"apa ini?" tanya Marcha menatap Ingvar berserta surat yang ia berikan ke Marcha
"surat dari Deven" jawab Ingvar lemas
"kenapa tiba-tiba dia mengundurkan diri?" tanya Marcha bingung "dia kasih lo alasan apa sampai berhenti?"
Ingvar diam saja tidak berkata-kata, ia bahkan menggaruk-garuk hidung nya tampak bingung
"Var??" tegur Marcha
"elo tidur sama dia khan kak?" tanya Ingvar
"terus kenapa?, apa hubungannya sama kerjaan kita?" tanya Marcha
"ya, gue gak suka dia semena-mena sama elo, gue..." kata Ingvar
"itu urusan pribadi gue sama Deven" potong Marcha kesal "kenapa lo bawa urusan pribadi ke kerjaan?, Lo tuh direktur loh Var, sebelum lo memutuskan sesuatu... lo mesti mikir segala konsekuensi nya"
"kita bisa cari orang lain yang se-kompeten Deven" kata Ingvar
"yang bisa lo hire sekarang juga?" tanya Marcha
"ya tapi kita bisa pakai uang" kata Ingvar
"pakai uang?, lo pikir uang bisa selesai in semua masalah?" tanya Marcha "keuangan rumah sakit ini masih minus, lo mau hire dokter sekelas Deven dengan gaji berapa?"
Ingvar diam saja "maaf kak, gue..."
"Deven masih kerja hari ini?" tanya Marcha tidak menghiraukan permintaan maaf Ingvar
"masih" jawab Ingvar
"suruh dia kesini, gue mau nyuruh dia tetap kerja disini" kata Marcha
"tapi kak" kata Ingvar
"apa?" tanya Marcha melotot ke arah adik nya
Ingvar tidak berani "ya udah, gue suruh Deven kesini" kata Ingvar
Ingvar berjalan keluar dari kantor Marcha.
tak lama kemudian
Deven muncul setelah mengetuk pintu kantor Marcha
"duduk Dev" kata Marcha
Deven mengangguk dan duduk di depan Marcha
"saya gak terima surat pengunduran diri ini" kata Marcha mendorong amplop putih itu ke arah Deven
"ehmmm, maaf bu... kenapa?" tanya Deven
"kenapa?, saya yang seharusnya bertanya kenapa bukan?" tanya Marcha
"itu... pak Ingvar yang menyuruh saya berhenti" kata Deven "itu karena... hubungan pribadi saya dan ibu, pak Ingvar tidak menyukai nya"
"kita sudah membahas hal ini secara pribadi kemarin" kata Marcha "saya tidak ingin pak Deven dan pak Ingvar mencampurkan urusan pribadi dan profesional secara bersamaan"
"saya juga tidak ingin mencampurkan tapi..."
"kalau begitu surat ini tidak saya terima" kata Marcha mendorong surat itu kembali ke arah Deven
Deven tidak bisa berkata-kata dan hanya mengambil surat itu
"saya harap pak Ingvar tidak keberatan dengan keputusan anda bu Marcha" kata Deven
"dia tidak akan keberatan, besok pagi anda dan saya harus ke Bogor pak Deven... ada acara donor darah sekaligus pemeriksaan gratis di salah satu panti jompo di Bogor dan rumah sakit kita ikut dalam acara itu" kata Marcha "jam 8 pagi kita berangkat"
"pak Ingvar tidak ikut?" tanya Deven bingung
"pak Ingvar harus bekerja dan memimpin rapat mingguan pak Deven" kata Marcha
Deven diam saja dan mengangguk
Marcha melihat lelaki tampan itu sudah mengerti apa yang harus ia lakukan besok
"kalau sudah tidak ada kepentingan dan keperluan yang lain, pak Deven bisa kembali bekerja" kata Marcha
"oh ya" kata Deven mengangguk "saya pamit dulu kalau begitu bu Marcha"
Marcha mengangguk sementara Deven berdiri dan berjalan keluar dari ruang kantor Marcha
Marcha menatap pintu itu tertutup dan bernafas lega
untung saja Deven tidak membantah dan mengatakan kalau benar-benar ingin keluar
kalau tidak Marcha yang bingung bagaimana menghadapi lelaki itu
Marcha kembali menatap ke arah laptop
ia memperhatikan acara amal sekaligus donor darah di panti jompo itu
kedatangan walikota kota Bogor sekaligus gubernur jawa barat
ini acara yang lumayan penting
Marcha memperhatikan dari sisi marketing dan promosi nya
ini menguntungkan untuk membuat rumah sakit cabang di Bogor
hp Marcha berdenting ada bunyi notifikasi
Ingvar : gimana kak, Deven?
Marcha: beres, dia gak akan keluar... jangan bikin masalah lagi sama dia
Ingvar: gw cuman gak mau kakak terluka
Marcha: kakak lo ini bisa jaga diri, oh iya besok gw sama Deven ke Bogor buat acara 1001 blood donation di panti jompo xxxxx
Ingvar: gak apa kak pergi berdua sama Deven?, kalau dia macam-macam
Marcha: gak harus Deven yang macam-macam sama kakak, kakak juga bisa macam-macam sama Deven
Ingvar: ya ampun kak Marcha
Marcha tertawa dan tidak membalas lagi chat adik nya lalu ia mulai menyiapkan berbagai hal untuk besok ke Bogor dengan Deven.