***
Pak Dirman mematikan mesin ketika kami telah sampai di depan rumah. Entah kenapa, hari ini terasa begitu melelahkan.
“Terima kasih, Pak Dirman.”
“Sama-sama, Non.”
Aku pun beranjak keluar dari mobil untuk segera masuk menuju kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur.
“Eh, anak Mama udah pulang.”
Langkahku menghampiri Mama yang sedang terduduk di sofa depan televisi untuk mencium tangannya.
“Capek ya?”
“Lumayan, Ma.”
“Oh iya Sayang, kamu lupa bawa seragam olahraga ya?”
“Iya, kok Mama tau?”
“Belum lama tadi Bi Sari ke kamar Mama sambil bawa seragam kamu yang ketinggalan. Tadinya Mama mau suruh Pak Dirman untuk balik lagi ke sekolah kamu untuk bawain seragam ini. Cuma pas Mama liat jam, sebentar lagi udah jamnya kamu pulang. Sementara kamu olahraga di jam pertama kan?”
“Iya, jam 9. Alena lupa masukin ke dalam tas, Ma.”
“Terus gimana? Kamu nggak dimarahin karena gak bawa seragam?”
Aku membuka ritsleting ransel untuk menunjukan seragam olahraga milik Surya.
“Ini, teman Alena tadi sakit dan memilih istirahat di UKS. Jadi dia kasih pinjam seragam olahraganya ke Alena.”
“Aduh, syukurlah teman kamu baik hati.”
‘Heu, baik hati apanya.’ Batinku.
Mama mencoba mengeluarkan seragam olahraga tersebut dari dalam ranselku.
“Sini biar Mama kasih ke Bi Sari untuk segera dicuci. Supaya besok bisa langsung kamu kembalikan ke teman kamu.”
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Aduh, kecil banget ukurannya. Ini muat di badan Alena?”
“Hehe, agak sedikit ketat Ma. Ukuran tubuh dia jauh lebih kecil dari tubuh Alena.”
“Hmm ya sudah. Kamu cepat salin dan kembali turun untuk makan siang, ya.”
“Alena ngantuk Ma, belum lapar juga. Alena mau tidur siang aja, ya? Makannya biar nanti aja bareng sama Kak Gibran dan Kak Arshad.”
“Iya boleh, Sayang. Tapi tetap harus salin baju dulu ya sebelum tidur siang.”
“Siap, Ma.”
Mama beranjak dari sofa sambil membawa seragam olahragaku menuju Bi Sari yang sepertinya sedang berada di halaman belakang. Sementara aku berjalan ke arah tangga untuk ke kamar lalu beristirahat.
Setelah selesai mengganti pakaian, aku langsung mendaratkan tubuhku di atas kasur. Tanpa butuh waktu yang lama, mataku terpejam dengan mudahnya di tidur siang kali ini.
Tak lama kemudian, terasa tangan seseorang menggerak-gerakan tubuhku.
“Non Alena. Bangun, Non. Sudah waktunya makan malam.”
Dengan perlahan, aku mencoba membuka mata sambil mengusapnya dengan kedua tanganku.
“Eh, Bi Sari. Emangnya sekarang jam berapa, Bi?”
“Sudah jam 19:00, Non. Ibu, Bapak, Den Gibran dan Den Arshad sudah nunggu Non di meja makan.”
Sambil menguap dan masih berusaha membuka mata dengan lebar, aku menoleh ke arah dinding. Jam benar telah menunjukan pukul 19:00. Sepertinya aku tertidur pulas sekali siang ini.
“Iya, Bi. Ini Alena mau turun.”
“Kalau gitu, Bibi turun duluan ya, Non.”
“Iya, Bi.”
Tak lama setelah Bi Sari keluar dari kamar, aku pun langsung beranjak dari kasur untuk ikut keluar dan turun ke bawah bergabung bersama yang lainnya di meja makan.
“Aduh.. aduh.. Putri tidur baru bangun.” ledek Kak Arshad yang tengah asyik mengambil beberapa lauk untuk ditaruh di atas piringnya.
“Kenapa jam hari ini cepet banget, ya?”
“Bukannya jamnya yang kecepetan. Tapi kamu yang tidurnya terlalu lama. Dasar kebo.”
Aku yang baru saja duduk di kursi meja makan langsung menggigit lengan kirinya.
“Aduh, Al. Sakit. Makan malam kamu kali ini bukan lengan Kakak tauuuu.”
Aku tertawa melihatnya mengelus lengan sambil menahan sakit.
“Sudah-sudah, nanti lagi bercandanya. Ayo cepat habiskan makan malam kalian.”
“Iya, Paaaa.” Aku dan Kak Arshad menjawab secara bersamaan.
Setelah semua makanan telah habis di piring masing-masing. Kak Gibran mulai beranjak untuk kembali menuju kamarnya, begitu pun dengan langkahku yang mengikuti langkah Kak Arshad menuju kamarnya juga.
Kak Gibran sudah masuk dan menutup pintu kamar, sementara Kak Arshad menatapku sambil meledek sebelum menutup pintu kamarnya juga. Sambil membalas ledekannya, aku terus berjalan menuju kamarku.
Jam di dinding menunjukan pukul 20:10. Aku terdiam di atas kasur sambil berpikir akan melakukan apa sebelum akhirnya dapat tertidur kembali.
“Hmm, bosan. Enaknya ngapain ya? Ngerjain PR aja deh.”
Aku beranjak dari kasur menuju meja belajar yang letaknya tidak jauh dari ranjang. Membuka ransel sambil menyiapkan satu persatu mata pelajaran untuk besok.
“Ah, gak ada PR. Terus aku harus ngapain?”
Dengan terpaksa, aku kembali berjalan ke kasur dan akhirnya membaringkan tubuhku di sana.
“Coba ditidurin aja, deh.”
Perlahan, aku mulai memejamkan mata. Entah sudah berapa lama aku uring-uringan sambil berganti posisi berkali-kali agar dapat tertidur. Akhirnya, aku memutuskan untuk membuka mata. Jam menunjukan pukul 23:00.
“Ya ampun. Aku udah coba untuk tidur selama hampir 3 jam, tapi mata belum juga ngantuk. Pasti ini karena tadi aku tidur siang terlalu lama.”
Setelah terdiam beberapa saat sambil menatap langit-langit kamar, sepertinya bangkit dari kasur dan berjalan keluar biar membuatku mengantuk.
Suasana rumah telah sepi, hanya ada sedikit suara dari dalam kamar Kak Arshad. Sepertinya Kak Arshad masih terjaga. Aku pun mencoba untuk mengetuk pintu kamarnya.
*tok.. tok.. tok..*
Tanpa menjawab, tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka.
“Loh, Alena? Ada apa ketuk pintu kamar Kakak? Kok kamu belum tidur?”
“Kakak lagi apa?”
“Main game.”
“Alena gak bisa tidur.”
“Mangkannya kalau tidur siang jangan kebablasan. Jadinya kamu sekarang susah buat tidur lagi.”
“Main game bisa ngebuat kita ngantuk, nggak?”
“Ya enggak lah, Al. Kalau kamu ikut Kakak main game, yang ada mata kamu makin segar nantinya.”
“Terus Alena harus apaaaa?”
“Turun ke bawah. Kamu pergi ke kamar Bi Sari dan minta untuk buatin kamu segelas susu.”
“Emangnya s**u bisa buat kita ngantuk?”
“Kayaknya bisa. Udah sana ke cepat. Kakak juga buatin segelas ya.”
“Heu, udah Alena duga. Bilang aja kalau emang Kakak yang mau minum susu.”
“Haha, udah sana cepat. Kakak lagi asyik main game tau.”
Ia kembali masuk dan menutup pintu kamarnya.
Seperti apa yang ia perintahkan, aku benar-benar turun ke bawah untuk menghampiri Bi Sari.
*tok.. tok.. tok..*
“Bi Sari? Udah tidur belum?”
“Tunggu sebentar.” teriaknya dari dalam.
Tak lama kemudian, ia membukakan pintu kamarnya.
“Loh, Non Alena? Ada apa? Kenapa belum tidur?”
“Bibi lagi tidur ya? Maaf ya kalau Alena ganggu.”
“Enggak kok, Non. Bibi lagi asyik nonton sinetron.” jawabnya sedikit tertawa sambil menunjuk televisi yang sedang menyala.
“Non Alena kenapa belum tidur? Kalau Ibu tau, nanti Non dimarahin loh.”
“Alena gak bisa tidur, Bi. Kayaknya gara-gara tadi siang tidurnya terlalu lama.”
“Ya ampun. Sini, mau main di kamar Bibi dulu?”
“Enggak usah, Bi. Terima kasih. Alena boleh minta tolong buatin segelas s**u aja nggak?”
“Oh, boleh dong, Non. Ide bagus tuh, biar habis minum s**u, Non bisa cepat ngantuk.”
“Dua gelas ya, Bi.”
“Dua? Gak takut kembung, Non?”
“Satunya buat Kak Arshad, Bi.”
“Walaah, Bibi kira buat Non dua-duanya. Ya udah, Non tunggu aja di kamar Bibi. Biar Bibi buatin dulu susunya, ya?”
“Iya, Bi.”
Aku masuk ke dalam kamar Bi Sari dan duduk di atas kasurnya sambil menunggu ia selesai membuatkan dua gelas s**u untukku dan Kak Arshad. Tak lama kemudian, Bi Sari pun kembali sambil membawa nampan dengan dua gelas s**u di atasnya.
“Ayo, Non. Biar Bibi antar ke atas.”
“Gak usah, Bi. Bibi lanjut nonton aja. Ini biar Alena yang bawa ke atas.”
“Eh jangan, Non. Ini berat, nanti takut pecah. Gak apa-apa biar Bibi yang bawain aja.”
Aku langsung mengambil kedua gelas s**u itu dengan kedua tanganku.
“E-eh, Non. Hati-hati itu masih panas.”
“Nggak kok, Bi.”
“Udah siniin, Non. Biar Bibi aja yang bawain.”
Ia mencoba meraih paksa kedua gelas tersebut untuk dikembalikan ke atas nampan yang masih dipegangnya.
“Gak apa-apa. Bi sari lanjut nonton tv aja, ya? Maaf Alena udah ganggu. Terima kasih, Bi Sari.”
Aku pun melangkah keluar dari kamarnya untuk kembali naik dan pergi ke kamar Kak Arshad.
“E-eh, iya. Hati-hati, Non.” ujarnya dengan khawatir.
Sesampainya di atas, aku langsung mengetuk pintu kamar Kak Arshad dengan siku tangan kanan.
“Kaaak, ini susunya.”
Tanpa menunggu lama, ia langsung membukakan pintu untukku.
“Aduh, baik banget sih Adiknya Kak Arshad yang cantik ini. Makasih ya, Al.”
“Heu, Kakak selalu muji kalau cuma ada maunya aja.”
Ia pun mulai tertawa sambil mengacak-acak poniku.
“Udah sana kamu balik ke kamar dan habisin susunya biar cepat bisa tidur. Kakak lagi asyik main game.”
“Jangan main game sampai pagi loh, Kak. Nanti Alena bilangin ke Mama.”
“Iya, bawel. Udah sana, dadaaah. Selamat bobo.”
Ia pun kembali menutup pintu, sementara aku melanjutkan langkah menuju kamar.
Jam di dinding menunjukan pukul 23:30. Aku langsung meneguk segelas s**u tersebut hingga habis tak tersisa setetes pun.
“Ahhhh, nikmatnya. Semoga aja setelah ini langsung bisa tidur pulas.”
Setelah menaruh gelas ke atas meja belajar dan kembali ke kasur untuk mencoba tidur.
Keesokan harinya, aku terbangun karena mendengar ketukan dari pintu kamar.
“Non? Sudah bangun?” teriaknya dari luar karena pintu sedang dalam keadaan terkunci.
“Sudah, Bi.”
“Setelah mandi langsung turun ke bawah untuk sarapan ya, Non.”
“Iya, Bi.”
Kulihat jam di dinding menunjukan pukul 05:30. Sambil mengusap mata, aku bergegas menuju kamar mandi dan turun ke bawah setelah selesai.
“Ini, Bu.”
Di tengah-tengah menyantap sarapan pagi, Bi Sari menghampiri Mama untuk memberikan seragam olahraga milik Surya yang kupinjam kemarin.
“Terima kasih ya, Bi.”
“Sama-sama, Bu.” Jawabnya sambil kembali ke dapur.
“Alena sayang. Ini seragam olahraga teman kamu sudah siap. Mama masukan ke dalam tas, ya?”
“Iya, Ma.”
“Loh, Al? Seragam olahraga teman kamu kok bisa ada di kamu?”
“Iya, jadi kemarin Alena lupa bawa seragam olahraganya, Pa.” jelas Mama.
“Terus teman kamu pakai apa?”
“Dia sakit, gak bisa ikut pelajaran. Jadinya dia kasih pinjam seragamnya ke Alena.” jawabku.
“Mangkannya, jadi orang itu jangan ceroboh.” sambung Kak Arshad sambil meledek.
“Kakak lagi ngatain diri sendiri?”
Ia hanya tertawa sambil kembali melahap sarapannya.