” tanya Pak Malik sambil menatap kami.
“Nggak, Pak.” jawab kami serempak.
“Alena? Kamu kenapa?”
Pak Malik yang sepertinya menyadari kegelisahan di raut wajahku mulai beranjak dari tempat duduknya.
Semua anak di kelas menoleh ke arahku, termasuk Feli dan Gaby.
“Ngg.. nggak apa-apa kok, Pak.” jawabku.
Tiba-tiba Surya mengangkan tangan kanannya.
“Alena sakit perut, Pak. Mau izin ke toilet.” ujarnya.
“Loh? Silakan Al kalau memang tidak bisa ditahan. Ayo, cepat. Langsung ke toilet aja. Nggak apa-apa, kok.” jawab Pak Malik.
“Eh? Emm.. i-iya, Pak.”
Sambil beranjak dari tempat duduk, aku menoleh sinis ke arah Surya yang tertawa cengengesan.
“Permisi ya, Pak.” ucapku sambil berjalan keluar meninggalkan ruang kelas menuju toilet.
“Iya, silakan.”
Ketika hendak berjalan menuju toilet, aku berpapasan dengan Bu Jasmine yang sepertinya habis dari toilet guru yang jaraknya tidak jauh dari toilet siswa.
“Eh, Al. Mau ke toilet?” sapanya.
“I-iya, Bu.”
“Ya sudah. Langsung kembali ke kelas ya setelah itu.”
“Baik, Bu.”
Bu Jasmine pun kembali melanjutkan langkahnya sambil tersenyum ke arahku.
‘Sial, semuanya gara-gara si Surya nyebelin itu. Padahal aku lagi gak pingin buang air. Tapi gara-gara dia, aku jadi harus pura-pura pergi ke toilet.’ Gerutuku dalam hati.
Setelah terpaksa masuk ke dalam salah satu toilet anak perempuan, aku pun mencoba kembali keluar. Tapi tiba-tiba, pintu tidak dapat terbuka dan sepertinya terkunci dari luar ketika aku tak berhasil membukanya dari dalam.
*tok.. tok.. tok..*
Dengan sekuat tenaga, aku berusaha menggedor pintu.
“Halo? Siapa pun di luar. Tolong bukain. Aku kekunci di dalam.” teriakku.
Tidak ada satu pun jawab dari luar sana. Aku masih terus berusaha menggedor pintu toilet hingga ada seseorang yang mendengarnya lalu datang menolongku.
Sekitar 5 menit setelah terkunci di dalam sambil mencoba teriak meminta pertolongan tiba-tiba terdengar suara seseorang membukakan pintu.
Sambil bergegas keluar, aku mencoba untuk mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah membantu membukakan pintu tersebut untukku.
“Maka... sih.” ucapanku terhenti ketika melihat bahwa Surya lah yang membukakan pintu tersebut.
“Elo?! Mau lo apa, sih? Lo sengaja ya ngunciin gue di toilet setelah ngebuat gue terpaksa jalan ke toilet di saat gue gak kepingin buang air sama sekali?!” tanyaku kesal.
“Heh, harusnya lo tuh terima kasih sama gue karena udah ngebukain pintu toilet yang dikunci sama orang yang entah siapa.”
“Entah siapaaa? Ya siapa lagi kalau bukan lo sendiri pelakunya! Lo sengaja kan ngunciin gue dari luar dan pura-pura nolongin gue supaya gue berterima kasih dan akhirnya bersikap baik sama lo?”
“Kok ada sih orang yang kepedean kayak lo gini? Kalau tau orang yang gedor-gedor pintu di dalam itu elo, mending gak usah gue bukain sekalian.”
“Dan kalau pun gue tau yang ngebukain pintu itu elo. Mending gue ke kunci terus di dalam. Bilang aja lo emang penguntit kan? Siapa yang suruh lo? Chelsea?”
“Yang kayak gini, nih. Udah gak tau terima kasih, bisanya cuma fitnah terus.”
“Lo mau macem-macem kan sama gue? Gila ya, kita tuh masih kecil. Lagian banyak yang cantik, kenapa lo napsunya sama yang gendut, sih?!”
Sambil terus mengerutkan dahinya, ia menaruh telapak tangannya di atas dahiku.
“Apaan, sih?!” teriakku sambil menyingkirkan tangannya.
“Pantesan aja kelakuan lo kayak gini. Dahi lo panas.” jawabnya sambil cengegesan.
Dengan terus memasang wajah kesal, aku mencoba ikut memegang suhu di dahi.
“A-apaan sih orang suhu dahi gue normal!”
“Lagian siapa juga yang mau macem-macemin lo, gue juga gak napsu sama lo.”
“Yeee liat aja ya, gue bakal aduin lo ke Bu Jasmine atas tindakan yang tidak menyenangkan!”
“Aduin aja. Orang buktinya juga gue gak ngapa-ngapain lo.”
“Dasar penguntit!”
Aku berjalan pergi meninggalkannya untuk kembali menuju ruang kelas.
“Sudah baikan perutnya, Al?” tanya Pak Malik ketika melihatku berjalan masuk menuju tempat duduk.
“Sudah, Pak.”
Tak lama kemudian, langkah Surya pun ikut kembali masuk ke dalam kelas.
“Baiklah, anak-anak. Kalau gitu, kita lanjutkan ya.” ujar Pak Malik.
Sambil memasang wajah ketus, aku membuang muka ketika ia berjalan dan mencoba duduk ke kursinya.
***
*Saat jam makan malam*
“Permisi, pakeeeettt..” teriak seseorang dari luar disertai dengan suara ketukan pintu.
Melihat Bi Sari yang sedang sibuk menyiapkan makan malam lalu berusaha membukakan pintu membuatku terbangun dari tempat duduk.
“Biar Alena aja yang bukain pintunya, Bi.”
“Gak usah, Non. Biar Bibi aja.”
“Gak apa-apa. Bibi lanjutin aja siapin makan malam.” lanjutku sambil berjalan ke arah pintu utama.
“Selamat malam, Dek.” ucap Pria tersebut sambil tersenyum setelah aku berhasil membukakan pintu untuknya.
“Malam, Om.”
“Ini ada kiriman paket untuk Arshad Putra Adhitama.” ujarnya sambil menyerahkan paket berwarna merah jambu yang ukurannya sekitar 10x20 cm.
“Dari siapa ya, Om?” tanyaku ketika mengambil paket tersebut dari tangannya.
“Kurang tau, Dek. Di sini gak ditulis keterangan nama pengirimnya.”
“Oh ya udah. Terima kasih ya, Om.”
“Iya, sama-sama.” Laki-laki tersenyum lalu melangkah pergi.
Aku kembali menutup pintu dan berjalan melangkah ke arah meja makan.
“Apa itu, Sayang?” tanya Mama dari tempat duduknya ketika melihatku berjalan menghampiri.
“Gak tau. Kiriman paket buat Kak Arshad katanya.”
Mama dan Papa hanya tersenyum meledek ke arah Kak Arshad yang terlihat bingung karena mendapatkan kiriman sebuah paket.
“Ha? Untuk Kakak? Dari siapa, Al?” tanyanya sambil mengunyah.
“Gak tau. Tadi pas Alena tanya ke Om yang datang, dia juga gak tau ini atas nama siapa.”
“Loh, kok bisa gitu?”
Aku hanya mengangkat kedua bahu yang menandakan bahwa tidak tahu menahu sambil memberikan paket itu kepadanya dan mencoba kembali duduk di kursi meja makan.
“Kak Gibran nggak ada yang ngasih?” Aku melirik ke arah Kak Gibran yang sedang fokus menyantap makan malam.
“Cewek mana ada yang mau sama dia. Disapa aja gak nyaut, dingin banget. Kalah es batu juga.” ledek Kak Arshad diiringi dengan gelak tawa.
Kak Gibran hanya memandang jengkel sambil melempar irisan wortel ke arahnya.
“Aduuuh.” ujar Kak Arshad.
“Sudah-sudah. Ayo habiskan dulu makan malamnya.”
“Iya, Ma.” jawab kami bersamaan.
Setelah selesai, Kak Gibran lebih dulu beranjak pergi dari meja makan menuju kamarnya. Sementara aku menunggu Kak Arshad untuk beranjak dari kursinya.
Setelah ia beranjak sambil membawa paket yang tadi aku berikan, langkahku mecoba mengikutinya yang berjalan naik ke atas menuju kamarnya. Ketika berhasil masuk ke dalam dan membalikan badan untuk menutup pintu, ia terkejut ketika menyadari bahwa aku mengikutinya sedari tadi.
“Astaga Alena. Kakak kaget tau nggak? Kamu mau apa ikutin Kakak?”
Aku hanya cengengesan sambil melirik ke arah paket yang ia pegang.
Ia yang menyadarinya langsung ikut melirik ke arah paket tersebut lalu kembali melihat ke arahku.
“Ah, Kakak tahu nih. Pasti kamu penasaran kan sama isi paket ini?”
“Hehe, iya.” jawabku sambil berlari masuk ke dalam kamarnya.
“E-eh. Siapa yang suruh kamu masuk?”
“Nggak ada. Lagian kenapa sih, Kak? Alena kan Adiknya Kakak. Masa gak boleh masuk ke dalam kamar Kakaknya sendiri, sih.”
“Astaga, anak ini.”
Ia mulai melangkah menuju tempat tidurnya. Aku pun terus mengikutinya.
“Ayo buka, Kak.”
“Sabar kenapa, sih.”
Dengan perlahan, ia mencoba merobek paket yang telah dibungkus dengan kertas kado berwarna merah jambu yang dipenuhi dengan gambar hati.
Setelah berhasil terbuka, terlihat sebuah topi berwarna hitam bersama dua batang cokelat di dalamnya. Ia mulai menoleh ke arahku yang sudah memandangnya dengan ekspresi meledek.
“Ciyeeee, ini pasti dari penggemar rahasia Kak Arshad deh.”
“Apa sih anak kecil. Tau apa kamu soal penggemar rahasia?”
Dengan wajah tersipu kemerahan, ia mengangkat topi itu dari dalam sana dan mulai mencobanya. Seketika, sebuah kertas terjatuh dari balik topi tersebut.
“Eh, Kak, ada suratnya.”
Ketika aku mencoba mengambil surat tersebut, tangan Kak Arshad langsung menyambar lebih dulu untuk mengambilnya.
“Ih, Alena mau baca.” ujarku.
“Gak boleh. Ini rahasia. Udah sana balik ke kamar, lagian kamu udah tau kan isinya apaan.”
“Isi suratnya belum tau, kan.”
“Udah Kakak bilang ini rahasia.”
“Ya udah. Kalau gitu, ini untuk Alena.”
“E-eh....?” ujarnya ketika melihatku mengambil sebatang cokelat di dalam paket tersebut.
“Itu kan punya Kakak.”
“Kan Alena udah bantu bawain paket ini buat Kakak. Dari pada Alena maksa buat liat isi suratnya, jadi lebih baik Alena minta cokelatnya, kan? Lagi pula juga cokelatnya ada dua. Kakak gak boleh makan banyak-banyak. Nanti jadi gendut kayak Alena, mau?”
“Huh, dasar. Ya udah sana, jangan lupa tutup lagi pintunya.”
“Siap Kak Arshad yang tampan.”
Dengan tersenyum meledek sambil menenteng sebatang cokelat, aku berlari keluar kamarnya lalu menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam kamarku.
***
“Arshad, cepat turun. Sarapannya udah siap. Nanti kamu telat, loh.” teriak Mama dari bawah ketika menyadari hanya Kak Arshad yang belum ada di meja makan.
“Iya, Ma. Sebentar.” teriaknya dari atas.
Tak lama kemudian ia berlari menuruni anak tangga dan bergabung bersama kami di meja makan sambil sibuk memakai dasi yang telah menggantung di kerahnya.
“Gimana Kak? Suratnya udah dibaca?” tanyaku.
Ia langsung memyumbat mulutku dengan tangannya. Aku pun mencoba menyingkirkan tangan itu dari mulutku.
“Surat apa, Al?” tanya Mama.
“Itu, Ma. Semalam kan Kak Arshad dapat paket. Ternyata isinya topi, cokelat sama surat cin..”
Sebelum berhasil selesai bicara, tangan Kak Arshad kembali menyumbat mulutku.
“Kakak, ih!” teriakku sambil menyingkirkan tangannya.
“Kamu berisik banget lagian.”
“Ya kan Mama nanya, Alena jawab dong.”
“Oh, gitu ya?” tanyanya sambil memasang wajah tersenyum dan berakhir menggelitiki tubuhku.
“Haha ampun, Kak. Ampun.” teriakku sambil berusaha menyingkirkan jari-jarinya.
“Hey, sudah-sudah. Cepat habiskan sarapannya, nanti kalian telat berangkat ke sekolah, loh.” seru Mama.
Kami pun segera menyantap sarapan kemudian berangkat menuju ke sekolah masing-masing.