*Keesokan harinya sepulang sekolah*
Pelajaran hari ini telah usai, bel pulang berbunyi. Seperti biasa, semua murid langsung mengemas barang mereka masing-masing untuk segera pulang ke rumah.
Aku menjadi semakin terburu-buru saat melihat Surya sudah berjalan keluar dari kelas.
“Feli, Gaby, aku pulang duluan ya?”
“Iya, Al. Hati-hati di jalan ya.”
“Iya, kalian juga!” jawabku sambil berlari keluar kelas mengejar Surya yang sudah keluar terlebih dahulu.
“Ini kita jadi ke rumah lo?” tanyaku pada Surya yang terus melangkahkan kakinya.
“Jadi.”
Aku terus mengikuti langkahnya menuju ke depan gerbang. Mobil Surya sudah terparkir di sana, ia langsung membuka handle pintu mobil dan beranjak masuk ke dalam. Pak Mamat menyapaku dengan senyuman hangatnya. Di mobil hanya ada kami bertiga, Tante Adhisty sepertinya sedang sibuk hingga tidak bisa ikut menjemput Surya ke sekolah.
“Nyokap lo ke mana?”
“Lagi ada kerjaan.”
Aku hanya mengangguk pelan sebagai tanda mengerti.
Pak Mamat pun mulai menjalankan laju kendaraannya. Siang ini, cuaca cukup terik. Panasnya sinar matahari mampu masuk menembus kaca mobil, membuat udara dari Air conditioner tidak begitu terasa.
Setelah beberapa lama berada di dalam mobil, akhirnya kami pun sampai di rumah Surya. Gerbang yang telah terbuka lebar membuat Pak Mamat langsung memarkirkan mobilnya ke dalam.
Surya mulai melangkahkan kakinya keluar begitu saja tanpa mengajakku untuk ikut turun.
“Suryaaa, tungguin dong!” pintaku.
“Ngapain minta ditungguin segala sih? Pintu rumah gue tetep di situ, gak akan pindah ke mana-mana.” jawabnya sambil terus berjalan.
“Ya kan gue tetep gak enak masuk ke rumah orang gitu aja.”
“Lah, kan lo masuknya sama gue.”
Sambil mendengus kesal, aku terus mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.
“Duduk.” perintahnya, “Gue mau ganti baju dulu. Lo diem aja di situ, jangan ke mana-mana.”
“Iya.”
“By the way, lo udah izin kan ke orang rumah kalau hari ini ke rumah gue?”
“Iya, udah kok.”
“Bagus. Lo mau minum apa?”
“Gak usah.”
“Ya udah.” sahutnya sambil melangkah pergi.
“E-eh, air putih aja deh.”
“Tadi katanya gak usah, dasar perempuan. Bi Inah tolong buatin minum ya buat Alena, air putih aja.” teriaknya ke arah Bi Inah yang sepertinya sedang berada di dapur, sementara ia melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.
Tak lama kemudian, Bi Inah datang membawa segelas air mineral, dengan senyuman ramahnya, ia terus berjalan ke arahku tak lupa dengan lap berwarna biru dan putih yang menggantung di pundaknya.
“Eh, ada Non Alena. Ini Non silakan diminum.” Ditaruhnya gelas itu ke atas meja.
“Iya makasih, Bi.”
“Sama-sama. Ini Non beneran mau minum air putih aja? Gak mau jus atau sirup gitu?”
“Gak usah, Bi. Air putih aja gak apa-apa, kok.”
“Bener nih, Non?”
“Iya beneran, Bi.”
“Ya udah, kalau butuh apa-apa langsung bilang aja ya ke Bibi. Oh iya, itu camilan jangan lupa dimakanin, Non.” Matanya melirik ke arah beberapa toples camilan yang sudah tersedia di atas meja.
“Iya Bi, terima kasih. Ngomong-ngomong, Tante Adhisty ke mana, ya?”
“Tadi sih keluar, cuma Bibi gak tau deh si Ibu pergi ke mana. Paling sebentar lagi juga balik, Non.”
“Oh gitu.”
“Kalau gitu Bibi permisi dulu ya, Non. Mau lanjutin kerjaan, masih banyak soalnya.”
“Iya, Bi. Silakan.”
Langkahnya kembali berjalan menuju dapur. Sambil menunggu Surya yang tak kunjung turun juga, aku mencoba menyemili beberapa cookies yang berhasil menggugah seleraku.
Sudah hampir satu jam aku menunggu Surya selesai mengganti pakaiannya, hingga air di dalam gelas tersisa tinggal setengah, dan bahkan aku juga tidak tahu sudah berapa banyak keping cookies yang berhasil masuk ke dalam perutku.
Karena merasa bosan, akhirnya aku memutuskan untuk melangkahkan kaki menuju tangga bermaksud meneriaki Surya dari bawah untuk segera turun. Belum sempat meneriaki, tiba-tiba saja suara pintu kamarnya terdengar sedang dibuka. Dan benar saja, dengan wajah tanpa bersalahnya menelantarkanku seorang diri di ruang tamu, ia berjalan menuruni tangga dengan santainya.
“Lo mau ke mana?” tanyanya.
“Mau nyamperin lo!”
“Kan gue udah bilang, tunggu aja di situ, gue ganti baju sebentar.”
“Ganti baju sebentar? Gue nungguin lo hampir satu jam dibilang bentar? Lo kalo mau pake baju harus jait dulu sampe bisa se lama itu?”
“Ya, sorry. Gue ketiduran tadi.”
“Oh, pantes. Enak ya tidur siang tanpa dosa nelantarin anak orang sendirian di ruang tamu.”
“Nelantarin gimana? Kan udah gue kasih minum, banyak camilan juga di atas meja.”
“Ya tapi gue jadi kayak orang b**o duduk sendirian di ruang tamu.”
“Lagian lo sih bukannya bangunin gue.”
“Mana gue tau kalo lo ketiduran. Kalo tau udah gue bangunin pake air seember!”
“Assalamualaikum.” ucap Tante Adhisty yang baru saja melangkah masuk ke dalam.
“Waalaikumsalam.” Aku dan Surya menjawab salamnya secara bersamaan.
“Eh ada Alena.”
“Tante abis dari mana?” Aku berjalan menghampirinya untuk bersalaman.
“Dari rumah Neneknya Surya sebentar. Kamu dari kapan di sini? Udah dari tadi?”
“Lumayan, sekitar satu jam yang lalu, Tante.”
“Udah dibikinin minum belum sama Bi Inah?”
“Udah kok, Tante.”
“Oalah, ya udah ayo sini kita duduk dulu.”
Ia menuntunku menuju sofa, begitu pun Surya yang ikut mengambil posisi duduk di sofa.
“Jadi gimana?”
“Apanya yang gimana, Tante?” tanyaku heran.
“Oh, jadi kamu belum tau tujuan Surya ngajak kamu ke sini untuk apa?”
Dengan polosnya, aku menggeleng.
“Mama aja yang jelasin langsung.” ucap Surya.
Aku menatap kedua Ibu dan anak itu dengan heran secara bergantian. Tante Adhisty balas menatap sambil mencoba mengenggam kedua tanganku.
“Alena, Surya udah cerita banyak tentang kamu.”
“Tentang apa ya, Tante?”
“Nak, kamu dibully di sekolah?”
Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk perlahan.
“Apa? Apa yang membuat mereka bully kamu? Kata-kata apa yang sering mereka lontarkan untuk menghina kamu?”
“Karena A-alena bertubuh gendut, kulit Alena hitam, dan Alena jelek.”
“Enggak, Sayang. Alena cantik, kok.”
“Kalau Alena cantik, mereka gak akan mungkin bully Alena, Tante.”
“Surya juga dulu di-bully kok di sekolah lamanya.”
“Surya? Di-bully?” tanyaku tak percaya.
“Iya.”
Setelah mengangguk, Tante Adhisty beranjak dari sofa lalu berjalan menuju meja di mana beberapa bingkai foto berdiri tegak di sana. Ia mengambil satu bingkai dari deretan foto tersebut, lalu membawanya dan kembali duduk menghampiriku.
“Ini foto Surya waktu dia duduk di bangku kelas 1.”
Tante Adhisty menunjukan foto seorang anak kecil bertubuh gemuk yang sebelumnya kukira adalah foto Kak Adit semasa kecil.
“I-ini Surya, Tante?”
“Kenapa? Heran ya sekarang gue jadi makin ganteng?”
Aku hanya menatapnya sambil mengernyitkan dahi.
“Iya, ini Surya. Awalnya, Surya nyaman-nyaman aja sekolah di sekolahan lamanya. Meskipun saat itu tubuhnya gemuk, tapi orang-orang malah banyak yang gemas dan suka sama dia. Karena menurut mereka, Surya itu lucu. Sampai suatu ketika saat kenaikan kelas 3, datang seorang anak baru laki-laki yang diduga adalah anak dari pemilik yayasan di sekolah itu. Kehadiran anak itu membuat Surya nggak mau lagi berangkat ke sekolah karena anak itu sering sekali mem-bully berat badan Surya di saat orang-orang lain malah menganggap Surya adalah anak kecil yang sangat menggemaskan. Ia begitu nggak suka kalau orang-orang di sekitar suka sama Surya, oleh karena itu ia terus menerus mengganggu Surya agar Surya tidak lagi nyaman berada di sekolah tersebut. Beberapa bulan sebelum kenaikan kelas 4, Tante berjuang mati-matian membantu Surya untuk menurunkan berat badannya. Dan akhirnya, usaha Tante gak sia-sia. Inilah Surya yang sekarang, di mana gak akan ada lagi orang yang nge-bully masalah berat badannya.” ucap Tante Adhisty menceritakan kisah anak bungsunya itu.
“Jadi, itu alesan Surya pindah sekolah?”
“Iya, sambil fokus nurunin berat badan, Tante urus berkas-berkas pindahan sekolah Surya, karena dia udah gak mau lagi sekolah di sana.”
“Surya beruntung, ya? Punya Mama yang mau ngebantu dia supaya dia gak di-bully lagi.”
“Mama Alena tau kalo Alena sering di-bully di sekolah?”
“Keluarga Alena gak ada yang tau, Tante.”
“Kalau Mama Alena tau, Tante yakin Mama Alena juga akan ngelakuin hal yang sama, kok. Nah di sini, Tante sama Surya mau bantu Alena buat nurunin berat badan. Apa Alena mau?”
“Mau banget, Tante! Sekalian bantu Alena buat putihin kulit ya?”
“Loh memangnya kenapa? Alena gak puas sama kulit Alena yang sekarang? Ini juga cantik kok.”
“Bukan gak puas. Tapi Mama, Papa dan kedua Kakak Alena semuanya putih, cuma Alena aja yang hitam. Alena sedih waktu ada yang ngatain Alena dan bilang kalau Alena itu anak angkat karena beda sendiri.”
“Ya ampun, tega banget. Iya, boleh kok kalau Alena emang mau, pasti bakal Tante bantu, sampai orang-orang yang suka ngatain Alena gak akan bisa ngatain Alena lagi.”
“Makasih ya, Tante.”
“Sama-sama, Sayang.”
“Tante, tapi Alena boleh minta tolong satu hal lagi gak?”
“Boleh, dong. Apa?”
“Jangan cerita ke Mama ya kalau ternyata selama ini Alena jadi bahan bully-an di kelas.”
“Iya, Tante janji gak akan bilang.”
Sebagai ucapan terima kasih yang kedua kalinya, aku kembali memeluk Tante Adhisty dengan pelukan yang jauh lebih erat. Surya hanya terdiam sedari tadi memperhatikanku yang sedang asyik memeluk Mamanya.
Standart kecantikan. Banyak orang yang bilang jika standart kecantikan perempuan Indonesia itu adalah yang kulitnya putih serta tubuh yang langsing. Dengan aku mengiyakan tawaran Tante Adhisty yang ingin membantuku menurunkan berat badan dan aku memintanya untuk membantuku merawat kulit agar terlihat lebih cerah, bukan berarti aku ada di pihak orang-orang yang membuat standart kecantikan. Jelas bagiku semua perempuan itu cantik dengan caranya masing-masing, tak peduli bagaimana bentuk tubuh dan warna kulit mereka, mereka tetap akan cantik pada porsinya. Tak ada yang salah dari orang yang berusaha menurunkan berat badannya, mencerahkan kulitnya. Mereka melakukan itu semua untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Pun juga tidak ada yang salah dari impian seekor itik buruk rupa yang berharap dapat menjelema menjadi seorang putri nan cantik jelita. Ia hanya ingin melihat dirinya menjadi lebih baik, dengan harapan agar semua orang dapat merima dan menghargainya setelah ia berusaha menghargai dirinya sendiri.