Mencari Ponsel-ponsel yang Hilang

2208 Words
Matahari condong ke arah barat. Sore menjelang. Suhu udara di sekitar perkebunan mulai terasa dingin, ditambah lagi dengan angin kemarau yang kadang bertiup kencang. Lima jam sudah acara reuni berlangsung, alih-alih membahagiakan, satu di antara mereka justru tewas secara mengenaskan. Belum ada yang berani berspekulasi mengenai sebab kematian Desi. Mereka menahan diri untuk tidak berkomentar, hanya berani menduga-duga dalam hati masing-masing. Apa pun penyebabnya, yang pasti akan membuat mereka berurusan dengan penegak hukum, terutama Risma, pemilik vila. Risma terlihat paling marah atas menghilangnya ponsel-ponsel mereka dan kempesnya ban mobil Desi. Secara terang-terangan ia mengemukakan kecurigaannya bahwa ada keterlibatan manusia di balik rentetan peristiwa tragis ini. Risma meluapkan kekesalan dengan menedang ban depan mobil berkali-kali. Hendi dan Nando membiarkannya, hanya Faizin yang berusaha menenangkannya. "Sudahlah, Ris!" Faizin menepuk-nepuk punggung Risma pelan. "Lebih baik kita pikirkan cara lain untuk menghubungi polisi." Dengan kondisi tubuh yang mulai kelelahan, Risma terus menendang-nendang ban mobil. Semakin lama gerakannya semakin melemah. "Nanti juga berhenti sendiri," ujar Hendi lirih, melihat keringat membasahi baju Risma. Akhirnya Risma kelelahan, tidak sanggup lagi menendang-nendang ban mobil di depannya. Satu tendangan terakhir mendarat lemah. Ia pun terduduk lemas. Air matanya mengalir, tanpa isak tangis. Faizin mendekati Risma. Ia berjongkok. Direngkuhnya gadis itu. Hendi dan Nando membisu, melihat pemandangan itu. "Kita duduk di dalam saja, yuk?" bujuk Faizin. Risma mengangguk lemah. Diseka air matanya menggunakan ibu jari. Ia berusaha bangkit, namun karena kelelahan, badannya limbung. Beruntung, Faizin dengan sigap menangkapnya sebelum terjatuh. "Do, tolong bantu bawa Risma ke dalam!" suruh Faizin. Nando segera memapah Risma ke dalam vila. Hendi dan Faizin mengekor. Mereka berjalan dalam diam. Nando mendudukkan Risma di sofa ruang tamu. Selepasnya, ia langsung ke dapur, berinisiatif mengambilkan air minum. Sedangkan Hendi duduk sambil menekuk lutut di lantai. Wajahnya menunjukkan kegelisahan. Nando kembali dari dapur, membawa empat air mineral kemasan botol. Dua ia berikan kepada Faizin, satu ia minum, dan satunya ia letakkan ke atas meja. Faizin menyodorkan botol ke Risma. "Minumlah, kita butuh cairan!" Meski malas, Risma tetap menerima botol dari Faizin. Dibukanya penutupnya dengan emosi meluap-luap, lantas menenggaknya kasar. Air bertumpahan, membasahi baju dan menciprat ke lantai, hanya sedikit yang masuk ke dalam mulutnya. Faizin meneguk sepertiga air mineral di tangannya. Sisanya dalam botol ia letakkan ke atas meja. "Minum dulu, Hen!" suruh Faizin kepada Hendi. Hendi mengangguk tanpa menoleh kepada Faizin. Ia melirik sekilas air minum jatahnya, sebelum akhirnya kembali hanyut dalam pikirannya. "Biar saja, Pak!" ujar Nando kepada Faizin. "Hendi nggak haus. Ia nggak melakukan apa-apa. Keringatnya belum keluar setetes pun!" Hendi melirik Nando sebal. Faizin berusaha mencegah terjadinya keributan. "Sudah-sudah, yang mau minum silakan. Yang enggak mau, juga nggak papa." "Kenapa bisa empat ban kempes bersamaan?" Risma bertanya kepada dirinya sendiri. Ia melirik satu per satu para tamunya. "Aku nggak habis pikir kenapa bisa begitu. Kalian ada yang tahu jawabannya?" Faizin melirik Nando. "Waktu perjalanan kemari, adakah sesuatu yang aneh? Maksud bapak, jika ban-ban itu sudah kempes sebelumnya, pasti kamu dan Desi bisa merasakannya." Nando menggeleng. "Desi orang yang perfeksionis. Jangankan tekanan angin ban, tutup pentilnya saja ia pastikan dalam posisi kencang. Tadi kami sempat mengisi bensin. Di SPBU kan ada jasa isi nitrogen. Setelah dicek ternyata tekanan angin bannya masih standar." Risma menimpali. "Menurut pengalamanku, dalam perjalanan jauh semua ban tekanan anginnya bisa berkurang secara bersamaan, itu pun enggak signifikan. Angin bisa habis seketika hanya ketika ada masalah saja, ketusuk paku misalnya. Tapi nggak mungkin empat ban kempes secara bersamaan ketika posisi berhenti!" "Benar!" timpal Nando. "Keempat ban itu semuanya kehabisan angin. Kasus seperti itu jarang terjadi." Risma tertawa sumbang. "Ternyata, nggak cuman ponsel saja yang bisa kompakan menghilang. Angin-angin ban mobil Desi juga! Hahahaha!" "Nggak lucu, Ris!" hardik Hendi. Risma terpancing emosi. Jari telunjuk tangannya teracung lurus ke muka Hendi. "Tadi Pak Faizin mendapati kamu berada di sekitar mobil, ngapain kamu di sana?" Muka Hendi memerah, mendadak salah tingkah. "A-aku cu-cuman cari angin saja kok!" Risma tertawa sinis. "Yang kamu maksud 'angin' itu angin ban?" Hendi geram. "Jangan menuduh yang enggak-enggak!" "Siapa yang menuduh?" elak Risma diplomatis. "Aku cuman nanya apa yang kamu lakukan di sana. Jangan baper ya, atau memang kamu merasa?" "Merasa apa? Ucapanmu itu sama saja menuduh!" Faizin mengangkat kedua tangan ke udara, memberi isyarat agar Risma dan Hendi berhenti adu mulut. Hendi masih tidak terima. Ia memandang orang-orang di sekelilingnya secara bergantian. "Apa ada yang melihat aku melakukan sesuatu pada mobil itu?" Faizin angkat bicara. "Waktu menuruni undak-undakan, bapak sempat mendengar desis angin. Terus bapak mendekat ke mobil karena sepertinya sumber suaranya dari sana, tapi mendadak suara itu berhenti dan enggak kedengaran lagi setelahnya." "Tapi bapak enggak melihat aku melakukan sesuatu bukan?" Hendi bertanya kepada Faizin. Faizin menggeleng. Hendi tersenyum penuh kemenangan. Ia melirik Risma sinis. "Tuh, Pak Faizin yang ada di dekat mobil saja nggak melihat aku melakukan sesuatu pada mobil. Kebetulan saja beliau mendapati aku ada di sana." Nando mencibir Hendi. "Lagi pula siapa yang menuduhmu melakukan sesuatu pada mobil? Nggak usah tersinggung kalau nggak melakukannya." Faizin mendengus kesal. "Tolong semuanya jangan berdebat. Kita harus mencari cara untuk menghubungi polisi. Sekarang sudah sore." "Ris!" panggil Nando. Risma menoleh kepada Nando. "Apa ada angkutan umum lewat sini?" Risma menggeleng. "Daerah ini jauh dari permukiman. Kalau kita mau menuju ke sana harus jalan kaki lebih dari sepuluh kilometer." "Kamu nggak ada kendaraan?" tanya Nando. Risma menggeleng. Nando mendesah tertahan. "Kalau jalan kaki, sampai permukiman pasti sudah gelap. Lagi pula jarak segitu sangat melelahkan." Risma mengeluh. "Aku nggak sanggup buat jalan kaki sejauh itu " "Aku juga," ujar Hendi. Nando mendelik kepada Hendi. "Kamu kaum lemah, nggak bisa diandalkan!" Sebal karena selalu diejek Nando, membuat kesabaran Hendi habis. Namun untuk membalas secara fisik ia tidak berani. Yang bisa ia lakukan adalah dengan mencari-cari kesalahan anak itu. Ia berpikir keras, mengingat-ingat kronologi kejadian sejak pagi. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Do, tadi pagi waktu kamu ke mobil, apa yang kamu lakukan di sana?" selidik Hendi kepada Nando. "Aku ambil barang yang ketinggalan di mobil," jawab Nando tenang. "Barang apa?" desak Hendi. "Apa itu penting? Apa aku harus mengatakannya? Denger ya, Hen. Mengambil barang di dasbor itu nggak akan berpengaruh apa-apa sama ban mobil." "Cuman mengambil barang?" Hendi terus menyelidik. "Iya!" jawab Nando tegas "Tapi kenapa lama?" Hendi menunjuk ke arah mobil. "Jarak dari mobil itu ke sini, pulang-pergi, aku perkirakan sekitar sepuluh meter. Kalau ditempuh dengan jalan santai paling lama empat menit. Tapi tadi kamu lama, banget hampir sepuluh menitan." Nando berusaha bersikap tenang meskipun tahu Hendi sedang menyerangnya. "Aku sengaja berlama-lama di sana." "Kenapa?" Hendi semakin memojokkan Nando. "Malas saja membahas soal kasus dua tahun lalu." "Kenapa malas?" Ketenangan Nando mulai terusik. Ia mulai kesal. "Ngapain membahas hal nggak penting seperti itu? Aku yang paling dirugikan, difitnah, sampai dibuang dari keluarga saja cuman menganggapnya masa lalu. Terus kenapa kalian harus repot membukanya kembali, sampai ngadain reuni segala?" Risma teringat sesuatu. "Desi bilang kamu memaksa, maksudku mendesak dia terus-menerus buat hadir di acara ini. Apa bener begitu?" Nando diam. "Jawab saja, Do!" Hendi merasa puas, melihat Nando terpojok. Nando menunduk. "Kalau tahu Desi bakal bernasib begitu, aku pasti nggak akan mendesaknya ikut acara ini." "Itu belum menjawab pertanyaan Risma!" celetuk Hendi, meminjam gaya bahasa Faizin. Nando menarik napas panjang. "Desi mengaku kesal, kamu memaksa ia datang tapi sampai di sini kamu malah nggak antusias gitu," gerutu Risma. "Kalau Desi nggak datang, aku nggak ada barengannya. Aku nggak punya uang buat ongkos pulang-pergi." Nando menjawab lirih, suaranya nyaris tidak terdengar. Hendi tersenyum kecut. "Hanya soal ongkos sampai maksa-maksa orang lain?" Kesabaran Nando habis. "Buat kamu mungkin uang lima puluh ribu itu sedikit. Buatku banyak karena nggak punya. Apa kalian lupa, kalau aku sudah dibuang keluarga besar Arya? Bahkan papiku mati pun, cuman aku yang nggak dapet warisan! Aku ini sampah!" Mendengar ucapan Nando, membuat Risma merasa miris. Ia ingin menepuk bahu lelaki itu, sayang situasinya tidak tepat. Hendi terus memojokkan Nando. "Saat kamu bilang mau ke kamar mandi, keadaanmu saat itu lagi marah sama Desi karena lancang menceritakan kehidupanmu ke anak-anak lain. Nggak lama kemudian Desi...." "Hendi!" hardik Faizin. Sejak pagi, baru kali ini Faizin tampak marah. Hendi diam. Nando memandang marah kepada Hendi. Yang dipandang hanya melengos. "Ayolah, pikirkan cara menghubungi polisi!" Faizin menaikkan nada bicara. Semua mendadak diam, larut dalam pikirannya masing-masing. Waktu terus berjalan. Semakin lama jasad Desi semakin membusuk. Mereka juga ingin kasus ini segera ditangani pihak yang berwenang, kecuali salah satu di antara mereka yang sudah merasa rencananya berhasil sejauh ini. "Perkebunan ini milik kamu, kan?" tanya Faizin kepada Risma. Risma mengangguk. "Iya, punya kakak saya." Melalui kaca jendela depan, pandangan Faizin beredar ke area perkebunan. Dalam diam Hendi dan Nando memikirkan hal yang sama dengan mantan pimpinannya tersebut. Faizin bertanya kepada Risma, "Bapak kok nggak melihat ada pekerja di sekitar perkebunan?" Hendi dan Nando serempak memandang Risma. Dipandang begitu, membuat Risma kikuk. "Hari ini para buruh libur. Mereka pekerja lepas, bekerja ketika dibutuhkan saja." "Kalau penjaga kebun?" tanya Faizin kembali. "Ada dua penjaga," jawab Risma. "Shift malam sudah pulang tadi jam lima pagi. Shift siang harusnya masuk tadi jam satu siang, tapi izin ada keperluan, katanya mau mengantar mertuanya ke rumah sakit." "Terus antara jam lima pagi sampai jam satu siang siapa yang jaga?" tanya Faizin penasaran. "Shift pagi sudah resign dua minggu lalu, sampai sekarang belum ada penggantinya. Lagi pula kalau pagi sampai siang, biasanya aman karena banyak pekerja kebun." "Jadi selain kita, nggak ada lagi orang lain lagi di sini sampai jam sembilan malam nanti?" Faizin memastikan. Risma mengangguk. Faizin mendesah panjang. Ia tampak berpikir. Nando diam, ikut berpikir. Hendi cuek. Sekarang ia baru merasa haus. Ia meminum air mineral jatahnya. Mendadak ia teringat sesuatu. "Ris, memangnya nggak ada kendaraan sama sekali di sini?" "Nggak ada," jawab Risma. "Kan aku sudah bilang kalau aku ke sininya diantar kakakku." "Rumit!" seru Faizin. "Tapi kita harus terus mencari cara buat lapor polisi." Kembali semua diam selama hampir dua menit, sampai akhirnya Nando memecahkan kesunyian. "Aku mau kok jalan kaki menuju permukiman." "Kita sudah sepakat buat selalu bersama!" Faizin mengingatkan. Nando mengedikkan bahu. Lagi pula, ia merasa ragu untuk melakukan itu. "Terus kita hanya diam saja, begitu?" tanya Hendi. "Kita sedang berpikir!" hardik Nando. "Sampai kapan?" desak Hendi. Ia melirik jam dinding. "Sekarang hampir setengah empat sore. Kita harus melakukan sesuatu. Kalau menunggu penjaga datang, jasad Desi semakin membusuk!" "Sambil menunggu penjaga, bagaimana kalau kita cari ponsel-ponsel itu di sekitar vila?" Risma memberi usulan. "Setuju!" sahut Hendi antusias. "Kita bagi menjadi dua tim. Satu tim mencari di dalam vila, tim lainnya di luar." Risma menggeleng, tidak sepakat. "Kita jangan terpisah. Jadi kita telusuri semua ruangan dan area sekitar vila bersama-sama." Hendi merasa heran. "Kenapa harus bersama-sama? Bukannya kalau dibagi menjadi dua tim akan menghemat waktu?" Risma menyanggah. "Sama saja, toh kalau enggak ditemukan kita tetap menunggu penjaga datang!" "Belum dicari sudah pesimis!" gerutu Hendi. "Lagi pula aku masih nggak habis pikir kenapa kita harus selalu bersama." Risma kesal. "Ponsel itu kemungkinan ada yang mindahin! Ban mobil itu juga kemungkinan ada yang ngempesin! Jadi biar semua sama-sama enak dan nggak saling curiga, kita harus tetap bersama dalam situasi apa pun!" Meskipun tidak sepemikiran, tapi Hendi malas beradu argumen, karena ujung-ujungnya ia yang ditegur Faizin. "Ya sudah kita bergerak sekarang!" Hendi berdiri. Faizin dan Risma ikut berdiri. Sementara Nando masih duduk dalam keadaan memikirkan sesuatu. "Kamu nggak ikut, Do?" tegur Hendi kepada Nando. Dengan malas Nando berdiri. "Kita mulai dari mana?" Faizin memberi usul, "Bagaimana kalau kita menyisir mulai dari ruangan ini terus bergerak ke belakang, baru mencari di luar vila?" "Setuju!" seru Hendi. Faizin, Risma, Hendi, dan Nando menyisir ruang depan. Semua benda yang memiliki kolong diperiksa, bila perlu digeser. Meja, kursi, vas-vas bunga, meja aquarium, dan beberapa sudut sudah mereka periksa, namun belum menemukan ponsel-ponsel yang hilang. "Mumpung masih terang, bagaimana kalau kita mulai dari luar vila? Sebentar lagi gelap. Kalau di dalam kan ada lampu," usul Nando. "Benar juga usulan Nando," ujar Faizin. "Bapak setuju." "Oke, kita cari di luar dulu!" sahut Hendi semangat. Ia tidak mau lagi dianggap tidak berguna. Mereka keluar, bersama-sama menyisir area sekitar vila. Pertama yang digeledah adalah mobil Desi. Selanjutnya mereka bergerak menyisir tepi luar bangunan dan memeriksa setiap semak-semak. Di belakang rumah ada tumpukan batu bata yang menempel kamar mandi belakang. Dengan telaten mereka membongkar dan menatanya lagi seperti semula. Pukul 16:53 wib. Mereka selesai menyisir area sekitar rumah. Sejauh ini ponsel-ponsel tersebut belum diketemukan. Giliran area dalam vila yang disisir. Ruang tamu sudah, giliran kamar Faizin. Namun di sana sama saja, mereka belum berhasil menemukan barang-barang yang dicari. "Kita minum dulu!" Hendi merasa haus. Ia mengambil semua botol dan membagi-bagikannya. Risma meneguk habis air minumnya. Ia paling terlihat kelelelahan. "Sudah?" tanya Hendi semangat. Faizin mengangguk. "Sekarang ke mana?" "Ruang tengah, baru ke kamarku," jawab Hendi bergaya seolah ia pemimpinnya. "Ayo!" Meskipun lelah, Risma bergerak duluan. Ia tidak ingin dianggap paling lemah hanya karena menjadi satu-satunya perempuan. Faizin dan Hendi mengekor Risma. Nando, masih meneguk air minumnya. Mereka menyisir ruang tengah, termasuk lemari yang tadi sudah diperiksa. Sama saja, ponsel-ponsel itu belum diketemukan. "Sekarang kamarku!" Hendi masih menunjukkan gaya kepemimpinan. "Kamarmu, kamar Nando juga!" celetuk Faizin mencoba berkelakar. "Tapi sementara saja, karena sebenarnya kamar itu berada di vila milik keluarganya Risma." Hendi tertawa, namun mendadak berhenti menyadari ada yang kurang. "Ngomong-ngomong, Nando ke mana, ya?" Sontak Faizin dan Risma mengedarkan pandangan, baru sadar kalau Nando sedang tidak bersama mereka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD