Saat melewati lorong, aku melihat Chelsea, Bianca dan juga Teresa yang sedang berdiri di depan kelas. Mereka langsung menghampiri begitu melihat aku berjalan melewati lorong sambil membawa sebungkus roti dan sebotol air mineral.
“Aduh, bosen gak sih Guys?” Chelsea melirik ke dua temannya.
“Bosen banget, Chel.” Sahut Bianca.
“Sambil tunggu bel pergantian jam, enaknya ngapain yaaa?”
Chelsea mulai mendekat ke arahku yang terhenti ketika mereka datang. Tangan kanannya ia angkat, diletakannya siku kecil miliknya ke bahu kiriku.
“Tumben nih sendirian? Ke mana teman-teman lo yang sok jagoan itu?”
“Tau nih Alena sendirian aja, mau kita temenin nggak?” tanya Teresa.
“Chel, Bi, Ter. Permisi ya, aku mau ke UKS.”
“Iya, boleh. Silakan.” sahut Teresa.
“Tere, apaan sih lo? Bisa diem aja nggak?!” Chelsea mulai menatap sinis ke arahnya.
“I-iya maaf, Chel.”
“Mau ngapain sih? Mending di sini aja hibur kita.” ujar Chelsea.
“T-tapi aku harus kasih ini buat Surya.”
“Surya? Emangnya Surya di UKS? Dia kenapa?”
“Sakit.”
“Kalau gitu, siniin.”
Ia merampas roti dan air mineral yang sedang kupegang.
“Biar gue yang kasih ke Surya.” lanjutnya.
“Chel, jangan. Aku mohon.”
“Apaan sih pelit banget. Udah deh jangan berisik. Tenang aja, gue beneran bakal kasih roti ini ke Surya, kok!”
“Tapi, Chel..”
Aku terus berusaha merampas kembali roti dan air mineral itu dari tangannya. Kami saling tarik-menarik hingga akhirnya botol air mineral terjatuh dan roti itu pun rusak tak berbentuk.
“Kan, apa gue bilang. Udah bagus gue mau bantuin buat kasih ke Surya. Sekarang jadi ancur kan rotinya. Makan tuh sama lo!”
“Tau, nih. Huuu!” sambung Teresa.
Akhirnya, mereka bertiga pun pergi meninggalkanku menuju ruang kelas. Berbekal roti yang hancur, aku kembali mengambil botol air mineral yang terjatuh dan tetap kembali melanjutkan langkah menuju UKS.
Setelah berhasil mengetuk pintu, terlihat Surya tengah duduk di atas ranjang sedang berusaha untuk turun.
“Mau ngapain lo ke sini?” tanyanya ketika melihatku berhasil masuk ke dalam.
Aku hanya terdiam sambil terus berjalan menghampirinya.
“Ini. Buat lo.” ucapku setelah berhasil mengeluarkan obat dari dalam saku dan menyerahkan air mineral ke arahnya.
“Gak butuh. Minggir, gue mau keluar.”
“Gue udah capek-capek ke kantin untuk beliin obat buat lo dan anterin langsung ke UKS. Hargain dikit, kek.”
“Gak ada yang nyuruh lo buat lakuin ini.”
Tak lama kemudian, matanya mulai melirik ke arah roti yang kugenggam.
“Itu apa?” tanyanya.
“Roti.”
“Kenapa bentuknya kayak gitu?”
“Tadinya gue juga beliin ini buat lo. Tapi, karena di tengah jalan gue jatuh, terus rotinya jadi rusak karena ketiban badan gue.”
“Jatuh atau digangguin Chelsea?”
“Ja.. jatuh. Udah deh, cepat minum dulu obatnya. Biar gimana pun juga kan lo sakit perut gara-gara gue.”
“Nah, itu tau. Sini.” Diambilnya roti itu dari tanganku.
“E-eh, tapi kan itu udah rusak.”
“Gak apa-apa, gue laper.”
Sambil melangkah keluar, Surya meninggalkanku di ruang UKS.
“Surya!! Obatnya jangan lupa diminum.”
“Bawel.” teriaknya.
Aku pun berlari mengejarnya untuk ikut kembali ke ruang kelas.
“Ngapain sih ngikutin gue segala? Segitu khawatirnya takut gue gak minum obat?”
“Dih, pede gila lo. Ya gue mau ke kelas, lah!”
Aku pun meninggalkannya dengan mempercepat langkah untuk menuju kelas terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba, aku terdiam dan memutar balik saat mengingat belum sempat mengganti seragam olahragaku.
“Kan balik lagi. Bilang aja lo ngefans sama gue ya, kan?”
“Yeee orang gue mau salin ke loker!” ujarku pergi meninggalkannya.
*teng.. teng.. teng..*
Bunyi suara bel telah terdengar. Aku pun berlari sambil menenteng seragam olahraga menuju kelas.
Suasana kelas telah kembali dipadati, tiap murid sudah duduk di kursinya masing-masing.
“Jangan lupa dicuci.” ucap Surya saat aku telah berhasil duduk.
“Bawel.”
“Pokoknya harus bersih dan wangi. Kalau nggak, lo harus cuci lagi.”
“Berisik! Bisa diem, nggak?!”
“Suryaaaaa.....” sapa Chelsea yang tiba-tiba datang menghampiri Surya.
“Lo tadi ke UKS ya? Sakit apa?”
“Sakit perut biasa.”
“Sorry ya gue gak jenguk lo di UKS. Abisnya gara-gara si gendut, roti yang mau gue kasih ke lo jadi ancur.” Surya mulai melirik ke arahku.
“Gak apa-apa.” jawabnya.
Tak lama kemudian, seorang Guru datang memasuki kelas. Chelsea pun kembali duduk menuju kursinya sambil menatap sinis ke arahku.
“Kenapa lo bohong?” tanyanya.
“Bohong? Soal apa?”
“Gak usah pura-pura bodoh.”
“Ya apa? Gue bener-bener gatau apa yang lo maksud.”
“Tadi lo bilang roti itu rusak karena jatuh ketiban badan lo.”
“Ya kan bener. Gue emang jatuh.”
“Lo bilang bukan gara-gara digangguin Chelsea.”
“Terus kenapa? Kenapa kalau gue gak bilang? Lo mau belain gue?”
Ia terdiam menatapku lalu menarik napas panjang.
“Lo sadar gak sih, apa yang dilakuin Chelsea dan teman-temannya ke lo tuh udah termasuk ke dalam bentuk bullying? Bukan cuma lo. Siapa pun orangnya, Kalau dia kena bullying pasti akan gue bela.”
“Hoaaaamm...” Aku menguap lebar ke arahnya.
“Aduh kok ngantuk ya? Gue ke toilet dulu deh cuci muka. Mau ikut?” lanjutku.
Surya hanya terdiam sambil menatapku dengan ekspresi datarnya.
“Pak?” Aku mengangkat tangan ke arah Pak Rahmat yang hendak menerangkan materi yang ia ajarkan.
“Ya? Ada apa, Alena?”
“Boleh izin ke toilet sebentar?”
“Boleh, silakan.”
Aku pun kembali menguap dengan lebar sambil meledek ke arahnya sebelum beranjak keluar menuju toilet.
‘Akan ia bela katanya? Awal pertemuan kami saat itu saja jelas-jelas ia melihat kalau aku tengah di-bully oleh Chelsea dan kedua temannya. Tapi ia hanya terdiam dan malah bertanya dengan nada menjengkelkannya. Sungguh kesan pertama yang buruk. Bahkan dengan membantuku membenarkan tali sepatu lalu menjadikan b***k untuknya sebagai imbalan selama 2 minggu saja itu sudah termasuk dalam bentuk bully. Lucu sekali dia.’ gerutuku dalam hati.
Sesampainya di toilet, aku terpaksa membasuh muka meskipun sebenarnya sedang tidak mengantuk. Namun, mendengar bualan Surya membuatku cukup muak. Tanpa memakan waktu yang lama, aku kembali menuju kelas. Suasana kelas yang terakhir kali tadi hening ketika kutinggalkan menuju toilet, kini berubah bagaikan pasar malam hingga membuatku heran. Pak Rahmat pun tidak ada di kursinya.
Masih dengan tatapan heran, aku berjalan menuju tempat duduk.
“Pak Rahmat ke mana?” tanyaku pada Surya.
“Ada urusan mendadak.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Kita dibebasin?”
Ia meraih pipiku dengan kedua tangannya untuk diarahkan ke sebuah tulisan di papan tulis.
“Tuh liat. Tulisan segede gitu gak kebaca?” ujarnya sambil melepaskan kedua tangannya dan mulai mengerjakan tugas yang tertulis di papan tulis.
Aku terdiam lalu mencoba mengeluarkan buku beserta alat tulis dari dalam tas. Tak lama kemudian, Surya bangun dari tempat duduknya.
“Mau ke mana?”
“Toilet.”
Tanpa menoleh, ia terus berjalan keluar kelas.
“Dasar manusia es. Mentang-mentang wajahnya ganteng, dia bebas bertingkah dengan gaya sok coolnya. Dia pikir semua perempuan bakal suka sama dia gitu? Hih gak banget.” Aku terus menggerutu sambil mengerjakan tugas yang diberikan Pak Rahmat.
“T-tapi, dia emang ganteng sih.”
Entah kenapa, wajahnya terpampang jelas begitu saja dalam pikiranku.
“Apaan sih, Al! Fokus dong fokuuus!”
Berkali-kali, tamparan dari kedua tanganku mendarat tepat di pipi untuk kembali memfokuskan diri ke tugas.
*tuukkk*
“Aduh...” ujarku.
Tiba-tiba saja sesuatu yang cukup keras menghantam kepalaku. Aku melihat sebuah penghapus berwarna hitam dengan ukuran yang lumayan besar jatuh di kaki kursiku.
“Penghapus? Punya siapa ini?”
Sambil memegang kepala yang masih kesakitan, aku melihat ke arah sekeliling. Chelsea, Bianca dan juga Teresa terlihat tengah tertawa ke arahku.
‘Udah aku duga. Pasti ini ulah mereka.’ batinku.
Aku mencoba untuk tidak memperdulikan dengan menaruh penghapus tersebut di atas meja dan kembali mengerjakan tugas.
Tak lama kemudian, seseorang duduk di kursi milik Surya.
“Sombong banget sih dipanggil gak nyaut.” ucap Chelsea.
‘Heu, anak ini. Aku kira Surya.’
“Maaf, Chel. Aku gak tau kalau kamu manggil.”
“Alasaaan! Tadinya sih gue mau maafin lo perkara roti. Cuma, gara-gara lo gak sopan karena udah gue panggil tapi gak nyaut, jadinya gue gak bisa maafin lo.”
“Tapi tadi kamu gak panggil aku.”
“Ini. Lo tau kan penghapus ini siapa yang lempar?” Ia meraih penghapus tersebut dan mengarahkannya ke hadapanku.
“I-iya. Aku pikir, kamu gak sengaja ngelempar penghapus itu.”
“Udah gendut, bodoh pula. Gak ada yang bisa dibanggain sama sekali ya dari diri lo?!”
“Ma-maaf, Chel.”
“Ada apa, nih?” Feli yang duduk di depan mejaku mulai menoleh ke arahku dan juga Chelsea.
“Aduh, mulai deh muncul tukang ikut campur yang sok jagoan.” sindir Chelsea.
“Eh, ada biang rusuh. Pantes aja berisik.”
“Maksud lo apa?!” Chelsea mulai berdiri dari kursi.
“Gak ada maksud apa-apa. Kok lo marah? Lo ngerasa kalau diri lo tuh biang rusuh? Lo ngatain gue sebagai tukang ikut campur yang sok jagoan aja gue gak marah kok. Soalnya gue gak ngerasa.” Feli tersenyum sinis ke arah Chelsea yang sudah terlihat kesal.
“Kurang ajar! Lo gak tau lagi berhadapan sama siapa?!”
“Siapa?! Ketua Kelas? Bisa-bisanya orang kayak lo jadi ketua kelas.” Feli yang semakin memanas pun ikut berdiri.
Kini keduanya saling berhadapan.
“Hahaha.. kenapa? Lo iri gak bisa jadi Ketua Kelas?”
“HAHAHAHA. Iri? Sama modelan kayak lo? Gak penting!” jawabnya dengan tawa yang lebih keras.
“Jaga mulut lo! Lo berani sama gue?!” Jari telunjuknya menunjuk Feli persis di depan wajahnya.
“Sejak kapan gue takut sam lo?!!!” Feli menepis jari tersebut dengan tangannya.
Seisi ruangan mulai mengerubuti mejaku. Sebagian dari mereka ada yang mencoba memisahkan, ada yang diam saja memilih untuk tidak ikut campur. Dan ada juga yang malah bersorak agar suasana menjadi lebih seru untuk mereka pertontonkan.
“Fel, udah Fel. Udah, ya? Aku gak apa-apa kok.” Aku terus mencoba menarik Feli agar kembali duduk dan menyudahi perdebatan ini.
“Lepas, Al. Manusia kayak gini tuh gak pantes dibiarin.”
“Lo pikir lo pantes dibiarin? Manusia tukang ikut campur kayak lo juga harus dikasih pelajaran!” teriak Chelsea.
“HAHAHA. Apa? Lo mau ngasih pelajaran apa ke gue?! Lakuin!!!!”
Chelsea mulai menjambak rambut Feli, tangan Feli pun tak mau kalah dan ikut menjambak rambut panjang Chelsea yang lurus tergerai itu dengan sekuat tenaga.
Suasana kelas semakin tidak karuan. Sorak sorai dari beberapa murid semakin keras terdengar, membuat Feli dan juga Chelsea semakin memanas dan bersemangat untuk saling menjambak satu sama lain.
Tak lama kemudian, Surya datang bersama Bu Jasmine dan Pak Malik. Mereka langsung memasuki kerumunan untuk menghampiri Feli dan Chelsea yang masih asyik menjambak rambut satu sama lain.
“Berhentiiiii!” teriak Bu Jasmine, sementara Pak Malik mencoba untuk memisahkan mereka berdua.
“Feli.. Chelsea.. Ibu bilang berhenti!!!” teriaknya semakin keras.
Setelah menyadari kehadiran Bu Jasmine dan Pak Malik. Keduanya mulai berhenti dan melepaskan jambakannya masing-masing.
“Apa-apaan kalian ini?!” ujar Bu Jasmine masih dengan nada tingginya.
“Dia duluan, Bu!” sahut Chelsea.
“Apa?! Lo duluan yang gangguin Alena!”
“Gue gak gangguin Alena! Gue cuma mau ambil penghapus gue yang jatuh di dekat mejanya!”
“Pembohong! Al, kamu bilang dong ke Bu Jasmine atas semua tindakan Chelsea selama ini.” Tatapan dengan wajah merah padam itu menoleh ke arahku. Rambutnya sudah kusut tak beraturan berkat jambakan. Ikat rambut yang ia gunakan sebelumnya pun tak tau telah jatuh ke mana.
“Sudah-sudah, hentikan. Kamu Feli, Chelsea dan juga Alena. Kalian bertiga ikut Ibu ke ruangan. Jelaskan semuanya di sana. Dan untuk yang lain, kembali ke tempat duduk masing-masing. Kerjakan tugas kalian dan jangan berisik! Kalau ada yang berisik, maka akan Ibu jemur di lapangan. Mengerti?!”
“Mengerti, Buuu.” jawab para murid serentak.
Mereka semua kembali ke tempat duduk masing-masing, begitu juga dengan Gaby yang hanya menatap khawatir ke arahku dan Feli.