Episode 20

1785 Words
Kali ini, aku menikmati makan di kantin dengan hoodie milik Surya yang terus melingkar di pinggang.   “Liat deh, guys! Bisa-bisanya anak kelas 4 udah menstruasi.” cibir Chelsea yang berdiri bersama kedua temannya di samping meja makan kami.   “Kenapa emangnya? Masalah buat lo?” sahut Feli.   “Lah, kok lo yang galak sih? Darah tinggi lo marah-marah terus?!”   “Mau lo apa, sih? Gak puas udah bikin Alena malu di acara ulang tahun lo kemarin?”   “Bikin Alena malu? Siapa juga yang sengaja bikin Alena malu, gue kan cuma ngomong kalo topinya gak ada yang ukurannya buat dia.”   “Tapi gara-gara lo ngomong kayak gitu, semua tamu undangan lo tuh pada ngetawain Alena!”   “Ya bukan salah gue dong? Kok mereka yang ngetawain tapi gue yang disalahin? Sensi banget sih lo sama gue?”   “Udah, Fel udah. Jangan ditanggepin.” Gaby berusaha menenangkan teman sebangkunya.   “Eh, Bu Jasmine. Selamat siang, Bu.” ujar Surya yang datang sambil membawa semangkuk bakso lalu ikut duduk di meja kami. Setelah mendengar itu, Chelsea, Bianca dan juga Teresa langsung terkejut lalu pergi menuju meja kantin yang biasa mereka duduki. Aku menoleh ke arah sekeliling untuk mencari di mana Bu Jasmine.   “Mana Bu Jasminenya?” tanyaku.   “Gak ada.” jawabnya singkat sambil melahap sebutir bakso. Akhirnya, aku, Feli dan Gaby tertawa karena mengerti kenapa Surya tiba-tiba menyapa Bu Jasmine padahal Bu Jasmine tidak ada di sekitar sini. Karena ia tahu, bahwa hanya hal tersebut yang dapat membuat Chelsea menghentikan tingkah menyebalkannya. *** Bel pulang berbunyi, setelah guru mengakhiri materi pembelajaran hari ini dan melangkah pergi meninggalkan kelas.   “Al, mau ikut ke Perpus?” tanya Gaby.   “Yah, aku bilang ke Pak Dirman, kasian kalo dia harus nunggu lama di depan.”   “Ya udah gak apa-apa. Kalau gitu aku sama Feli duluan ya, mau ke Perpus dulu.” Keduanya melambaikan tangan ke arahku sambil melangkahkan kaki keluar, sementara aku masih sibuk mengemaskan barang-barang. Surya yang telah selesai pun langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang kelas. Tak lama kemudian, Chelsea, Bianca dan juga Teresa menghampiri mejaku.   “Duh, kangen juga ya nahan gak ngajak main Alena di kelas.” ujar Chelsea diikuti dengan gelak tawa kedua temannya.   “Permisi ya Chel, Bi, Ter, aku mau pulang.”   “Iya, hati-hati ya, Alena.” jawab Tere.   “Tere! Bisa diem aja gak sih?!” Bentakan Chelsea membuat Tere langsung terdiam.   “Mau ke mana?” lanjutnya.   “P-pulang.”   “Di sini dulu, lah. Ngehibur kita.”   “T-tapi, supir aku udah nungguin di luar.”   “Sebentar doang, kok.” Ia berjalan ke arah papan tulis, mengambil sebuah spidol hitam dan kembali melangkah ke arahku.   “Gini ya, Al. Di mana-mana, yang namanya alis tuh ada bulunya. Alis lo bulunya pada ke mana?” Ia mulai membuka tutup spidol tersebut.   “Chel, kamu mau apa?”   “Karena gue anak yang baik, gue cuma pengen lo punya alis yang normal. Sini, gue bantu.”   “Jangan, Chel. Aku mohon.”   “Tere.. Bianca.. pegangin si gendut ini buruan!” Mengikuti perintahnya, Tere dan Bianca langsung menahan kedua tanganku agar tidak bisa berontak.   “Chel, aku mohon jangan. Aku minta maaf kalo aku punya salah sama kamu.”   “Apaan sih kok malah minta maaf? Harusnya tuh lo bilang terima kasih karena gue udah mau ukir alis lo supaya terlihat lebih normal dan yang pastinya bagus kayak punya kita-kita. Betul gak, Gengs?”   “Betul banget, Chel!” sahut Bianca. Ia mulai mencoret bagian alisku dengan tinta dari spidol tersebut, aku terus berusaha untuk berontak, namun genggaman tangan Bianca dan juga Teresa lebih kuat dari tenagaku. Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis.   “Nah kan bagus. Lo tuh harusnya seneng, ketawa! Bukan malah nangis. Dasar cengeng! Ayo guys kita pulang.” Setelah merasa puas telah mencoret alisku dengan tinta spidol, dengan teganya mereka pun pergi meninggalkanku yang terus menangis sambil berusaha menghapus tinta tersebut dengan tangan.   “La.. la.. la.. la.. la..” Terdengar suara seseorang bernyanyi, sambil membalikan badan, aku langsung berusaha mengusap air mata agar tidak ada seorang pun yang melihat bahwa aku sedang menangis.   “Lo ngapain masih di sini?” Terdengar suara Surya yang bertanya.   “Gak ngapa-ngapain. Lo ngapain sih balik lagi ke sini?!”   “Snack gue ada yang ketinggalan di kolong meja.” Suara langkah kakinya terdengar mendekatiku yang sedang berdiri membelakanginya. Dengan terus berusaha menghapus air mata serta tinta spidol di alis, aku terus mencoba untuk tetap membelakanginya. Namun, tangannya memegang kuat kedua bahuku agar menoleh ke arahnya.   “Alis lo kenapa?”   “Kenapa? Lo mau ngetawain? Ketawa yang kenceng!”   “Apa muka gue keliatan lagi nahan ketawa?”   “Lo ke sini mau ambil snack lo yang ketinggalan kan? Mending cepetan lo ambil terus pergi dari sini!”   “Jelasin dulu alis lo kenapa.”   “Gak apa-apa, emangnya gue gak boleh corat-coret muka gue sendiri? Terserah gue dong!”   “Udah deh, gue males basa-basi. Gue udah tau semuanya, itu ulahnya Chelsea kan?” Aku hanya terdiam menatapnya. Kali ini, wajahnya terlihat sangat peduli atas apa yang terjadi padaku.   “Kenapa sih lo selalu nutupin semua kesalahan Chelsea?”   “Kenapa? Lo masih tanya kenapa? Emangnya kalo gue cerita ke semua orang, orang-orang bakal percaya? Orang-orang bakal ngebela gue? Enggak! Mereka bakalan tetep ngebela Chelsea.”   “Kata siapa? Emang lo pernah bilang ke orang-orang? Enggak kan?”   “Udah deh, Surya. Kalo tujuan lo ke sini cuma buat jadi pahlawan, lo telat!” Ketika hendak melangkah pergi meninggalkannya, tangannya mulai menarik pergelangan tanganku.   “Lepasin!!!”   “Duduk!” Ia mendorongku untuk kembali duduk di kursi. “Mana hoodie gue?”   “Di dalem tas, mau apa? Mau lo pake? Gak jijik bekas darah gue?”   “Ya nggak lah, gila aja! Keluarin cepet.” Aku pun mengeluarkan hoodie-nya dari dalam tas.   “Tumbler lo sekalian, masih ada airnya kan?”   “Masih.” Setelah berhasil mengeluarkan hoodie dan tumbler dari dalam tas, Surya pun langsung membasahi ujung hoodie-nya dengan air dari dalam tumbler. Perlahan, ia mulai menggosokan hoodie tersebut ke kedua alisku untuk menghapus tinta spidol yang terukir di sana.   “Tumben lo baik, pasti abis ini mau suruh gue jadi asisten lo lagi kan?” ucapku setelah ia selesai menghapus tinta spidol di alis.   “Lo gak pernah diajarin tata krama buat ngucapin terima kasih kalo abis dibantu sama seseorang ya?”   “Iya-iya, makasih!”   “Nah, gitu kek. Udah dibantuin bukannya makasih malah suudzon terus kerjaannya.”   “Ya kan barusan gue udah bilang terima kasih.”   “Sekarang lo ikut gue.”   “Ke mana?”   “Ke rumah.”   “Rumah gue?”   “Ya rumah gue, lah.”   “Gak bisa, kasian Pak Dirman udah nunggu gue di depan dari tadi.”   “Ya udah, besok lo bilang ke Pak Dirman gak usah jemput, karena besok lo harus ke rumah gue.”   “Mau ngapain?”   “Berisik. Pokoknya ikutin aja apa yang gue bilang!” Ia pun melangkah pergi keluar, meninggalkanku dengan hoodie dan tumbler yang kini harus kembali aku masukan ke dalam tas. Karena khawatir Pak Dirman sudah menunggu terlalu lama, aku langsung berlari menuju depan gerbang. Dan benar saja, Pak Dirman sedang terduduk sambil terus menatap ke arah gerbang. Ketika melihatku berhasil keluar dan berjalan menghampirinya, ia pun tersenyum.   “Non Alena dari mana aja? Bapak sampai khawatir, teman-teman Non yang lain sudah pada keluar, Non doang yang belum. Baru aja Bapak mau susulin ke dalam nanya ke penjaga sekolah.”   “Maaf ya, Pak Dirman. Tadi Alena ke Perpustakaan dulu, cari buku buat tugas besok.”   “Gak apa-apa kok, Non. Kalau gitu, ayo cepat naik.”   “Iya, Pak.” Baru kali ini aku melihat Surya telihat begitu sangat peduli. Ketika ia membasuh noda tinta di alis dengan hoodie yang telah dibasahi air, wajahnya jadi begitu sangat dekat dengan wajahku, bulu-bulu alis yang tebal, kulit yang putih tanpa pori-pori, serta hidung mancungnya terlihat jelas di depan mataku. Aku juga tidak bisa menyangkalnya jika ia memang benar-benar memiliki wajah yang tampan meskipun kadang kelakuannya sangat menyebalkan. Berhenti Alena, ingatlah bahwa sosok yang saat ini sedang kamu pikirkan adalah sosok menyebalkan yang pernah berlaku tega padamu selama dua minggu. Aku kembali berusaha memfokuskan diri dari lamunan, membayangkan Surya berkelakuan seperti tadi membuatku sedikit tertawa. Bisa-bisanya anak menyebalkan seperti dia menjadi peduli seperti itu. Sesampainya di rumah, aku langsung berlari ke arah Bi Sari sambil menyerahkan hoodie milik Surya yang telah berhasil aku keluarkan dari dalam tas.   “Punya siapa ini, Non?”   “Punya Surya, Bi.”   “Den Surya? Yang kemarin ke sini?”   “Iya, tolong dicuciin ya Bi, biar besok bisa langsung Alena kembaliin ke Surya.”   “Siap, Non.” Langkah Mama berjalan menghampiriku dan juga Bi Sari di dapur.   “Ada apa, nih? Asyik banget kayaknya berdua-dua.”   “Ini Ma, Alena tadi pinjem hoodie-nya Surya.”   “Kenapa? Kamu kedinginan? Alena sakit lagi ya?” Tangannya kembali mengecek suhu di dahi dan pipiku.   “Enggak kok, Ma. Jadi tadi perut Alena sakiiiiittt bangeettt, ternyata Alena menstruasi.”   “Ha? Menstruasi? Terus gimana?”   “Darahnya tembus ke rok Alena, mangkannya Surya minjemin hoodie-nya.” Mama mulai memutar tubuhku untuk melihat rok bagian belakang.   “Mana? Kok nggak ada darahnya?”   “Udah Alena cuci di toilet sekolah.”   “Ya ampun, anak Mama udah puber.”   “Ma, emangnya menstruasi di umur segini wajar?”   “Wajar aja kok, hormon seseorang kan berbeda-beda. Berarti sekarang Alena lagi pake pembalut?”   “Iya.”   “Emang bisa pakenya?”   “Dipakein Feli.” Mama terkekeh mendengar jawabanku, begitu juga dengan Bi Sari.   “Ih, Mama jangan ketawa. Alena jadi malu tauuu!”   “Mama lucu aja, rasanya baru kemarin masih pakein kamu popok, ngajarin kamu belajar bicara. Gak nyangka ternyata anak Mama udah semakin tumbuh dewasa.”   “Alena jadi sedih.”   “Loh, sedih kenapa Sayang?”   “Itu tandanya Mama jadi semakin tua, kan?”   “Tua itu pasti, yang penting kan Mama tetep jadi Mamanya Alena, kan?”   “Iya dong!!” Aku memeluknya dengan erat.   “Ya udah sana kamu mandi, ya? Jangan lupa pembalutnya dicuci.”   “Siap, Ma!” Aku bergegas naik menuju kamar untuk bersih-bersih. Rasanya, segala ketakutan serta kesedihan yang aku rasakan di hari ini hilang begitu saja setelah memeluk Mama. Meskipun dunia memperlakukanku dengan tidak baik, Mama tetap menjadi satu-satunya tempat di mana aku akan tetap merasa aman. Setidaknya, aku tahu akan satu hal, hidupku tidak benar-benar kelabu selama masih mempunyai keluarga seperti keluargaku, dan teman seperti Feli dan Gaby. Hmm, Surya termasuk nggak ya? Termasuk Surya juga, deh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD