Episode 16

1775 Words
Suara jam di dinding seakan membantuku untuk membuat suasana di ruang tamu ini menjadi tidak begitu sunyi. Setelah beberapa menit mengerjakan tugas, suara Tante Adhisty mulai memanggil kami dari arah meja makan.  “Surya.. Alena.. ayo cepat ke sini, makan siang dulu.” teriak Tante Adhisty. Aku menoleh ke arah dinding, jam telah menunjukan pukul 13:20. Kami menghampiri Tante Adhisty yang sudah duduk di meja makan sambil menyiapkan piring untuk kami. Beberapa macam lauk tersedia di atas meja, mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup, semuanya terlihat begitu menggugah selera, terutama ayam asam manis dan puding cokelat yang sedari tadi sudah menyita perhatianku. Tante Adhisty mulai memberikan kami piring berisi secentong nasi, sambil mencoba menawari lauk apa saja yang ingin kami makan.   “Alena suka cumi, nggak?” tanyanya.   “Suka, Tante. Cuma, Alena lagi pingin pake ayam aja.”   “Oh, ya udah. Tante ambilin ya ayamnya.” Disendokinya beberapa potongan ayam dengan saus asam manis itu ke atas piring nasiku. Begitu juga ke atas piring Surya. Kami menghabiskan makan siang dengan bersama-sama, setelah makan siang di piring masing-masing tersapu bersih, Aku dan Surya kembali mengerjakan tugas yang tadi sempat kami tinggal di ruang tamu. Waktu terus berjalan, jam telah menunjukan pukul 15:00. Aku menoleh ke arah luar sambil mencari ke mana Kakak Surya pergi, dari mulai menginjakan kaki di rumah ini hingga sore, batang hidungnya masih belum terlihat.   “Udah sore, biar gue yang lanjutin aja nyelesain tugas ini di rumah.” Ya, benar. Setelah makan siang, Surya kembali asyik dengan game portable-nya.   “Kerjain yang bener, awas aja kalo tugas kita dapet nilai kecil.” cibirnya. Tanpa mempedulikan ucapannya, aku langsung merapikan barang-barang untuk dimasukan ke dalam tas. Setelah memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal, Surya mengantarku menghampiri Tante Adhisty yang sedang asyik melalukan yoga di halaman belakang.   “Ma, Alena mau pamit pulang.” Kedua mata yang tadi tertutup itu kini telah terbuka, Tante Adhisty beranjak dari posisi duduknya lalu menghampiriku sambil tersenyum.   “Udah mau pulang? Takut kesorean ya, Al?”   “Iya, Tante.” jawabku sambil tersenyum kecil.   “Ayo kita keluar, biar Pak Mamat antar kamu pulang.”   “E-eh, gak usah, Tante. Alena biar suruh Pak Dirman jemput aja.”   “Gak apa-apa, Al. Biar Pak Mamat aja yang antar, ya? Tante juga mau ikut, biar sekalian tau rumah Alena. Boleh, kan?”   “Tentu boleh dong, Tante.”   “Tapi tunggu sebentar, Tante ganti baju dulu ya. 5 menit aja.”   “Iya, Tante.” Sambil mengusap bahuku dengan lembut, Tante Adhisty berjalan menuju kamarnya. Sementara aku dan Surya berjalan menuju ruang tamu sambil menunggu Tante Adhisty selesai mengganti pakaiannya. Game portable itu masih belum terlepas dari tangan dan juga pandangannya. Dengan wajah serius yang kadang tidak terkontrol, ia terus menggerakan jari jemarinya selama memainkan game tersebut.   “Surya?”   “Apa?”   “Kak Adit ke mana? Kok belum pulang?”   “Ngapain sih lo nanyain Kakak gue terus?” jawabnya ketus tanpa menoleh ke arahku.   “Ya gak kenapa-kenapa. Rumah lo sepi banget soalnya.” Ia hanya terdiam sambil terus memfokuskan diri dengan gamenya. Tak lama kemudian, Tante Adhisty keluar dari kamar dan berjalan menghampiri kami yang telah menunggunya.   “Maaf ya lama.”   “Enggak kok, Tante.”   “Ayo, kita berangkat.” ajak Tante Adhisty. Sebelum benar-benar keluar menuju halaman depan, Tante Adhisty melirik ke arah anak bungsunya itu.   “Surya, kamu mau ikut Mama antar Alena ke rumahnya nggak?”   “Nggak, ah. Aku mau ke kamar aja.” Ia langsung berjalan meninggalkanku dan Tante Adhisty menuju anak tangga.   “Ya udah, kita berdua aja ya, Al.” Aku mengangguk tersenyum ke arahnya. Selama perjalanan, aku terus memberi petunjuk untuk sampai ke rumah. Setelah beberapa lama di dalam perjalanan, akhirnya kami sampai di depan rumahku. Dengan sigap, Bi Sari membukakan gerbang untuk kami.   “Ayo masuk, Tante.” ajakku setelah kami berhasil turun dari mobil. Tante Adhisty mengikuti langkahku untuk masuk ke dalam. Dengan setengah berlari, aku menghampiri Mama yang sedang bersantai di depan televisi.   “Mamaaaa.. Alena pulang!”   “Sayangggg.. kamu pulang sama siapa? Kok gak telepon minta jemput?”   “Permisi.” ujar Tante Adhisty.   “E-eh, iya? Ayo masuk-masuk, silakan duduk.” Mama beranjak dari tempat duduknya untuk mempersilakan Tante Adhisty duduk sambil berteriak kepada Bi Sari, memintanya agar membuatkan minum untuk Tante Adhisty.   “Kenalin, Saya Sandrina, Mamanya Alena.”   “Saya Adhisty, Mamanya Surya.”   “Aduh, Bu. Makasih loh udah repot-repot antar Alena sampai rumah.”   “Gak apa-apa kok, Bu. Saya juga sekalian mau tau rumah Alena.”   “Ya, begini aja, Bu. Maaf ya berantakan.”   “Sama aja kok. Rumah saya juga berantakan.” balas Tante Adhisty dengan tertawa kecil.   “Maaf juga ya kalau Alena tadi merepotkan.”   “Ah, enggak kok. Justru saya senang ada Alena, rumah saya jadi rame.” Tak lama kemudian, Bi Sari datang membawakan dua gelas es teh manis beserta beberapa toples berisi aneka ragam cookies.   “Ayo silakan diminum, Bu.” ujar Mama.   “Ya ampun, gak usah repot-repot, Bu.”   “Enggak kok, gak repot.” Keduanya terus berbincang layaknya seorang sahabat lama yang baru bertemu kembali, hingga akhirnya Tante Adhisty memutuskan untuk pamit pulang karena hari sudah semakin sore.   “Terima kasih ya Bu suguhannya.”   “Ih, ada juga saya yang makasih karena sudah bersedia antar Alena pulang.”   “Iya, sama-sama.” jawabnya tersenyum.   “Alena, Tante pulang dulu, ya? Kapan-kapan main lagi ke rumah walaupun gak ada tugas dari sekolah.”   “Hehe, iya Tante.” Setelah aku mencium tangannya, Tante Adhisty pun berjalan masuk ke dalam mobil. Lambaian tangannya terlihat dari balik kaca jendela yang sengaja ia buka setengah sebelum benar-benar melaju meninggalkan rumahku.   “Ciye.. ciye.. dianterin pulang sama mertua nih ye.” ledek Kak Arshad dari dalam sambil berjalan menghampiri aku dan Mama.   “Kok mertua?” Mama menatap bingung ke arahnya.   “Itu tadi Mamanya Surya, kan? Pasti Surya itu adalah anak laki-laki yang kamu bilang ganteng tapi nyebelin itu, ya kaaan?” Dicoleknya daguku sambil memasang ekspresi wajah meledek.   “Maaaa, liat tuh Kakak kebiasaan!”   “Arshad, udah dong jangan diledek terus adiknya.”   “Ciye Alena pipinya merah.” Ia kembali mencolek daguku, tapi kini sambil berlari masuk ke dalam rumah lalu kukejar. *** Langit pagi di hari ini terlihat sedikit mendung. Kak Arshad dan juga Kak Gibran segera berangkat dengan sepeda motornya dengan harapan tidak terkena hujan saat dalam perjalanan nantinya. Papa menawarkan mereka agar berangkat bersama menaiki mobil, namun keduanya menolak dan tetap lebih memilih untuk menggunakan sepeda motornya masing-masing. Beberapa kali suara gemuruh terdengar, udara air conditioner di dalam mobil terasa lebih dingin dari biasanya. Para pedagang kaki lima di pinggir jalan mulai bersiap-siap memasang terpal untuk gerobaknya sebagai persiapan di kala hujan akhirnya benar-benar turun. Pak Dirman memberhentikan laju kendaraannya saat kami telah sampai persis di depan gerbang sekolahku.   “Mama atau Bi Sari gak bawain kamu payung, ya?” tanya Papa setelah aku berhasil mencium tangannya dan hendak keluar dari dalam mobil.   “Enggak, Pa. Gak apa-apa kok, lagian belum turun hujan juga.”   “Ya sudah, kalau gitu cepat masuk ke kelas.”   “Iya. Dadah, Papa.”   “Daaah, Sayang.” Dengan langkah cepat, aku terus berjalan masuk ke area sekolah. Angin bertiup sangat kencang. Meski telah memakai jaket yang cukup tebal, udara dingin tetap berhasil masuk mengenai kulitku. Anak-anak lain juga terlihat begitu bergegas masuk ke dalam kelas karena khawatir hujan akan turun sebelum mereka benar-benar sampai. Dan benar saja, apa yang menjadi kekhawatiran kami semua akhirnya terjadi. Hujan langsung turun begitu saja dengan derasnya, lengkap disertai dengan suara gemuruh serta kilatan cahaya yang mendebarkan jantung. Aku berlari mencari tempat untuk berlindung, sampai tiba lah langkahku di depan ruangan lab komputer. Anak-anak lain terlihat memaksakan diri untuk terus berlari menuju kelas sambil hujan-hujanan. Tak lama kemudian, terlihat Surya berjalan dengan santainya sambil memegang sebuah payung hitam berukuran sedang.   “Suryaaa!!!” teriakku. Ia menoleh tanpa menjawab, lalu langkah kecilnya mulai berjalan menghampiriku yang sedang berdiri di depan pintu lab komputer seorang diri.   “Ngapain lo di sini?”   “Neduh lah, lo gak liat itu lagi ujan deres?”   “Sama ujan aja takut. Nih pegang.” Dengan wajah sengaknya, ia memberikan payung itu kepadaku.   “Nanti lo gimana?”   “Ya bareng lah. Gue suruh lo buat payungin gue sampe kelas.”   ‘Udah gue duga.’ gumamku sambil mengendus kesal. Aezar Surya Danantya, seorang anak laki-laki yang tidak mungkin akan memberikan kebaikan secara cuma-cuma. Harusnya aku sudah tahu bahwa sifat menyebalkannya itu sudah permanen, tidak bisa dihilangkan, apalagi hanya dengan air hujan. Beberapa pasang mata dari dalam kelas mulai melihat ke arah kami yang terus berjalan menyusuri lapangan dengan berlindung di bawah payung yang sama. Tatapan mereka terlihat iri karena melihatku berhasil mendapatkan kesempatan ini, di mana bagi mereka adalah sebuah keesempatan emas yang tidak mungkin mereka dapatkan. Kapan lagi bisa berlindung di bawah payung yang sama dengan seorang laki-laki tampan di tengah derasnya hujan? Tak peduli seberapa dingin udara yang menusuk ke tulang. Jika ia berada di sampingmu, rasanya akan tetap terasa hangat. Bukankah itu semua impian para penikmat drama? Kalau saja mereka tahu bahwa kenyataannya tidaklah seromantis yang mereka pikirkan, mungkin mereka akan menatapku dengan gelak tawa, karena nyatanya, ini lebih terlihat seperti seorang upik abu yang memayungi anak majikannya agar tidak kehujanan. Kalau bukan karena terpaksa, aku sangat tidak sudi untuk memayunginya seperti ini.   “Langsung ditutup, terus simpenin di kolong meja lo.” ujarnya ketika kami sudah sampai di depan kelas. Dengan perasaan acuhnya, ia melangkah begitu saja masuk ke dalam, meninggalkanku dengan payung hitamnya. Sambil berusaha menutup payung tersebut, aku ikut berjalan masuk ke dalam kelas. Ternyata Feli dan Gaby sudah berada di kursinya, mereka menatapku dengan tatapan heran. Sebelum aku berhasil duduk, keduanya menarik tanganku menuju depan ruang kelas.   “E-eh? Ada apa?”   “Kamu disuruh Surya buat mayungin dia sampai ke kelas?” tanya Feli serius, sementara Gaby hanya menatapku sambil menunggu jawaban.   “Eng-enggak, kok.”   “Kamu jangan bohong, Al.” sahut Gaby.   “Aku gak bohong. Jadi tuh tadi aku kehujanan, dan akhirnya aku neduh di depan lab komputer, gak lama Surya lewat bawa payung, dan aku numpang ikut di payungnya. Awalnya dia yang pegang payung itu kok, tapi karena aku gak enak udah numpang, jadinya aku yang pegangin.”   “Beneran?” Selidik Feli.   “Bener. Ngapain sih aku bohong. Lagian Surya gak akan mungkin tega gitu, kok.” Sambil terus menatapku dengan tatapan curiganya, mereka akhirnya memutuskan untuk percaya dengan apa yang aku katakan. Kami pun masuk kembali ke dalam kelas, karena bel masuk telah berbunyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD