yuk damai

841 Words
Deven berjalan masuk ke arah pintu lalu tiba-tiba saja pintu nya terbuka Deven melihat Marcha keluar dari pintu itu memakai gaun malam warna putih Deven berusaha tidak menatap nya ketika sekilas saja ia merasa luar biasa berdebar "lo... ngapain disini?" tanya Marcha "bokap-nyokap lo ngundang gue makan kata Ingvar" kata Deven "ooohhh" kata Marcha mengangguk "lo mau pergi?" tanya Deven balik hanya demi sopan santun "ya, gue ada kencan" kata Marcha Deven akhirnya menatap ke arah Marcha ternyata sudah punya pacar... Deven tau kalau ia kemarin hanya sebagai penghibur saja Marcha jelas tidak serius dengannya Deven hanya terdiam dan mengangguk "ya udah, have fun" kata Deven gak tulus dan masuk ke dalam rumah Marcha tanpa menunggu Marcha membalasnya. di rumah Marcha setelah makan malam dengan keluarga Marcha Ingvar mengajak Deven ke kamar untuk mengobrol "masih ada aja gitar nya" kata Deven nyengir senang "ada dong, lo beliin gue buat hadiah ulang tahun khan?, tapi sampai sekarang gue gak pernah bisa main nya" kata Ingvar "lo aja gak mau belajar" kata Deven Ingvar terkekeh "eh iya Dev tentang Anneth, lo tau khan dia jadi icon rumah sakit kita?" tanya Ingvar Deven mengangguk "gue denger dari anak-anak" kata Deven "gue udah nentang sih, gue udah bilang kalau gue gak mau Anneth yang jadi icon rumah sakit kita..." kata Ingvar "tapi..." "gak apa Var, biasa aja... gue gak masalah kok" kata Deven "gue udah gak pernah mikirin Anneth, dia khan udah tunangan dan mau nikah" "okay" kata Ingvar "gue cuman gak mau lo ngerasa gimana gitu" "gue udah gak ada perasaan apa-apa sama Anneth" kata Deven "kita profesional aja nanti" "kalau kakak gue?" tanya Ingvar "apa maksudnya kakak lo?" tanya Deven "perasaan lo ke kakak gue?" tanya Ingvar "dia ada kencan khan tadi Var, gue ketemu dia waktu mau kesini" kata Deven "apa yang lo harapkan Var?" "kakak gue gak kencan gimana Dev, itu tadi kak Marcha, dia diaturin blind date sama mommy gue" kata Ingvar "ya lo tau sendiri dia umur berapa tapi gak ada cowok" "hhmm" kata Deven mengangguk "loh lo ke kakak gue gimana Dev?" tanya Ingvar "kakak lo... cuman main-main sama gue" kata Deven "ngapain gue harus naruh perasaan ke dia, Var?" "kakak gue gak pernah main-main kalau sampai tidur bareng Dev" kata Ingvar "kalau gak dia suka sama lo, gak mungkin" "kalau gitu kenapa dia ikut blind date?" tanya Deven "itu karena mommy gue yang atur yang awalnya dia tolak mentah-mentah dan terus dia terima itu karena... gue yang agak maksa sih" kata Ingvar "maksud lo yang maksa?" tanya Deven "ya, gue lagi ngomongin elo terus dia kayak salah tingkah terus bingung dan... dia gak tau kenapa ambil tawaran mommy gue buat blind date" kata Ingvar "gue sih yakin banget, kakak gue suka sama elo" "imajinasi lo aja kali itu Var" kata Deven "udah lah, gak usah bahas Marcha lagi... gue sumpah kesel banget sama dia" Ingvar mengangguk yaaa... Deven gak tahan cerita dengan Ingvar apa yang terjadi selama di panti jompo itu Deven sebenarnya sempat takut adik Marcha itu marah tapi boro-boro marah Ingvar malah kaget karena mereka sama-sama sadar dan melakukan hubungan itu atas dasar suka sama suka tapi Ingvar berjanji dengan Deven tidak akan membahas hal ini dengan Marcha apapun yang terjadi akhirnya setelah ngobrol panjang lebar mengenai pekerjaan dan gossip di rumah sakit Deven pamit pulang ketika keluar dari kamar Ingvar "lo blon pulang?" tanya Marcha kaget sembari membuka sepatu nya "ini mau pulang" kata Deven cuek "ooohhh, bisa kita ngobrol sebentar berdua sebelum lo pulang?" tanya Marcha memakai sandal rumah nya Deven mengangguk bingung menatap ke arah Ingvar yang melebarkan mata nya kaget tapi Deven mengikuti Marcha keluar dari rumah ke arah taman taman rumah di keluarga Marcha ini cukup besar bahkan sampai ada sungai dan jembatan kecil nya yang menuju ke rumah kecil di seberang sungai mereka berhenti di jembatan itu sembari menatap ke arah sungai "jadi... kita bicarakan hubungan kita sekarang" kata Marcha "hubungan kita?" tanya Deven bingung "bukan nya lo udah bilang jelas kemaren di mobil" "kita rekan kerja tapi bukan berarti gak berteman" kata Marcha "cara lo menghadapi gue beberapa hari terakhir ini benar-benar gak banget" "berteman?" ulang Deven "iya, apa itu salah?, lo gak mungkin berpikiran kalau kita bisa punya hubungan yang lebih dari temen khan Dev?" tanya Marcha "gue gak mungkin berpikiran apa-apa kalau kita gak melakukan s*x atas dasar suka sama suka" kata Deven "kita gak bahas itu" kata Marcha marah "okay, kalau gitu lo mau berteman dan kita lupain semua yang pernah terjadi diantara kita trus lo mau anggep itu cuman main-main" kata Deven ikut marah "okay, makasih ya... lo nunjukin cewek kayak apa lo di mata gue sekarang" Deven berjalan pergi masuk ke dalam rumah mengabaikan Ingvar yang seperti mau ngobrol lagi Deven keluar dari rumah bak istana itu ke arah mobilnya terparkir dengan perasaan marah Deven tau kalau Marcha mengajaknya bicara untuk berdamai tapi tampaknya itu entah bagaimana tetap menyakiti perasaan Deven meskipun Deven tau dia tidak berhak marah dia tau Marcha terlalu jauh membentang untuk dia gapai ia bukan siapapun dan bukan apapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD