On The Way

756 Words
Deven menatap jam tangan nya ia begitu senang ketika akan menghabiskan waktu bekerja nya tidak di rumah sakit apalagi dengan keadaannya dengan Ingvar yang canggung sampai saat ini Deven dan Ingvar tidak bicara kalau bukan masalah pekerjaan Deven masih sangat sensitive tentang masalah Ingvar bilang pecat apa Ingvar gak tau kalau Deven masuk ke rumah sakit ini dan dibayar sebegitu murah hanya untuk membantu Ingvar Deven ditawari banyak pekerjaan mulai dari di New York, London, L.A sampai di WHO itu semua Deven tolak gaji yang mendebarkan otak dan hati itu Deven tolak hanya demi gaji yang kecil-kecil'an saja di Indonesia demi apa? persahabatan Ingvar malah menyinggung harga diri nya luar biasa "datang nya pagi amat Dev?" Deven menoleh dan melihat Marcha berjalan ke arah nya ia memakai kaos polo pink dengan celana jeans yang memamerkan lekuk otot kaki nya dengan rambut panjangnya yang tertiup angin memperlihatkan leher jenjangnya yang indah dan putih ingin sekali Deven menciumi nya dengan segala gairah nya tahan diri Dev, tahan kata Deven kepada dirinya sendiri Deven sampai menahan nafas nya dan tersenyum seraya berkata "gue memang dateng pagi'an, masa iya biarin boss nunggu?" kata Deven Marcha mengangguk dan tersenyum ketika mobil putih besar berada di depan mereka seorang pria paruh baya keluar dari mobil dan memberikan kunci mobil ke arah Marcha sambil membungkuk "silahkan bu Marcha" "makasih pak Rizal" kata Marcha mengangguk pak Rizal sopir keluarga Marcha itu kemudian berjalan pergi Marcha kemudian menyerahkan kunci mobilnya ke Deven "tolong ya Dev" "loh kita cuman berdua aja Cha?" tanya Deven bingung "iya, pak Rizal ada perlu sama bokap gue nanti" kata Marcha "ooohhh" kata Deven "ayoooo Dev, kita berangkat... gue gak mau terlambat sih sampai di sana" kata Marcha Deven kemudian mengangguk lalu ia berjalan ke arah pintu kemudi. selama di perjalanan Marcha dan Deven bercerita-cerita Awal nya mereka bercerita mengenai pekerjaan lalu mereka membicarakan hal umum lain nya "ya jadi, gue sekolah kedokteran di UGM terus dapat beasiswa di Oxford" kata Deven "lo dulu kenal Ingvar di kuliah dimana Dev?, lo kedokteran, Ingvar khan kuliah bisnis" kata Marcha "klub basket" jawab Deven "kita ikut klub yang sama" "di kampus?" tanya Marcha Deven mengangguk "Ingvar sih terkenal banget, ya wajar lah... pemain IBL, dia bolak balik Indonesia-London" kata Deven "gue sesekali aja ketemu dia karena gue juga sibuk, lo tau sendiri kuliah kedokteran khan gak gampang, begitu lulus gue juga banyak tawaran kerja tapi gue langsung pilih di NCRI" "lo gak suka kerja di NCRI?" tanya Marcha "enggak juga, gue suka kerja di NCRI, lingkungan kerja nya nyaman, kolega gue juga baik-baik" kata Deven "selain gaji nya okay, gue juga dapat banyak ilmu" "terus kenapa lo ke Indonesia ngelepas kerjaan disana dan kerja di rumah sakit punya keluarga gue?" tanya Marcha Deven diam sejenak menatap jalanan tidak menjawab pertanyaan Marcha Marcha memberi Deven waktu Marcha tau Deven ada jawaban tapi pertanyaan ini terlalu pribadi "if I say the reason... can you promise me not to judge me?" tanya Deven menoleh ke arah Marcha "apa alasan nya begitu mengejutkan dan menarik?" tanya Marcha "bisa jadi untuk beberapa orang ini terasa t***l tapi waktu itu gue cuman ngikutin firasat hati" kata Deven "apa alasan nya?" tanya Marcha "cinta" jawab Deven "lo udah gue cerita in tentang Anneth, sebenernya gue balik dan melepaskan semuanya di London karena gue pingin serius sama Anneth" "nikah maksud lo?" tanya Marcha "tujuannya kesana tapi..." kata Deven "dia lebih milih orang lain daripada gue tapi gue udah terlanjur melepaskan semua nya dan mengajukan lamaran kerja di rumah sakit keluarga lo dan itu juga karena Ingvar butuh orang kepercayaan untuk kerja bareng dia" Marcha mengangguk "itu bukan alasan t***l, lo punya tujuan hidup meskipun tujuan lo gak nyampe" kata Marcha "beberapa orang bilang gue t***l karena sebenernya waktu di London juga gue udah tau kalau Anneth selingkuh" kata Deven nyengir "gue ngejar sesuatu yang gak nyata dan sia-sia" "gak ada yang sia-sia Dev, setiap perjuangan itu selalu ada makna nya... lo cuman belum sadar aja apa maknanya" Deven mengangguk "maybe" "so hubungan lo sama adik gue udah baikan?" tanya Marcha "ehmmm... can't say it really good" kata Deven "gue sama Ingvar sama-sama keras dan punya prinsip" "dia gak akan mencampuri urusan pribadi kita berdua" kata Marcha "gue gak mau ada masalah di kerjaan nanti nya kalau hubungan kalian tetap seperti ini" "tenang aja, gue sama Ingvar profesional" kata Deven "lo ngasih surat pengunduran diri itu sudah menunjukkan gak profesional Dev" kata Marcha kesal "itu tidak akan terulang" kata Deven nyengir "gue cuman emosi sesaat" "we'll see ya" kata Marcha balas nyengir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD