Canggung, itulah yang dirasakan oleh kedua insan yang ada di dalam ruangan. Detik jam menjadi backsound di antara mereka. Tak saling tatap, saling menghindari kontak mata. Bayangan yang terjadi di sore hari masih melekat di kepala.
Jam sudah semakin larut. Nayra belum bisa memejamkan mata. Ia begitu terganggu dengan bayangan itu. Kepalanya menjadi begitu pusing.
“Kau susah tidur?” tanya Dave yang sedari tadi melihat Nayra gelisah di atas brankar.
Tubuh Nayra menegang, ia kemudian menarik napas panjang. “I-iya, mungkin insomnia ku kambuh.”
“Apa yang sedang kau pikirkan sampai tidak bisa tidur?” tanya Dave yang seolah tahu Nayra sedang pusing memikirkan kejadian yang membuatnya setengah mati menahan malu.
Nayra mencoba untuk memberanikan diri menatap Dave. Namun bayangan saat ia tidak sengaja melihat d**a bidang Dave mengusik pikiran.
“Kau masih memikirkan yang terjadi tadi sore, ya?” tebak Dave tepat sasaran. “Saya minta maaf kalau itu sangat mengganggu isi kepalamu. Apa saya harus keluar agar kau bisa tidur?”
Nayra terdiam. Ia ingin Dave di sini saja menemani dirinya tidur. Hatinya berteriak saat Dave mulai berbalik badan.
Tangan Nayra menahan lengan Dave. “T-tidak usah keluar. Aku akan lebih susah untuk tidur. Kau temani aku tidur saja seperti kemarin. Aku tidak sedang memikirkan hal sore tadi. Aku sudah melupakannya.”
Tangan Nayra yang menyentuh kulit Dave memberikan sensasi yang aneh pada diri Dave. Selama ini tidak ada wanita yang berani terang-terangan untuk menyentuh Dave. Kebanyakan dari mereka hanya mengagumi dari kejauhan.
Dave melirik tangan Nayra yang masih menahan lengannya. Nayra yang melihat Dave tidak suka dipegang olehnya pun menarik tangannya kembali seraya menggumamkan kata maaf.
“Baiklah saya tidak akan keluar.” Dave menarik kursi untuk duduk di samping brankar.
“Apa kau tahu kapan aku bisa keluar dari rumah sakit? Aku rasa tidak ada lagi yang perlu ditangani dengan serius.”
“Kalau kau sudah sehat 100% kau bisa keluar dari rumah sakit. Kau saja masih pemulihan. Lukamu belum kering.”
“Untuk luka ini aku bisa merawatnya sendiri.”
“Apa kau bisa mengganti perban sendiri? Menjaga lukamu agar tidak terkena air?”
Nayra diam seribu bahasa. Dave pun kembali bersuara. “Kau tidak berpikir untuk bunuh diri lagi ‘kan?”
“Hah?” Mulut Nayra terbuka menganga. Ia saja tidak berpikir lagi untuk mengakhiri hidupnya. Ia hanya memikirkan bagaimana ia bisa hidup normal jika di rumahnya tidak ada siapa pun. Dirinya akan merasa kesepian.
“Apa kau di rumah sendirian?”
Nayra mengangguk. “Ayahku bekerja di luar kota dan tidak pernah kembali. Aku di rumah sendirian karena tidak memiliki saudara. Memangnya kenapa?”
“Kalau hidup sendirian akan lebih membahayakan dirimu. Apalagi kau perempuan. Kejahatan akan sangat rawan. Bagaimana untuk sementara waktu, kalau kau berkenan tinggal saja di rumahku bersama ibuku.” Dave memberi saran untuk kebaikan Nayra. Tidak untuk maksud lainnya.
“Tidak, aku sudah biasa hidup sendiri. Aku akan lebih merepotkan dirimu dan ibumu. Aku akan semakin tidak enak hati,” tolak Nayra. Ia sudah biasa hidup sendiri. Itu pun tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
“Saya hanya memberi tawaran saja. Kalau tidak mau, saya tidak akan memaksa.”
“Terima kasih atas tawarannya. Kebaikanmu tidak akan aku lupakan. Aku janji suatu hari nanti akan membalasnya,” ucap Nayra bersungguh-sungguh.
“Saya melakukan tanggung jawab yang harus saya lakukan sebagaimana mestinya.” Dave tersenyum pada Nayra.
Jantung Nayra berdebar dua kali lebih kencang. Senyuman Dave memang candu sekali. Ia tidak pernah bertemu dengan lelaki tampan yang baik. Rata-rata laki-laki tampan itu sombong dan seenaknya sendiri.
“Tidurlah, mimpi indah.” Tangan Dave terulur untuk mengelus rambut Nayra. Dave bahkan melakukannya spontan. Tidak ia rencanakan sama sekali. Dave pun bingung mengapa dirinya melakukan hal tersebut.
Tidak lama, napas Nayra mulai teratur dengan mata terpejam. Cepat sekali ia tertidur. Ucapan Dave seolah mantra penghantar tidur.
Melihat Nayra yang tertidur, sudut bibir Dave naik ke atas. Dirinya tersenyum, entah karena apa. Dave pun menggelengkan kepalanya. “Ada apa dengan diriku?”
***
Pagi hari, ruangan Nayra begitu heboh karena kedatangan Cici dan Felix. Mereka baru mengetahui kabar Nayra yang dirawat di rumah sakit dari guru.
“Ya ampun Nayra, bagaimana bisa kau tertabrak? Mana orang yang menabrakmu? Akan aku beri pelajaran.” Cici mengepalkan tangannya seraya meninju ke udara.
“Kenapa kau bisa tertabrak? Kau tidak menabrakkan diri ‘kan?” tanya Felix.
Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Dave yang sudah rapi dengan kemeja kantornya. Juga rambut yang masih basah.
Cici yang melihat Dave langsung terpana dengan pesona Dave. Kedua mata Cici pun berbinar. Ia yang tadi menggebu-gebu ingin memukul pelaku yang menabrak sahabatnya malah terkesima.
“Tampan sekali,” gumam Cici.
“Tadi saya dengar ada yang mau memberi saya pelajaran? Saya yang tidak sengaja menabrak Nayra,” ucap Dave berjalan mendekat.
Felix menatap tidak suka pada Dave. Ia merasa ketampanannya tersaingi oleh laki-laki dewasa itu. Felix pun mendorong Cici. “Pukul sana,” perintahnya.
“Hah? Kalau pelakunya seperti dia, aku juga ingin ditabrak,” bisik Cici yang setengah gila.
Cici kemudian memasang senyum manis. “Hai, Kak. Aku Cici, temannya Nayra.”
Felix berdecih, dasar wanita. Melihat yang tampan saja langsung meleleh.
“Maaf sebelumnya saya telah menabrak teman kalian. Tenang saja, saya bertanggung jawab dengan semua yang terjadi,” ucap Dave.
“Tampan dan bijak,” puji Cici yang masih tenggelam dalam pesona Dave.
“Ya, setelah ini saya yang akan merawat Nayra. Kau sepertinya juga mau bekerja ‘kan? Urus saja pekerjaanmu,” ucap Felix menatap Dave dengan tatapan tidak bersahabat.
“Saya memang harus bekerja. Kau bukannya harus sekolah, ya? Ibu saya yang akan menemani Nayra setelah ini,” balas Dave.
Pintu ruangan Nayra diketuk. Seorang suster datang membawa sarapan untuk Nayra. Felix yang menerima nampan berisi bubur itu.
“Biar saya saja yang menyuapi dia. Terima kasih, Suster.” Felix menaruh nampan tersebut di atas nakas. Ia mengambil mangkuk berisi bubur.
“Sebentar lagi jam masuk sekolah. Lebih baik kalian kembali ke sekolah saja. Biar saya yang menyuapi Nayra.” Dave mengambil alih mangkuk berisi bubur tersebut.
Alis Felix bertaut. “Kau juga harus bekerja ‘kan, kau saja yang pergi. Saya mau menemani Nayra.” Felix berusaha untuk mengambil kembali mangkuk yang ada di tangan Dave.
“Saya pemilik perusahaannya. Terserah saya mau berangkat jam berapa.”
Dave dan Felix saling berebut untuk sekedar menyuapi Nayra. Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya.
“Haish, Nayra akan kelaparan kalau kalian terus berebut. Biar aku saja yang menyuapi sahabatku.” Cici dengan gampangnya mengambil mangkuk yang ada di tangan Dave. Ia kemudian menyuapi Nayra.
“Pagi-pagi sudah direbutkan oleh laki-laki tampan. Kau beruntung, Nay,” bisik Cici.
Nayra tidak menggubris ucapan Cici. Ada-ada saja pikiran Cici itu. Nayra pun heran mengapa Dave bersikukuh untuk menyuapi dirinya. Biasanya saja tidak apa-apa jika dirinya tidak disuapi oleh Dave.
“Dave, kau harus ke kantor ‘kan? Biar teman-temanku saja yang menjagaku kali ini. Aku juga butuh mereka untuk bercerita,” ucap Nayra pada Dave.
Felix tersenyum puas. “Sana pergilah,” tambah Felix.
Nayra melototi Felix yang menyebalkan. Tidak di rumah sakit atau di sekolah. Dia selalu saja berulah.
“Baiklah, saya akan berangkat sekarang juga. Lekas sembuh, Nayra.” Dave mengelus rambut Nayra, seolah sudah terbiasa dengan rutinitas itu.
Sedangkan Felix menatap tajam Dave yang melakukan hal tersebut. Rupanya laki-laki itu sudah bergerak cukup jauh mendekati Nayra.
Dave menghilang dari balik pintu. Setelahnya, Cici kembali heboh dengan seputar pertanyaan mengenai Dave.
“Kau bertemu di mana laki-laki setampan itu, Nay? Apa yang telah kau lakukan hingga bisa bertemu dia? Aku juga ingin sepertimu,” seloroh Cici.
“Gila,” cibir Felix.
Nayra menatap Felix. Ia jadi teringat dengan mantan kekasihnya yang telah menikah dengan wanita lain. “Apa kau datang ke pernikahan dia?” tanya Nayra yang penasaran.
Felix yang tahu arah pembicaraan Nayra pun menghela napas panjang. Ia tidak mau membuat Nayra bersedih. Di sini dirinya ingin menghibur Nayra, bukan sebaliknya.
“Ceritakan saja, Felix. Apa dia telah bahagia dengan wanitanya?” Bola mata Nayra berkaca-kaca. Membuat Felix semakin yakin untuk menceritakan hal sebenarnya.