Episode 8

2034 Words
Setelah berhasil melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil. Aku melambai ke arah Papa yang juga melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum. Tak lama, mobilnya pun melaju kembali melanjutkan perjalanan. Langkah kakiku kembali berjalan masuk ke area sekolah menuju ruang kelas.   “Aduh, lepas lagi.” ucapku ketika menyadari ikatan tali sepatu bagian kanan telah terlepas. Sambil membungkukan badan, aku mencoba mengikat kembali tali sepatu itu. Tak lama kemudian, langkah kaki seseorang berjalan melewatiku begitu saja. Ketika aku menoleh, terlihat wajah Surya yang bahkan tidak melirik ke arahku sama sekali. Kakinya tetap melangkah tanpa memperdulikanku yang sedang kesulitan membenarkan tali sepatu.   “Woy!” teriakku. Ia tetap terus melangkah tanpa menggubrisku.   “Surya!!!!” teriakku kembali. Lagi-lagi, ia tetap tidak peduli. Aku mencoba kembali berdiri dan berusaha berlari menghampirinya dengan tali sepatu yang masih belum berhasil kuikat.   “Surya! Lo tuli, ya?!” Sambil terus berjalan, ia menoleh ke arahku.   “Ada apa, sih? Gak usah sok akrab ya sama gue.”   “Surya, please. Please banget kali ini bantuin gue, ya?” Kutarik lengan bajunya hingga langkah kakinya mulai terhenti.   “Nggak.” Jawabnya sambil kembali berjalan meninggalkanku.   “Et.. et.. tunggu dulu. Please, kali ini aja.” Aku kembali menarik lengan bajunya.   “Lepas.” sahutnya ketus sambil melirik ke arah tanganku yang menarik lengan bajunya.   “I-iya, iya. Maaf.” Aku pun melepaskan lengan bajunya dari tangan.   “Bantuin gue ya. Please. Tali sepatu gue copot dan gue gak bisa pasanginnya.”   “Bantuin lo? Bukannya lo gak mau dapat bantuan dari gue?”   “Ya ampun. Lo marah soal kemarin? Iya deh maaf, gue bercanda doang kok.”   “Bercanda? Ke mana nada tinggi yang lo pake setiap kali ngomong sama gue? Kok sekarang nadanya lembut?”   “Surya, please. Kali ini aja. Gue gak tau mau minta tolong ke siapa. Kalau ada Gaby atau Feli juga gue gak akan minta tolong ke lo.”   “Ya udah, lo jalan aja dengan kondisi tali sepatu yang lepas sampai ke ruang kelas. Nanti di sana, baru deh lo minta tolong pasangin ke teman-teman lo itu.” Ia kembali melangkahkan kakinya. Dan aku kembali menarik lengan bajunya.   “Lepasin!”   “Suryaaa... gue udah minta tolong banget loh. Please! Gue janji gak akan galak-galak lagi.” Ia terdiam beberapa saat.   “Oke. Gue akan pasangin tali sepatu itu buat lo. Tapi ada syaratnya.”   “A-apa?”   “Kerjain tugas-tugas sekolah gue dan turutin apa pun yang gue perintahin ke elo selama satu bulan.”   “SATU BULAN?!” teriakku tak percaya.   “Ya, ya udah kalau lo gak mau.”   “Tapi, itu gak setimpal banget dengan apa yang lo lakuin ke gue. Gue cuma minta tolong pasangin tali sepatu, sebelah doang pula. Tapi lo minta imbalan sebulan.”   “2 minggu.”   “Gimana kalau 2 hari aja?”   “2 minggu.”   “Oke. Seminggu. Gimana?”   “Gue bilang 2 minggu. Kalau lo gak mau ya udah. Lo jalan aja dengan kondisi kayak gitu ke kelas.”   “I-iya deh, iya. 2 minggu. Cepetan pasangin tali sepatu gue.” Ia mulai membungkukan badannya lalu memasangkan tali sepatuku. Setelah berhasil terikat, ia pun kembali berdiri.   “Nih, bawain tas gue sampai ke kelas.” Dilemparkannya ransel yang ia bawa ke arahku.   “Gilak, lo bawa apaan aja sih? Berat banget.”   “Gak usah berisik. Bawain aja.” Kakinya kembali melangkah dan meninggalkanku yang kesulitan karena membawa tas ransel miliknya.   “Kenapa sih harus Surya yang gue temuin pagi ini? Kenapa gak Feli atau Gaby aja? Kalau gue ketemunya sama mereka kan gue gak akan kesulitan kayak sekarang. Hhh emang dasar cowok nyebelin!” gerutuku sambil terus berjalan mengejarnya menuju ruang kelas. Dengan terengah-engah, aku masuk ke dalam kelas dan langsung menaruh tas itu di atas mejanya lalu duduk di kursiku.   “Gue haus, beliin minum dong di kantin.” Ia menyerahkan uang selembar senilai 10.000 ke atas mejaku.   “Tapi, gue baru banget duduk. Capek tau.”   “Lo lupa sama perjanjian kita? Parah banget sih.”   “Iya, iya. Dasar nyusahin!” dengusku kesal sambil meraih uang tersebut dan beranjak dari kursi.   “Eh, apa lo bilang?”   “Ha? Enggak. Emang kayaknya lo beneran tuli deh Surya.” Aku tersenyum meledek sambil berjalan meninggalkannya menuju kantin.   ‘Aduh, ini si Surya pesan minum apa ya? Ah, pasti air mineral.’ gumamku sambil mengambil sebotol air mineral lalu membayarnya. Setelah berhasil membeli sebotol air mineral untuknya, aku pun langsung kembali menuju ruang kelas. Tapi ketika hendak membalikan badan, aku dikejutkan dengan sosoknya yang tak sengaja kutabrak karna berdiri tepat di belakangku.   “Aduh!!” teriakku.   “Loh kok lo yang aduh sih? Harusnya gue dong, kan gue yang ditabrak.”   “Ya lo ngapain di sini? Kalau tau lo bakal ke sini, kenapa gak lo aja yang pergi ke kantin beli minum buat diri lo sendiri?”   “Emang kenapa? Suka-suka gue dong. Mana sini air minum gue.” Sambil berusaha menahan kesal. Aku memberikan air mineral itu ke tangannya.   “Kok air mineral? Gue mau jus. Ganti.”   “Ya abisnya kan tadi lo gak bilang mau minum apa.”   “Ya harusnya lo tanya dong. Pinter sedikit kek jadi orang.” Aku terdiam sambil menghela napas panjang.   “Ya udah. Sini gue tukerin. Lo mau jus rasa apa?”   “Alpukat. Jangan pakai susu.” Ia pun memberikan air mineral itu kembali ke tanganku untuk ditukarkan dengan segelas jus.   “Eh, tunggu-tunggu.” ujarnya saat aku hendak berjalan.   “Jus mangga aja kali ya? Enak kayaknya seger-seger gitu.” Aku hanya melirik sambil kembali melanjutkan langkah.   “Eh, bentar. Strawberry enak kali ya?”   “Jadi lo maunya apa?!”   “Strawberry.” Lagi-lagi, ketika hendak membalikan badan. Ia pun kembali memanggil.   “Eh nggak deh, gue lupa kalau ternyata gue gak suka strawberry.”   “Mau lo apa sih?! Lo ngerjain gue ya?!”   “Loh kok galak, sih? Katanya janji gak akan galak lagi? Oh... jadi lo itu baiknya kalau butuh pertolongan aja, ya? Parah sih.” ucapnya mendencak sambil menggelengkan kepala. Kembali menarik napas panjang, aku mencoba tersenyum dan bersikap lembut kepadanya.   “Iya. Jadi, maunya minum apa Suryaaaa?” tanyaku tersenyum.   “Alpukat.” Sambil tersenyum mengangguk, aku kembali melangkah kaki untuk memesan jus alpukat untuknya.   “Jangan lupa. Gak pakai susu.” teriaknya. Sekitar menunggu hampir 5 menit ketika jus dibuat, aku pun kembali menghampirinya yang sedang duduk seorang diri di kursi pojok sebelah kantin. Tanpa berucap satu kata pun, aku meletakan jus itu di meja lalu melangkah pergi meninggalkannya menuju ruang kelas.   “Tunggu.”   “Apa lagi?”   “Oh, nggak. Kirain pakai s**u. Udah sana pergi.” Dengan perasaan jengkel, aku berjalan masuk ke dalam kelas.   “Al, kamu kok tadi bawain tasnya Surya? Kenapa?” tanya Gaby saat aku telah berhasil duduk di kursi.   “Oh, ng-nggak apa-apa, kok. Itu emang aku yang mau bawain.”   “Gak mungkin. Apa alasan kamu sampai mau bawain tas dia?”   “Yaa... aku mau aja. Gak ada alasan apa-apa.”   “Surya yang paksa kamu untuk bawain tas dia?” sambung Feli bertanya.   “Nggak kok, Fel. Jadi tadi gak sengaja aku ketemu Surya di gerbang, dan dia kayak kesakitan gitu bahunya. Jadi, aku coba tawarin bantuan buat bawain tas dia ke kelas.”   “Beneran? Surya gak jailin kamu, kan?”   “Nggak kok, beneran. Ini emang kemauan aku untuk bantuin dia.”   “Syukur deh kalau gitu.” Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Para Siswa dari kelas 1 sampai 6 yang masih berada di luar mulai berlarian masuk ke dalam ruang kelasnya masing-masing, termasuk Surya. Pelajaran pun dimulai. Setelah jam pelaran pertama selesai, guru mulai melangkahkan kakinya keluar kelar karena jam mengajarnya telah habis dan akan digantikan dengan pelajaran selanjutnya, olahraga.   “Al, ayo kita ke loker. Ganti baju.” ajak Gaby. Aku mengangguk sambil meraba isi dalam tas untuk mengambil seragam olahragaku.   ‘Loh, kok nggak ada? Perasaan tadi udah aku masukin ke dalam tas.’ batinku.   “Emm, Gab, Fel. Kalian duluan aja ya ke toiletnya.”   “Beneran? Kamu gak apa-apa nanti ke loker sendirian?” tanya Gaby.   “Iya, gak apa-apa kok.” Feli dan Gaby pun beranjak keluar kelas menuju loker. Sementara aku masih sibuk membongkar isi tas yang jelas-jelas memang tidak ada seragam olahraga di dalamnya. Sambil memejamkan mata, aku mencoba mengingat kembali jika memang benar-benar lupa membawa seragam tersebut.   “Nih pake.” ujar Surya sambil memberikan seragam olahraganya ke arahku.   “Buat apa?”   “Ya buat lo lah. Lo gak bawa seragam olahraga, kan?”   “I-iya. Tapi nanti lo gimana?”   “Gue udah izin sama Pak Bahar kalau gak bisa ikut pelajaran olahraga kali ini.”   “Kenapa? Lo sengaja ya mau pinjemin seragam ini buat gue?” tanyaku meledek.   “Gak usah kepedean, deh. Perut gue tuh sakit gara-gara abis minum jus. Lo gak ikhlas ya ngebeliinnya?”   “Astaga, jelek banget sih pikirannya. Ya lagian lo ngaco aja, pagi-pagi minum jus.”   “Udah, gak usah bawel. Intinya lo mau pake nggak? Kalau gak mau ya udah gue masukin lagi ke dalam tas.” ucap Surya sambil menarik kembali seragam olahraganya.   “Eh, jangan, jangan. Mau kok, nanti gue bisa dimarahin Pak Bahar kalau dia tau gue lupa bawa seragam olahraga.” Hanya terdiam, ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar.   “Lo mau ke mana?” tanyaku.   “UKS.” jawabnya singkat tanpa menoleh sambil terus melanjutkan langkahnya. Aku langsung meraih seragam tersebut dan ikut keluar untuk mengganti pakaian ke loker.   “Al, kamu pakai seragam siapa?” tanya Gaby ketika melihatku berjalan menghampirinya di tengah lapangan.   “Iya, kok seragamnya ketat banget?” sambung Feli.   “I-iya, nih. Kayaknya aku gendutan deh.”   “Ah, nggak kok.” ujar Gaby.   “Sebenernya, ini seragam punya Surya. Aku lupa bawa seragam olahraga.”   “Pantes aja. Terus, Surya pakai seragam siapa?”   “Dia sakit, gak ikut pelajaran olahraga. Mangkannya dia kasih pinjem seragamnya ke aku.” *Priiiitt*   “Anak-anak. Ayo berkumpul. Kita lakukan pemanasan terlebih dahulu.” teriak Pak Bahar.   “Ya udah. Ayo, Pak Bahar udah manggil, tuh.” ucap Feli. Kami pun menghampiri Pak Bahar untuk mengikuti arahannya hingga jam pelajarannya selesai.   “Baik anak-anak. Karena jam pelajaran saya sudah hampir habis, jadi sampai di sini dulu pertemuan kita. Kalian boleh istirahat, kalau sudah langsung kembali ke kelas, ya.”   “Baik, Pak.” jawab para murid serempak.   “Ayo kita ke kantin. Aku haus banget, nih.” ajak Gaby. Saat berjalan menuju kantin, tiba-tiba seseorang menabrak kami dari belakang.   “Aduh.” teriakku dan Feli bersamaan.   “Oops, sorry. Mangkannya kalau jalan jangan di tengah-tengah. Udah tau badan gede. Ngalangin aja kerjaannya.” cibir Chelsea.   “Haha rasain deh kalian.” ledek Teresa yang diikuti dengan senyum sinis dari Bianca.   “Bener-bener, ya!” Feli mendengus kesal. Aku dan Gaby langsung berusaha menahannya yang hendak mengejar Chelsea bersama dua temannya karena telah menabrak kami.   “Udah Fel, gak usah dikejar. Gak akan ada habisnya.” Gaby mencoba menenangkannya.   “Kamu nggak apa-apa?” tanyaku.   “Gak. Kamu juga gak apa-apa, Al?”   “Gak apa-apa, kok. Tadi cuma kaget aja karena tiba-tiba ada yang datang.” jawabku tersenyum. Masih dengan wajah kesalnya, kami pun kembali melanjutkan langkah menuju kantin.   “Bu, beli obat penghilang sakit perut ada?”   “Ada, mau berapa?”   “Satu aja. Sama air mineral dan roti cokelatnya satu.”   “Buat siapa, Al?” tanya Gaby.   “Buat Surya. Kasian dia sakit perut gara-gara tadi pagi aku kasih jus Alpukat.”   “Oh, aku kira perut kamu yang sakit.   “Makasih, ya Bu.” ucapku ketika Ibu penjaga warung itu memberikan barang yang kupesan.   “Sama-sama.” sahutnya..   “Gab, Fel. Kalian masuk kelas duluan aja, ya? Aku mau pergi jenguk Surya dulu ke UKS buat kasih obat ini.”   “Iya, salam ya buat Surya dari kita. Semoga cepat sembuh.” ujar Feli diikuti dengan anggukan kepala Gaby yang juga sambil tersenyum. Aku pun berjalan meninggalkan mereka menuju ruang UKS untuk menjenguk Surya, meski aku tahu bahwa Surya begitu menyebalkan. Tapi setidaknya, dia telah membantuku sebanyak dua kali di hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD