Episode 12

1873 Words
Seperti biasa, sesampainya di sekolah, aku langsung berjalan masuk ke dalam gerbang setelah berpamitan dengan Papa yang melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya. Tak lama kemudian, langkah Surya melewatiku begitu saja seperti hari sebelumnya.   “Eh, Surya.”   “Ada apa?” tanyanya sambil terus berjalan tanpa menoleh ke arahku. Aku mempercepat langkah untuk mengejar sambil berusaha mengeluarkan seragam olahraga miliknya dari dalam tas.   “Ini, seragam olahraga lo udah siap.”   “Udah dicuci belum?”   “Udah, kok. Tenang aja.” Langkahnya terhenti. Kini ia membalikan badannya dan menoleh ke arahku sambil memegang dagu dengan tangan kanannya.   “Hmm.. kalau dipikir-pikir, lo kan masih punya hutang jadi asisten gue selama 2 minggu penuh.”    “Enak aja. Udah tinggal sisa 13 hari ya!”   “Pas banget hari ini tas gue lagi berat. Ditambah harus bawa baju olahraga yang seharusnya hari ini ada di lemari pakaian gue.” Ia melepaskan tas yang melekat di punggung lalu menyerahkannya padaku.   “Nih bawain, sekalian lo masukin seragam olahraganya. Awas, jangan sampai lecek.”   “Tapi..” Sebelum selesai bicara, ia sudah langsung meninggalkanku begitu saja.   “Dasar manusia gak punya hati! Persetan dengan wajahnya yang ganteng. Kalau gak punya hati ya buat apa? Bisa-bisanya banyak anak sekelas yang suka sama dia.” Sambil menenteng keberatan, aku terus menggerutu selama perjalanan menuju ruang kelas. *hosh.. hosh.. hosh..* Dengan terengah-engah aku berjalan menuju kursi. Surya terlihat tengah duduk sambil mengunyah sesuatu.   “Nih tas lo!”   “Uhuk.. uhuk..” Suara batuknya menjawab ucapanku.   “Kenapa? Minta gue buat beliin air minum?”   “Uhuk..” Sambil berusaha menelan, ia mencoba menepuk dadanya dengan lembut.   “Tadinya sih gue gak kepikiran buat itu. Tapi ide lo bagus juga.” Dimasukannya tangan kanan ke dalam kantung seragam.   “Nih, beliin air mineral.” Aku membuka ritsleting tas untuk mengambil tumbler yang selalu kubawa di dalam tas setiap hari.   “Minum punya gue aja. Gue capek jalan ke kantinnya.” Sambil mencoba duduk, aku menyerahkan tumbler itu kepadanya.   “Gak mau, itu kan bekas lo.”   “Bersih, kok. Tumbler ini setiap hari dicuci.”   “Nggak mau. Gue mau air mineral yang dijual di kantin.” Tanpa menjawab, aku langsung mengambil uang itu dan beranjak keluar kelas menuju kantin dengan wajah jengkel.   “Gue aja yang ngos-ngosan belum sempat minum. Ini malah jadi harus beliin dia minum.” Lagi-lagi aku kembali menggerutu. Beberapa langkah setelah keluar kelas, aku berpapasan dengan Gaby dan juga Feli yang baru saja datang.   “Hei, Al. Kamu mau ke mana?” Senyuman hangat Gaby menyapaku.   “Ke kantin, beli minum. Kalian mau ikut? Atau mau titip sesuatu?”   “Aku enggak, Al.” jawab Feli.   “Iya, aku juga enggak. Kita masuk kelas dulu ya, Al. Bye.”   “Oke deh kalau gitu. Bye!” Langkahku terus berlanjut menuju kantin. Lagi-lagi, setelah berhasil membeli sebotol air mineral dan hendak kembali menuju kelas, aku dikejutkan dengan menabrak tubuh seseorang. Dan betapa semakin jengkelnya aku ketika menyadari bahwa seseorang yang kutabrak adalah Surya.   ‘Sial, lagi-lagi manusia ini ngerjain gue.’ gerutuku dalam hati.   “Liat-liat dong kalau jalan. Sakit, tau.” ujarnya.   “Ya lagian siapa suruh lo ada di situ.”   “Kok jadi galakan lo sih? Kan lo yang salah.”   “Lo ngapain sih di sini? Nyuruh gue buat beli minum ke kantin, tapi lo malah ke sini kayak waktu suruh gue buat beli jus.”   “Kan udah gue bilang, terserah gue lah mau ngapain.”   “Nih! Gue mau ke kelas.” Aku menyerahkan air mineral beserta uang kembalian itu kepadanya, lalu langsung bergegas kembali menuju ruang kelas.   “Hei, Alena. Tunggu. Siapa yang suruh lo buat balik ke kelas?” teriaknya. Tanpa memperdulikan ucapannya, aku terus berjalan dengan sedikit berlari. Setelah berhasil melewati lorong, tiba-tiba saja langkahku terhenti.   “Sebentar, tadi dia panggil nama gue? Dia beneran manggil? Dan ini yang pertama kalinya kan?” Aku terus mencoba meningat apa yang tadi ia katakan.   “Ah, peduli apa soal itu. Gak penting.” Langkahku yang sempat terhenti mulai kembali melanjutkan perjalanannya. Beberapa menit setelah berhasil duduk beristirahat sambil minum air di tumbler yang selalu kubawa setiap hari dari rumah, bel masuk pun berbunyi. Para siswa yang masih berada di luar mulai berlarian masuk ke dalam kelas. Begitu pula dengan Surya yang masuk dalam keadaan sedang mengunyah sesuatu. Ia berjalan begitu saja tanpa menoleh ke arahku hingga berhasil duduk di kursinya.   ‘Tuhan, kenapa aku harus punya teman sebangku macam dia?’ Batinku. Tak lama kemudian, guru pun masuk ke dalam kelas dan memulai pelajarannya.   “Tolong ambilin penghapus gue dong.” Aku yang sedang asyik menulis mulai menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.   “Ituuu, jatuh ke bawah kursi lo.” Sambil menarik napas panjang, aku mengambil penghapus tersebut dan memberikannya kepadanya.   “Gue bosan.” lanjutnya.   “Ya terus?” Ia menggeser buku tulisnya ke hadapanku, lalu membukanya ke bagian lembar paling akhir.   “Gambarin gue sesuatu.”   “Gue gak bisa gambar.”   “Gak peduli. Pokoknya gambarin gue sesuatu.” Dengan memasang wajah jengkel, aku mulai membuat coretan di atas bukunya.   “Basic banget sih. Yang lain.” Protesnya ketika melihat aku menggambar sebuah rumah dengan satu pohon di sebelah kanannya.   “Kan udah gue bilang kalau gue gak bisa gambar.”   “Dan gue juga udah bilang kalau gue gak peduli.”   “Ya udah, kalau kayak gitu gambar aja sama lo sendiri!” Aku menggeser buku itu ke hadapannya.   “Lo lupa siapa yang bantu ikat tali sepatu lo waktu lepas? Lo lupa kita punya janji? Lo tau kan janji itu adalah hutang dan gak boleh diingkarin?” Lagi-lagi, aku menarik napas panjang sambil kembali menggeser buku tersebut ke hadapanku.   “Ya udah, deh. Gue bakal tunjukin bakat ngegambar gue.”   “Nah gitu dong.”   “Sekarang lo diam. Pose yang bagus, biar nanti gue gambarin.” Ia mulai merapikan kerah dan rambutnya sambil berpose duduk tegak tanpa ekspresi.   “Ya, begitu. Tahan.. tahan..” ucapku sambil mulai menggambar.   “Udah belum? Lama banget.”   “Sabar lah. Lo pikir ngegambar tuh gampang? Mangkannya lo jangan kebanyakan gerak.”   “Gue dari tadi cuma gerakin bibir loh, ya? Emang dasar lo nya aja yang gak profesional.”   “Bawel! Nah, udah nih. Udah jadi.” Aku menyerahkan hasil gambaran itu kepadanya sambil tertawa, sementara ia hanya memasang wajah jengkel ketika melihat yang kugambar adalah seekor kera yang sedang tersenyum.   “Tadi kan lo bilangnya mau gambarin gue, kenapa malah jadi ngegambar diri lo sendiri?”   “Yeee, itu lo tau.”   “Ah, masa sih? Tapi kok lebih mirip lo?”   “Udah, ah. Gue mau fokus nyimak! Nilai gue bisa jelek kalau terus-terusan ngikutin kebosanan lo yang gak ada gunanya.” Tiba-tiba laki-laki paruh baya itu bangkit dari tempat duduknya.   “Anak-anak, sekarang kalian kerjakan tugas di halaman 10. Bapak mau ke toilet sebentar. Jangan ada yang berisik, ya?” ucapnya sambil melangkah keluar.   “Iya, Paaak.” Setelah guru telah berhasil keluar dari kelas. Terdengar suara Surya yang tengah menguap, lalu ia mencoba mengambil sesuatu dari dalam tasnya.   “Lo bawa kacamata hitam ke sekolah?”   “Iya, kenapa?” Katanya setelah berhasil mengeluarkan kacamata tersebut dari dalam tas dan mulai memakainya.   “Kocak aja. Di mana-mana tuh yang dibawa kacamata baca.”   “Terserah gue dong. Lagian gue ngantuk, kalau gak pakai kacamata ini, gue gak akan fokus tidur kalau silau kena sinar matahari.” Ia mulai bersandar di atas meja menghadap ke arahku.   “Kenapa gak menghadap ke sana aja, sih?!”   “Kalau gue menghadap ke sana, guru-guru yang lewat bisa sita kacamata ini. Lagian emang kenapa sih kalo gue ngadepnya ke sini?”   “Ya.. gak apa-apa, sih.”   “Udah diem. Jangan berisik, gue mau tidur.”   “Mangkannya, kalo di rumah tuh tidur jangan begadang. Dasar laki-laki.”   “Ssttt, bawel.” Aku mulai kembali mengerjakan tugas yang diberikan. Sementara Surya mulai tertidur dengan kacamata hitam yang ia gunakan. Selama mengerjakan tugas, sesekali aku menoleh ke arahnya karena merasa salah tingkah karena takut diperhatikan dari balik kacamata hitamnya.   ‘Ini anak beneran tidur gak sih? Atau dia dari tadi ngeliatin gue? Aduh, jadi salah tingkah gini kan.’ Akhirnya, aku memutuskan untuk mengangkat kacamatanya dengan cepat.   ‘Eh, beneran tidur? Nyenyak juga keliatannya. Heu, emang dasar akunya aja yang kepedean.’ Aku pun kembali menurunkan kacamata itu tepat di matanya lagi.   ‘Ya ampun, sampe salah nulis gara-gara kepedean.’ batinku ketika melihat tulisan yang salah pada soal nomor 2. Aku mencoba menoleh ke tas yang bersandar di kursi untuk mengambil penghapus di dalam tempat pensil. Tak lama kemudian, Pak Guru kembali masuk ke kelas.   “Surya.. Surya.. bangun! Pak Guru udah masuk lagi ke kelas.” Ia tetap tertidur ketika aku telah berusaha untuk menggoyang-goyangkan tubuhnya.   “Ihhh, Suryaaa! Bangun!”   “Ha? Apaan sih?”   “Itu ada Pak Guru. Masih untung gue bangunin. Kalau nggak nanti lo bisa kena marah tauuu!”   “Ah, ganggu aja nih.” Dengan wajah yang terlihat masih mengantuk, ia bangkit dari sandarannya dan kembali memasukan kacamata hitam itu ke dalam tasnya. Sementara aku hanya menggeleng sambil melanjutkan tugas yang hampir selesai.   “Gue gak bisa mikir.”   “Ya terus?”   “Kerjain tugas gue.”   “Enak aja. Nih, mending gue kasih contekan dan lo kerjain sendiri.”   “Gak mau.”   “Bodo amat, gue gak peduli.”   “Kerjain atau masa jadi assisten gue perpanjang?”   “Mana bisa kayak gitu?!”   “Bisa dong, semua aturan kan ada di gue.” Aku hanya terdiam menahan kesal.   “Cepetan. Kalau lo mau kerjain tugas ini, gue perpendek jadi tinggal satu minggu lagi.”   “Bener loh ya?” Ia mengangguk.   “Awas lo kalau bohong!” Sambil menatap tajam, aku mengambil buku tulis miliknya untuk kukerjakan tugas.   ‘Gak apa-apa, Al. Bersakit-sakit dahulu, yang penting penyiksaan ini tinggal satu minggu lagi.’ batinku seraya menyemangati diri sendiri. Aku menoleh ke arahnya, sementara ia hanya terdiam sambil mencoba menggambar seusatu agar terlihat sibuk. Tak lama kemudian ia menggeser buku yang tadi ia pergunakan untuk menggambar ke hadapanku.   “Nih, ngegambar tuh kayak gini.” Ia menggambar seorang anak perempuan sedang terduduk murung seorang diri di atas sebuah ayunan.   “Ya ampun, gue baru tau loh kalau lo berbakat. Gue kira satu-satunya kelebihan yang lo punya tuh cuma ketampanan.”   “Jangan sembarangan. Gue bisa ngelakuin apapun.” Aku tertawa kecil ke arahnya.   “Apapun?” tanyaku.   “Iya, ngebuat lo jadi suka sama gue juga bisa kok.”   “Dih, mimpi!” Ia hanya terdiam dan kembali mencoba menyempurnakan gambarnya. Dahi dan alis tebalnya yang berkerut membuatnya nampak terlihat begitu serius. Memang tidak ada yang bisa menyangkal, bahwa ia terlahir dengan ketampanan yang luar biasa. Kulitnya yang putih, alis matanya yang tebal, bulu matanya yang lentik, serta tinggi badan yang pas untuk anak seusianya membuatnya terlihat seperti paket lengkap yang semua anak perempuan idam-idamkan. Tapi, jika para anak perempuan itu tahu betapa menyebalkannya manusia tampan yang mereka idolakan ini, apa mereka masih mau terus mengejarnya? Bahkan aku, seorang Alena Chessy Adhitama, meskipun memiliki tubuh yang gendut serta kulit hitam pun akan berpikir dua kali untuk menyukainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD