Episode 13

1850 Words
Waktu terus berjalan hingga akhirnya bel istirahat pun berbunyi.   “Ayo, Al.” ajak Gaby dengan Feli yang telah beranjak dari kursinya dan melangkah keluar.   “Iyaaa, duluan.” Sementara aku masih sibuk merapikan semua alat tulis yang berantakan di atas meja. Setelah semua dipastikan masuk ke dalam tas, aku pun mulai beranjak dari kursi.   “E-eh, mau ke mana?” tanya Surya yang masih asyik duduk di kursinya.   “Ke kantin lah, lo gak denger suara bel istirahat?” Ia merogoh kantung seragamnya dan mengambil uang selembar senilai dua puluh ribu.   “Gue lagi males jalan ke kantin. Beliin gue makanan dan antar lagi ke sini.”   “Tapi gue..”   “Gak ada tapi-tapi, udah cepat sana.”   “Ini lo mau makan apa?”   “Gue lagi kepingin bakso.” Tanpa menjawab, aku membalikan badan dan mencoba melangkah keluar.   “Eitt, bentar dulu.”   “Apa lagi? Gue udah laper banget nih.”   “Baksonya jangan pakai saus, jangan pakai sambel, dan jangan pakai bawang goreng.”   “Udah? Baksonya aja kan?”   “Iya, sekalian sama es teh manisnya.” Aku pun mulai berjalan keluar kelas menuju kantin. Suasana kantin ramai seperti biasanya, beberapa murid ada yang tengah asyik duduk bersenda gurau, ada juga yang tengah lahap menyantap makanannya, dan ada juga yang masih terjebak dalam antrean. Begitu pun dengan Feli dan Gaby yang masih mengantre untuk membeli siomay. Karena memang, di antara semua menu makanan yang dijual di kantin ini, siomay Bu Yeyen ini lah yang paling sering dipadati oleh anak-anak murid dan juga guru-guru di sekolah. Selain harganya yang murah, rasanya juga sangat enak.   “Loh, Al? Kamu mau ke mana? Tumben gak pesan siomay Bu Yeyen?” Feli bertanya dengan sedikit teriak ketika melihatku tersenyum ke arahnya sambil terus berjalan. Aku pun berhenti dan menghampiri ia dan juga Gaby yang sedang berdesak-desakan.   “Aku mau pesan bakso.”   “Oh ya udah, nanti duduk di tempat biasa ya.” ujar Feli, sementara Gaby tengah sibuk menyebutkan menu yang ia pesan. Aku mengangguk, lalu kembali melangkahkan kaki menuju penjual bakso. Tak begitu memakan waktu yang lama, setelah selesai aku kembali berjalan menuju kelas sambil membawa dua porsi bakso yang diikat dalam plastik serta wadah dari styrofoam. Saat melintas di depan kelas, terlihat Surya sedang tertidur dengan menggunakan kacamata hitamnya.   “Surya.. banguun..” Lagi-lagi, aku kembali harus membangunkan ia dari tidurnya. Dengan agak sedikit terkejut, ia bangkit dari sandarannya dan mulai membuka kacamata hitam tersebut.   “Lama banget sih? Gue sampe ketiduran gini.”   “Lama apaan? Orang cepet gini kok.”   “Mana siniin.” Aku menyerahkan satu porsi bakso itu kepadanya.   “Es teh manisnya?”   “Aduuuh!!” ujarku sambil menepuk dahi.   “Balik lagi.”   “Ya ampun, gue capek tau. Dan gue udah laper banget dari tadi.”   “Bodo amat, siapa suruh lo lupa.”   “Pake minum gue aja, ya?” Ia memalingkan pandangannya dari wajahku dan mulai menghela napas panjang.   “Oke, kali ini gue kasih keringanan.” Aku pun tersenyum lega, lalu membuka ritsleting tas dan mengambil tumbler berisi air untuk diberikan padanya.   “Apa ini?”   “Ya kan buat lo minum.”   “Gak perlu, untung minum gue tadi pagi masih ada.” Sambil mengendus kesal, aku kembali menaruh tumbler tersebut ke dalam tas lalu melangkah pergi keluar untuk bergabung bersama Feli dan juga Gaby.   “Lo mau ke mana?”   “Ya balik lagi lah ke kantin.”   “Katanya capek?”   “Ya kan kalau beliin minum buat lo, dari kantin gue harus ke sini lagi, dan harus balik lagi ke kantin.”   “Ya udah duduk aja.”   “Duduk?”   “Iya, makan di sini.”   “Tapi nanti Feli sama Gaby nyariin gue.”   “Mereka gak akan takut lo bakal ilang. Dan kalian juga nanti ketemu lagi kalo bel masuk udah bunyi.” Akhirnya, aku pun menuruti perkataannya. Di dalam satu ruang kelas yang sunyi, aku dan Surya makan bersama di dalam kelas. Tidak ada percakapan yang terjadi antara kami selama saling asyik menyantap makanan satu sama lain, hingga akhirnya bel masuk pun berbunyi. Isi di mangkuk styrofoam-nya terlihat habis bersih tak tersisa, bahkan hingga ke kuah baksonya. Sambil mengelap bibir dengan selembar tissue yang diambilnya dari dalam tas, ia bersendawa dengan suara yang cukup keras. Sementara aku hanya mengerutkan dahi sambil menutup hidung dan memalingkan pandangan.   ‘Dasar, gak punya sopan santun!’ gerutuku dalam hati. Ditaruhnya sampah tissue tersebut ke dalam mangkuk styrofoam dan ia mulai menyerahkan sampah styrofoam itu ke hadapanku.   “Nih.” ujarnya.   “Kenapa?”   “Buangin lah.” Sambil menarik napas panjang, aku mengambil styrofoam tersebut dan melangkahkan kaki keluar menuju tempat sampah yang berada di depan ruang kelas.   “Al, kamu ke mana aja?” tanya Gaby. Tiba-tiba saja Gaby dan Feli yang berjalan dari kantin menghampiriku ketika sedang membuang sampah.   “Eh, kalian. A-aku.. aku makan di kelas.”   “Makan di kelas? Tumben, kenapa?”   “Emm.. itu.. tadi waktu pesan bakso, aku baru ingat kalau lupa bawa tumbler. Karena malas buat balik lagi ke kantin, jadinya aku makan di kelas.”   “Aku kira kamu ke mana, kita jadi cuma makan berduaan di kantin tadi.”   “Iya, maaf ya aku lupa kasih tau kalian.”   “Gak apa-apa, kok.”   “Loh, Al? Kamu beli bakso dua bungkus?” Feli melirik heran ke arah tong sampah.   “Eh? Iya.. aku tadi lupa sarapan di rumah. Laper banget, jadinya pesan dua.” Ia tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.   “Ya udah, ayo kita masuk. Nanti keburu ada guru yang datang.” ajaknya. Kami pun melangkah masuk ke dalam untuk kembali melanjutkan pelajaran berikutnya. Tak terasa, bel pulang berbunyi. Semua murid langsung mulai mengemas buku serta alat tulisnya untuk dimasukan ke dalam meja, kecuali Surya. Ia hanya terlihat diam saja sambil mengunyah sesuatu yang entah apa.   “Al, aku mau ke Perpustakaan, ada buku yang mau aku pinjam. Kamu mau ikut?”   “Wah, boleh. Tapi aku takut udah dijemput, jadi aku ke depan dulu ya buat suruh Pak Dirman tungguin aku.”   “Pak Dirman itu siapa? Supir kamu?” Aku mengangguk sambil melanjutkan mengemas barang-barang.   “Gak bisa.” sambung Surya tiba-tiba.   “Apanya yang nggak bisa?”   “Lo kan ada janji sama gue.”   “Janji? Janji apaan?”   “Pokoknya lo gak bisa ke Perpustakan. Lo harus ikut gue.” Gaby dan Feli hanya menatap ke arah aku dan Surya secara bergantian dengan heran.   “Ya udah, gak apa-apa kok Al. Lain kali aja ya kita ke Perpustakaannya.”   “I-iya, Gab. Maaf yaaa.”   “Gak apa-apa, kok.” jawabnya tersenyum yang menandakan jika ia tidak keberatan untuk menuju Perpustakaan seorang diri.   “Kalau gitu aku juga duluan ya, Al. Papaku kayaknya udah di depan.” Ujar Feli yang ikut melangkah keluar bersama Gaby. Aku hanya bisa mengangguk sambil melambaikan tangan ke arah mereka berdua yang sudah memulai langkahnya keluar dari kelas. Setelah berhasil memasukan semua barang-barang ke dalam tas, aku menoleh ke arah Surya yang masih duduk terdiam sambil tak berhenti mengunyah.   “Gue harus ngapain?” Ia melirik ke arah buku-bukunya yang berserakan di atas meja sambil meletuskan permen karet yang sedari tadi dikunyahnya. Tanpa banyak protes, aku mulai memasuk-masukan buku-buku tersebut ke dalam tasnya.   “Bawa.” Perintahnya lagi. Dengan wajah datarnya, ia beranjak dari tempat duduk dan mulai berjalan keluar meninggalkan ranselnya untuk kubawakan. Dengan jengkel, aku membawa tas itu dan mengikuti langkahnya menuju depan gerbang. Sesampainya di depan gerbang, ia menghampiri sebuah mobil berwarna hitam yang sudah terparkir tak jauh dari gerbang. Tak lama kemudian, kaca mobil itu terbuka, terlihat seorang wanita yang mulai tersenyum sambil melambai ke arahnya, kurasa wanita itu adalah Ibunya Surya. Perlahan, senyum itu memudar dan wajahnya berubah menjadi mengkerut saat melihat ke arahku yang juga ikut berjalan menghampiri mobilnya. Wanita itu pun membuka pintu mobil dan beranjak keluar.   “Sayang, itu tas kamu kan?” Wanita berambut hitam panjang dengan kacamata menempel di kepalanya itu melirik ke arah ransel milik Surya yang sedang berada dalam pelukanku.   “Iya, Ma.”   “Aduh, sini Nak.” Ia pun langsung mengambil ransel itu dariku.   “Kamu kenapa bawain tasnya Surya? Disuruh ya sama Surya?”   “Enggak kok, Ma. Dia yang maksa sendiri buat bawain tas aku, padahal aku udah nolak, tapi dia tetep keras kepala.” jawabnya sambil melangkah masuk ke dalam mobil. Aku melirik sinis ketika mendengar perkataan yang ia lontarkan.   “Beneran kamu yang mau?” Aku mengangguk sambil tersenyum.   “Ya ampun, Sayang. Lain kali gak usah repot-repot bawain tas Surya ya? Dia bisa bawa sendiri kok.” ucapnya sambil membalas tersenyum.   “Gak apa-apa kok, Tante.”   “Nama kamu siapa?”   “Alena.”   “Nama yang cantik, sama kayak orangnya.” Lagi-lagi aku tersenyum, tapi kali ini disertai dengan rona kemerahan yang tergambar di pipi.   “Ayo, Ma. Aku udah mau cepet sampai rumah.” teriak Surya dari dalam mobil.   “Alena Sayang, terima kasih ya udah mau bawain tas Surya. Besok-besok jangan lagi ya, Nak. Kamu pasti udah keberatan sama tas kamu sendiri.”   “I-iya, Tante.”   “Kamu pulang naik apa? Mau bareng kami?”   “Gak usah, Tante. Terima kasih. Aku udah dijemput.” Ia melirik ke arah mobil yang kutunjuk, lalu mulai menangguk perlahan.   “Oh ya udah, hati-hati di jalan ya?”   “Iya, Tante.” Wanita itu pun ikut masuk ke dalam mobil, sementara aku langsung berlari menghampiri Pak Dirman yang sedari tadi memperhatikan kami dari jauh. ***   “Maaa, Alena pulang!!!” Setelah berhasil membuka pintu, aku berjalan masuk ke dalam dan langsung mengehempaskan ransel ke sofa sambil mendaratkan tubuhku di sana.   “Eh, anak Mama yang cantik udah pulang.” Mama yang sebelumnya tengah berada di dapur bersama Bi Sari mulai berjalan ke arahku dengan senyuman hangatnya sambil membawa segelas jus alpukat.   “Jus alpukat! Alena mau, Ma.”   “Boleh, Sayang. Kamu samperin Bi sari gih ke dapur.” Dengan bersemangat, aku bangkit dari sofa lalu berlari menghampiri Bi Sari yang sedang asyik membuat jus alpukat dengan blender.   “Nah, Bibi udah yakin nih pasti Non Alena bakalan samperin Bibi. Tenang, Non. Karena Bibi tau kalau Non suka banget sama jus alpukat, Bibi udah siapin kok.” Aku tersenyum saat ia memberikan gelas berukuran besar berisi jus alpukat kepadaku.   “Waaa.. makasih ya, Bi.”   “Sama-sama, Non.” Sambil membawa gelas berisi jus alpukat itu, aku kembali berjalan menghampiri Mama yang sedang asyik bersantai di sofa sambil menonton sebuah acara di televisi. Setelah berhasil ikut duduk di sofa, aku langsung meneguk jus tersebut dengan cepat.   “Alenaaa.. Mama tau kamu suka jus alpukat, tapi pelan-pelan dong minumnya.” Karena haus yang semakin menjadi ketika melihat jus alpukat, tegukanku barusan membuat isi jus alpukat di dalam gelas itu tersisa tinggal setengah. Mama hanya menggelengkan kepala saat melihatku tersenyum ke arahnya sambil melanjutkan meneguk jus tersebut yang kali ini dengan perlahan. Setelah jus alpukat telah habis tak tersisa, aku menaruhnya di atas meja dan mulai beranjak naik ke atas menuju kamar untuk mengganti pakaian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD