Pikiran Nayra kembali kosong. Ia melihat tangannya yang terdapat jarum infus yang menyalurkan cairan yang berguna untuk tubuh. “Tidak ada gunanya aku hidup.”
Srek!
Jarum infus itu Nayra lepas. Darahnya keluar membasahi brankar. Pergerakan Nayra mengganggu istirahat Dave. Dave pun terbangun dan terkejut dengan darah Nayra yang terus menetes.
“Astaga, apa yang kau lakukan?” pekik Dave.
Nayra terkesima dengan wajah sempurna Dave. Darah yang menetes dari tangannya tidak ia hiraukan. Matanya tersihir dengan fisik sempurna Dave bak dewa Yunani. Apakah dirinya diselamatkan oleh malaikat?
“Darahmu ke mana-mana. Saya akan memanggilkan perawat.” Dave segera keluar dari ruang rawat. Ia pergi mencari perawat untuk menangani Nayra.
Sementara Nayra masih belum percaya kalau dirinya bertemu dengan lelaki tampan dengan seribu pesona. Sampai perawat datang memasang kembali jarum infus. Nayra belum bisa mengatakan sepatah kata pun.
“Kau bisa hubungi keluargamu untuk menemanimu di sini. Maaf sebelumnya telah menabrakmu. Saya sudah membayar semua biaya rumah sakit dan kebutuhan lainnya selama kau dirawat,” ucap Dave menatap Nayra.
Nayra tersadar, ia berkedip dua kali. “Keluarga? Ah aku saja lupa kalau aku mempunyai keluarga. Oh iya, aku tidak merasa dirugikan ditabrak oleh dirimu. Aku malah berharap aku mati saat itu juga, karena tujuan awalku adalah mengakhiri hidupku. Namun malaikat datang menolongku. Terima kasih. Pergilah, aku akan menikmati luka ini.”
Dave merasa iba dengan keadaan Nayra yang malang. Pasti gadis di depannya juga memiliki masalah yang serius karena berkeinginan bunuh diri. “Saya akan menemanimu sampai sembuh. Mengakhiri hidup bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah. Gadis seumurmu memang punya masalah hidup apa?”
Nayra teringat dengan sang mantan yang begitu b******k. Ia meremas selimut dengan penuh emosi. “Aku ditinggal menikah oleh kekasihku.”
Dave yang mendengar ucapan dari Nayra tertawa terbahak-bahak. Ia tidak habis pikir dengan alur pikiran gadis remaja tanggung di hadapannya.
Nayra mengerutkan dahi. Tidak ada yang lucu. Kenapa pria yang tidak ia ketahui namanya tertawa lepas? Nayra berdecak sebal. Dia meremehkan patah hatinya? Sungguh menyebalkan.
“Kau masih sangat muda, memangnya kau pikir hidup hanya untuk cinta saja? Masih ada banyak hal yang harus kau kedepankan. Masa depanmu masih panjang.”
Nayra menghela nafas. “Aku tidak memiliki harapan lagi untuk hidup. Ibuku saja sudah meninggal. Aku tidak punya saudara yang bisa melindungiku. Ayahku saja selalu sibuk dengan pekerjaannya. Lalu aku hidup untuk apa lagi? Tidak ada harapan. Tidak ada juga yang mau mengharapkan diriku. Orang yang aku cintai pergi begitu saja meninggalkan diriku. Dengan seenaknya kau menertawai patah hatiku. Sungguh laki-laki yang tidak berperasaan.”
Dave tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Nayra. “Hiduplah untuk dirimu sendiri. Buatlah bangga dirimu sendiri. Kau selama ini menggantungkan bahagia di tangan orang lain.”
Genggaman tangan Dave menghangatkan relung hati Nayra yang beku. Ia menatap mata Dave yang tersirat ketulusan. Nayra bisa menyimpulkan kalau Dave adalah laki-laki baik yang tidak memiliki niat jahat.
“Bukankah aku gadis paling kesepian di dunia ini?” tanya Nayra dengan senyum kecut.
Dave terdiam. Ia tidak menyangka alur kehidupan gadis di depannya begitu sulit. “Kau bisa menganggap ku sebagai saudaramu. Umurku masih 22 tahun. Tidak terlalu jauh ‘kan usianya?”
“Kau sedang mengasihani diriku, ya? Aku tidak suka dikasihani seperti itu.” Nayra menolehkan kepalanya ke arah lain. Menghindari tatapan mata Dave.
“Bukannya rasa kasihan adalah rasa paling tulus?”
“Entahlah.”
Keduanya saling terdiam. Nayra sedang memikirkan bagaimana ia akan melanjutkan hidup dengan lebih baik. Ralat, berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja tepatnya.
“Oh iya, siapa namamu? Kau tidak memiliki tanda pengenal sama sekali. Berbahaya kalau terjadi apa-apa.”
Nayra menoleh. Dirinya lupa belum berkenalan dengan orang baik yang telah menolongnya. “Aku Nayra, Anindya Prinsa Nayra. Lalu namamu siapa?”
“Kau bisa memanggil saya Dave.”
Nayra mengangguk. Ia kemudian meringis. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Dave langsung khawatir melihat Nayra yang terlihat kesakitan. “Kau tidurlah kembali. Lukamu masih basah.”
“Lukanya tidak terlalu parah, santai saja. Kau kurang bertenaga saat menabrak diriku,” ucap Nayra santai.
Padahal luka Nayra saja mengeluarkan banyak darah. Memang tidak terlalu dalam. Hingga Nayra masih bertenaga untuk berbicara.
Ponsel Dave tiba-tiba berbunyi. Terdapat panggilan dari sang ibunda. Dave pun berdiri dan menjauh untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, Mah. Aku sepertinya tidak bisa pulang. Aku mengalami kecelakaan.”
Ibunda Dave begitu khawatir. Ia menanyakan keadaan anak tunggalnya.
“Aku baik-baik saja, tapi aku menabrak seorang gadis. Sekarang aku ada di rumah sakit kota. Aku harus bertanggung jawab untuk membantu pemulihan gadis itu.” Dave berbincang sekitar lima menit. Kemudian kembali lagi duduk di samping brankar.
“Besok ibu saya akan menemanimu. Saya ada projek kerja yang penting.”
Nayra melebarkan irisnya. “Tidak usah. Itu merepotkan. Biar aku sendirian saja di sini.” Jelas Nayra menolak mentah-mentah untuk ditemani oleh orang asing. Dirinya sudah begitu merepotkan ada di rumah sakit.
“Jangan menolak. Kau akan susah sendiri nantinya. Tidurlah.” Dengan manis, Dave merapatkan selimut pada tubuh Nayra.
Nayra menatap Dave, laki-laki yang sepertinya memiliki usia yang tidak jauh dari Raiden. Ia pikir di dunia ini tidak akan ada yang peduli dengannya. Namun Tuhan mengirim Dave untuk sedikit menenangkan pikirannya.
Nayra berpikir, Tuhan masih memiliki rencana yang terbaik untuk kehidupan Nayra selanjutnya. Namun Nayra juga harus lebih berhati-hati lagi dalam menanamkan perasaan. Kemarin ia terlalu banyak pupuk untuk perasaan yang tidak bisa tumbuh lagi.
Mata Nayra memejam. Ia bisa tertidur pulas dengan cepat. Dave kemudian duduk di sofa yang ada di pojok ruangan. Ia mengambil ponsel. Mengatakan permintaan maaf pada sahabatnya karena tidak bisa datang di hari pernikahan.
***
Keesokan harinya, Dave sudah pergi ke kantor sebelum Nayra membuka matanya. Ibu Dave juga sudah ada di dalam ruang rawat Nayra. Sedari tadi ia memperhatikan wajah tenang Nayra yang begitu cantik. Ia mengelus rambut Nayra penuh kasih sayang.
Nayra yang terusik pun terbangun. Ia membuka matanya dan terkejut dengan wanita setengah baya yang matanya begitu mirip dengan Dave.
“Hai, Nayra. Saya Maria, ibunya Dave. Maaf mengganggu tidurmu.”
Nyawa Nayra belum terkumpul sepenuhnya. Ia melihat wajah ibunda dari Dave yang masih cantik di usianya yang tidak muda lagi.
“Kau pasti lapar, ya, ini sudah ada sarapan. Ayo makan dulu.” Maria mengambilkan piring berisi bubur dengan lauk protein tinggi.
“Biar saya suapi,” lanjut Maria yang tidak sungkan untuk menyuapi Nayra.
“Tidak usah, Tante. Biar saya saja sendiri. Ini terlalu merepotkan,” tolaknya.
“Tidak apa-apa. Saya di sini juga untuk merawatmu juga. Dari dulu saya ingin memiliki anak perempuan, tapi sayang, saya sudah tidak bisa mengandung.” Maria mencurahkan isi hatinya.
Satu suapan bubur masuk ke dalam mulut Nayra. Nayra memakannya sembari tersenyum. Ia tidak pernah mendapatkan perlakuan manja dari seorang ibu. Jadi ia merasa bahagia diperlakukan seperti anak sendiri oleh Maria.
“Kau ini cantik, sayang sekali kalau harus mengakhiri hidupmu dengan percuma. Ada banyak orang yang menginginkan anak, Nayra. Namun di luar sana juga ada banyak anak yang terlantar karena kelalaian orang tua. Tuhan punya rencana masing-masing untuk semua orang. Menguatkan dengan cara-Nya yang begitu menakjubkan.”
“Adanya saya di sini, adanya Dave yang membantumu, bisa jadi karena Tuhan ingin menunjukkan padamu kalau ada banyak cinta di bumi ini.”
Nayra mengangguk. Ia kehilangan sang kekasih. Namun langsung diberi ganti oleh orang-orang baik.
“Kalau nanti sudah sembuh, jangan sungkan untuk menghubungiku atau Dave. Kau juga bisa menganggapku sebagai ibumu.” Maria memberi suapan bubur ke sekian kalinya.
Nayra terharu dengan ucapan lembut Maria. Tidak sengaja air matanya keluar begitu saja. Ini bukan air mata penuh lara, tetapi air mata bahagia.
“Hei, kenapa kau menangis? Apa buburnya tidak enak?” tanya Maria yang bingung mengapa Nayra menangis.
“Buburnya enak, apalagi disuapi oleh orang baik sepertimu. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.”
Maria ikut terenyuh, ia mengembangkan senyum. “Saya sekarang adalah ibumu, Nayra. Kau bisa memanggilku mamah atau mommy, senyamanmu saja.”
“Iya, Mah.”
Nayra kembali melahap sarapannya. Mereka berdua saling berbagi cerita. Banyak sekali kesamaan di antara keduanya. Yang menyukai makanan pedas dan suka dengan alam. Kecocokan itu menciptakan kemistri di antara keduanya.
Apakah setelah ini hidup Nayra akan lebih berharga lagi? Atau kebahagiaan ini hanya sementara layaknya pelangi?