Episode 18

1753 Words
Seorang wanita paruh baya mulai membukakan pintu agar aku dan Surya dapat masuk ke dalam. Lagu-lagu yang terputar semakin terdengar ketika aku berhasil menginjakkan langkah pertamaku ke dalam rumah Chelsea. Wanita paruh baya itu mengantarkan kami menuju halaman belakang, di mana acara ulang tahun Chelsea yang bertemakan Garden party di gelar si sana, persis mengelilingi sebuah kolam renang dengan ukuran yang cukup besar. Anak-anak satu kelas dengan beberapa orang lain yang kuduga adalah saudara dari Chelsea sudah memadati Taman ini. Banyak sekali makanan serta minuman yang disediakan di atas meja. Begitu juga dengan kue ulang tahun setinggi tiga tingkatan dengan beberapa hiasan yang membuat kue tersebut menjadi tampak sempurna. Terlihat Gaby dan juga Feli yang sudah berdiri di sudut kanan dekat dengan dessert table. Lambaian tangan mereka memintaku untuk bergabung, aku pun berjalan menghampiri keduanya. Dengan rambut gaya messy bun serta memakai dress berwarna putih, Feli terlihat sangat menawan. Begitu juga Gaby, rambut panjangnya yang terurai lengkap dengan penjepit pita berwarna biru muda membuatnya terlihat sangat matching dengan dress yang dipakainya.   “Alena.. kamu cantik banget.” ujar Gaby dengan sumringahnya.   “Iya, yang punya acara ulang tahun aja kayaknya bakalan kalah cantik sama Alena.” timpal Feli membenarkan ucapan teman sebangkunya.   “Ah, bisa aja. Emangnya kalian sebelum berangkat ke sini gak ngaca dulu? Kalian juga cantik-cantik banget tau!” Dengan gelak tawa, mereka merespon ucapanku. Langkah Surya datang menghampiri dan ikut bergabung bersama kami.   “Kalian berangkat bareng?” tanya Gaby.   “Enggak. Kebetulan tadi pas aku sampe, gak lama Surya juga sampe.” Seroang perempuan yang sepertinya adalah MC di acara ini mulai meminta kami untuk mendengarkan arahannya.   “Adek-adek semuanya, acara pertama akan kita mulai dengan menyambut sang Tuan Rumah yang sedang berulang tahun di hari ini. Langsung kita panggil aja ya. Chelseaaaa!” Dengan gaun berwarna putih serta mahkota berwarna silver yang melekat di atas kepalanya, Chelsea berjalan didampingin oleh kedua orang tuanya untuk menghadap kami, para tamu undangan. Senyum bahagia begitu terpancar dari wajah cantiknya. Ia terlihat benar-benar seperti seorang Puteri. MC tersebut mulai memberikan mic kepada Chelsea.   “Hai semuanya. Pertama-tama, aku mau ucapin terima kasih buat semua yang udah sempetin dateng ke acara ulang tahun aku kali ini. Aku berharap, kalian bisa menikmatinya sampai acara selesai. Untuk selanjutnya, biar aku serahin ke Kakak Mira selaku MC di acara Birthday Party ini. Terima kasih.”   “Baik. Terima kasih, Chelsea. Nah, untuk langkah kedua, aku serta tim akan membagikan topi ulang tahun untuk kalian pakai selama acara tiup lilin dan memotong kue. Jadi, jangan ada yang dilepas ya sebelum selesai potong kue.” Setelah topi tersebut berhasil dibagikan kepada para tamu undangan, kami pun mulai memakainya, mengikuti apa yang MC perintahkan. Aku sedikit kesulitan ketika hendak memakai topi tersebut, karena ukurannya yang kecil hingga tidak masuk ke ukuran lingkar kepalaku.   “Al, kamu gak apa-apa?” tanya Feli.   “Ini, gak bisa masuk. Kekecilan kayaknya.”   “Coba nih tuker sama punya aku.” Ia mencoba memasangkan topi miliknya ke kepalaku, namun ternyata ukuran topi kami sama.   “Ini, coba pake punya aku.” ujar Gaby yang kini mencoba memasang topinya ke kepalaku.   “Tetep gak bisa, kayaknya ukurannya sama semua deh.” jawabku. Karena terlalu memaksakan, akhirnya topi tersebut pun terputus begitu saja.   “Yah, gimana ini?” ujarku dengan raut murung.   “Udah, gak apa-apa. Tempelin aja ke kepala, jadi kan tetep keliatan dipake.” balas Feli. MC pun mulai meminta kami untuk menyanyikan lagu “Happy Birthday” dengan serempak. Happy birthday, Chelsea Happy birthday, Chelsea Happu birthday, Happy birthday Happy birthday, Chelsea   “Sekarang lirik selanjutnya...” teriak MC tersebut. Tiup lilinnya, tiup lilinnya Tiup lilinnya sekarang juga Sekarang juga Sekarang juga Setelah memejamkan mata sambil berdoa, Chelsea mulai meniup lilin-lilin menyala yang tertancap pada pucuk kue ulang tahunnya itu. Tepuk tangan meriah dari tamu undangan mulai terdengar setelah Chelsea yang berhasil meniup semua lilin-lilin tersebut.   “Sekali lagi, Happy Birthday, Chelsea!” ucap MC itu sambil menjulurkan tangannya kepada Chelsea.   “Oke, sekarang kita lanjutin lirik untuk potong kuenya ya. Satu.. dua.. ti..”   “E-eh, bentar dulu, Kak.” Chelsea memotong ucapan Kak Mira sambil meminta mic dari tangan perempuan tersebut.   “Alena, topi kamu kenapa?” tanya Chelsea sambil melirik ke arahku dari tempatnya berdiri.   “I-ini, putus.”   “Aduh ya ampun. Maaf ya, Al, aku lupa kalo ukuran badan kamu lebih besar dibanding yang lain, harusnya aku pesen topi ukuran yang lebih besar buat kamu.” Beberapa pasang mata menatapku sambil menahan tawanya, begitu juga dengan Bianca dan Teresa yang tertawa secara terang-terangan ke arahku. Karena tak kuat menahan malu, aku memutuskan untuk beranjak keluar meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Feli dan juga Gaby.   “Al, tunggu.” teriak Feli. Keduanya terus mengejarku yang terus berlari menuju gerbang.   “Al.” Feli menarik tanganku, dengan keadaan air mata yang sudah mengalir deras, aku menoleh ke arahnya. Tanpa berbicara, mereka langsung memeluk sambil berusaha menenangkanku.   “Emang gak seharusnya aku dateng ke sini. Aku gak pantes ada di sini.” Perlahan, mereka melepaskan pelukannya sambil mencoba menghapus air mataku.   “Nggak, bukan kamu yang gak pantes di sini. Tapi Chelsea yang gak pantes buat ngomong kayak gitu di depan semua orang.”   “Iya, Al. Dia sengaja banget mau mempermalukan kamu di depan banyak orang.” timpal Gaby.   “Udah aku bilang, aneh rasanya kalo tiba-tiba Chelsea berkelakuan baik ke kita.”   “Udah ya, Al. Gak udah sedih, air mata kamu gak pantes dikeluarin buat orang-orang kayak gitu. Sekarang kita pulang aja, ya.” Sebelum keluar dari sini, dengan percaya dirinya aku tersenyum pada dunia yang kuanggap akan berlaku adil padaku. Lagi-lagi aku salah, karena nyatanya dunia tidak akan pernah berpihak kepada seekor itik yang buruk rupa. Sekeras apa pun itik itu mencoba percaya, senyuman yang terpancar darinya tetaplah sebuah senyuman keterpaksaan. Terpaksa menghadapi hidup yang tidak pernah memberinya sebuah keadilan. ***   “Alena? Kok belum bangun? Udah jam segini loh, nanti kamu bisa terlambat datang ke sekolah.” Mama mencoba membangunkanku yang masih terlelap.   “Alena gak masuk dulu, Ma.”   “Loh? Kenapa? Kamu sakit?” Tangannya mulai memeriksa suhu pada dahi serta pipiku.   “Nggak panas kok, tapi. Apa yang dirasa, Sayang?”   “Gak tau, badan Alena lemas aja rasanya.”   “Ya udah, kalau gitu istirahat aja ya? Biar Mama kabarin ke Bu Jasmine.”   “Iya makasih, Ma.” Sambil mencoba menghubungi Bu Jasmine, Mama melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk membiarkanku beristirahat. Sebenarnya, aku tidak sedang sakit sama sekali. Hanya saja entah kenapa, kejadian kemarin di acara ulang tahun Chelsea membuatku takut untuk pergi ke sekolah. Tatapan serta gelak tawa dari beberapa orang masih terbayang jelas dalam ingatanku, pemandangan yang begitu menyakitkan di saat orang-orang di sana malah sedang merasakan kebahagiaan karena perayaan sebuah acara ulang tahun. Dari pagi hingga siang, aku hanya merebahkan tubuh di atas kasur, tidak melakukan apapun seolah menyakinkan Mama jika aku benar-benar sedang tidak enak badan. *tok.. tok.. tok..*   “Non Alena, ada teman sekelas Non datang.” teriak Bi Sari dari balik pintu.   “Iya, Bi. Suruh tunggu sebentar, Alena nanti turun ke bawah.”   “Iya, Non.” Aku melihat ke arah jam dinding yang kini sudah menunjukan pukul 13:05.   “Ah, itu pasti Gaby sama Feli. Mereka pasti khawatir karena aku gak masuk hari ini.” Setelah berkaca terlebih dahulu, aku langsung bergegas turun untuk menemui kedua teman baikku itu. Namun, langkahku melambat saat melihat ternyata Surya yang sedang duduk menungguku di ruang tamu.   “Ngapain lo ke sini?”   “Jenguk lo. Emang gak boleh?”   “Kok lo tau rumah gue?”   “Nanya ke Kak Arshad pake nomornya Kak Karin.” Bi Sari pun datang membawakan segelas sirup untuk Surya.   “Ini, Den. Silakan diminum.”   “Terima kasih, Bi.”   “Iya, sama-sama.” jawabnya sambil tersenyum lalu kembali melangkah menuju dapur.   “Keliatannya lo sehat-sehat aja.” ujarnya setelah berhasil meneguk segelas sirup di hadapannya.   “Ya udah mendingan, kan gue udah minum obat tadi.” jawabku berbohong.   “Gue kira lo gak bisa sakit.”   “Sembarangan! Lo ke sini niatnya mau jengukin gue atau ngeledekin gue, sih?”   “Jenguk lah.” Ia mulai membuka ritsleting ranselnya, lalu mengeluarkan sekotak tempat makan berwarna kuning dan menyerahkannya kepadaku.   “Buktinya gue bawa ini.” lanjutnya.   “Apa nih?”   “Kue sama beberapa potongan buah, dari nyokap.”   “Tante Adhisty tau gue sakit?”   “Ya tau lah, gue kan sebelum ke rumah lo izin dulu.”   “Pak Mamat ke mana? Kok gak disuruh masuk? Lagi ngobrol sama Pak Dirman?”   “Gue ke sini naik sepeda.”   “Seriusan? Emang lo bisa naik sepeda?”   “Ya bisa lah! Lo liat aja keluar kalo gak percaya.” Aku beranjak dari tempat duduk untuk memastikan bahwa ia datang ke sini benar-benar menaiki sepeda. Dan benar saja, sepeda berwarna hitam telah terpakir di halaman rumah.   “Bener kan? Gak percaya, sih.”   “Gue kira lo gak bisa naik sepeda.” ucapku sambil berjalan kembali ke sofa.   “Apa sih yang gak Surya bisa. Eh, ngomong-ngomong Kak Arshad ke mana?”   “Belum pulang sekolah. Nanti jam 3 baru sampe rumah biasanya.”   “Ya udah ah, gue balik aja. Percuma jenguk juga lo nya udah sembuh.”   “Di mana-mana harusnya tuh seneng kalo yang dijenguk udah sembuh!”   “Ssstt, bawel. Nyokap lo ke mana? Gue mau pamit.”   “Tunggu sebentar.” Aku berjalan ke arah ruang keluarga untuk menghampiri Mama, namun ia sedang tidak ada di sana.   “Bi, Mama ke mana?” tanyaku pada Bi Sari di dapur.   “Oh, lagi ke Supermarket Non tadi diantar Pak Dirman.”   “Udah lama perginya?”   “Sekitar 30 menit yang lalu, Non.”   “Oh ya udah deh, Bi.” Aku pun kembali menghampiri Surya yang sedang mengikat tali sepatunya di kursi halaman depan.   “Langsung aja, nyokap gue lagi gak di rumah.”   “Ya udah.”   “By the way, makasih loh udah mau jenguk. Sampein salam gue juga buat Tante Adhisty.”   “Iya, sama-sama.” Setelah tali sepatunya berhasil terikat, ia berjalan menuju sepedanya dan mulai mengayuh sepeda tersebut keluar dari rumahku begitu saja.   “Anak itu, bisa-bisanya dia dateng ke sini cuma untuk jenguk. Padahal, gue abis kecapean bawain tas dia yang berat aja, dia gak punya hati sampe langsung suruh gue buat beliin minum di kantin.” Aku pun menutup pintu dan kembali berjalan masuk ke dalam kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD