Saat bel istirahat berbunyi, setelah guru berhasil meninggalkan ruang kelas, Chelsea berjalan ke depan kelas dan menahan kami agar tetap berada di kursi masing-masing dan tidak pergi ke kantin terlebih dahulu untuk mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan.
“Hai, guys! Di sini gue mau kasih tau sesuatu. Hari minggu nanti adalah hari di mana gue berumur 9 tahun.”
Ia memperlihatkan beberapa tumpukan kartu birthday invitation berwarna pink yang sedari tadi telah ia sembunyinya dibalik tubuhnya.
“Gue harap, kalian semua datang yaa!”
Dengan senyum sumringah, ia mulai membagian birthday invitation itu ke anak-anak di kelas. Termasuk aku dan Feli.
Chelsea terlihat jauh lebih cantik saat ia tersenyum ramah seperti itu, seakan, sifat menyebalkannya lenyap begitu saja hanya dengan sebuah senyuman yang ia perlihatkan kepada orang-orang.
“Alena, Feli, Gaby, kalian jangan lupa datang loh, yaaa.”
“Iya, Chel. Aku pasti datang.” jawabku, sementara Gaby hanya melirik ke arah Feli yang terdiam tanpa menjawab ucapan Chelsea.
“Suryaaaaa, kamu juga harus datang ya!”
“Iya.”
Setelah mengambil birthday card invitation tersebut, Surya langsung beranjak pergi menuju kantin di mana anak-anak yang lain masih tetap pada posisinya, duduk manis hingga Chelsea mempersilakan kami untuk meninggalkan kelas.
*Saat di kantin*
“Kalian heran gak sih sama tingkah laku Chelsea?”
Feli mengabaikan semangkuk bakso yang dipesannya hanya karena fokus menatap birthday card invitation pemberian Chelsea yang kini sedang berada dalam genggamannya. Aku dan Gaby yang sedang asyik mengunyah hanya melirik ke satu sama lain, lalu menggeleng bersamaan.
“Kok aku curiga ya?”
“Curiga kenapa, Fel?” tanya Gaby, ikut heran.
“Gak biasanya dia kayak gini. 4 tahun sekelas, dia gak pernah sama sekali bersikap baik ke aku. Bahkan, ini pertama kalinya dia ngundang aku ke acara ulang tahunnya.”
“Tapi, bukannya emang sebelumnya dia gak pernah ngerayain acara ulang tahun kayak gini?”
“Pernah, Gab. Dulu. Waktu kelas dua. Waktu Liana masih ada di sekolah ini.”
Gaby mulai menghentikan aktivitas mengunyahnya, wajahnya terlihat menatap ke arah langit-langit sambil mencoba mengingat kejadian dua tahun lalu.
“Oh, iya aku inget. Emangnya waktu itu kamu nggak diundang?”
“Ya enggak lah, aku kan sama dia musuhan dari dulu.”
“Fel, semua orang bisa berubah. Dan mungkin sekarang Chelsea udah sadar sama semua yang dia perbuat. Kita doain aja, semoga di bertambahnya usia Chelsea kali ini bisa ngebuat dia jadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.” sahutku.
“Nah, bener tuh apa yang Alena bilang. Kelas jadi adem juga sih gara-gara Chelsea udah gak pernah bikin ulah lagi.”
“Hmm, iya ya? Ngapain juga aku capek-capek mikir negatif kayak gini.”
Sambil menaruh undangan tersebut ke kantung seragamnya, Feli mulai melahap semangkuk baksonya yang sudah hampir dingin.
Setelah merasa kenyang, kami kembali ke kelas, di mana bel masuk 10 menit lagi akan berbunyi.
Tiba-tiba saja, seseorang menarik kerah bajuku dari belakang.
“Aduh, apaan sih?” teriakku sambil berusaha menoleh.
Feli dan Gaby yang terkejut juga ikut menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi. Seperti dugaanku, orang yang menarik kerah itu adalah Surya. Dengan wajah datarnya, ia menatapku. Kedua bola matanya seakan berbicara jika aku harus ikut dan menuruti perintahnya.
“Ikut gue.” perintahnya.
“Mau ke mana?! Sebentar lagi bel masuk.”
Tanpa menjawab, ia kembali menarik kerah bajuku untuk mengikutinya.
“Fel, Gab. Kalian duluan aja ya ke kelasnya, nanti aku nyusul.”
Mereka hanya terdiam sambil terus memperhatikan Surya yang entah akan membawaku ke mana. Beberapa pasang mata lain juga tertuju pada kelakuan Surya yang menyeretku seperti seekor anak kucing tak berdaya.
Langkah kami terhenti persis di depan ruangan Lab Komputer, ia mulai melepaskan tangannya dari kerah seragamku.
“Mau ngapain sih lo bawa gue ke sini?”
“Tadi gue papasan sama Pak Malik, dan dia minta gue buat ambilin tugas anak-anak kelas 2 yang ketinggalan di Lab.”
“Terus? Apa hubungannya sama gue?”
“Karena masuk ke Lab harus buka sepatu, dan gue males buat ngebuka dan pakeinnya lagi, jadi lo aja yang masuk ke dalem.”
Aku menarik napas panjang sambil mengelus-elus d**a.
“Kenapa pake acara tarik napas segala?”
“Masih mending gue tarik napas, dari pada gue bales tarik kerah seragam lo, mau?!” ucapku ketus sambil membuka sepatu lalu melangkah masuk ke dalam.
Tak memakan waktu lama, setelah berhasil mengambil tumpukan tugas-tugas milik anak kelas 2, aku langsung kembali berjalan keluar menghampiri Surya.
“Nih.”
“Ya lo yang pegang. Bawain sampe depan ruang guru.”
Lagi-lagi, sambil menarik napas, aku mencoba tersenyum ke arahnya.
“Wahai Aezar Surya Danantya, kalo buku ini gue pegang, gimana cara gue pake sepatunya?”
Ia melirik ke arah kakiku yang kini hanya dibalut oleh kaos kaki. Dengan terpaksa, diambilnya tumpukan-tumpukan buku itu dari tanganku, dan ia membiarkanku untuk memakai sepatu terlebih dahulu.
“Nah, udah selesai kan? Nih bawa lagi.” Setelah mengembalikan buku-buku tersebut ke pelukanku, ia langsung melangkah lebih dulu menuju ruang guru.
“Mana siniin.”
Kembali diambilnya buku-buku itu dan mulai ia bawa masuk menuju meja Pak Malik.
“Dasar pencitraan!” Aku mendengus kesal sambil melangkah pergi meninggalkannya menuju ruang kelas.
***
Hari minggu telah di tiba. Jam di dinding menunjukan pukul 12:00, aku langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas mandi, karena hari ini adalah hari di mana perayaan ulang tahun Chelsea akan dimulai pada pukul 14:00 nanti.
Ini adalah yang pertama kalinya aku menghadiri pesta ulang tahun teman sebayaku. Dampak bullying serta homeschooling membuatku tidak mempunyai teman. Selama ini, ulang tahunku hanya dirayakan oleh keluarga saja. Sekali pun datang ke acara perayaan ulang tahun, itu hanya karena sepupuku sendiri yang mengadakannya.
Aku tidak tahu bagaimana rasanya menyanyikan lagu Happy Birthday bersama teman-teman sekelas, bersenda gurau sambil menikmati sepotong kue dan di kelilingi oleh teman-teman seusiaku. Karena ini adalah yang pertama kalinya, aku harus tampil sebaik mungkin.
Dengan menggunakan Dress berwarna merah muda serta ikat rambut bermotif bunga, aku terus berlenggak-lenggok di depan cermin sambil tersenyum dengan tiada henti.
“Hei, coba liat siapa yang ada di depan cermin saat ini. Ya, Alena Chessy Adhitama.” ujarku pada diri sendiri, “Bener juga apa yang dibilang Kak Arshad dan Kak Gibran, aku ini sebenarnya cantik. Andai aja kulitku putih dan tubuhku gak gendut, pasti aku akan jadi anak yang paling cantik di sekolah.”
*tok.. tok.. tok..*
Tiba-tiba saja suara pintu mengejutkanku yang sedang asyik berlagak di depan cermin.
“Siapaaaa?”
“Ini Kakak, boleh masuk gak?” Terdengar suara Kak Arshad dari luar.
“Masuk aja, Kak. Gak Alena kunci.”
Ketika berhasil menarik handle pintu dan berjalan masuk, ia mulai terkekeh saat melihatku yang masih asyik bercermin.
“Wiiih, mau ke mana nih Princess Adhitama?”
“Mau ke acara ulang tahun temen. Gimana, Kak? Alena cantik gak?”
“Cantik dong, cantik banget malah! Kalah Cinderella juga.”
Sambil cekikikan, aku mulai menyisir rambut dengan perlahan.
“Al, Kakak pinjem sisir dong.”
“Emangnya sisir Kakak ke mana?”
“Gak tau.”
“Kebiasaan, mangkannya kalo naruh barang tuh langsung ke tempat semula.”
“Udah deh bawel, mana sini pinjem.”
“Sabar kenapa, sih.” Aku memberikan sisir itu kepadanya.
Kak Arshad mulai berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya hingga membuatku harus bergeser.
“Kakak mau ke mana sih? Rapi bener.”
“Biasaaa.”
“Ah, Alena tau nih. Pasti mau nge-date.”
“Ih, anak kecil tau-tauan nge-date?”
“Tau dong.”
Setelah selesai, ia menaruh sisir tersebut di atas meja dan mulai melangkah keluar dari kamarku.
Aku menoleh ke arah jam dinding, jarumnya telah menyentuh pukul 13:15. Dengan tergesa, aku berlari keluar kamar dan langsung menuruni anak tangga untuk menghampiri Pak Dirman.
“Hati-hati jatuh.” ucap Kak Arshad yang juga tengah menuruni anak tangga. Sementara aku tetap menuruni anak tangga dengan terburu-buru sambil memanggil Pak Dirman.
“Ma, Pak Dirman ke mana? Kok di luar gak ada? Mobil juga gak ada.” tanyaku kepada Mama yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Pak Dirman kan lagi antar Papa ke tempat temannya. Emangnya kamu mau ke mana?”
“Kan Alena udah bilang ke Mama kalau hari ini ada acara ulang tahun temen.”
“Aduh, iya Mama lupa.”
Aku mendengar suara Kak Arshad menyalakan mesin sepeda motornya, sambil meraih tangan Mama untuk pamit, aku berlari menghampiri Kak Arshad di halaman depan.
“Kaaaak, tunggu!”
“Ada apa?”
“Alena ikut.”
“Ikut ke mana?”
“Antar Alena ke rumah temen ya, Kak.”
“Ah gak mau. Emangnya Pak Dirman ke mana?”
“Lagi anter Papa.”
“Kamu minta anter Kak Gibran aja sana.”
“Arshad, anterin dong adiknya. Kasian dia mau datang ke acara ulang tahun temannya.” timpal Mama.
“Aduh.. ya udah buru cepet naik.”
“Yeay, Kakak ganteng deh kalo lagi kayak gini.”
“Ada maunya aja baru muji.”
Kami melambai ke arah Mama sambil melaju. Aku memberi arahan tentang alamat rumah Chelsea kepada Kak Arshad. Tak memakan waktu yang lama, tibalah kami di sebuah rumah megah berlantai dua. Bahkan rumah ini jauh lebih mewah dari rumah milik Surya. Aku sudah menduga dari awal jika Chelsea memang berasal dari keluarga yang kaya raya.
“Ini bener rumah temen kamu bukan?”
“Iya bener kayaknya, Kak.”
Aku mencoba turun dari sepeda motornya. Tak lama kemudian, sebuah mobil yang kukenali berhenti tepat di sebelah sepeda motor Kak Arshad.
Ya, siapa lagi kalau bukan mobil Surya.
“Loh, Surya?” ujar Kak Arshad saat Surya telah berhasil keluar dari mobilnya.
“Kak Arshad?” jawabnya
“Kok Kakak kenal sama Surya?”
“Surya ini sepupunya Karin.”
“Karin?”
“Perempuan yang pernah kirimin paket buat Kakak.”
“Perempuan pemberi topi?”
“Iya.”
“Kak Arshad Kakaknya Alena?” tanya Surya.
“Iya, kamu satu sekolah sama Alena?”
“Iya, Kak.”
“Bukan cuma sekelas, tapi juga sebangku.” sahutku.
“Ya ampun, haha, dunia sempit juga ya? Ya udah sana kalian masuk. Kakak mau lanjut jalan.”
“Mau jemput Kak Karin, ya?” ledek Surya.
“Itu kamu tau.” jawab Kak Arshad dengan gelak tawa, “Surya, Kakak titip Alena ya?”
“Iya, Kak. Tenang aja.”
“Dadah, Alena. Jangan nakal, ya.”
“Iya, Kak. Hati-hati di jalan ya.”
Sambil mengangguk, Kak Arshad menutup kaca helmnya dan kembali melanjutkan perjalanan.
Aku melirik ke arah Surya yang menatapku. Dengan tatapan jengkel, aku memutuskan berjalan meninggalkannya untuk masuk terlebih dahulu ke dalam rumah Chelsea.