Jam sudah menunjukan pukul 20:00. Seusai menyantap makan malam kali ini. Satu persatu dari kami mulai kembali ke kamar masing-masing.
Langkah Kak Gibran berjalan terlebih dahulu menyusuri anak tangga, diikuti oleh langkahku dan Kak arshad yang berjalan beringingan. Kak Arshad terlihat asyik menatap layar handphone sambil sesekali tersenyum.
“Awas Kak, nanti jatuh. Udah dulu main handphonenya.”
“Ini Kakak sambil merhatiin anak tangga, kok.”
Aku mengintip ke arah ponselnya yang menyala dengan pencahayaan yang cukuo terang. Ia tengah membaca percakapan dari seseorang yang namanya belum sempat kulihat karena ia menjauhi ponsel tersebut saat menyadari jika aku mencoba untuk mengintip.
“Dari si perempuan pemberi topi, ya?”
Ia menoleh ke arahku sambil mengerutkan dahinya, langkahnya tiba-tiba terhenti begitu saja.
“Kok kamu tau?”
“Nebak aja.”
Kini, ia mengunci layar handphone miliknya itu kemudian dimasukannya ke dalam saku celana bagian kanan.
“Kamu gimana di sekolah?”
“Gak gimana-gimana.”
“Ada anak laki-laki yang ganteng pasti kan di kelas?”
Kali ini, aku yang terdiam mengerutkan dahi sambil menatapnya heran.
“Kok Kakak tau?”
“Tau dong. Di setiap sekolah atau kelas, udah pasti ada satu anak yang ganteng/cantik. Contohnya kayak Kakak, Kakak jadi yang paling ganteng di kelas.” Anak kedua dari tiga bersaudara itu mengatakan hal tersebut dengan penuh percaya diri. Aku hanya menatapnya dengan pandangan jijik.
“Ada, sih.” ucapku ketika kami telah berhasil sampai di depan pintu kamarnya.
“Kamu pasti suka yaaaa?”
“Ih, enggak banget. Emang ganteng sih, tapi nyebelin. Siapa coba yang bakalan suka sama manusia kayak gitu.”
“Jangan salah, itu Kakak pertama kamu biar pun begitu tetep banyak yang naksir loh.” jawabnya sambil tertawa meledek.
“Tapi kan Kak Gibran gak nyebelin.”
“Awas loh, nanti kamu kemakan omongan sendiri.”
“Kak, meskipun bentuk aku kayak gini, aku juga milih-milih kali buat suka sama laki-laki.”
“Huh, gaya. Udah ah, Kakak mau main game.”
Kak Arshad membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali setelah berhasil masuk. Sementara aku melanjutkan langkah menuju kamarku.
Ketika berhasil merebahkan tubuh di atas kasur, tiba-tiba saja aku teringat tentang apa yang Kak Arshad katakan tadi.
‘Hati-hati kemakan omongan sendiri‘ katanya? Bukannya apa yang aku katakan sudah benar? Setampan apapun seseorang, jika ia berkelakuan menyebalkan, mana ada perempuan yang menyukainya. Lagi pula, aku adalah seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tau apa aku soal cinta? Ketika duduk makan berdua bersamanya di dalam kelas yang sepi saja aku tidak merasakan perasaan apapun selain rasa kenyang.
***
Langkahku terus berjalan menuju ruang kelas. Terlihat Chelsea, Bianca dan juga Teresa berdiri di depan pintu kelas sambil bersenda gurau. Sambil menelan ludah dan mencoba menundukkan kepala, aku berusaha terus melangkah untuk masuk ke dalam kelas meski harus melewati mereka.
“Tere!! Awas! Jangan ngalangin jalan kenapa, sih? Kasian yang mau pada lewat.” teriak Chelsea kepada salah satu sahabatnya itu.
“Iya, Chel sorry.”
Teresa yang tadinya berdiri persis menghalangi pintu kini bergeser untuk memberi celah agar aku dapat masuk.
Sambil terus menunduk, aku berjalan masuk ke dalam kelas dengan hati-hati. Anehnya, mereka membiarkanku masuk ke dalam kelas begitu saja tanpa menggangguku sama sekali. Bahkan, mereka seperti tidak peduli dengan keberadaanku.
Dari tempat duduk, aku terus memperhatikan mereka bertiga yang masih asyik mengobrol diselingi gelak tawa di depan kelas. Dan aku baru menyadari, semenjak kejadian Feli dan Chelsea berkelahi hingga dipanggil ke ruangan Bu Jasmine, Chelsea sudah tidak mengangguku lagi sejak saat itu. Tak lama kemudian, Feli berjalan masuk ke dalam kelas. Sama sepertiku tadi, Chelsea dan kedua temannya itu membiarkan Feli masuk begitu saja tanpa mencari masalah kepadanya seperti sebelum-sebelumnya.
Feli tersenyum ke arahku sambil terus berjalan hingga ia berhasil duduk di kursinya. Satu persatu murid mulai masuk memadati ruang kelas, begitu juga dengan Surya yang tiba-tiba saja datang dan langsung menghampiriku dengan napasnya yang terengah-engah.
*hosh.. hosh.. hosh..*
Aku hanya menatap heran ke wajahnya yang agak sedikit berkeringat.
“Gue capek banget, nih. Beliin minum dong.”
Aku membuka ritsleting tas dan mengeluarkan tumbler untuk kuserahkan padanya.
“Gak mau. Gue mau air mineral yang masih dingin.”
Ia mengeluarkan uang selembar senilai lima ribu rupiah, lalu menyerahkannya padaku.
Dengan amat sangat terpaksa, aku beranjak dari tempat duduk sambil mengambil uang itu dari genggamannya.
Suasana kantin masih ramai dipadati oleh murid-murid yang sedang menyantap sarapan pagi mereka sebelum bel masuk berbunyi. Sementara aku melangkah menuju mesin pendingin milik salah satu Ibu kantin untuk membeli air mineral.
“Bu, kok ini belum pada dingin semua?”
Sambil terus meraba, aku memegang satu persatu botol air mineral itu untuk mencari yang paling dingin.
“Iya, Neng. Baru aja Ibu masukin.”
Wanita itu menjawab sambil sibuk membereskan etalase yang terlihat sedikit berantakan.
Karena takut sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, aku memutuskan untuk tetap mengambil satu di antara banyaknya botol-botol tersebut meskipun belum ada satupun yang dingin.
Setelah berhasil membayar dan mengantungi uang kembalian, aku kembali berjalan menuju ruang kelas. Bel masuk mulai berbunyi, aku mulai mempercepat langkah untuk cepat sampai di kelas. Ketika sampai di depan ruang kelas, aku melihat Surya tengah asyik menenggak air dari botol mineral yang berada digenggamannya. Perasaan jengkel membuatku berjalan ke arahnya dengan wajah yang tidak dapat berbohong jika aku benar-benar kesal.
“Itu lo ada air minum!”
Ia menghentikan tegukannya, diusapnya bibir yang basah itu dengan lengan seragam sebelah kanan.
“Emang ada, cuma ini gak dingin. Gue kan maunya air dingin.” jawabnya dengan santai.
“Terus kenapa masih tetep lo minum?!”
“Abisnya lo lama, gue bisa dehidrasi kalo ningguin lo.”
Aku menyerahkan air mineral serta uang kembalian itu kepadanya sambil duduk dengan wajah cemberut.
Langkah Bu Jasmine masuk ke dalam kelas. Iya, ini adalah jam mata pelajarannya, Bahasa Indonesia. Wanita bertubuh tinggi serta badan yang ramping itu terus berjalan menuju kursinya. Menurutku, Bu Jasmine adalah guru perempuan yang paling cantik dan muda di sekolah ini. Aku teringat betapa ia berbicara kepadaku, Feli dan juga Chelsea dengan tegasnya. Terlihat bagaimana ia sungguh serius menangani perkelahian seorang anak murid kelas 5 Sekolah Dasar. Ia juga terlihat sangat fair. Akan membela yang benar, dan akan menghukum yang salah. Berbeda sekali dengan Wali Kelasku di Sekolah pertama. Kedekatannya dengan orang tua murid siswa yang dulu sering membully-ku membuatnya tidak peduli saat aku mengadu jika aku tengah mendapatkan bully-an dari beberapa teman di kelas. Ia hanya menganggap itu adalah salah satu bentuk candaan pada anak seusiaku, tanpa ia mengerti, kalau yang dirasakan adalah rasa sakit, maka itu bukan lagi bentuk dari sebuah candaan.
Bu Jasmine menyuruh kami membuka halaman 12 sambil ia menjelaskan apa yang tertulis di dalamnya. Setelah menjelaskan kurang lebih selama 15 menit, ia pun mulai beranjak dari kursinya.
“Anak-anak, Ibu punya tugas untuk kalian. Bentuk satu kelompok, yang di mana satu kelompok itu hanya terdiri dari dua orang. Kalian harus membuat sebuah Kliping yang bertemakan tentang kerusakan lingkungan. Ibu memberikan kebebasan untuk kalian memilih teman kelompok masing-masing. Dan tugas ini akan dikumpulkan di hari selasa depan. Ada yang mau ditanyakan?”
Para murid hanya menggeleng serempak ke arah Bu Jasmine.
“Baik kalau gitu. Sambil memilih kelompok, Ibu mau ke toilet dulu sebentar. Tolong jangan berisik, ya?”
“Iya, Buuu.”
Setelah Bu Jasmine berhasil keluar kelas, anak-anak mulai ramai sambil menentukan mereka akan berkelompok dengan siapa. Sementara aku hanya terdiam kebingungan sambil melirik ke arah sekeliling.
“Gab?” kucolek punggung temanku itu.
“Ada apa, Al?”
“Aku sekelompok sama kamu, ya?”
“A-aku kan udah sama Feli. Kamu kenapa gak sama Surya aja?”
“Emm.. gak kenapa-kenapa. Fel, kamu mau sama Surya aja gak? Biar aku sama Gaby.”
“Yah, gimana ya? Rumah aku sama Gaby kebetulan dekat, Al. Jadi untung banget aku bisa satu kelompok sama dia. Hmm, andai aja satu kelompok bisa tiga orang, pasti kamu bakal satu kelompok sama kita.” ujar Feli dengan nada sedikit menyesal.
“Ya udah, gak apa-apa kok.” jawabku tersenyum.
Tak lama kemudian, Chelsea menghampiri mejaku.
“Hai Surya, kamu udah dapat kelompok belum?”
Ia hanya menjawab pertanyaan Chelsea dengan sebuah anggukan.
“Sama siapa?”
“Alena.”
Aku terdiam heran menatapnya yang sedang asyik memainkan pulpen di tangannya.
“Chel, kalau kamu mau satu kelompok sama Surya gak apa-apa, kok.” sahutku.
“Beneran gak apa-apa, Al? Kamu nanti sama siapa?”
“Iya beneran. Gampang, aku tinggal car..”
“Gak bisa.” ujar Surya memotong pembicaraanku. “Alena udah satu kelompok sama gue. Lo cari yang lain aja.”
Dengan agak sedikit kesal, Chelsea kembali menuju tempat duduknya.
Bisa-bisanya anak secantik Chelsea diperlakukan acuh oleh laki-laki. Sepertinya Surya tidak memiliki selera yang tinggi. Di luar itu, aku sedang meratapi nasib karena harus satu kelompok dengan manusia menyebalkan seperti dirinya. Di sekolah yang hanya dari jam 7 sampai jam 12:00 saja aku sudah cukup muak dengan segala kelakuannya, ditambah nanti aku harus bertemu dengannya lebih dari 5 jam dalam sehari. Sudah terbayang bagaimana ia menggunakan kekuasaannya untuk menyerahkan semua tugas Kliping itu kepadaku.
*Jam pulang sekolah*
Tiba-tiba saja, langkah Surya menghampiriku yang sedang berjalan seorang diri menuju gerbang sekolah untuk menghampiri Pak Dirman.
“Besok kerja kelompok di rumah gue.” ucapnya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku sambil terus berjalan.
“Kenapa harus di rumah lo?”
“Terserah gue, dong. Pokoknya jangan lupa buat bilang ke Pak Supir lo untuk jangan jemput besok.”
Ia terus mempercepat langkahnya hingga meninggalkanku begitu saja untuk menghampiri mobilnya yang sudah terlihat dari sini.
Aku hanya terus memperhatikan langkahnya sambil membayangkan betapa tersiksanya aku besok ketika berada di rumahnya untuk mengerjakan tugas kelompok.
Harusnya aku menghampiri dan meyangkinkan bu Jasmine, bahwa tugas membuat Kliping dikerjakan secara individu saja pun aku mampu tanpa harus membuat kelompok, apalagi satu kelompok dengan manusia seperti Surya.