Sore hari, waktunya Nayra membersihkan tubuhnya yang sudah 3 hari tidak mandi. Dirinya berjalan menuju kamar mandi ruang rawatnya sendiri. Dengan bertumpu tiang cairan infus. Dengan berhati-hati ia memasuki kamar mandi.
Nayra tidak mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya. Hanya mengelap dengan handuk kecil yang disediakan. Dengan tenang, ia menggunakan handuk kecil itu yang sudah terendam air menyentuh bagian tubuh Nayra.
Kebetulan ibunda Dave sedang pulang untuk berganti pakaian dan Dave belum ada tanda-tanda untuk kembali. Nayra hari ini merasa bersyukur. Patah hatinya kini tidak lagi menguasai emosinya. Ia bisa menenangkan diri dengan energi positif yang ada di sekitar.
***
Dave yang sudah selesai meeting berniat untuk langsung pulang. Ponselnya yang ada di saku bergetar, tanda panggilan masuk.
“Halo, Mah, ada apa? Aku sudah selesai meeting. Ini akan segera pulang,” ucap Dave.
“Kau langsung ke rumah sakit saja. Mamah akan membawakan baju untukmu. Jadi nanti kau mandi di rumah sakit,” tutur Maria.
Dave tidak bisa membantah sang ibu. Ia mengiyakan saja. Lalu mengakhiri telepon dengan salam. Dave berjalan menuju parkiran mobil. Ia teringat dengan wajah ayu Nayra.
“Gadis itu manis juga,” gumamnya sembari membayangkan wajah Nayra.
Dave menggelengkan kepala. “Astaga, apa yang aku pikirkan. Dia masih berumur 18 tahun. Aku tidak boleh jatuh ke dalam pesonanya.”
Dave adalah pemimpin perusahaan ayahnya yang telah meninggal. Ia memiliki kharisma yang tinggi. Banyak wanita yang mengidam-idamkan Dave. Laki-laki baik, lembut, dan tidak sombong. Ia lebih sering menggunakan waktunya di kantor atau menikmati waktu sendiri dengan kopi hitam yang bertempat di kedai dekat taman kota.
Dave kurang tertarik dengan dunia malam, yang biasanya banyak laki-laki menghabiskan waktunya di sana dengan bermain bersama wanita-wanita bertubuh seksi. Bahkan Dave terlalu serius menjalani hidup sampai ia tidak memiliki waktu untuk menjalin kisah asmara. Di usianya yang berkepala dua, Dave tidak memiliki waktu untuk sekedar menjalani sebuah hubungan. Padahal tidak akan ada wanita yang menolak seorang Dave. Fisiknya saja bak dewa Yunani.
Terakhir kali Dave menjalin hubungan yaitu di masa SMA. Ia menjalin hubungan dengan sekretaris OSIS. Di mana dirinya saat itu juga menjabat sebagai ketua OSIS. Sampai saat ini, hati Dave seolah beku. Tidak pernah lagi ia merasakan sebuah perasaan yang membuat ia tersenyum sendiri. Bukan karena Dave tidak bisa melupakan masa lalunya. Akan tetapi, dia sudah tidak bisa main-main semenjak ayahnya meninggal. Menggantikan peran sang ayah, dengan memikul beban menjadi anak satu-satunya.
Menggunakan mobil, Dave pergi menuju rumah sakit. Rumah sakit yang tidak pernah sepi itu begitu sibuk. Mulai dari staf kesehatan, pasien, dan keluarga pasien yang menunggu. Kaki Dave sampai di ruang rawat VIP. Ia masuk dan tidak melihat keberadaan Nayra di brankar.
“Di mana dia?” Mata Dave langsung menuju pada jendela yang terbuka. Pikiran Dave berkecamuk seketika. Semalam saja Nayra nekat melepaskan jarum infus. Dia tidak bunuh diri dengan melompat dari jendela ‘kan?
Dengan bergegas Dave melihat ke bawah jendela, ia bernapas lega. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Hatinya yang khawatir membuat Dave bertindak gegabah. Ia melihat ke arah kamar mandi. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Di sana ia melihat Nayra yang tengah mengelap tangannya.
Sontak Nayra berteriak. “Kyaaa! Apa yang kau lakukan? Aku sedang membersihkan tubuhku!”
Dave terperanjat. Ia sungguh tidak berniat untuk mengintip atau melakukan apa pun yang berbau m***m. “M-maaf, aku tidak tahu kau sedang ada di dalam kamar mandi.” Dave langsung menutup pintunya dengan keras.
Astaga, apa yang barusan Dave lihat membuat jantungnya berdegup kencang. Ia pun menggelengkan kepalanya berkali-kali, berharap ia segera melupakan apa yang telah ia lihat.
“Dave, kau jangan mengintip! Awas saja, nanti akan aku sembelih dirimu!” ancam Nayra yang begitu dongkol.
“Ck, saya tidak mengintip! Tadi saya hanya memeriksa apakah di kamar mandi ada orang atau tidak,” balas Dave yang wajahnya memerah.
Nayra yang ada di dalam kamar mandi pun begitu malu. Wajahnya tak kalah merah dengan kepiting rebus. Ia merutuki diri yang tidak mengunci pintu kamar mandi. “Bodoh sekali diriku.”
Nayra sebenarnya sudah selesai membersihkan badannya. Tadi dia sedang mengeringkan saja. Nayra jadi malu untuk keluar dan bersitatap dengan Dave. Tubuh Nayra pun merasa dingin. Ia sudah terlalu lama di dalam kamar mandi.
“Apa yang harus aku lakukan nanti?” tanyanya sendiri.
Terdengar suara Maria yang membuka pintu dan bertanya pada Dave mengapa berdiri di depan pintu kamar mandi. Maria juga menanyakan keberadaan Nayra.
“Aduh, Tante Maria sudah kembali. Bagaimana ini?” Nayra menggigit kuku tangannya.
Tok tok tok!
Pintu kamar mandi diketuk. “Nayra, apa kau sudah selesai membersihkan tubuhmu? Atau perlu saya bantu?” tanya Maria.
Nayra menghela napas. “Aku sudah selesai, Mah.”
Mau tidak mau, Nayra harus keluar. Ia sudah mengancingkan semua kancing bajunya. Ia membuka pintu kamar mandi perlahan. Wajah Nayra tampak lebih segar. Dengan kedua pipi yang bersemu merah.
Maria memperhatikan wajah Nayra, kemudian beralih pada wajah Dave. “Kenapa pipi kalian berdua memerah? Apa terjadi sesuatu saat mamah keluar hm?”
Nayra dan Dave bertukar pandang, kemudian mereka saling membuang wajah. Dave pun bersuara. “Tidak ada apa-apa, Mah. Wajahku memerah karena aku berlari dari parkiran sampai ke sini. Kalau Nayra ... mungkin karena dia sedang sakit dan memaksakan untuk melakukan apa-apa sendiri.”
‘Alasan yang cukup masuk akal,' sambung Dave dalam hati. Ia merapatkan bibirnya dan tidak berani untuk menatap mata sang ibunda.
Maria tersenyum misterius, ia tahu anaknya sedang berbohong. Namun tak apalah. Biar yang terjadi menjadi rahasia mereka berdua.
“Oh, kalau begitu bantu Nayra ke brankar, Dave,” perintah Maria.
Nayra mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk. “Aku bisa sendiri, Mah.”
Dave mengerutkan kening. Ia tidak salah dengar ‘kan Nayra memanggil ibunya dengan sebutan ‘Mah’. Apa wanita dalam satu hari memang bisa langsung akrab dan dekat?
“Tidak, Nayra. Lihat, wajahmu memerah. Itu pasti tidak baik-baik saja. Dave, cepat bantu Nayra.”
Dave hanya menurut. Ia memegangi kedua pundak Nayra. “Maaf,” gumamnya yang merasa tidak enak hati.
Sementara Nayra sudah panas dingin. Ingin rasanya ia berteriak dan pergi dari hadapan Dave sekarang juga. ‘Kau harus biasa saja, Nayra,' bisiknya dalam hati.
Maria tersenyum melihat Dave dan Nayra yang tampak cocok. “Seandainya mamah segera dapat menantu,” ucap Maria yang terdengar oleh Dave dan Nayra.
Dave tidak terlalu memikirkannya. Orangtua memang seperti itu. Terlalu berekspresi tinggi. Sementara Nayra sedang mengontrol ekspresinya sebiasa mungkin. Toh dirinya di sini orang asing. Mungkin Maria sedang berharap pada Dave dan kekasihnya.
“Dave, mamah sudah membawakan bajumu. Jadi besok kau bisa berangkat dari sini ke kantor.” Totebag berisi pakaian ganti Dave dan pakaian kantor diletakkan di atas sofa. “Mamah akan keluar lagi untuk beli makanan. Kau bergegaslah mandi.”
Dave berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya yang seharian hanya di kantor saja. Kepala Dave terasa segar ketika air mengguyurnya. Tidak butuh waktu lama, Dave selesai mandi.
Matanya menatap ke arah gantungan yang kosong. “Tidak ada handuk. Astaga, aku lupa.”
Satu-satunya cara untuk mengambil handuk adalah menyuruh Nayra. Namun Dave masih merasa canggung dengan kejadian yang telah berlalu tadi. Rasa gengsinya ia kalahkan. Dave pun berteriak dari dalam kamar mandi.
“Nayra, bisakah kau ambilkan saya handuk? Saya lupa membawanya.”
Nayra yang tengah melamun terhenyak. “Apa dia sedang modus?”
“Saya benar-benar lupa,” lanjut Dave dari dalam kamar mandi.
Nayra menarik napas panjang. “Iya akan aku ambilkan,” sahutnya lalu turun dari brankar.
Pintu kamar mandi Nayra ketuk. Ia memalingkan wajahnya seraya mengulurkan handuk. “Terima kasih,” ucap Dave lalu menutup pintu.
Nayra sempat menahan napas. Kemudian ia bisa bernapas dengan lega. Manik Nayra menangkap tote bag berisi baju ganti Dave.
“Apa dia sudah membawa baju gantinya?”
Pintu kamar mandi terbuka. Nayra yang masih berdiri di depan pintu pun menoleh. Dave dalam keadaan toples, d**a bidangnya terekspos jelas.
Nayra sontak menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Hei, apa yang kau lakukan, Dave? Kau belum memakai bajumu.”
“S-saya lupa membawanya.” Dengan cekatan, Dave mengambil tote bag tersebut. Kemudian kembali masuk ke dalam bilik kamar mandi.
“Gila, gila, gila,” ucap Nayra yang masih menutup wajahnya.
“Siapa yang gila, Nayra?” Maria memasuki ruangan. “Kenapa kamu berdiri di situ?”
Nayra membuka matanya, ia menatap Maria dengan terkejut. “Oh, tadi Dave meminta tolong untuk diambilkan handuk, Mah.”
Maria tersenyum, ia menangkap basah Nayra yang semakin bersemu. “Dave tidak berbuat gila ‘kan?”
Nayra menggelengkan kepala sebagai jawaban. Ia sedang berusaha menutupi rasa malunya.
“Yah sayang sekali,” gumam Maria.
Nayra melebarkan irisnya. Kenapa Maria kecewa anaknya tidak melakukan hal gila padanya? Pikiran Nayra langsung menuju ke arah negatif. Apa Maria dan Dave orang jahat?