Kami bertiga terus berjalan mengikuti langkah Bu Jamsine dan Pak Malik menuju ruangan mereka. Perasaanku sangat tidak karuan, entah akan diapakan anak seusia kami yang melakukan perkelahian seperti ini.
Pak Malik duduk di kursinya yang letaknya tidak jauh dari meja Bu Jasmine, sementara Bu Jasmine meminta kami untuk duduk di kursi yang telah tersedia di depan mejanya.
“Silakan duduk.”
Feli menggeser kursinya mendekat ke arahku untuk menjauhi kursi yang Chelsea duduki.
“Kalian ini apa-apaan, sih? Masalah apa yang membuat kalian berakhir dengan perkelahian seperti tadi?”
Mata Bu Jasmine menatap ke arah kami dengan tajam secara bergantian.
“Dia duluan, Bu.” ujar Chelsea dengan jari telunjuknya yang mengarah ke Feli.
“Kenapa? Ada apa dengan Feli?”
“Feli ngatain saya biang rusuh di kelas.”
“Ya kan emang kenyataan lo biang rusuh!” sahut Feli dengan nada kesalnya.
“Enak aja, lo tuh yang biang rusuh!”
“Diam!” bentak Bu Jasmine, “Feli.. biarkan Ibu mendengarkan penjelasan dari Chelsea terlebih dahulu.” lanjutnya.
“Ibu liat sendiri kan barusan? Feli tuh emang udah benci sama saya, Bu. Jadi apapun yang saya lakuin pasti selalu salah di mata dia.”
“Feli... apa yang membuat kamu bisa berkata seperti itu kepada Chelsea?”
“Bu, ini udah kesekian kalinya Chelsea gangguin Alena. Sebagai teman baiknya, saya cuma ingin membela Alena dari orang-orang seperti dia. Tapi dia malah ngatain saya sebagai tukang ikut campur.”
“Nggak, Bu. Dia bohong! Saya nggak pernah ganggu Alena sama sekali.”
“Chelsea... sekarang biarkan Ibu mendengarkan penjelasan dari Alena sendiri.”
Chelsea terdiam, matanya menatap tajam ke arahku. Kedua bola matanya seakan berbicara bahwa ia akan melakukan hal yang lebih kejam jika aku menceritakan semua kelakuannya terhadapku selama ini.
“Alena, sekarang jelaskan semua yang telah terjadi. Apa benar yang dikatakan Feli kalau selama ini Chelsea mengganggu kamu?”
Tubuhku gemetar, keringat dingin terus mengalir dengan derasnya ke sekujur tubuh. Sambil menatap wajah Feli dan Chelsea secara bergantian, aku mencoba untuk menjawab pertanyaan yang Bu Jasmine berikan.
“A-anu.. Bu..”
“Gak apa-apa, Al. Gak usah takut.”
“Enggak, Bu. C-Chelsea nggak pernah ganggu saya.”
Senyum jahat mulai tergambar di wajah Chelsea yang sedari tadi terus menatapku.
“Tuh kan, Bu. Saya bilang juga apa, saya gak pernah gangguin Alena. Bahkan tadi saya mau ambil penghapus yang gak sengaja terlempar ke dekat kursi Alena. Baru saja mau ambil, tiba-tiba Feli marah-marah dan ngatain saya biang rusuh.”
“Al, kamu apa-apaan sih? Jelas-jelas selama ini Chelsea gangguin kamu!” ujar Feli kesal.
Aku hanya terdiam sambil terus menundukan kepala tanpa berani menoleh ke arah Feli.
“Nggak, Bu. Alena pasti takut buat ngebongkar semua kelakuan Chelsea.” lanjutnya.
“Fel, kenapa sih lo sebenci itu sama gue? Cuma karena lo ingin jadi Ketua Kelas?”
Chelsea berbicara dengan wajah polos untuk memulai actingnya.
“Bu, Feli itu kepingin jadi Ketua Kelas. Itu sebabnya kenapa dia benci sama saya. Karena dia merasa kalau saya udah rebut kesempatannya.”
Kali ini bicaranya sambil sedikit terisak.
“Gak apa-apa, Bu. Saya rela jabatan Ketua Kelas diserahkan kepada Feli.” lanjutnya sambil berpura-pura mengusap air mata.
“Nggak Bu, gak perlu! Saya gak pernah iri sama jabatan yang dia punya. Saya juga gak ada keinginan untuk jadi Ketua Kelas!”
“Fel, gak apa-apa. Gue rela kok lo gantiin posisi gue sebagai Ketua Kelas. Asal lo jangan benci lagi sama gue. Ya?”
Feli hanya terdiam sambil menatap jengkel ke arah Chelsea yang semakin menjadi-jadi.
“Sudah cukup. Ibu mau kalian saling meminta maaf satu sama lain.”
Feli hanya terdiam melipat kedua tangannya sambil memasang wajah kesal sementara Chelsea mulai menjulurkan tangan ke arahnya.
“Maafin gue ya, Fel. Kita kan teman sekelas, gak seharusnya kita berantem kayak tadi.”
“Feli.. ayo cepat minta maaf juga ke Chelsea.”
Masih terdiam dan tanpa menoleh ke arah Chelsea, ia pun menerima jabatan tangan anak perempuan yang tadi dijambaknya itu dan langsung melepaskan tangannya.
“Dengar, ini bukan pertama kalinya Ibu mengetahui jika kalian berkelahi. Dari duduk di bangku kelas 3 hingga saat ini, bahkan selalu kalian lagi yang menghadap ke ruangan Ibu seperti saat ini. Chelsea.. Feli.. Ibu mau ini menjadi yang terakhir kalinya mendengar atau melihat kalian berkelahi. Jika sampai sekali lagi kalian seperti ini, Ibu akan memanggil orang tua kalian ke sekolah. Mengerti?” tegas Bu Jasmine.
“Mengerti, Bu.” jawab keduanya dengan serempak.
“Untuk kamu, Alena. Jangan contoh perilaku kedua temanmu ini. Dan jika ada sesuatu, kamu tidak perlu takut untuk cerita kepada Ibu.”
“Baik, Bu.”
“Ya sudah, kalian bertiga boleh kembali ke kelas.”
Kami pun beranjak dari tempat duduk dan berjalan keluar untuk kembali ke kelas.
“Anak pintar.” Chelsea mencolek daguku ketika kami telah berhasil keluar dari ruangan Bu Jamsine, lalu ia melangkah pergi dengan tatapan meledeknya ke arah Feli yang masih terlihat sangat kesal.
Feli pun mempercepat langkahnya menuju kelas.
“Fel? Feli.” Aku berteriak sambil mencoba mengejarnya, “Fel, tunggu.” Kuraih tangan kanannya, hingga membuatnya kemudian berhenti.
“Kenapa?! Kamu sekarang temannya Chelsea kan? Gak usah lagi dekat-dekat sama aku. Kamu lebih suka liat aku bersalah di mata Bu Jasmine ketimbang Chelsea. Padahal aku bisa ada di sana itu karena ngebelain kamu, Al. Aku gak nyangka kamu malah ngelindungin Chelsea.”
Ia kembali melanjutkan langkahnya, dan aku pun kembali menarik tangannya.
“Lepas!”
“Fel, dengar dulu. Aku tau aku salah.”
“Ya bagus kalau kamu tau di mana letak kesalahan kamu.”
“Fel, maaf. Gak seharusnya aku bertindak kayak tadi. Tapi.. aku benar-benar takut.”
Air mata mulai mengalir membasahi pipiku.
“Dulu di sekolah lamaku, aku dibully sama semua anak di kelasku. Gak ada satu pun di antara mereka yang membela dan mau jadi temanku. Aku sendirian, Fel. Aku selalu takut untuk bilang ke siapa pun kalau aku dikucilkan, bahkan ke keluargaku sendiri pun aku gak berani. Karena mereka yang ngebully aku selalu mengancam akan melakukan hal yang lebih parah kalau aku cerita tentang itu. Akhirnya, aku memaksa kedua orang tuaku untuk Homeschooling tanpa mereka tau sebabnya. Dan tadi, aku juga sangat takut buat aduin semuanya ke Bu Jasmine. Apalagi Chelsea terus menatapku dengan tatapan tajamnya. Tapi aku bodoh, gak seharusnya aku malah mengorbankan kamu yang jelas-jelas udah belain aku dengan mati-matian. Maafin aku karena udah terlalu takut untuk semuanya di saat kamu jadi yang paling berani untuk membela aku. Aku pantas untuk kamu benci setelah ini, Fel.”
Tangisku pecah di hadapannya. Sambil menutup mata dengan kedua tangan, aku membayangkan betapa teganya aku terhadap ia yang jelas-jelas telah membelaku dengan sebegitunya. Jangankan Feli, aku pun tentu akan membenci diriku sendiri setelah kejadian tadi.
Tak lama kemudian, pelukan hangatnya mulai terasa di tubuhku.
“Al, maafin aku. Aku ngerti sekarang. Semuanya pasti gak mudah buat kamu. Aku gak benci kamu, kok. Aku masih Feli yang sama, yang akan selalu jadi teman Alena hingga kapan pun.”
“T-tapi.. aku udah jahat sama kamu.” ucapku masih sambil terisak.
Ia mulai melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang telah membasahi pipiku dengan begitu derasnya.
“Al, aku yang jahat karena gak mengerti posisi kamu. Ini bukan pertama kalinya aku berkelahi dengan Chelsea karena membela seseorang. Dulu, sebelum kamu datang. Ada murid bernama Liana yang juga menjadi bahan Bullyan Chelsea selama hampir satu tahun. Akhirnya Liana memutuskan untuk pindah sekolah, dan saat itu aku menangis karena merasa kehilangan sosok seorang teman. Aku dan Liana begitu dekat, sama seperti aku, kamu, dan Gaby saat ini. Semenjak kamu datang, Chelsea merasa kembali mendapatkan boneka yang bisa ia mainkan dengan sesuka hatinya. Dan aku pun kembali akan mempertahankan dan menjaga kamu sama seperti aku menjaga Liana dulu. Aku gak mau pisah sama kamu atau pun Gaby.”
Air mata mulai menetes di pipinya. Sangat terlihat betapa sedihnya ia saat kehilangan Liana. Kini, giliran aku yang menyeka air mata di pipinya.
“Feli, aku benar-benar beruntung masuk ke sekolah ini. Aku gak perduli seberapa jahatnya Chelsea sama aku. Yang terpenting, ada kamu dan Gaby yang sangat sayang sama aku.”
Ia tersenyum, lalu mencubit kedua pipiku dengan lembut.
“Al, pokoknya mulai sekarang kamu gak boleh lagi takut sama Chelsea. Semakin kamu takut, semakin dia bisa seenaknya sama kamu. Tenang, ada aku dan Gaby yang akan selalu ada di samping kamu. Kita gak akan biarin Chelsea sampai dia benar-benar berenti gangguin kamu.”
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Janji?” Ia mengangkat jari kelingkingnya ke arahku.
“Janji.” Kini jari kelingking kami saling melingkar, menandakan bahwa sebuah janji antara dua orang sahabat telah berhasil terikat.
Seumur hidup, aku tidak pernah membayangkan jika akan memiliki sahabat yang baik seperti Feli dan juga Gaby. Kini aku semakin percaya, bahwa semesta membagi kebahagiaan secara adil untuk semua penghuni bumi, tak perduli bagaimana bentuk fisiknya. Karena langit yang mengabu tetap akan berubah menjadi cerah ketika sudah waktunya.
Kami kembali berjalan beriringan menuju ruang kelas. Suasana kelas terlihat ramai seperti terakhir kali aku kembali dari toilet sebelum terjadi perkelahian antara Feli dan Chelsea. Semua anak di kelas seperti tidak perduli dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Mereka tetap bercanda riang memanfaatkan jam kosong yang didapat dari pelajaran Pak Rahmat.
“Fel.. kamu nggak apa-apa?” tanya Gaby khawatir saat Feli baru saja berhasil duduk di kursinya.
“Gak apa-apa kok, Gab.”
“Dia pasti sandiwara lagi ya?”
“Yaaa.. begitu lah. Kamu pasti gak kaget kan?”
Kini Gaby mulai menoleh ke belakang untuk menatapku.
“Kalau kamu, Al? Gak apa-apa?”
“Nggak, Gab. Aku gak apa-apa, kok.”
“Syukurlah, aku khawatir banget takut kalian dihukum.”
“Gak mungkin lah, Gab. Aku sama Alena kan gak salah. Mana mungkin Bu Jasmine ngehukum kita.”
“Iya, sih. Cuma kan manusia satu itu pinter banget cari mukanya. Aku takut aja kalau akhirnya Bu Jasmine lebih percaya sama apa yang dia bilang.”
“Udah tenang aja. Semoga aja ini terakhir kalinya dia buat ulah.” jawab Feli.
Aku menoleh ke arah Surya. Ia tengah fokus pada coretan pulpen yang sedang dipegangnya tanpa bertanya sedikit pun mengenai kejadian tadi. Dan aku pun kembali melanjutkan mengerjakan tugas yang sebelumnya sempat tertunda.