Semua Ban Kempis

1541 Words
Fakta bahwa rahibnya ponsel-ponsel yang sebelumnya dikumpulkan Risma dari lemari, menimbulkan spekulasi dalam hati masing-masing peserta reuni. Duga-menduga tidak terelakkan di hati mereka. Kenapa bisa ponsel-ponsel tersebut rahib? Apakah ada yang mengambil? Jika, iya siapa yang melakukannya? Kemudian, timbul pertanyaan lain yang cenderung menuduh, apakah benar Risma meletakkannya di lemari tersebut? "Kamu yakin ponsel-ponsel itu diletakkan di lemari ini?" tanya Nando sambil jarinya menunjuk lemari di depannya. Ia tidak bermaksud curiga, tetapi semua yang mendengar pertanyaannya menangkapnya seperti itu. Pertanyaan Nando membuat Risma tersinggung. "Aku belum pikun. Ponsel-ponsel itu aku letakan di situ beberapa jam lalu. Mana mungkin aku lupa!" "Tapi ponsel itu nggak bisa pindah sendiri. Mereka tidak mungkin berkonspirasi untuk minggat bersama-sama," ujar Hendi. Alih-alih membantu, ucapannya semakin memperkeruh suasana. Risma semakin tersinggung. Jari telunjuknya teracung lurus ke muka Hendi. Matanya melotot tajam. "Nggak lucu ya, Hen! Nggak usah nambah masalah deh!" Faizin menengahi. "Kita harus berpikir jernih. Tenangkan hati kita. Paling tidak tahan komentar-komentar yang bisa memperkeruh suasana." Hendi meremas rambut kuat-kuat. "Berpikir atau enggak, kita harus melakukan sesuatu. Kalau ponsel hilang, kita harus cari cara lain buat menghubungi polisi. Kalau kelamaan, kasihan Desi. Jasadnya akan membusuk." "Anak kecil juga tahu!" semprot Risma sudah kehilangan kesabaran. "Daripada banyak bacot, mendingan kamu tutup mulut dah!" Faizin menepuk bahu Hendi, meminta anak itu untuk tenang. Risma duduk bersila di lantai. Lututnya terasa lemas membayangkan akan kedatangan polisi. Vilanya akan dipasangi police line. Dirinya dan semua peserta reuni akan dimintai keterangan. Selanjutnya media akan memberitakan kasus ini. Belum lagi orang-orang akan membicarakannya secara simpang siur dengan menambah bumbu hoaks. Baginya sama saja apa pun penyebab kematian temannya itu, apakah karena dibunuh atau bunuh diri, sudah pasti akan menempatkannya dalam posisi sulit karena vilanya menjadi TKP. "Sebelum aku ke dapur, Desi cerita dirinya beberapa kali mendapatkan teror." Risma bercerita tanpa memandang orang-orang di sekelilingnya. Sorot matanya sayu dan sangat lelah. "Teror?" tanya Faizin. Ia duduk bersila di dekat Risma. Risma mengangguk ke arah Faizin. "Desi bilang ia tiga kali mendapat kiriman paket berisi kunci T yang dilumuri darah. Ia nggak tahu itu darah apa, karena sudah kering. Yang pasti sejak itu ia merasa sering ketakutan." Hendi terhenyak. Ia ikut nimbrung, duduk bersila menghadap Risma. "Sama, aku juga tiga kali mendapat paket seperti itu. Aku sempat memfotonya. Kalau ponsel nggak hilang, pasti sudah kutunjukkan sama kalian." Faizin mengetuk-etukan jari telunjuk ke kening, tampak berpikir. "Desi dan Hendi mendapatkan teror paket berisi kunci T. d**a Desi juga tertusuk kunci T. Bapak tidak mau berspekulasi dengan mengambil korelasi kedua kasus tersebut. Tapi, setidaknya kita harus waspada." "Waspada?" Nando mengangkat sepasang alisnya. Ia duduk bersila di sebelah Faizin. "Apa itu bisa diartikan kemungkinan ada orang lain yang terlibat atas kematian Desi? "Kasus meninggalnya Desi menjadi ranah kepolisian untuk menyelidikinya. Kita hanya harus mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi setelah ini," jawab Faizin. "Kalau kita sesegera mungkin lapor polisi, hal-hal buruk bisa dicegah lebih cepat!" ujar Nando. "Ada mobil Desi. Kita bisa melapor polisi sekarang." Risma mengangkat tangan. "Tunggu dulu!" Semua memusatkan pandangan ke arah Risma, menunggu kelanjutan ucapannya. Risma menatap satu per satu orang-orang di sekitarnya. Wajahnya lebih tegang dari sebelumnya. "Pak Faizin tadi bilang bahwa segala kemungkinan bisa terjadi. Sebelumnya beliau juga bilang meski nggak mau mengambil korelasi antara teror yang dialami Desi sama Nando dengan kasus Desi, tapi kita harus waspada." Hendi tidak sabar mendengar kalimat Risma yang menurutnya berbelit-belit. Ia ingin menyela, tapi karena tidak mau dianggap memperkeruh suasana akhirnya ia memilih diam, menunggu kelanjutan ucapan satu-satunya perempuan di ruangan ini yang masih hidupnya. "Tidak ada orang lain lagi yang berada di sekitar perkebunan teh ini. Jika Desi dibunuh, kemungkinan pelakunya ada di tempat ini!" Satu sama lain, saling berpandangan. Meskipun dalam hati mereka membenarkan analisa Risma tapi mendengar kata 'dibunuh' tetap saja ngeri. Yang lebih mencengangkan adalah kemungkinan pelakunya salah satu di antara mereka. Jika benar itu terjadi, apa motifnya? Meskipun berusaha untuk tidak bicara, tapi akhirnya Hendi tidak tahan juga. "Jangan asal ngomong, Ris! Kalo mempercayai ucapanmu, kita bisa saling tuduh!" "Aku nggak nuduh siapa pun, hanya bilang soal kemungkinan!" "Bapak paham maksud Risma." Faizin berusaha mendinginkan suasana. "Kita harus realistis tapi juga tetap bersikap bijak. Jangan menuduh satu sama lain jika tidak punya bukti." "Tapi dikhawatirkan kita saling curiga!" sela Hendi. "Jujur saja, gara-gara ucapan Risma, pasti di hati kalian timbul dugaan-dugaan!" Risma menyanggah. "Nah, maka itu, biar sama-sama enak, kita jangan terpisah. Kita lapor polisi bareng-bareng." Nando sependapat. "Itu usulan bagus. Aku setuju!' Faizin mengangguk. "Bapak juga setuju." Risma menatap Hendi. Ditatap Risma membuat Hendi merasa jengah. Ia tidak mau dianggap berbeda sikap. "Oke, setuju!" "Jadi kita lapor bareng-bareng, nih?" Risma memastikan. Faizin mengangguk. Nando menjawab lirih. "Iya." Hendi mendengus. "Kan aku sudah bilang oke!" Risma berdiri, memandang semua tamunya secara bergantian. "Kontaknya di mana?" "Sepertinya masih dibawa Desi!" duga Nando. "Tadi pagi, pas aku mau ambil barang di mobil, Desi membuka pintu dari kontak yang ia pegang." "Terus siapa yang mau ngambil?" Risma berdigik. "Aku nggak berani!" "Aku yang ambil, ngga papa." Nando menawarkan diri. Ia berdiri. Faizin berdiri, diikuti Hendi. "Kita temani Nando." Wajah Risma menegang. "Aku tunggu di sini saja!" Nando menuju kamar belakang. Faizin dan Hendi mengekornya. Sedangkan Risma hanya mematung, memandang kepergian para lelaki. Mendekati kamar belakang, bau busuk dan anyir darah menguar dan sangat menyengat. Semua menutup hidung. Sedikit berjingkat, Nando memasuki kamar. Faizin dan Hendi menunggu di ambang pintu. Nando berjongkok. Tangannya meraba kantong celana jeans Desi tanpa menyingkap selimut. Tapi ia tidak menemukan apa pun. "Gimana, ketemu nggak?" tanya Hendi dengan suara tidak begitu jelas karena menutup hidungnya menggunakan baju. Nando menggeleng. Perlahan ia menyingkap selimut yang menutupi jasad Desi sampai perut. Ada dua saku pada baju gadis nahas itu. Sedikit ragu, ia meraba saku sebelah kanan, tapi tidak ada kontak mobil di sana. "Saku sebelahnya coba!" saran Hendi. Nando ragu. Saku baju sebelah kiri Desi berlumuran darah. Selain baunya membuat perutnya terasa mual, juga sakunya tidak bisa dibuka karena kunci T menancap di sana. "Diraba saja dulu!" Hendi kembali memberi saran. Merasa kesal disuruh-suruh, Nando melirik Hendi. "Kenapa nggak kamu saja yang melakukannya?" Hendi bungkam. Nando mendengus kesal. Sambil menahan napas agar tidak muntah, ia meraba saku baju sebelah kiri Desi. Namun barang yang ia cari tidak berada di sana. "Ada, Do?" tanya Faizin. Nando berdiri. Ia menggeleng kepada Faizin. "Nggak ada, Pak!" "Mungkin di kasur!" tebak Hendi. Nando semakin kesal dengan sikap Hendi yang hanya bisa mengatur-atur. "Kamu carilah sendiri!" Hendi melengos. "Biar bapak saja!" Faizin masuk ke kamar. Ia menutup kembali bagian atas jasad Desi. Sambil menutup hidung menggunakan tangan kiri, ia mencari kontak mobil di atas kasur. Bantal, guling, dan beberapa barang ia singkirkan, tapi tidak menemukannya. Pandangan Faizin beralih ke lemari yang terbuka. Ia mendekatinya. Tangannya meraba bagian dalam lemari. Dengan telaten ia memeriksa sela-sela tumpukan baju, namun tetap saja tidak ketemu. Nando menyenggol lengan Hendi. "Berani nggak nyuruh-nyuruh Pak Faizin?" Hendi melirik kesal kepada Nando. Faizin terus menyiagakan pandangannya, menyisir setiap sudut kamar. Menurut logikanya, kontak mobil tidak akan diletakkan di tempat yang susah dijangkau. Dengan telaten dan sabar terhadap bau busuk, ia terus mencari, termasuk membuka laci meja rias. Usahanya belum membuka hasil. Satu-satunya yang belum Faizin periksa adalah sudut kamar di dekat pintu. Ketika mengarahkan pandangan ke sana, matanya berbinar, mendapati kontak mobil tergantung di kapstok baju di balik daun pintu. Faizin mengambil kontak tersebut. Dipencetnya salah satu tombol untuk memastikan. Dan terdengarlah bunyi bip dua kali dari mobil Desi yang berada di depan vila, menandakan ia mengambil benda yang benar. "Akhirnya ketemu juga!" seru Hendi. Nando melirik Hendi kesal. "Iya, tapi bukan kamu yang menemukannya!" Hendi cengar-cengir. Sejak SMK, ia tidak pernah berani membantah Nando. Faizin keluar kamar menuju mobil. Hendi dan Nando mengekor. Risma mencegat mereka. "Ketemu kontaknya?" Faizin mengacungkan kontak mobil. "Siapa yang mau nyetir? Bapak sudah lama tidak mengendarai mobil. " "Aku nggak bisa menyetir!" ujar Hendi bercanda. "Kamu bisanya apa?" Nando menatap kesal Hendi. "Nggak bisa diandalkan!" Hendi mendengus sebal, sejak tadi diremehkan Nando. Itu bukan Nando seperti yang pernah ia kenal dulu. Ia menduga semua karena Nando belum memaafkannya. "Aku saja yang nyetir." Risma menawarkan diri. Ia meminta kontak pada Faizin. Faizin memberikan kontak kepada Risma. "Bapak mau ambil barang dulu di kamar." Risma mencegah. "Sebaiknya tinggal dulu barang kita. Jangan ada yang membawa sesuatu." "Baiklah." Faizin menurut. "Ayo kita berangkat sekarang sebelum sore." "Kenapa kita nggak boleh bawa barang?" gugat Hendi. "Buat apa?" Risma balik bertanya. "Toh kita akan balik ke sini lagi." "Ngak papa sih, cuman kesannya kamu nggak mempercayai kita semua." Hendi menggerutu. "Kalau kamu nggak bersalah, pasti nggak akan gelisah!" Risma menatap tajam Hendi. Hendi merasa terpojok. "Kalau berdebat terus, kita nggak berangkat-berangkat!" Nando menegur. Ia melangkah keluar vila. Semua menuju mobil. Risma bersiap di balik kemudi. Nando mengambil posisi di sebelahnya. "Tunggu!" ujar Faizin membuat para mantan muridnya menoleh kepadanya. "Ada apa, Pak?" tanya Risma yang urung menyalakan mesin mobil. Faizin mengelilingi mobil Sikapnya itu menimbulkan tanda tanya Nando. Ia keluar untuk mencari tahu ada persoalan apa. "Semua ban kempes!" beritahu Faizin, memandang hampa ke arah ban mobil. "Apa?" Nando kaget. Karena tidak percaya, ia memeriksanya. Setelah membuktikan sendiri, ia menendang kesal salah satu ban. Risma keluar dari mobil. Ia ikut memeriksa ban mobil. Wajahnya merah menahan geram. "Aku yakin ada yang menyabotase. Nggak mungkin empat ban mobil kempes secara bersamaan!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD