basket

738 Words
terik matahari panas nya luar biasa keringat itu ada di setiap sudut kulit Deven tapi tentu saja bukan hanya karena panas nya matahari Deven berkeringat sampai seperti mandi Deven sudah sedari tadi bermain basket dan tentu saja menang 1 tim sama Ingvar si pemain IBL kalau sampai kalah ya terlalu tapi Ingvar sudah pensiun karena harus meneruskan bisnis papa nya dan sekarang Deven duduk di pinggiran lapangan istirahat ia meneguk minuman nya banyak-banyak sementara teman-teman nya mengobrol "jadi... lo gak tau nama nya, no telepon atau chat nya?" tanya Kevin kaget "enggak" kata Deven "gue nyesel sumpah" "payah lo Dev" kata Friden tertawa sambil menggelengkan kepala nya "ya, gue gak pernah lo tau... one night stand" kata Deven menelan ludah nya mengingat betapa canggungnya ia saat itu "gue gak paham harus gimana apalagi gue juga gak inget semalaman kita ngapain aja" "lo halu kali Dev nge-s*x sama tuh cewek" kata Ingvar terkekeh "gue gak halu, gue..." kata Deven bingung harus bagaimana menjelaskan ke temen-temen nya tentang perasaan nya "yang penting Deven udah move on lah, mau lo one night stand or anything as long as you didn't talk about that b***h" kata Gogo "b***h?, Anneth?" tanya Deven "ya iyalah, lo pikir siapa?" tanya Gogo "denger ya Dev, ini udah kedua kali nya dia nyakitin elo... saat nya lo sadar dan move on" "Deven mah terlalu baik Go" kata Chris "dulu sama Anneth ditinggal sama Mackie sampai udah ke Philippines terus sekarang Betrand, cuman karena berduit bukan berarti bisa semena-mena dong Dev" "ya, dia dulu udah minta maaf" kata Deven "kalau maaf aja cukup Dev, gue gak perlu kerja" kata Kevin "ya... ya, ikutin kalian lah, gue mah udah bodoh amat sama Anneth sekarang" kata Deven "bagus" kata Gogo "ya Deven sih move on dari Anneth iya tapi di pikiran nya ada tuh cewek khan" kata Ingvar "cewek Bali" "Var, dia belum tentu cewek Bali" kata Deven "ya kita gak tau apa-apa tentang dia cuman tau lo ketemu dia di Bali, ya panggil aja cewek Bali khan Dev" kata Ingvar Deven menggelengkan kepalanya "terserah elo dah" kata Deven "mau Dev?" tanya Friden menyodorkan rokok "sejak kapan gue ngerokok Den?" tanya Deven bingung "ya kali lo stress gak punya cewek butuh pelepasan" kata Friden "gak ngerokok juga kali Den" kata Deven "dan lagi gue khan dokter, gue tau akibat ngerokok Den, itu gak baik buat badan bro apalagi buat lo, penting tuh Den" "apa?, jantung?" tanya Friden "impotensi" jawab Ingvar dan Deven bersamaan semua teman Deven disana tertawa bahkan Deven dan Ingvar juga ikut tertawa "kuat gue mah, mau main berapa ronde juga bisa" kata Friden "Joa khan lagi program baby, gak bagus Den kalau papa nya ngerokok" tegur Deven "jarang gue Dev cuman karena sama kalian aja, di rumah sama tempat kerja udah gak ngerokok gue" kata Friden "gue cuman ngomong aja, terserah elo Den... itu khan anak lo juga" kata Deven "eh Dev habis ini lo kemana?" tanya Ingvar "besok khan kita rapat, gue mesti nyiapin laporan" kata Deven "ah iya, lupa gue kalau besok rapat" kata Ingvar menepuk dahi nya "make sure yang lo bikin detail ya Dev, kakak gue..." "iya Var, gue tau Marcha... kakak lo yang perfeksionis itu, lo udah terlalu sering ngebahas dia sama gue" kata Deven "lo tenang aja" "ya Dev, udah bertahun-tahun gue gak ketemu dia so... gue gak terlalu tau gimana dia memimpin sebuah perusahaan sih" kata Ingvar "apalagi ini rumah sakit" "kakak lo yang judes itu pulang?" tanya Kevin kaget "dia tegas bro bukan judes" bela Ingvar "iya, gue sering denger sih Var kalau selain cantik kayak bidadari kakak lo juga judes nya amit-amit Var" kata Deven "emang bener sejudes itu?" "lo jangan dengerin omongan Kevin lah, dia gak judes gimana juga kok Dev... Kevin aja kerjaan nya gak bener, kalau gak bener ya pasti kakak gue marah" kata Ingvar "eh Var masalah kasus Red Rozi itu bukan salah gue, kakak lo..." kata Kevin "udah gue gak bahas masalah lalu" kata Ingvar "itu urusan lo sama kakak gue juga" "ya gue tau tapi lo tadi bilang nya khan..." kata Kevin "udah, diem-diem bahas kakak nya Ingvar, ngapain sih?" tanya Gogo "yukkk pulang, gue capek nih... badan pegel semua" "iya, gue juga mesti pulang Var" kata Deven berdiri "ketemu besok ya" "laporan nya yang bener Dev" kata Ingvar "ya, beres" kata Deven nyengir "dah ya, yuk Go" Deven dan Gogo berjalan bersama ke tempat parkir mobil dan pulang ke rumah masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD