Ruangan tiga kali empat begitu kotor berisi tisu yang berserakan di lantai. Seorang gadis masih menangis tersedu-sedu dengan ponsel yang masih ada di genggaman. Nayra masih belum puas jika belum mendapat kabar dari mulut sang kekasih.
Ia terus mengirim pesan pada Raiden. Namun tak kunjung ada balasan. Hatinya begitu nyeri.
“Kau sudah berjanji akan menikahiku kalau kau pulang dari Jepang. Kenapa kau malah menikahi wanita lain, Raiden?” tanya Nayra dengan suara serak.
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Nayra. Namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban. Karena jawabannya hanya ada di Raiden.
Jari Nayra membuka sosial media. Mata Nayra yang sembab kembali berair. Ia melihat postingan sebuah brand yang mengucapkan selamat atas pernikahan Raiden dengan wanita yang merupakan anak dari pengusaha terkenal.
“Cantik sekali dia. Pantas saja aku yang kumal ini dikhianati.”
Hati Nayra tersayat melihat raut bahagia yang terpatri pada wajah Raiden dan wanita cantik yang mendampinginya.
“Kenapa kamu sejahat ini, Raiden? Apa kau tak ingat janjimu?”
Nayra mengelus cincin yang tersemat di jari manisnya. Ini adalah cincin yang diberikan oleh Raiden sebelum berangkat ke luar negeri.
“Tiga tahun hubungan kita ternyata tidak ada apa-apanya, ya, bagimu? Aku salah apa, Raiden? Seluruh hatiku ada di kamu, tapi kamu patahkan begitu saja dengan tega.”
Kesetiaan Nayra dianggap main-main oleh Raiden. Dari semalam ia terus merenung apa ada yang salah dan yang kurang pada diri Nayra? Hingga segampang itu Raiden berpaling.
Fisik Nayra tidak perlu ditanyakan. Dia cantik bahkan mendekati sempurna. Tidak ada kekurangan sedikit pun. Bahkan banyak laki-laki yang menginginkan Nayra menjadi kekasih.
Ponsel Nayra berbunyi berkali-kali. Pesan dari Cici dan Felix menghujani notifikasi. Nayra sedang tidak ingin bercerita. Ia masih ingin menikmati perihnya hati sendirian.
Kepala Nayra tiba-tiba terasa berat. Nayra meremas kepalanya. “Argh! Sakit sekali.”
Dari kemarin Nayra hanya menangis dan perutnya tidak diisi makanan. Ia pun masih mengenakan seragam sekolah. Di rumah ini, Nayra hidup sendiri. Sang ayah bekerja di luar kota. Sedangkan sang ibu sudah meninggal saat ia berusia 12 tahun.
Nayra bangun dari kasurnya. Ia mengganti pakaiannya. Rumahnya begitu gelap. Ia sama sekali tidak beranjak dari kamar. Nayra pun menghidupkan lampu. Perasaannya begitu kosong. Sama seperti keadaan rumah.
Kaki Nayra yang tidak beralaskan sandal berjalan menuju dapur. Ia mencari makanan yang bisa dimakan. “Mie instannya habis,” ucap Nayra lesu melihat lemari yang biasa berisi makanan cepat saji kosong. Terpaksa ia harus pergi keluar untuk berbelanja.
Udara malam menusuk ke dalam tubuh. Nayra hanya memakai kaos oversize dan celana panjang. Kedua mata Nayra juga masih sembab dengan hidung memerah. Kepala Nayra terasa pusing. Ia berjalan tertatih sendirian di jalanan gelap.
“Aku sudah seperti zombie,” gumamnya.
Setelah membeli beberapa bungkus mie instan, sosis, dan juga telur. Nayra kembali ke rumahnya. Ia memperhatikan jalan raya yang terdapat kendaraan berlalu-lalang.
“Apa aku bunuh diri saja, ya?” Pikiran Nayra begitu kosong. Ia kini seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup. Sakit hati merenggut kewarasannya.
Kaki Nayra menginjak aspal. Ia melihat ke arah kanan. Terdapat truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Nayra dengan langkah mantap berjalan ke tengah. Irisnya menangkap seekor kucing yang juga berjalan ke tengah jalan raya.
“Kucing itu tidak boleh mati.” Nayra tidak menoleh ke kanan dan kiri, hanya fokus pada seekor kucing.
Dari arus berlawanan, sebuah mobil sport melaju tak kalah kencang. Nayra melempar kucing itu ke bahu jalan dengan tersenyum. Sedetik kemudian, tubuhnya terpental jauh dengan diiringi jerit para saksi mata.
Nayra benar-benar tidak merasakan apa pun. Hanya gelap dan terdengar sayup-sayup jeritan histeris.
Seorang laki-laki berpakaian jas dan celana bahan yang begitu rapi keluar dari mobil sport tersebut. Ia begitu shock karena menabrak seorang gadis.
“Saya akan bertanggung jawab untuk membawanya ke rumah sakit,” ucapnya lalu membopong tubuh Nayra yang berlumuran darah.
Dengan gesit, mobil sport itu melaju menuju rumah sakit terdekat. Ia melihat darah terus keluar dari dahi gadis yang wajahnya tidak terlalu jelas. Karena takut gadis itu kehabisan banyak darah, ia pun merobek kemejanya untuk membalut luka pada dahi.
Dirinya tadi sedang terburu-buru untuk mendatangi pesta pernikahan sahabatnya. Sampai-sampai ia tidak memperhatikan jalan dan menabrak orang. Ia menancap gas dengan kecepatan penuh. Sampai di IGD ia mengantarkan Nayra sampai di pintu ruang penanganan saja.
Wajah lelaki itu begitu pucat, ia takut terjadi apa-apa dengan gadis itu. Seorang pengurus administrasi mendatangi dia. Untuk menanyakan kelengkapan data diri Nayra.
“Saya juga tidak tahu siapa nama dia dan alamat rumahnya. Saya tadi tidak sengaja menabrak gadis itu,” ucap laki-laki itu dengan suara khasnya yang berat.
“Baiklah, kalau begitu isi data diri Anda saja sebagai wali.”
Laki-laki itu mengangguk. Ia menyebutkan nama lengkapnya. “Dave Alexander, 21 tahun,” ucapnya menyebutkan nama.
Setelah mengurus administrasi, Dave kembali ke ruang tunggu. Ia tidak bisa tenang barang sedetik. Ia juga sudah mengabari sahabatnya kalau tidak bisa datang ke pesta pernikahan karena insiden kecelakaan ini.
Cukup lama, dokter baru keluar bersama perawat yang tadi menangani Nayra. Dengan segera Dave mendatangi dokter untuk menanyakan keadaan Nayra.
“Pasien kehabisan banyak darah, perutnya yang kosong juga membuat dia semakin lemah. Tenang saja, kami telah melakukan transfusi darah dan memberinya infus agar lebih bertenaga. Lain kali jaga istrinya dengan baik, ya, Pak.”
Dave mengerjapkan matanya dua kali. Istri? Menikah saja belum. Toh kalau dirinya memiliki istri akan menjaga dengan sebaik-baiknya. Dave sedikit kesal dengan ucapan dokter itu. Kemudian ia memasuki ruangan di mana Nayra masih belum sadar.
Dave memperhatikan wajah Nayra yang sudah bersih dari lumuran darah. Ia terpesona dengan kecantikan Nayra yang begitu polos tanpa makeup. Ia duduk di kursi samping brankar.
“Ada masalah hidup apa gadis secantik kamu sampai tidak mengurus diri?” tanya Dave yang hanya dijawab dengan suara nafas teratur.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dave merebahkan kepalanya di bibir brankar. Matanya yang berat mulai memejam dan menyelami alam mimpi.
Pukul dini hari, jemari Nayra bergerak. Ia mulai sadarkan diri. Matanya yang berat perlahan terbuka. Ia melihat ruangan serba putih dengan bau obat mendominasi. Seingatnya, ia baru pulang dari toko sembako untuk membeli mie instan dan berakhir untuk bunuh diri.
Nayra melihat ke samping, seorang lelaki yang bajunya masih terdapat bercak darah. “Apa laki-laki ini yang membantuku?”
Nayra bersyukur masih ada orang yang peduli dengannya. Namun setelah itu, ia teringat dengan sang kekasih yang sudah menikah dengan wanita lain. Hari ini, adalah hari bahagia dia. Akan tetapi bagi Nayra ini adalah hari patah hatinya.
“Harusnya di hari pernikahan mu adalah hari kematian ku, Raiden.”