Episode 15

1692 Words
Aku berlari menuruni anak tangga untuk keluar mencari Pak Dirman. Namun, Pria paruh baya itu tidak ada di halaman, bahkan di kamarnya.   “Ma? Liat Pak Dirman gak?” tanyaku pada Mama yang sedang asyik duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.   “Paling di depan, Sayang.”   “Nggak ada.” Mama mulai mengunci layar ponselnya dan fokus berbicara denganku.   “Memangnya kamu ada perlu apa sama Pak Dirman?”   “Alena cuma mau bilang kalau besok gak usah jemput ke sekolah.”   “Loh, kenapa?”   “Alena ada tugas kelompok, dan besok harus mulai ngerjain tugasnya di rumah teman Alena, Ma.”   “Kenapa gak di sini aja, Sayang?”   “Gak tau. Dia maunya di rumahnya aja.”   “Ya udah, besok pas diantar berangkat sama Pak Dirman kamu bilang aja.”   “Masalahnya, Alena tuh kadang suka lupa, Ma.”   “Astaga, anak ini. Ya udah, nanti Mama bilangin ke Pak Dirman ya.”   “Terima kasih, Mama.” ujarku dengan bermodalkan sebuah senyuman yang kulemparkan kepadanya. Aku pun berlari menaiki anak tangga untuk kembali ke kamar. ***KEESOKAN HARINYA*** Bel pulang berbunyi. Gaby dan Feli melambaikan tangannya seraya mengakhiri percakapan kami kali ini. Sama seperti aku dan Surya, mereka pun berencana untuk memulai tugas kelompok di hari ini. Surya berjalan melangkah lebih dulu keluar kelas tanpa berbicara sepatah kata pun, aku yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa mengikuti langkahnya menuju luar gerbang. Beberapa langkah lagi sampai ke titik di mana mobilnya terparkir, tak lama kemudian seorang wanita yang berstatus sebagai Ibunya Surya itu mulai membuka kaca mobil dan melemparkan senyuman indahnya kepada anak lelakinya itu.   “E-eh, Suryaaa.” Dengan wajahnya yang menjengkelkan, ia menoleh tanpa bertanya.   “Ini gue ikut naik?”   “Ya iyalah, lo mau ke rumah gue jalan kaki? Kalau mau ya udah, gue gak keberatan.” Ia langsung menarik handle pintu mobil itu untuk segera masuk ke dalam tanpa berlama-lama.   “Eh? Alena kan, ya?” Wanita di dalam mobil itu tersenyum hangat ke arahku. Kulit tubuhnya yang putih bersih, model pakaiannya yang trendy, membuatnya terlihat seperti seorang perempuan yang belum memiliki anak. Ia terlihat begitu muda, bahkan seperti lebih muda 2 tahun dari usia Ibuku.   “Iya, Tante.” Aku mencoba bersalaman dan mencium tangannya sebagai tanda sebuah penghormatan kepada orang yang lebih tua.   “Kenalin, nama Tante Adhisty.” ujarnya memperkenalkan diri setelah aku berhasil mencium tangannya. Kami bertiga duduk di kursi tengah. Tante Adhisty di bagian sebelah kiri, Surya di tengah, sementara aku di bagian sebelah kanan.   “Oh, iya Tante.” jawabku.   “Mau ngerjain tugas kelompok ya? Alena udah izin kan sama orang tuanya?”   “Udah kok, Tante.”   “Iya, nanti kabarin lagi aja pake handphone Tante buat hubungin orang rumah ya biar gak khawatir.” Aku hanya mengangguk tersenyum. Selain cantik, Tante Adhisty begitu baik dan juga ramah. Berbeda sekali dengan sifat anak laki-lakinya yang sedang duduk di sebelahku saat ini. Sekitar memakan waktu kurang lebih 10 menit dalam perjalanan. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah dengan gaya eropa klasik yang memiliki dua lantai. Selain itu, rumahnya dibuat dengan d******i warna putih, sehingga elemen-elemen yang ada di rumah tersebut sangat menyatu dan semakin terlihat elegan. Jarak dari masuk gerbang menuju pintu rumah cukup jauh. Halaman rumah ini benar-benar sangat luas dengan dilengkapi berbagai macam jenis bunga serta ditanami beberapa pepohonan yang membuat halaman rumah seluas ini menjadi lebih teduh. Mobil pun berhenti persis di depan rumah. Langkah kaki Tante Adhisty mengajakku ikut keluar untuk masuk ke dalam rumahnya.   “Ayo kita masuk. Maaf ya kalau berantakan.” Pintu utama terbuka, bukan hanya terlihat mewah dari tampak depan, isi di dalam rumah ini juga begitu mewah di setiap sisinya. Aku berjalan beriringan dengan Tante Adhisty, sementara Surya sudah melangkah lebih dulu menuju anak tangga, sepertinya letak kamarnya berada di lantai dua. Mataku masih asyik menatap ke sekeliling ruangan di rumah ini. Banyak sekali lukisan-lukisan besar yang menempel di dinding serta beberapa model guci keramik yang harganya pasti sangat mahal. Tiba-tiba saja, mataku tertuju pada sebuah akuarium besar berisi beberapa jenis ikan dengan warna yang cantik-cantik.   “Alena suka ikan?” tanya Tante Adhisty yang menyadari jika aku terhipnotis dengan kecantikan ikan-ikan tersebut.   “Gak gitu kok, Tante. Cuma ini ikannya cantik-cantik.” Sambil tertawa kecil, ia melepaskan sling bagnya dan menaruhnya di atas sofa.   “Iya, itu juga peliharaan Kakaknya Surya. Dia suka banget sama ikan soalnya.”   “Loh, Surya punya Kakak, Tante?”   “Punya. Anak Tante ada dua, yang pertama namanya Adit, yang kedua baru Surya. Alena berapa bersaudara?”   “3 bersaudara, Tante. Alena anak ketiga.”   “Kakak kamu laki-laki atau perempuan?”   “Laki-laki dua-duanya, Tante.” ucapku sambil kembali melihat-lihat isi rumah ini.   “Ayo duduk dulu, Sayang. Tante ke belakang dulu ya buat suruh si Bibi bikinin minum. Sekalian kamu tunggu Surya ganti baju.”   “Iya, Tante. Terima kasih.”   “Sama-sama.” Dengan senyuman, ia melangkah menuju dapur. Saat hendak berjalan menuju sofa, ada beberapa bingkai foto yang berjajar di atas sebuah meja berwarna cokelat tua. Terlihat foto Tante Adhisty dengan suaminya menggendong kedua anak laki-lakinya yang masih bayi sambil duduk berpose menghadap ke kamera.   ‘Oh, jadi ini Kakaknya Surya.’ batinku ketika melihat foto mereka saat masih kecil. Tiba-tiba saja pandanganku terfokus kepada bingkai terakhir, di mana terlihat seorang anak bertubuh gemuk sedang berpose mengangkat dua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah ke arah kamera.   ‘I-ini siapa? Kak Adit atau Surya? Tapi kayaknya gak mungkin Surya, deh. Soalnya anak ini gemuk banget.’ Lagi-lagi, aku membatin sambil terus bertanya-tanya siapa anak di dalam foto tersebut. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Surya menuruni anak tangga. Aku langsung berjalan menuju sofa untuk duduk. Dengan mengenakan kaos berwarna putih polos serta celana jeans pendek berwarna cokelat muda, ia berjalan ke arahku dan mulai mengambil posisi duduk.   “Nyokap gue ke mana?”   “Dapur.” Ia mulai membuka ranselnya dan mengeluarkan perlengkapan alat tulis. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya dengan sebuah lap berwarna biru dan putih yang menggantung di pundaknya berjalan menghampiri kami sambil membawa nampan dengan dua gelas air putih di atasnya, setoples cookies dan beberapa lembar koran. Wanita paruh baya itu mulai berlulut lalu menaruh minuman, cookies serta koran di atas meja depan sofa yang kami duduki. Dengan sebuah senyuman, ia mempersilakan kami untuk menikmatinya.   “Terima kasih, Bi.” ujar Surya. Sementara aku hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah wanita itu.   “Sama-sama, Den. Kalau masih ada yang kurang, panggil Bibi aja, ya.”   “Iya, Bi.” Kemudian ia izin pamit kepada Surya untuk melanjutkan pekerjaan dapurnya yang masih belum terselesaikan, kakinya pun mulai melangkah saat Surya telah mempersilakannya untuk kembali ke dapur. Surya mengambil toples berisi cookies cokelat tersebut dan langsung mengunyahnya. Sedang aku hanya terdiam memperhatikan.   “Cepet diminum. Setelah itu, lo kerjain tugasnya.”   “Gue? Sendirian?”   “Iya lah. Masa berdua sama gue.”   “Tapi kan ini tugas kelompok.”   “Lo lupa ya? Lo kan masih asisten gue.”   “Kalau tau lo bakal nyerahin semua tugas ini ke gue, kenapa gak suruh gue buat kerjain ini di rumah gue aja?”   “Gak. Nanti lo ngerjainnya gak bener lagi, kan biar sekalian gue pantau.” Dengan pasrah, aku mulai membuka lembaran-lembaran koran itu untuk mencari dan memotong materi yang sama dengan apa yang Bu Jasmine pinta.   “Surya?”   “Hmm?”   “Lo punya Kakak laki-laki?” Ia masih asyik mengunyah cookies-cookies di dalam toples tersebut tanpa menawarkanku untuk mencobanya. Setelah berhasil menelan, wajahnya mulai menoleh ke arahku.   “Kenapa? Naksir sama Kakak gue?”   “Apaan sih, dikit-dikit dibilang naksir. Gue cuma nanya, tau!”   “Iya gue punya Kakak, satu. Namanya Adit.” Setelah menjawab, ia kembali melahap cookies-cookies itu.   “Anak kecil yang foto sendirian itu siapa? kak Adit?” Tiba-tiba saja Surya tersedak oleh cookies yang dimakannya. *uhuk.. uhuk.. uhuk..* Aku langsung mengambil segelas air di meja untuknya. Sambil masih terbatuk-batuk, ia mengerutkan dahinya sambil menatapku.   “Ah, kan. Lo sih banyak tanya, gue jadi keselek gini.”   “Yeee, malah nyalahin gue. Mangkannya kalo makan tuh pelan-pelan. Udah mah gak nawar-nawarin pula.”   “Oh, jadi gue keselek gara-gara lo kepingin juga? Nih.” Sambil beranjak dari tempat duduk, ia memberikan toples cookies itu kepadaku dan mulai berjalan menuju anak tangga. Tak lama kemudian, langkahnya kembali menghampiriku sambil membawa sebuah game portable di tangan kanan. Setelah berhasil menghampaskan tubuhnya di sofa, kini ia berbaring sambil memainkan game portable tersebut. Aku hanya menggeleng dengan wajah jengkel sambil kembali mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan pada selasa depan. Selagi fokus mengerjakan tugas, terdengar suara langkah kaki yang ternyata adalah Tante Adhisty. Dengan senyuman manisnya, Tante Adhisty berjalan menghampiri kami.   “Loh, Sayang? Kok kamu malah asyik main game? Kasian tuh Alena ngerjain tugas kelompoknya sendirian.” Masih fokus pada layar game portable, jari jemarinya bergerak dengan lincah selama bermain.   “Alena yang minta buat ngerjain sendiri, Ma.” jawabnya tanpa menoleh ke Tante Adhisty.   “Ayo cepat bangun, selesaikan sama-sama.” Dengan wajah sedikit kesal, ia mematikan game tersebut dan mulai bangun dari sofa untuk ikut membantuku mengerjakan tugas.   “Yang namanya tugas kelompok itu ya harus dikerjakan sama-sama.”   “Iya, Ma. Ini Surya bantuin, kok.” Ia mengambil potongan-potongan koran yang berhasil aku gunting untuk dibaluri lem kertas di bagian belakangnya.   “Alena, ayo itu diminum sama dimakanin cookies-nya.”   “Iya, Tante.”   “Kamu lapar, nggak?”   “Belum kok, Tante.”   “Ya udah, nanti pokoknya selesai ngerjain tugas langsung ke meja makan, ya? Bi Tinah udah siapin makan siangnya. Tante mau ke kamar dulu.”   “Iya, Tante. Terima kasih.”   “Sama-sama.” Langkahnya berjalan meninggalkan kami menuju satu ruangan yang letaknya tidak jauh dari ruang keluarga. Rumah seluas ini membuat suasana menjadi terasa sepi. Hanya terdengar samar suara Bi Tinah yang sedang memblender sesuatu. Terlebih, Surya adalah tipikal anak yang tidak banyak omong. Aku merasa seperti sedang terjebak dalam kesunyian dan kebingungan harus berbicara apa. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk ikut terdiam hingga Surya yang mulai membuka percakapan terlebih dahulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD